*pertanyaan*
Apakah shalatnya langsung dihukumi batal sebab terkena najis (tai cicak) dipertengahan solatnya si musoli atau shalatnya masih bisa dilanjutkan
*jawaban*
*jawaban*
orang yang terkena najis di pertengahan shalatnya diharuskan untuk membuang najis tersebut seketika itu juga dari bagian tubuh atau pakaian yang terkena najis dan ia tetap harus melanjutkan shalatnya, sebab najis ini tergolong najis yang ma’fu (ditoleransi/dimaafkan).
Ketentuan seperti ini ketika najis yang mengenainya adalah najis yang kering. Berbeda halnya ketika najis yang mengenainya adalah najis yang basah. Maka dalam hal ini musoli hanya bisa melanjutkan shalatnya dengan cara melepas pakaiannya seketika itu juga, ketika memang dengan melepas pakaian auratnya tetap tertutup.
Jika tidak maka shalatnya si musoli menjadi batal.
Begitu juga ketika najis yang basah ini mengenai kulitnya maka tidak ada jalan lain kecuali membatalkan shalatnya, sebab najis yang basah ini bukan merupakan najis yang ma’fu.
*sumber*
kitab I’anah at-Thalibin juz 1 hal 80
قال: (قوله ومكان يصلى فيه) أي وطهارة مكان يصلى فيه ويستثنى منه ما لو كثر ذرق الطيور فيه فإنه يعفى عنه في الفرش والأرض بشروط ثلاثة أن لا يتعمد الوقوف عليه وأن لا تكون رطوبة وأن يشق الاحتراز عنه
“Dan disyaratkan sucinya tempat yang dibuat shalat. Dikecualikan dari hal ini permasalahan ketika banyak kotoran burung di tempat tersebut.
Maka kotoran ini dihukumi najis yang ma’fu ketika berada di tanah atau permadani atau alas tempat solat ( sunda: sajadah) dengan tiga syarat:
-Tidak menyengaja berdiam diri di tempat yang terdapat kotoran tersebut
-kotoran tidak dalam keadaan basah
-sulit untuk dihindari.”
*sumber*
Manhaj at-Thullab juz 2 hal 481
: قال: (لا) إن عرض (بلا تقصير) من المصلي كأن كشفت الريح عورته أو وقع على ثوبه نجس رطب أو يابس ( ودفعه حالا ) بأن ستر العورة ، وألقى الثوب في الرطب ، ونفضه في اليابس فلا تبطل صلاته ، ويغتفر هذا العارض اليسير
“Tidak batal jika baru datang pada orang yang shalat sesuatu yang membatalkan tanpa adanya tindak kecerobohan dari orang yang shalat.
Seperti auratnya terbuka sebab terkena angin atau jatuh perkara najis mengenai pakaiannya dan ia mencegahnya seketika itu juga dengan cara menutup auratnya, melepas pakaiannya pada najis yang basah dan membuang najis yang kering, maka shalatnya tidak batal
Dan hal yang bersifat baru datang yang sebentar ini ma’fu.”
No comments:
Post a Comment