Wednesday, 29 May 2024

surat an nahl ayat 43

Mengupas surat An-Nahl ayat 43 
 
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
 
“Bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan bila kalian tidak mengetahui,” 

Imam An-Nawawi dalam Syarah Matan Arba’in menjelaskan ada tiga macam bentuk pertanyaan
 
اعلم أن السؤال على أقسام: القسم الأول: سؤال الجاهل عن فرائض الدين كالوضوء والصلاة والصوم وعن أحكام المعاملة ونحو ذلك.....والقسم الثاني، السؤال عن التفقة في الدين لا للعمل وحده مثل القضاء والفتوى، وهذا فرض الكفاية....والقسم الثالث، أن يسأل عن شيء لم يجبه الله عليه ولا على   غيره وعلى هذا حمل الحديث        

- Pertanyaan ada beberapa macam: pertama, pertanyaan orang awam tentang kewajiban agama, semisal wudhu, shalat, puasa, hukum muamalah, dll 
(pertanyaan yang ini penting dijawab, khususnya yang berkaitan dengan cara ibadah wajib, maka hal seperti ini wajib ditanyakan kepada orang yang lebih mengetahui agar kita bisa menjalankan ibadah dengan benar dan sempurna)

- Bentuk kedua adalah pertanyaan tafaqquh fid din (pendalaman agama) yang tidak hanya diamalkan untuk diri sendiri, seperti qadha’ dan fatwa, menanyakan hal yang berkaitan dengan persoalan ini adalah fardhu kifayyah
(pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak, misalnya minta fatwa kepada seorang mufti terkait permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat)

-Bentuk ketiga adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak diwajibkan Allah baik untuk diri sendiri maupun orang lain,
(bertanya tentang sesuatu yang tidak penting, yang kalau hal ini ditanyakan bisa jadi akan memberatkan,contoh ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Apakah haji itu tiap tahun wahai Rasulullah?”
 Rasulullah diam dan tidak menjawab sampai sahabat itu bertanya untuk yang ketiga kalinya.
 Rasulullah mengatakan, “Kalau aku jawab iya, niscaya akan memberatkan kalian. Tinggalkanlah (jangan bertanya) terhadap sesuatu yang aku biarkan.”
 
Dalam riwayat lain Rasulullah mengatakan, “Diamnya (syariat) adalah rahmat bagi kalian, maka janganlah bertanya.)


فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
 
 “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan berselisih dengan para nabi,” 
(HR Bukhari dan Muslim).


Adapun pertanyaan si penanya menurut 
Imam Al-Ghazali :

واعلم أن مرض الجهل أربعة أقسام: ثلاثة لاعلاج لها وواحد يمكن علاجه

 “Ketahuilah,penyakit kebodohan ada empat jenis.
Tiga di antaranya tidak dapat disembuhkan.
Tetapi satu lainnya kemungkinan dapat disembuhkan,”

Pertama, pertanyaan yang bersumber dari hasad atau kedengkian.
Setiap kali pertanyaan ini dijawab dengan beragam penjelasan dan jawaban sebaik apapun,maka jawaban itu hanya menambah hasad orang yang bertanya. Hasad orang itu akan menambah kesombongan si penanya

Al-Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk tidak menjawab pertanyaan jenis ini. Ia mengutip syair sebagai berikut:

كلُّ العداوة قد ترجى إزالتها إلا عداوة من عاداك من حسد

Setiap permusuhan terkadang dapat diharapkan hilang (padam) kecuali permusuhan yang memusuhimu karena hasud,”

Maka pertanyaan jenis ini tidak boleh dijawab sebab pertanyaan yang dilontarkan memang bukan diniatkan untuk mengobati ketidaktahuannya,tapi karena kedengkiannya.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Artinya, “Berpalinglah dari orang yang berpaling dari mengingat Kami; dan yang tidak menginginkan selain kehidupan dunia,” (Surat An-Najm ayat 29).

Kedua, penyakit yang bersumber dari Al halaqoh atau kedunguan dan kebebalan Penyakit ini hampir tidak dapat disembuhkan.
Nabi Isa AS mengatakan, “Aku berdaya untuk menghidupkan orang mati.
Tetapi aku tidak berdaya memperbaiki orang bebal.”

Orang dungu atau bebal adalah orang yang mempelajari satu dua hari satu bab sebuah ilmu dan belum masuk sama sekali mempelajari ilmu aqli (salah satunya ilmu kalam ilmu tauhid) dan ngeyelnya setengah mati.
Orang seperti ini dijelaskan juga tidak mau mengerti karena bawaan ilmu segenggam atau seujung kuku.
Tetapi naasnya dengan bekal ilmu sehari atau dua hari itu,ia mengajukan pertanyaan (sejenis sanggahan atau penolakan) kepada ulama yang menghabiskan usianya untuk mempelajari dan memperdalam berbagai ilmu pengetahuan yang serumpun.

Orang dungu atau bebal tidak menyadari penolakan atau sanggahan seorang pelajar pemula kepada seorang alim (guru) besar bersumber dari kebodohan dan ketidaktahuan.
Ia tidak menyadari kemampuan dirinya dan kapasitas keilmuan guru besar tersebut karena kedunguan dan kebebalannya.
Oleh karena itu kita disarankan untuk berpaling dan mengabaikan jawaban untuk orang seperti ini.

Ketiga, penyakit orang yang melontarkan pertanyaan karena kelemahan daya pikir,
Orang ini meminta penjelasan atas ucapan ulama.
Tetapi ia sebenarnya tidak memiliki kecakapan untuk memahami hakikat penjelasanulama karena keterbatasan daya pikirnya.

Ia menanyakan pandangan-pandangan dan pokok pikiran ulama yang pelik, jelimet, rumit lagi-lagi karena keterbatasan daya jangkau pikirannya.
Tetapi ia tidak menyadari kapasaitas daya pikirnya.
Untuk orang ini, Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk mengabaikan pertanyaan mereka sesuai sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:

نحن معاشر الأنبياء أمرنا بأن نكلم الناس على قدر عقولهم

“Kami para nabi diperintahkan untuk berbicara kepada umat manusia sesuai kapasitas daya pikir mereka.”

Keempat penyakit orang yang mencari petunjuk dan ia memiliki kecerdasan, kecakapan dan kapasitas serta daya pikir yang bagus untuk menerima pelajaran.
Ia tidak terpengaruh dan terbawa hanyut oleh marah,syahwat,hasad,kerakusan pada harta dan nafsu gila kekuasaan.
 
Ia adalah orang yang mencari jalan kebenaran.
Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membingungkan.
Orang seperti ini kata Al-Imam Al-Ghazali, dapat disembuhkan.
Upaya pengobatan terhadap orang seperti ini layak bahkan wajib ditempuh dengan segenap tenaga 

 


No comments: