Wednesday, 29 May 2024

apakah boleh menyantuni anak yatim kafir

*pertanyaan*

Apakah boleh menyantuni anak yatim dari anak non muslim 

*jawaban*

Keutamaan menyantuni anak yatim disebutkan dalam hadis rosululloh saw:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Aku dan orang yang mengurus anak yatim di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya.”
(HR. Imam Al-Bukhari).

Imam Al-Munawi menjelaskan maksud dari *kafilul yatim* adalah mengurus urusannya dan kemaslahatannya termasuk memberikannya harta (santunan) atau memberikan harta yang memang menjadi haknya baik ia merupakan kerabat ataupun bukan.

Menyantuni anak yatim dalam bahasa fikih dikenal dengan istilah sedekah atau hibah. Terkait dengan hukum sedekah atau hibah kepada non-muslim Allah swt berfirman dalam surat Al-Insān ayat 8;


وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا


"Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan"

Maksud dari ayat tsb


أمر الله بالأسرى أن يحسن إليهم وإن أسراهم يومئذ أهل الشرك. فعلى هذا الوجه يجوز إطعام الأسرى، وإن كانوا على غير ديننا، وأنه يرجى ثوابه، ولا يجوز أن يعطوا من الصدقة الواجبة كالزكاة والكفارة


Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka para tawanan perang. Sekalipun mereka saat itu adalah non-muslim (ahli syirik). Maka berdasarkan pandangan ini diperbolehkan memberi makanan kepada tawanan perang, sekalipun mereka tidak memeluk agama kita. Perbuatan ini dapat diharapkan pahalanya. Tidak diperbolehkan memberi mereka (non-muslim) sedekah wajib seperti zakat dan kifarat."

(Lubabut Ta'wil Fi Ma'ani Tanzil juz IV halaman 378)

Penjelasan ini menegaskan bahwa sedekah kepada non-muslim diperbolehkan selain sedekah wajib semisal *zakat atau kifat* ternyata keabsahan sedekah atau hibah kepada non-muslim sudah menjadi kesepakatan ulama


اتَّفَقَ الأَْئِمَّةُ الأَْرْبَعَةُ  عَلَى صِحَّةِ الصَّدَقَةِ أَوِ الْهِبَةِ لِلْحَرْبِيِّ؛ لأَِنَّهُ ثَبَتَ فِي السِّيرَةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْدَى إِلَى أَبِي سُفْيَانَ تَمْرَ عَجْوَةٍ، حِينَ كَانَ بِمَكَّةَ مُحَارِبًا، وَاسْتَهْدَاهُ أَدَمًا. وَبَعَثَ بِخَمْسِمِائَةِ دِينَارٍ إِلَى أَهْل مَكَّةَ حِينَ قَحَطُوا لِتُوَزَّعَ بَيْنَ فُقَرَائِهِمْ وَمَسَاكِينِهِمْ 


"Imam empat sepakat atas keabsahan sedekah atau hibah kepada kafir harbi. Karena dalam sejarah ditetapkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah memberi hadiah kurma ajwah kepada Sufyan yang memerangi Nabi saat berada di Makkah, dan ia juga meminta lauk.Nabi pernah mengirim 500 dinar kepada penduduk Makkah ketika mereka mengalami paceklik supaya dibagikan kepada orang-orang fakir dan miskinnya penduduk Makkah." 

( Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah juz VII hal 112)

Dari kesimpulan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa sedekah (diluar zakat dan kiffarat) boleh diberikan kepada non muslim

No comments: