Wednesday, 29 May 2024

apa tingkatan untuk menuju Allah swt

*pertanyaan*

Apa saja tahapan untuk menuju Allah SWT


*jawaban*


- Sesungguhnya jalan untuk menuju wushul pada Allah itu ada tiga syari’at, thariqat, hakikat

- Syari’at adalah aktifitas melakukan ibadah kepada Allah swt karena ibadah merupakan tujuan dari syari’at, dalam istilah fiqih yaitu hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Allah

- Toriqoh ialah upaya mencapai maqam di sisi Allah melalui ilmu dan amal.

- Hakikat  itu buah/natijah dari syariat dan toriqoh, yakni ilmu batin berupa cahaya yang dititipkan oleh Allah dalam lubuk hati yang sangat dalam

- Haqiqoh tanpa syariah itu bathil: Apabila kamu berkata pada seseorang: “Kerjakanlah sholat Dhuhur!” Kemudian ia menjawab: “ Apabila Alloh mentakdirkan aku jadi orang bahagia maka aku akan dimasukkan surga, walaupun aku tidak sholat” atau ia berkata “ Apabila Alloh mentakdirkan aku sholat maka aku pasti sholat” Orang tersebut memandang pada batin atau haqiqoh  suatu hal.

- Syariah tanpa haqiqoh itu kosong: Seseorang berkata: “Aku tidak akan sholat kecuali karena aku akan masuk surga” atau berkata “Aku tidak akan masuk surga kecuali sebab sholat” Ini adalah syariah yang kosong, artinya: wujudnya sama dengan tidak adanya, karena masuk surga itu sebab fadlol (anugrah) Alloh bukan sebab amal, walaupun sholatnya sudah mencukupi (ijza’) dalam melaksanakan kewajiban

*sumber*

حاشية البجيرمي على الخطيب تحفة الحبيب على شرح الخطيب ١/‏٨ — البجيرمي (ت ١٢٢١)
مَبْحَثٌ فِي قَوْلِهِمْ: حَقِيقَةٌ بِلا شَرِيعَةٍ باطِلَةٌ وشَرِيعَةٌ بِلا حَقِيقَةٍ عاطِلَةٌ وقَوْلُهُ: (العارِفِينَ) جَمْعُ عارِفٍ وهُمْ عُلَماءُ الحَقِيقَةِ، وبِالضَّرُورَةِ يَلْزَمُها عِلْمُ الشَّرِيعَةِ لِما صَرَّحُوا بِهِ مِن قَوْلِهِمْ: حَقِيقَةٌ بِلا شَرِيعَةٍ باطِلَةٌ وشَرِيعَةٌ بِلا حَقِيقَةٍ عاطِلَةٌ، مِثالُ الأوَّلِ إذا قُلْت لِشَخْصٍ: صَلِّ الظُّهْرَ، فَقالَ: إنْ كانَ اللَّهُ كَتَبَنِي سَعِيدًا أُدْخِلْت الجَنَّةَ وإنْ لَمْ أُصَلِّ، أوْ إنْ كانَ اللَّهُ قَدَّرَ لِي أنْ أُصَلِّيَ صَلَّيْت فَقَدْ نَظَرَ لِباطِنِ الأمْرِ، ومِثالُ الثّانِي إذا قالَ الشَّخْصُ: لا أُصَلِّي إلّا لِأجْلِ أنْ أدْخُلَ الجَنَّةَ ولا أدْخُلُ الجَنَّةَ إلّا بِالصَّلاةِ مَثَلًا، فَهَذِهِ شَرِيعَةٌ عاطِلَةٌ عِنْدَهُمْ، ومَعْنى كَوْنِها عاطِلَةً أنَّ وُجُودَها كَعَدَمِها عِنْدَهُمْ، لِأنَّ دُخُولَ الجَنَّةِ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعالى لا بِالعَمَلِ وإنْ كانَتْ مُجْزِئَةً فِي أداءِ الواجِبِ.

*sumber*

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺗﻘﻴﺎﺀ . ﺹ ٧
ﺇﻥ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﻭﻃﺮﻳﻘﺔ ﻭﺣﻘﻴﻘﺔ ﻓﺎﺳﻤﻊ ﻟﻬﺎ ﻣﺎ ﻣﺜﻼ ‏( ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ – ﻳﻌﻨﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺍﻟﻤﻮﺻﻞ ﻟﻶﺧﺮﺓ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﻭﻃﺮﻳﻘﺔ ﻭﺣﻘﻴﻘﺔ ﻓﺎﺳﻤﻊ ﺗﻤﺜﻴﻞ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻟﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﺳﻴﺬﻛﺮ ﺑﻌﺪ ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺭﺣﻤﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺪ ﻟﺴﺎﻟﻚ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ ﻟﺸﻰﺀ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺑﻼ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺑﻼ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﻋﺎﻃﻠﺔ

No comments: