*pertanyaan*
Bagaimana kalau menkonsumsi petai sedangkan didalamnya ada ulatnya (hileud peuteuy)
*jawaban*
Dalam persoalan tentang ulat yang menetap di buah-buahan bukan hanya dalam buah petai,sebenarnya pernah dialami oleh Rasulullah yang dijelaskan dalam salah satu hadits:
عنْ أنَسِ بنِ مَالِكِ قالَ: أُتِيَ النّبيّ صلى الله عليه وسلم بِتَمْرِ عَتِيقٍ فَجَعَلَ يُفَتّشُهُ يُخْرِجُ السّوسَ مِنْهُ
Diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diberi kurma yang sudah usang. Lalu beliau meneliti kurma itu dan mengeluarkan ulat dari kurma tersebut.
(HR. Abu Dawud)
فِيْهِ كَرَاهَةُ أَكْلِ مَا يُظَنُّ فِيْهِ الدُّوْدُ بِلَا تَفْتِيْشٍ , قَالَهُ فِي فَتْحِ الْوَدُوْدِ وَفِيْهِ أَنَّ الطَّعَامَ لَا يَنْجُسُ بِوُقُوْعِ الدُّوْدِ فِيْهِ وَلَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ
Dalam hadits di atas terkandung makna kemakruhan mengonsumsi makanan yang diduga kuat terdapat ulat di dalamnya dengan tanpa adanya penelitian terlebih dahulu, hal ini disampaikan Abdullah bin Muhammad at-Thayyar dalam kitab Fath al-Wadud.
Dalam hadits ini pula terkandung pemahaman bahwa makanan tidak menjadi najis sebab adanya ulat di dalamnya serta tidak haram mengonsumsi makanan tersebut
(Aun al-Ma’bud juz II, halaman 262).
Adapun penjelasan Fathul Muin:
وَحَلَّ أَكْلُ دُوْدِ نَحْوِ الْفَاكِهَةِ حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا بِشَرْطِ أَنْ لَا يَنْفَرِدَ عَنْهُ
“Halal mengonsumsi ulat yang ada pada buah-buahan, baik ulatnya dalam keadaan hidup ataupun telah menjadi bangkai, dengan syarat ulat tidak terpisah secara tersendiri dengan buah-buahan,”
( kitab Fathul Mu’ii juz II halaman 354)
Masih dalam kitab I’anah at-Tholibin juz I halaman 90
وَيَحِلُّ أَكْلُ دُوْدِ مَأْكُوْلٍ مَعَهُ وَلَا يَجِبُ غَسْلُ نَحْوِ الْفَمِّ مِنْهُ (قَوْلُهُ وَيَحِلُّ أَكْلُ دُوْدِ مَأْكُوْلٍ) أَيْ كَدُوْدِ التِّفَاحِ وَسَائِرِ الْفَوَاكِهِ وَدُوْدِ الْخَلِّ فَمَيْتَتُهُ وَإِنْ كَانَتْ نَجَسَةً لَكِنَّهَا لَا تُنَجِّسُ مَا ذُكِرَ لِعُسْرِ الْإِحْتِرَازِ عَنْهُ. وَحَلَّ أَكْلُهُ لِعُسْرِ تَمْيِيْزِهِ
“Halal mengonsumsi ulat dari makanan yang halal dimakan ketika dimakan secara bersamaan dan tidak wajib membasuh mulut atas bekas termakannya ulat tersebut.
Ulat dari makanan yang halal dimakan misalnya seperti ulat yang terdapat pada buah apel dan aneka buah-buahan lainnya, serta ulat yang terdapat pada cuka’, maka bangkai ulat yang ada pada makanan tersebut,meskipun dihukumi najis (yang di-makfu) tetapi tidak dapat menajiskan makanan-makanan tersebut,sebab sulitnya menjaga dari ulat ini.
Sedangkan kehalalan ikut mengonsumsi ulat karena sulitnya membedakan antara ulat dan makanan yang dihinggapinya"
No comments:
Post a Comment