*Pertanyaan*
Apakah perlombaan diharamkan
*jawaban*
Perlombaan ada yang termasuk judi ada juga yang tidak,
Dalam hal Akad musabaqah (adu cepat) meniscayakan adanya 2 pihak yang saling bersaing adu cepat,didunia sejarah Islam dalam hal adu cepat didua pihak ini *asalnya* berangkat dari kebutuhan
yaitu kebutuhan untuk menguji ketangkasan kuda yang dimilikinya sebab kuda merupakan salah satu kendaraan yang diperlukan untuk berperang (jihad).
Kita uji dulu bab perlombaan yang sering terjadi dan kita samakan menurut aturan dalam kitab:
وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ ... وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَمٍ
“Dan jika kedua pihak yang berlomba mengeluarkan hadiah secara bersama, maka lomba itu tidak boleh ...
dan hal itu, maksudnya judi yang diharamkan adalah semua permainan yang masih simpangsiur antara untung dan ruginya.”
-Is’ad al-Rofiq Juz 2 hal 102
“(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya.
“Dan boleh menjanjikan hadiah dari selain kedua peserta lomba balap hewan,seperti penguasa atau pihak lain.
*mekanismeu lomba yang sering terjadi secara tidak langsung mengeluarkan hadiah secara bersamaan dengan dalih pendaftaran maka uang tsb diperuntukan diantaranya untuk hadiah bagi pemenang*
-Is’ad al-Rofiq Juz 2 hal 102
(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَارٌ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ الْعِوَضُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنَ الْمَيْسِرِ فِيْ اْلآيَةِ. وَوَجْهُ حُرْمَتِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْنَمَ. فَإِنْ يَنْفَرِدْ أَحَدُ اللاَّعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوْبًا وَعَكْسُهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا فَاْلأَصَحُّ حُرْمَتُهُ أَيْضًا
“(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya.
Itulah yang dimaksud al-maisir dalam ayat al-Qur’an. [QS. Al-Maidah: 90].
Alasan keharamannya adalah masing-masing dari kedua pihak masih simpang siur antara mengalahkan lawan dan meraup keuntungan atau dikalahkan dan mengalami kerugian.
Jika salah satu pemain mengeluarkan haidah sendiri untuk diambil darinya bila kalah dan sebaliknya tidak diambil bila menang,
maka pendapat al-Ashah mengharamkannya pula.”
*Dalam kesetaraan hadiah dengan pendaftaran nominal yang sama argumentasinya beli karcis sekian*
-Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib Jilid 2 hal 309
وَيَجُوْزُ شَرْطُ الْعِوَضِ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقَيْنِ مِنَ اْلإِمَامِ أَوِ اْلأَجْنَبِيِّ كَأَنْ يَقُوْلَ اْلإِمَامُ مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا مِنْ مَالِيْ، أَوْ فَلَهُ فِيْ بَيْتِ الْمَالِ كَذَا، وَكَأَنْ يَقُوْلَ اْلأَجْنَبِيُّ: مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا، لأَنَّهُ بَذْلُ مَالٍ فِيْ طَاعَةٍ
“Dan boleh menjanjikan hadiah dari selain kedua peserta lomba balap hewan,seperti penguasa atau pihak lain.
Seperti penguasa berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka aku akan memberi sekian dari hartaku atau ia memperoleh sekian jumlah dari bait al-mal.”
Dan seperti pihak lain itu berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka ia berhak mendapat sekian harta dariku.” Karena pernyataan itu merupakan penyerahan harta dalam ketaatan"
*Maka solusinya supaya tidak terjerumus dalam perjuadian cari sponsor atau donatur yang bersedia memberikan hartanya untuk terselenggaranya acara tsb baik untuk membeli hadiah atau untuk keperluan acara,sedangkan para peserta hanya mempersiapkan skil untuk ikut perlombaanya saja tanpa dipungut biyaya pendaftaran*
No comments:
Post a Comment