Showing posts with label Tarikh. Show all posts
Showing posts with label Tarikh. Show all posts

Wednesday, 4 September 2019

Menyikapi perbedaan

Melihat titik persamaan dari sudut yang berbeda

Alkisah

Disuatu hari
Imam Malik (Guru Imam Syafii) dalam majlis menyampaikan :

Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. 
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya

Sementara Imam Syafii (Sang murid berpendapat lain) :

Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki
Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya.


Suatu saat Imam Syafii tengah meninggalkan pondok, dia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. 

Beliaupun membantu mereka.
Setelah pekerjaan selesai,
Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafii girang,
bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya:

Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki
Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik sang guru. 

Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita dengan sedikit mengeraskan bagian kalimat:

Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya


Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya.
Imam Malik berucap pelan:

Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.
Tiba-tiba  engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.
Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab
Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki.
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya

Guru dan murid itu kemudian tertawa. 

Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.


saudaraku


Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan,bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.
Atau membenarkan pendapatnya dengan menyalahkan pendapat orang lain


Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua ditengah2 kemajemukan yang kita hadapi
Jadikan perbedaan jadi seni kehidupan sehingga terasa indah dalam persaudaraan didalam perbedaan.

Jangan dijadikan perbedaan jadi permusuhan dalam persaudaraan


Manusia diciptakan berbeda beda
Maka lihatlah titik kesamaannya dari sudut yang berbeda

Wallohul muwafiq ila aqwamittoriq

Friday, 12 July 2019

Mama nuh gentur cianjur

Asal Usul Desa Jambudipa
Warungkondang Cianjur


Desa Jambudipa adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Warungkondang yang merupakan bagian administratif Pemerintahan Kabupaten Cianjur.
Nama Jambudipa diambil dari kampung di wilayah Dusun I Desa Jambudipa, lokasi tempat berdirinya bale desa dari dahuu sampai sekarang, yaitu Kampung Jambudipa.
 
Tidak ada data otentik mengenai asal usul berdirinya Desa Jambudipa.
Hanya cerita yang digali dari para tokoh dan dihubungkan dengan peninggalan sejarah yang berlokasi di Kampung Jambudipa berupa makam kuno yang dipercaya sebagai makam para prajurit mataram.


Alkisah, konon pada abad ke-17 Masehi, pengaruh kerajaan Mataram mulai menyebar dan memasuki wilayah tatar Pasundan.
Pada masa itu Sultan Mataram mengutus rombongan untuk menyelamatkan wilayah priangan. 

Diantara pasukan tersebut ada yang melalui jalur tengah melewati Cianjur.
Salah satunya dipimpin oleh Ratu Ringgo. 

Tidak diketahui pasti apakah Ratu Ringgo nama asli atau nama sebutan.
Ratu Ringgo sampai pada suatu tempat pedataran yang masih merupakan padang ilalang dan tumbuh juga pohon-pohon yang rindang untuk tempat beristirahat. 

Di tempat tersebut Ratu Ringgo dan pasukannya beristirahat sambil memperdalam ilmu-ilmu perang terutama ilmu kebatinan atau masyarakat menyebut ilmu jawu. 

Karena kehebatan ilmu yang diajarkan oleh Ratu Ringgo, sehingga mengundang pasukan-pasukan yang lain untuk belajar ilmu tersebut. 

Tempat tersebut menjadi terkenal dan pada masa itu disebut sebagai Jawu Dwiva. 
Arti kata Dwiva yang berasal dari bahasa sanskerta yang berarti negara atau daerah.

Seiring berjalannya waktu Jawu Dwiva menjadi semacam pusat pengajaran yang mengundang orang-orang untuk bermukim dan mempelajari ilmu-ilmu perang.
Para pemukim mulai menanam tumbuhan pangan dengan membuka lahan pesawahan. 

Diceritakan, Raden Ringgo sendiri pada akhirnya berpindah ke daerah Sumedang dan putra beliau yang bernama Raden Jumulloh menetap di Jawu Dwiva setelah beliau dan pasukannya kembali dari Banten menunaikan tugas dari Sultan Mataram. 

Menurut sebagian tokoh Desa Jambudipa, kata Jawu Dwiva belakangan berubah pelafalannya menjadi Jambudipa.

Nama Desa Jambudipa semakin dikenal di wilayah Priangan.
Pada akhir abad 18 Masehi, berdiri Pesantren Gentur di Kampung Gentur, yang merupakan bagaian administratif Desa Jambudipa. Pesantren Gentur yang merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Barat.

Tokoh yang melegenda adalah
Asy-Syaikh Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi Asy-Syanjuri Al-Jawi Asy-Syafi’i atau lebih dikenal dengan Mama Gentur.

salah satu sosok ulama Tatar Pasundan yang bergelar Al-Alim Al-‘Allamah Al-Kamil Al-Wara.
Tokoh lainnya dari Gentur adalah Mama Hajji Muhammad Qurthubi alias Mama Gentur Kidul, dan KH. Abdul Haq Nuh bin Mama Ahmad Syatibi bin Muhammad Said alias Aang Nuh.

Seiring perkembangan Pesantren Gentur, di Kampung Jambudipa, pada pada tahun 1894 Masehi didirikan Pesantren Jambudipa oleh Kyai Mohammad Holil atau lebih dikenal dengan nama Being Sambong. 

Pada tahun 1917, Kyai Mohammad Holil meninggal.
Selanjutnya, Pesantren Jambudipa dipimpin Kyai Fahrudin.
Pada masa Kyai Fahrudin, Pesantren Jambudipa tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tapi juga mulai melakukan kegiatan berbagai pengajian kitab kuning. 

Pada tahun 1935, untuk memenuhi keinginan masyarakat, didirikanlah bangunan majlis talim sebagai wadah bagi pengajian masyarakat umum.
Pengajian melalui majlis talim ini dilakukan setiap hari Senin pagi untuk laki-laki dan Selasa pagi untuk wanita.
Biasanya, tidak kurang 1.500 pria dan 1.700 wanita menghadiri pengajian tersebut.
Mereka datang dari Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Sepeninggal KH. Fahrudin, pesantren dilanjutkan oleh KH. Endang Muhidin dan KH. Daud Jalaludin.

Dari rangkaian cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan Desa Jambudipa tidak terlepas dari kedua pesantren, yaitu Pesantren Gentur dan Pesantren Jambudipa.
Kemudian Mama Haji Abdullah Haq Nuh AL Qonturi (Syekh Aang Nuh Gentur)

Menurut beberapa sumber nasab 

Aang Nuh bin 
Syekh Ahmad Syatibi Gentur bin Syekh Muhammad Said bin 
Syekh Abdul Qodir Cihaneut ciawi tasikmalaya bin 
Syekh Nur Hajid bin Syekh Nur Katim bin 
Sembah Dalem Bojong bin 
Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan .

Beliau adalah salah satu sosok ulama tanah pasundan yang al-alim al-alamah al-kamilil-wara dari Pondok Pesantren di gentur Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat yang sangat tinggi akan keilmuannya bahkan dalam segi keistimewaan yang sering banyak orang membicarakannya.

PARA GURUNYA :

1. Ayahnya sendiri yakni Mama Ajengan Kaler ( K.H.Ahmad Syathiby)
2. Uaknya yakni Mama Ajengan Kidul K.H. Muhammad Qurthuby
3. Mama Cijerah K.H. Muhammad Syafi`i

TEMAN SEPERJUANGANNYA DI
PONDOK PESANTREN CIJERAH :

1. Mama Sindang Sari ( K.H.Thoha bin K.H.Muhammad Showi )
2. Mama Badaraksa ( K.H.Thoha bin K.H.Hasan Al-Mustawi )
3. Mama Gelar ( K.H.Abdus Shommad )
4. Mama Obay karawang
5. Mama Syarifuddin Ponpes Fathul Huda cipaku Samarang garut


Adapun keistimewaan yang diberikan oleh allah swt kepada beliau yang di kutip dari beberapa sumber yaitu:

- naik di atas monas dan ditembaki  tahu-tahu berada di rumahnya

- masuk kedalam drum di tembaki oleh blanda tahu-tahu berada di rumahnya

- orang yang sedang melamun ditempelengnya kemudian di suruh jualan peuyeum ubi kemudian orang tersebut mendadak kaya

- naik motor harley (moge) sambil berdiri

- Merubah kararas (daun pisang kering) menjadi ikan mas kecil di kolam

- Terjun dari atas air terjun tinggi yang di bawah nya batu runcing dengan posisi kepala terlebih dahulu namun tidak terjadi apa apa. 

(sambil bilang ke santrinya: kalau belum waktunya meninggal tidak akan meninggal)

- Beliau menendang masjid yang belum jadi sambil berkata: ini masjid apa kandang hewan?
Tidak lama dari kejadian itu ada mobil yang mengirim bahan2 bangunan dan bangunan pun terselesaikan.

Perkataan Syèikh Aang Nuh Gentur Cianjur yang penomenal :

"Ceramah tèh euy, Ulah ngan
sakadar bisa TARIK SORA nepika NGAHIUNG kana puhu ceuli.
Tapi kudu bisa TARIK RASA nepika NGAHIANG kana yahu tajali."

Artinya :

Ceramah itu jangan hanya bisa teriak sampai berdengung telinga orang yg mendengarnya, tetapi harus bisa sampai tembus kedalam kalbu,mengajak orang untuk mengenal Allah (tajali HU marifat).
Tahun 1990 beliau wafat pulang ke rahmatullah.


Semoga sekelumit dari kisah ulama
Ini bisa menjadi bukti cintanya kita kepada ulama,mendapatkan keberkahan ilmunya dan kita dikumpulkan bersama dengan para ulama,para kekasih allah swt.

Syeikh Abu Qasim Juned Al-Bagdadi ra berkata :
"Barang siapa membuat tarekh (sejarah Biografi) seorang kekasih Allah maka sama dg menghidupkan kekuatan marifatnya Wali tersebut dihati kita.
Dan barang siapa ziarah kepada seorang Waliyullah maka sama dengan mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ.


Wallohu a'lam

Monday, 17 June 2019

Kisah Ibnu hirzihim

  Ibnu hirzihim

Adalah seorang tokoh yang mengingkari kitab ihya ulumuddin karangan imam gojali  rohimahumulloh simak kisahnya

ﺫﻛﺮﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺑﻦ ﺃﺳﻌﺪ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠـﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻗﻄﺐ
ﺍﻟﻴﻤﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ ﺛﻢ ﺍﻟﻴﻤﻨﻲ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺗﺼﺎﻧﻴﻒ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺟﻮﺍﺑﻪ : ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﻧﺒـﻴﺎﺀ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻤﺼﻨﻔﻴﻦ.

Syaikh Abdullah bin As'ad Al-Yafi' Rahmatullah alaih berkata: seorang wali qutub yaman yg faqih adalah Syekh Isma'il bin Muhammad Al-Hadlromy, kemudian di tanyakan kpd faqih dari yaman tentang beberapa karya Imam Ghozali, 
maka di jawab oleh beliau (Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Hadlromy) : Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) adalah sayyidil anbiya', dan Muhammad bin Idris As-Syafi'I (Imam Syafi'i) adalah sayyidil a’immah, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali adalah sayyidil Mushonnifin.

ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎً ﺃﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ
ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑـﻲ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻛﺎﻥ
ﻣﻄﺎﻋﺎً ﻣﺴﻤﻮﻉ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ، ﻓﺄﻣﺮ ﺑﺠﻤﻊ ﻣﺎ ﻇﻔﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻧﺴﺦ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ ﻭﻫﻢ ﺑﺈﺣﺮﺍﻗﻬﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ

Dan Imam Al-Yafi'i juga mengatakan, bahwasanya Imam besar Abul Hasan Ali bin Hirzihim, seorang Faqih yang terkenal di Maghribi (maroko) dia dulu sangat mengingkari kitab Ihya ulumuddin, dan beliau adalah orang yang ditaati dan di dengar ucapannya. 
kemudian beliau memerintahkan untuk mengumpulkan semua yang didapat daripada naskah kitab Ihya dan ingin membakarnya di masjid jami' pada hari jum'at.

ﻓﺮﺃﻯ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻛﺄﻧﻪ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺑﺎﻟﻨﺒـﻲ ﻓﻴﻪ ﻭﻣﻌﻪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ
ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻗﺎﺋﻢ ﺑـﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ؛ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﻗﺒﻞ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ : ﻫﺬﺍ ﺧﺼﻤﻲ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠـﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﻛﻤﺎ ﺯﻋﻢ
ﺗﺒﺖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠـﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺷﻴﺌﺎً ﺣﺼﻞ ﻟﻲ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺘﻚ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺨﺬ ﻟﻲ
ﺣﻘﻲ ﻣﻦ ﺧﺼﻤﻲ،

Kemudian pada malam jum'atnya beliau bermimpi seakan-akan masuk kedalam masjid jami', ternyata didalam masjid itu ada Nabi saw. 
dan bersama Nabi Sayyidina Abu bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, serta Imam Ghozaly berdiri di hadapan Nabi saw. 
ketika Ibnu hirzihim menghadap,

Imam ghozali berkata: ini musuhku Ya Rasulullah, jika perkara yg terjadi sebagaimana yang dia sangka, maka aku bertaubat kepada Allah, dan jika sesuatu yang aku dapat itu dari keberkahanmu dan mengikuti sunnahmu, maka ambilkanlah untuku haqku dari musuhku ini.

ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻝ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ، ﻓﺘﺼﻔﺤﻪ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻭﺭﻗﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻟـﻪ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻠـﻪ ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ ﻓﻴﻪ ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺩﻩ . ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻧﻌﻢ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﺇﻧﻪ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ
ﺍﻟﻔﺎﺭﻭﻕ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ ﻓﻴﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Kemudian diberikan kepada Nabi kitab Ihya, lalu Nabi membukanya selembar demi selembar dari awal kitab hingga akhir, kemudian Nabi bersabda: demi Allah sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang bagus, kemudian diberikan kepada Ash-Shiddiq ra. 
Maka beliau melihatnya dan menganggap baik kitab tersebut, kemudian beliau berkata: Benar, Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang baik, kemudian diberikan kepada Sayyidina Umar ra. dan beliau melihat isi kitab itu, dan beliaupun memuji kitab itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ash-Shiddiq.

ﻓﺄﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺑﺘﺠﺮﻳﺪ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻤﻴﺺ ﻭﺃﻥ ﻳﻀﺮﺏ ﻭﻳﺤﺪ ﺣﺪ ﺍﻟﻤﻔﺘﺮﻱ، ﻓﺠﺮﺩ ﻭﺿﺮﺏ . ﻓﻠﻤﺎ ﺿﺮﺏ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺳﻮﺍﻁ ﺗﺸﻔﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻌﻠﻪ ﻇﻦ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺄﺧﻄﺄ ﻓﻲ ﻇﻨﻪ، ﻓﺮﺿﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻗﺒﻞ ﺷﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Maka Nabi memerintahkan untuk mencabuk faqih Ali Ibnu hirzihim di atas gamis, dan dicambuk serta di had dengan hadnya pembuat kebohongan, Lalu beliaupun di cambuk dan dipukul. 
ketika telah dicambuk lima kali, Sayidina Abu bakar memintakan ma'af untuknya, dan beliau berkata: Ya Rasulullah, mungkin dia menyangka apa yang ada didalam kitab Ihya menyalahi sunnahmu, kemudian dia salah didalam sangkaannya, dan Imam ghozali menerima, maka Rasulullah pun menerima permintaan maafnya Ash-Shiddiq.

ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻴﻘﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻓﻲ ﻇﻬﺮﻩ، ﻭﺃﻋﻠﻢ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺗﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻦ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺑﻘﻲ ﻣﺪﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻣﺘﺄﻟﻤﺎً ﻣﻦ ﺃﺛﺮ
ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻭﻫﻮ ﻳﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻳﺘﺸﻔﻊ ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺃﻯ
ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻣﺴﺢ ﺑـﻴﺪﻩ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﻓﻌﻮﻓﻲ ﻭﺷﻔﻲ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ
ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺛﻢ ﻻﺯﻡ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ،
ﻭﺻﺎﺭ ﻣﻦ ﺃﻛﺎﺑﺮ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Kemudian Bangunlah Ibnu hirzihim sedang bekas cambukan masih ada dipunggungnya, lalu beliau memberitahukan teman-temannya (mengenai mimpi tsb) dan bertaubat kepada Allah atas pengingkarannya kepada Imam Ghozali dan beristighfar, akan tetapi masih tersisah rasa sakit cambuk tersebut dalam waktu yang lama, dan dia terus memohon kepada Allah dan meminta syafa'at kepada Rasulullah, hingga beliau bermimpi Nabi, dan mengusap punggung Ibnu hirzihim dengan tangan beliau yang mulia, kemudian beliau sembuh dengan izin Allah, kemudian beliau selalu melazimkan mempelajari kitab Ihya ulumuddin, maka Allah membukakan (hijab/ilmu) untuknya dan mendapatkan karunia ma'rifat billah, maka jadilah beliau Pembesar Ulama, Ahli ilmu bathin dan Dhohir. semoga Allah merahmatinya.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ : ﺭﻭﻳﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻷﺳﺎﻧﻴﺪ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻘﻄﺐ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ
ﺍﻟﻤﻴﻠﻖ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻳﺎﻗﻮﺕ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ
ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺍﻟﻤﺮﺳﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺷﻴﺦ ﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻭﺍﺣﻬﻢ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻌﺎﺻﺮﺍً ﻻﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ : ﻭﻟﻘﺪ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ
ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻇﺎﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ.

Dan Imam al-yafi'i berkata: telah
meriwayatkan kepada kami cerita ini dengan sanad yang sohih, dan telah mengabarkan kepadaku mengenai hal ini Wali Allah dari Wali Allah dari Wali Allah Asy-syeikh Al-Kabir Al-Quthub Syihabuddin Ahmad bin Al-maliiq Asy-Syadzili, dari gurunya Syaikh Kabir Al-Arif Billah Yaquut Asy-Syadzili, dari gurunya As-Syaikh Al-Arif billah Abil Abbas Al-Mursiy, dari gurunya As-Syaikh Kabir, gurunya para guru Abil Hasan Asy-Syadziliy: dan telah meninggal Asy-Syaikh Abul Hasan ibnu Hirzihim Rahimahullah, sedangkan di hari wafatnya bekas cambuk masih
nampak dipunggungnya

Semoga dari sepenggal cerita tsb bisa membawa hikmah bagi kita semua...
catatan 

Dari Abu hurairah, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Sesungguhnya Allah berfirman: "Barang siapa berani memusuhi wali (kekasih) Ku maka sungguh Aku mendeklarasikan perang dengannya" [HR Bukhari]

Thursday, 2 May 2019

Kisah Dzil Khuwaishirah yang menuduh rosulullah curang

Ada seorang laki laki yang bernama
Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah at-Tamimi
yang telah berani kepada Rasulullah menuduh berbuat curang,dengan perkataanya:

فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ

“Wahai Rasulullah berlaku adillah”

Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah at-Tamimi telah menganggap dirinya lebih wara’ daripada Rasulullah saw dan menghukumi Rasulullah saw sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. 
Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. 
Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya.

Itulah sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul Huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran.
Dan seolah olah dirinya yang paling baik,paling bersih,paling suci seperti yang tercermin dari sifat dzul khuwaishirah seolah dirinya paling adil daripada rosulullah saw
Naudzubilah

Nama lelaki itu muncul dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim:

عن أبي سعيد قال بينا النبي صلى اللّه عليه وسلم يقسم جاء عبد اللَّه بن ذي الخويصرة التميمي فقال « اعدل يا رسول اللّه » فقال « ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل » قال عمر بن الخطّاب « دعني أضرب عنقه » قال « دعه فإنّ له أصحابا يحقِر أحدكم صلاته مع صلاته وصيامه مع صيامه يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة ينظر في قذذه فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في نصله فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في رصافه فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في نضيّه فلا يوجد فيه شيء قد سبق الفرث والدم آيتهم رجل إحدى يديه أو قال ثدييه مثل ثدي المرأة أو قال مثل البضعة تدردر يخرجون على حين فرْقة من النّاس » قال أبو سعيد « أشهَد سمعت من النّبيّ صلى اللّه عليه وسلم وأشهد أنّ عليّا قتلهم وأنا معه جيء بالرجل على النعت الّذي نعته النبيّ صلّى اللّه عليه وسلم » قال فنزلت فيه ومنهم من يلمِزك في الصّدقات

Dari Abu Said, berkata: 
“Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW yang membagi-bagikan (ghanîmah), datang Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah at-Tamimi dan berkata: “Wahai Rasulullah, berlakulah adil.”

Rasulullah menjawab: “Celaka! Siapa bisa adil kalau saya saja tidak adil.” 

Kemudian ‘Umar ibn Khattab berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya penggal lehernya!” 
Nabi menjawab: “Biarkan dia. 
Kelak dia akan punya banyak pengikut yang salat kalian tidak ada apa-apa
nya dibanding salat mereka, 
puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka. 
Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. 
Maka ketika diperiksa ujung panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diteliti batang panahnya, tidak ditemukan apa-apa. 
Diselidiki bulu anak panahnya, tidak ditemukan apa-apa. 
Anak panah itu menembus kotoran dan darah. 
Ciri-ciri mereka adalah lelaki yang salah satu lengan atasnya atau dadanya bagaikan payudara wanita atau terdapat segumpal daging kenyal yang bergerak-gerak. 
Mereka akan muncul saat terjadinya perpecahan manusia.
” Abu Sa’id berkata: “Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadis ini dari Rasulullah SAW dan saya bersaksi bahwa ‘Ali ibn Abu Thalib memerangi mereka, dan saya bersamanya saat didatangkan seorang laki-laki yang disebutkan ciri-cirinya oleh Rasulullah SAW.”
Kemudian turunlah ayat: ”Dan di antara mereka ada yang mencelamu dalam pembagian zakat.”(attaubah 58-60)
(HR Bukhari-Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata tatkala menjelaskan hadis Dzil Khuwaishirah tersebut di atas:
“Hadis ini merupakan dalil yang sangat mendasar, bahwa berontak pada pemimpin bukan hanya dengan pedang semata, tapi bisa juga dengan perkataan dan ucapan. Perhatikanlah, orang ini (Dzul Huwaishrah), dia tidak mengangkat pedang guna membunuh Nabi muhamad saw tapi dia hanya mengingkarinya (dengan terang-terangan). Apabila dijumpai dalam sebagian kitab ahli sunnah yang menyatakan bahwa berontak itu adalah dengan pedang, maka maksudnya adalah puncak pemberontakan”
Itulah sekelumit ciri ciri kaum khowarij

Wallohu a'lam

Tuesday, 2 April 2019

Mempunyai khodam jin menurut sudut pandang islam

Khodam

Artinya pembantu dari kalangan gaib,
Yang ada di manusia biasa khodamnya yaitu dari kalangan jin dan tugas jin ini adalah pembantu manusia tsb

Benarkah anggapan ini? 

Siapa yang sejatinya dibantu,
si jin ataukah manusia? 

Siapa yang sejatinya lebih berkuasa, si jin ataukah manusia?

Tidak ada yang gratis apalagi ketika berhadapan dengan karakter penipu. Mustahil si jin ini mau membantu secara cuma-cuma.

Jin ini mau membantu karena manusia mau mengabdi kepada jin. Sehingga siapa yang sejatinya diuntungkan?
Jawabannya si jin. 

Dia yang lebih berkuasa,
sementara manusia selalu bergantung kepada jin.

Tidak Ada Manusia yang Menguasai Jin selain Sulaiman sebab nabi suliman adalah seorang nabi dan rosul dan sesuatu hal keluar biasan yang di berikan oleh allah swt kepada rosulnya allah yaitu Mu'jijat

Allah kisahkan dalam Al-Quran, salah satu doa Sulaiman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Sulaiman berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. 
(QS. Shad: 35)

Salah satu diantara kekuasaan Sulaiman, yang tidak mungkin dimiliki orang lain adalah bisa mengendalikan dan menguasai jin. Sehingga semua jin menjadi tunduk dan patuh kepada Sulaiman.

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mau melangkahi doa Sulaiman ini. 
Suatu ketika, pada saat mengimami shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan yang berbeda di luar kebiasaannya. 
Pagi harinya, Beliau menceritakan,

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي فَرَدَّهُ خَاسِئًا

Sesungguhnya jin ifrit menampakkan diri kepadaku tadi malam, untuk mengganggu shalatku. Kemudian Allah memberikan kemampuan kepadakku untuk memegangnya. Aku ingin untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga pagi harinya kalian semua bisa melihatnya. Namun saya teringat doa saudaraku Sulaiman: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku.” Kemudian beliau melepaskan jin itu dalam keadaan terhina. 
(HR. Bukhari & Muslim ).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau mengikat jin itu di tiang masjid, karena itu beliau lakukan berarti beliau telah menguasai jin, yang itu menjadi keistimewaan Sulaiman. 
Karena teringat doa Sulaiman, 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan jin itu, padahal jika beliau mau, beliau mampu.

Punya khodam jin sama saja minta bantuan kepada jin sedangkan allah swt sudah menegaskan dalam firmanya

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” 
(QS. Al Jin: 6).

Tetapi mengapa nabi sulaiman mendapatkan bantuan jin
Itu khusus mu'jijat sebab Allah taklukkan jin untuk tunduk di bawah kerajaan beliau.
 
Allah halangi mereka, sehingga tidak bisa menyimpang atau melakukan kerusakan.
Allah berfirman:

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan Kami yang menjaga mereka itu.”
(QS. Al-Anbiya: 82)

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:
“Maksud ayat, Allah lindungi Sulaiman sehingga tidak terkena tindakan jahat setan, bahkan sebaliknya, semua setan berada di bawah genggamannya dan kekuasaannya. Tidak ada satupun setan yang mampu mendekatinya. Beliau mengusai mereka, jika beliau mau, beliau bisa lepaskan setan atau sebaliknya, beliau bisa penjarakan setan. Allah berfirman,

وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ

Setan yang lain yang terikat dalam belenggu.” 
(QS. Shad: 38)

Adapun kita sebagai manusia biasa,
Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi.
 Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.
Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia (allah) tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. 
Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. 
Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. 
Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.

Cerita Jin yang Menyerupai Ibnu Taimiyyah

كنت في مصر في قلعتها، وجرى مثل هذا إلى كثير من الترك من ناحية المشرق، وقال له ذلك الشخص: أنا ابن تيمية، فلم يشك ذلك الأمير أني أنا هو، وأخبر بذلك ملك ماردين، وأرسل بذلك ملك ماردين إلى ملك مصر رسولا وكنت في الحبس؛ فاستعظموا ذلك وأنا لم أخرج من الحبس، ولكن كان هذا جنيا يحبنا فيصنع بالترك التتر مثل ما كنت أصنع بهم؛ لما جاءوا إلى دمشق: كنت أدعوهم إلى الإسلام، فإذا نطق أحدهم بالشهادتين أطعمته مما تيسر، فعمل معهم مثل ما كنت أعمل، وأراد بذلك إكرامي ليظن ذاك أني أنا الذي فعلت ذلك.
قال لي طائفة من الناس. فلم لا يجوز أن يكون ملكا؟ قلت لا. إن الملك لا يكذب وهذا قد قال أنا ابن تيمية وهو يعلم أنه كاذب في ذلك.

Suatu ketika saat saya (Ibnu Taimiyyah) ditahan di penjara Mesir, 

Ada kejadian yang terjadi terhadap orang-orang Turki Timur. 
Ada seorang yang mengaku, 
“Saya adalah Ibnu Taimiyyah”.

Seorang pemimpin Turki itu yakin bahwa seorang yang dilihatnya adalah saya (Ibnu Taimiyyah). 
Maka dilaporkanlah kejadian itu kepada Raja Mardin (sebuah Provinsi sekarang di daerah Turki). 
Untuk memastikan kebenarannya, Raja Mardin pun mengutus utusan kepada Raja Mesir.
Hal itu membuat gempar masyarakat Mesir, padahal beliau (Ibnu Taimiyyah) masih di dalam penjara dan tidak keluar kemana-mana. 

Kenapa ada Ibnu Taimiyyah juga di Turki?

Ibnu Taimiyyah mengemukakan, “‘Orang’ tersebut adalah jin yang mencintai saya”. 
Dia berbuat sebagaimana apa yang telah saya perbuat kepada Orang Tartar dari Turki saat mereka datang ke Damaskus dahulu. 
Saya ajak mereka masuk Islam, 
ketika salah satu dari mereka masuk Islam, saya beri makan seadanya.

Sebagian orang bertanya kepadaku, “Barangkali itu Malaikat?”.

 “Bukan, kalau Malaikat tak mungkin mengatakan ‘Saya Ibnu Taimiyyah’, karena Malaikat tak mungkin BERBOHONG”. Jawab Ibnu Taimiyyah. 

Maka dengan itu jelas ada bahaya besar kalau kita melakukan interaksi dengan makhluk jin apapun itu sebutanya,
kita bisa kita petik hikmah dari cerita seorang jin yang mencintai ulama sekelas ibnu taimiyyah maka jin itu berbohong atasnama ibnu taimiyyah, itupun perkataan ibnu taimiyyah yang menjawab pertanyaan orang orang :malaikat tidak mungkin berbohong..

Apalagi kepada kita yang bukan siapa siapa tentunya bisa se'enaknya si jin pendamping mengalabui kita yang paling bahaya dalam hal keyakinan

Kita ambil contoh
kalau seseorang yang bukan dari golongan orang yang di berikan karomah oleh allah karena ketaatannya kepada allah bahkan dalam kehidupanya masih suka melaksanakan dosa besar dan kecil tapi punya kehebatan dengan
tidak tembus tubuhnya di terjang peluru contohnya,itu dapat di pastikan bukan karomah,berarti ada peranan jin pendamping,sehingga waktu di tembak beberapa kali tidak tergores sedikitpun oleh peluru apalagi meninggal
Mungkin sedikit banyaknya di dalam hati orang tsb ada keyakinan saya hebat tidak bisa mati oleh peluru
Secara tidak langsung bahwa dirinya punya kuasa akan kematian dan sekaligus dirinya membantah kepada firman allah

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Ingat

Makhluk tidak punya kuasa
Maka kalau ada keyakina didalam hati bahwa manusia yang punya kuasa berarti sudah membuat tandingan kepada allah swt

Wallohul muwafiq ila aqwamittoriq



Baca penjelasan jin adalah penipu di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/bisikan-gaib-menurut-sudut-pandang-islam.html

Monday, 25 March 2019

Tarekat

Tarekat 

dalam pelaksanaan yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak beguna.
(Imam Ghazali)


Tarekat 

menurut bahasa berarti "jalan" atau "metode", dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf
sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam yaitu :
syari'attariqahhaqiqah, dan tingkatan keempat ma'rifat yang merupakan tingkatan yang 'tak terlihat'. 
Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat, 

Korelasi antara Syariah, Thariqah, Haqiqah dan Ma'rifat

Uraian tentang syariat,thariqah,haqiqah dan ma'rifat di atas menggambarkan betapa seriusnya para ulama sufi dalam upaya memberi jalan bagi umat untuk mengamalkan ajaran Islam dengan mudah dan tepat, sehingga mengantarkan hamba menuju kebahagiaan lahir dan batin. 

Bahwa keempat tema tersebut adalah sebuah konseptualisasi terhadap islam oleh para sufi dalam rangka menjelaskan prosedur pengamalan islam dengan benar sehingga berfungsi bagaikan program dan kurikulum yang harus di lalui seorang hamba agar mencapai tujuan ber-islam. 

Islam sebagai agama Allah ini adalah berdimensi luas, yaitu zhohir dan batin (esosentrik dan esoteri) sebagaimana kesempurnaan Allah sendiri yang Maha Zhohir dan Maha Batin sekaligus.

Jika syariah mewakili dimensi eksoterik islam, maka haqiqah dan ma'rifat adalah menempati dimensi batinnya. 
Demikian itu adalah karena memang ada seorang hamba yang mengamalkan Islam hanya berdimensi badaniah zhahiriah saja. Adpula yang mengamalkan serempak menembus dimensi rohaniahnya, sehingga dapat mencapai tujuan pengalaman islam.

Singkatnya,konseptualisasi tersebut menggambarkan intensitas keislaman pengamalnya, bukannya mengkotak-kotakan islam menjadi empat dimensi terpisah.

Dalil tentang tarekat dalam riwayat hadits dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة

"Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga".
(HR. Thabrani)


Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya'rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة...
ما سلك احد طريقة منها الا نجا

"Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat".

Bermuara dari firman allah swt

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu TUJUH THORIQOH; dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami.
(Al Mu'minuun 17).

Ahli tarekat akan melalui

1.Alam nasut

artinya alam dunia yakni alam yang dihuni manusia yang juga disebut alam al-mulk ( alam kekuasaan ) atau
Alam yang terlihat oleh mata ahir (Alam jasmani) yang 
isinya : 
Manusia, hewan asalnya dari unsur air, kejadiannya dari Nafsu Sawiah (bening), keluarnya dari mata,  wataknya bisa mlihat.
ilmunya : tingkat syareat, 
akalnya : hasab (mencari)

alam nasut merupakan alam kasat mata atau alam syahadah. 

والحاصل
: إنّ السالك إذا أخذ فى سيره إلى مولاه ، وجدّ فى سيره ، وتأدّب مع الرقيق فى مسراه قطع العوالم حتّى يتشرف بالوصول إلى تلك المعالم

(Dan hasilnya) bahwasanya seorang salik itu apabila mengambil pada perjalanan kepada Tuhannya dan bersungguh-sungguh ia pada perjalanannya dan beradab beserta Syaikhnya pada zahir bathinnya, diputuskan segala ‘awaalim hingga hampir dengan sampai kepada maksudnya daripada segala ‘awaalim itu.

فأوّل عالم  يُقَطِّعهُ عالم الملك وهو ما يدرك بالبصر من الأجسام وغيرها وهو عالم النفس

Maka pertama yang diputuskan ‘Alam Mulk dan yaitu yang didapat akan dia dengan mata kepala, daripada segala ajsam dan lainnya, maka dinamakan dia ‘alam an-Nafs.

2.Alam Malakut

ثمّ عالم  الملكوت وهو ما يدرك بالبصيرة وهو عالم القلب

Kemudian maka ‘alam malakut dan yaitu barang yang dapat akan dia dengan mata hati dan dinamakan dia ‘alam al-Qalb.

Alam malakut ialah Alam Qolbi (hati) isinya para malaikat, 
asalnya dari unsur angin, kejadiannya dari Nafsu Mutmainah (tenang), 
keluarnya dari hidung, 
wataknya bisa mencium, 
ilmunya tingkt hakekat, 
Akalnya Huda (menjedi wayang) artinya orang itu sudah betul-betul pasrah (tawakal) bagaimana yang mengatur saja, dan ia merasakan kehadiran Allah, dan orang yang ilmu pengetahuannya sudan mencapai Alam Malakut,
maka ia akan bisa melihat suatu Alam yang mana makhluknya serba putih yang sedang berdiri, ruku, sujud,dan duduk. Dan orang yang mencapai tingkat ini hatinya di penuhi oleh Nur (Cahaya) sehingga di kehidupannya tenang dan tentram

3.Alam jabarut

 ‘ثمّ عالم  الجبروت وهو عالم الروح

Kemudian maka ‘alam jabaruut dan
yaitu dinamakan ‘alam arwah.
Alam jabarut ialah alam kekuasaan Allah Swt. 
Alam jabarut juga merupakan realitas yang disebut singgasana ( Al-Arsy ) hal ini merupakan bagian supra formal atau manifestasi kemalaikatan, 
Yaitu Alam yang tidak terlihat oleh mata lahir (Alam Rohani) isinya : Jin, Syetan, Merkayangan dan Bangsa Siluman, 
asalnya dari unsur api, 
kejadiannya dari Nafsu Amarah (panas), keluarnya dari telinga, wataknya bisa mendengar, ilmunya tingkat thorikot, 
akalnya a’to (yang melakukan)

Orang ilmu pengetahuannya sudah masuk Alam Jabarut, pada umumnya orang tersebut di katakan jadab, karena dia sudah melihat dua Alam (Alam nyata dan alam tidak nyata), sehingga kelakuannya orang tersebut itu agak aneh,
tidak umum dengan orang ain. 
Dan biasanya orang tersebut hatinya hidup. 
Dia bisa melihat dan mendengar susuatu yang sifatnya ghoib walaopun masih tahapan (tipuan) artinya apa yang dia lihat atau di dengar tidak semua benar, kadang bisa menjatuhkan dan menyesatkan. 

Sehingga orang yang masuk Alam Jabarut harus hati-hati dan waspda, jangan sampai terpedaya, dan menjadi sibuk lupa dngan tujuan hidup yaitu ingat bahwa pengetahuan yang di berikan kepadanya dari allah swt

4.Alam Lahut

ثمّ عالم  اللاهوت وهو عالم السر وعنده يذهب الإسم والرسم ، ولايشهد هناك إلا الأحد وهذا غاية الفناء ، ومنه يرجع العارف إلى البقاء ويصير مرشدا ومقتدى

Kemudian maka alam lahuut dan dinamakan ‘alam as-Sir dan padanya hilang nama dan segala musamma dan tiada dilihat disana melainkan Tuhan Yang Waahidul Ahad. 

Dan inilah sehingga-hingga fana dan daripadanya kembali orang yang ‘arif itu kepada baqa`nya, dan jadi ia mursyid, 
yakni yang menunjukkan muridin dan tempat ikutan,

ولتخلع النعلين خلع محقق – وخلا عن الكونين في مسراه ولتفن حتى عن فنائك إنه – عين البقاء فعند ذاك تراه

Dan tanggalkan olehmu dua kaus kamu yakni ilmu dan ‘amal itu sebagai tanggal yang sebenar-benarnya, 
Dan sucikan di dalam hatimu daripada dua kaun yaitu dunia dan akhirat Dan fana`kan olehmu hingga daripada fana`mu, bahwasanya ialah dinamakan maqam baqa` Maka pada ketika itu melihat engkau akan Dia
Lahut berasal dari kata al-llah atau ketuhanan, 

lahut adalah mahluk dan pribadi tuhan Alam lahut terkadang disebut pula alam `izzah (alam keagungan) sebagai bagian dari nama-nama aifat allah Swt. 
Ia merupakan Al-Kholiq ( pencipta ) dalam kaitanya dengan dunia dan akhirat dan sebagai Tuhan pribadi atau sebagai Pribadi, 
yang mendengarkan permohonan , yang mematikan 
yang menghidupkan, 
yang member penghidupan, 
yang mencipta, 
yang menerima tobat dsb

Adapun Alam Lahut itu adalah mertabat Latain artinya tidak ada pernyataan, 

maka dinamakan Alam Lahut itu adalah Asma ‘Zat, artinya Isma’ Zat Allah Taala Zat yang belum bernama Allah, 
hanya dengan bernama Zat Ahadiah.

Di dalam mertabat Alam Lahut, 
Asma ‘Zat yang Maha Suci itu adalah tujuh Asma’nya yaitu: 

1.HU artinya Zat Tuhan yang Esa semata-mataGHAIBUL GHUYUB artinya, tidak ada berpihak dan tidak bertempat, tidak Ia diatas, di bawah, di kiri, di kanan, di depan dan di belakang.

2.AHADIAH artinya dari pihak yang tidak sampai ke pengenalan para-para Nabi, apa lagi yang lain dari Nabi-nabi, yang mengetahui hanya dia.

3.GHAIBUL HAWIAH artinya, dari pihak Ia tidak berzat, berisma ‘dan berakal seperti manusia.

4.UJUDUL MUTLAK artinya tidak semua yang Hakiki hanya DIA ABADAN ABADA artinya tidak ada yang mengetahui wujudnya sesuatu semuanya

5.LATAIN artinya tidak dapat dipikirkan oleh akal, Makrifat orang-orang yang Arifin Billah. Alam Lahut pada mertabat Latain, 
DIAlah Zatul MUTLAK yang tidak bercerai dan tidak berkumpul, semata-mata DIA, belum lagi bernama ALLAH, karena belum ada NUR MUHAMMAD SAW. 
Berkenaan dengan ILMU Tajali Alam Lahut tidak ada Ilmu pada Nur Muhammad, hanya DIA yang bertajali semata.Martabat ITHLAQ artinya gaib yang sepenuhnyaZatul BUHTI artinya zat semata-mataGAHIBUL MUTLAK artinya gahib yang sepenuhnya‘ZIHIN’ artinya tatkala sunyi ia dari sesuatuALAM sirr artinya rahasia allah



Para ulama sufi yang kasyaf mengabarkan bahwa secara garis besar alam terdiri dari
1.alam nasut (alam mulk / alam jasad)
2.alam malakut (alam mitsal)alam 3.jabarut (alam ruh)alam lasut
4.Alam lahut adalah alam derajat/tingkatan/maqom nya di atas Alam Jabarut. 
Alam Jabarut, adalah alam yang “paling dekat” dengan aspek-aspek Ketuhanan, penghuni alam Jabarut adalah ‘sesuatu yang bukan Allah dalam aspek Ahadiyyah’, melainkan derivasi (turunan) dari aspek Ahadiyyah yang tertinggi selain apa pun yang ada. 
Misal penghuni alam ini adalah Nafakh Ruh (Tiupan Ruh Allah) yang mampu manghidupkan jasad, Ruh Al-Quds.
Alam Malakut adalah suatu alam yang tingkat kedekatan dengan aspek Allahnya lebih rendah dari Alam Jabarut, namun masih lebih tinggi dari Alam Mulk. 
Baik Alam Jabarut maupun Alam Malakut, keduanya adalah realitas/wujud yang tidak dapat ditangkap oleh indera jasadiah kita. Indera jasad biasanya hanya bisa menangkap sesuatu yang terukur secara jasad, sedang Alam Jabarut dan Alam Malakut memiliki ukuran melampui ukuran jasad.
Misal penghuni Alam Malakut adalah malaikat, An-nafs(jiwa)
Alam Mulk, adalah alam yang tingkat kedekatannya dengan aspek Allah adalah yang paling rendah. 
Dalam wujudnya terbagi menjadi 2, yang tertangkap oleh indera jasad dan yang gaib (dalam arti tidak tertangkap/terukur) bagi indera jasad. Jadi karena keterbatasan indera jasad kita, ada wujud yang sebetulnya bukan penghuni alam-alam yang lebih tinggi dari alam Mulk, tetapi juga tidak tertangkap kemampuan indera jasad.

Yang terukur oleh indera jasad contohnya tubuh/jasad manusia, jasad hewan, jasad tumbuhan. Penghuni alam Mulk yang tidak terukur oleh indera jasad contohnya adalah jin dengan segala kehidupannya. 
Jin dengan segala kehidupannya bisa dimengerti oleh indera-indera malakuti (indera-indera an-nafs/jiwa)
Manusia hidup di dua alam sekaligus, tubuh (jasad) kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. 

Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut,alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. 
Sementara itu, ruh kita hidup di alam ghaib (metafisik), tidak terikat dalam ruang dan waktu. 
Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Bukan hanya manusia, segala sesuatu mempunyai malakutnya.

Perkembangan tarekat

pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). 
Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut.

Pada masa itu ilmu Tasawuf sering pula disamakan dengan ilmu Tarekat dan teori tentang maqam (peringkat kerohanian) dan hal (jamaknya ahwal, keadaan rohani). 
Di antara maqam penting yang ingin dicapai oleh seorang penempuh jalan tasawuf ialah 
1.mahabba atau `isyq (cinta), 
2.fana` (hapusnya diri/nafs yang rendah), 
3.baqa` (rasa hidup kekal dalam Yang Satu), ma`rifa (makrifat) dan ittihad (persatuan mistikal), serta kasyf (tersingkapnya penglihatan hati).

Kehidupan para sufis  abad 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme. 
Keadaan ini memberikan sumbangsih pada terjadinya degradasi moral masyarakat. 
Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme abad tersebut.

Maraknya praktek sufisme dan tarekat di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosio-politik dunia Islam.

tarekat yang pernah muncul sejak abad ke-12 (abad ke-6 H) itu antara lain :

1.Tarekat Qadiriyah, (dihubungkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang wafat di Irak pada 1161 H) yang mempunyai penganut di Irak, Turki, Turbekistan, Sudan, Cina, India, dan Indonesia.

2.Tarekat Syadziliah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Asy-Syadzili, yang wafat di Mesir pada 1258 M), yang mempunyai pengikut di Mesir, Afrika Utara, Syiria, dan Negri-negri Arab lainnya. 

Pokok-pokok ajarannya antara lain :

A.Bertaqwa kepada Allah ditempat sunyi dan ramai Mengikuti sunnah dalam segala perkataan dan perbuatan 

B.Berpaling hati dari makhluk waktu berhadapan dari waktu membelakangi

C.Kembali kepada Allah diwaktu senang dan susah

3.Tarekat Rifaiyah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Ar-Rifai, yang wafat di Mesir pada 1182 M), yang mempunyai pengikut di irak dan di Mesir.

4.Tarekat Naqsabandiyah (dihubungkan kepada Syekh Bahaudin Naqsabandi yang wafat di Bukhara pada 1389 M), yang mempunyai pengikut di Asia Tenggara, Turki, India, Cina, dan Indonesia. 

PONDASI tarekat Naqsabandiah antara lain :

A.Berpegang teguh kepada aqidah ahlusunnah

B.Meningggalkan ruqsah

C.Memilih hokum-hukum yang Senantiasa dalam muraqabahTetap berhadapan dengan TuhanMenghasilkan malakah hudhur (menghadirkan Tuhan dalam hati)

D.Menyendiri ditengah keramaian serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah

E.Berpakaian dengan pakaian mukmin biasa

F.Zikir tanpa suara


5.Tarekat Syatarriyah, (dihubungkan menghidupkan Syekh Abdullah Asy-Sattari yang wafat di india pada 1236 M), yang mempunyai pengikut India dan Indonesia.
Tokoh-tokoh toriqoh yang terkemuka sebagai guru kerohanian tidak hanya menguasai ilmu tasawuf, tetapi juga bidang ilmu agama lain seperti fiqih, hadis, syariah, tafsir al-Qur’an, usuluddin, ilmu kalam, nahu, adab atau kesusastraan,tarikh (sejarah), dan lain sebagainya. 
Bahkan juga tidak jarang yang menguasai ilmu ketabibab, ilmu hisab (arithmatika), mantiq (logika), falsafah, ilmu falaq (astronomi), perkapalan, perdagangan, geografi, pelayaran, dan lain sebagainya. Dalam berdakwah tidak jarang mereka menggunakan media kesenian dan juga menggunakan budaya lokal

Di antara tarekat yang mula-mula muncul dan berkembang luas dalam perjalanan sejarah Nusantara adalah tarekat Qadiriyyah di Baghdad. 

Tarekat ini dinisbahkan kepada Muhyidin Abdul Qadir bin Abdullah al-Jelani (w.1166 M). 
Tarekat yang lain adalah tarekat Rifa'iyah di Asia Barat yang didirikan oleh Syekh Ahmad Rifa’i (w.1182 M).
tarekatSadziliyah di Maroko dengan Nuruddin Ahmad bin Abdullah al-Syadzily (w.1228 M) sebagai Syekhnya. 
Dari Mesir berkembang tarekat Badawiyah atau Ahmadiyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad al-Badawi (w.1276 M), 
sementara dari Asia Tengah muncul tarekat al-Naqsabandi(w.1317 M). Selain itu bermunculan lagi tarekat lain seperti Bektasiyah di Turki, dan al-Tijaniyah di Afrika Utara.

sejauh ini diketahui bahwa penyebaran tarekat di nusantara berpusat pada satu tokoh utama, yakni Abdur Rauf al-Sinkli di Aceh. Melalui sejumlah muridnya, 
ajaran Tarekat Mu'tabaroh Syattariyah kemudian tersebar ke berbagai wilayah di dunia Melayu-Indonesia. 
Diantara murid-murid al-Sinkli adalah 
- Syeikh Burhanudin dari Ulakan Pariaman Sumatera Barat 
- Syeikh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Keduanya berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di wilayahnya masing-masing.

Di Nusantara Syeh Abdurrauf menjadi guru utama tareqat ini dan ia masuk dalam silsilah tarekat yang dibacakan penganut tarekat Syattariyah sampai saat ini. 
Syeh Abdurrauf memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Nurantara. 
Ia memiliki murid dari berbagai daerah. 
Di Sumatera Barat ajaran-ajaran tasauf As-Sinkili dibawa oleh muridnya Syaikh Burhanuddin Ulakan. 
Berkat muridnya ia Tarekat Syattariyah menjadi tarekat yang sangat berpengaruh di sekitar daerah Pariaman. 
Sementara di Sulawesi ajaran-ajaran tasawuf as-Sinkili dibawa oleh Syaikh Yusuf Tajul Khalwati Makssar. 
Di kepulauan Jawa Syattariyah disebarkan oleh muridnya Syaeh Abdul Muhyi. 
Ia belajar kepada as-Sinkili pada saat singgah di Aceh dalam pejalanannya ke Makkah utuk menunaikan ibadah haji. 

Ada lagi qodiriyyah yaitu nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh muhyiddin abu muhammad abdul qodir al jaelami .
Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di iraq dan syiria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke 13 Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di mekah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M
Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS, ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat. 
Garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini berasal dari Sayidina Muhammad Rasulullah SAW, 
kemudian turun temurun berlanjut melalui 
* Sayidina Ali bin Abi Thalib ra
* Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra, 
* Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra, 
* Sayidina Muhammad Baqir ra
* Sayidina Al-Imam Ja'far As Shodiq ra
* Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim
* Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido
* Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi
* Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti
* Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi
* Syaikh Abu Bakar As-Syibli
* Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi
* Syaikh Abul Faraj Altartusi
* Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari
* Syaikh Abu Sa'id Mubarok Al Makhhzymi
* Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS.


Di indonesia cabangan tarekat Qodiriyah ini secara khusus oleh Syaikh Achmad khotib al syambasi  digabungkan dengan tarekat Naqsyabandiyah menjadi tarekat QODIRIYYAH WA NAQSABANDIYYAH. 
Kemudian garis salsilahnya yang salah satunya melalui Syaikh Abdul Karim Tanara Al-Bantani berkembang pesat di seluruh Indonesia.
Syaikh Ahmad Khatib memiliki banyak wakil, di antaranya adalah:

 * Syaikh Abdul Karim dari Banten,   *Syaikh Ahmad Thalhah dari Cirebon, 
 * Syaikh Ahmad Hasbullah dari Madura,
 *Muhammad Isma'il Ibn Abdul Rahim dari Bali, 
* Syaikh Yasin dari Kedah Malaysia, 
* Syaikh Haji Ahmad dari Lampung 
* Syaikh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang. 

Mereka kemudian menyebarkan ajaran tarekat ini di daerah masing-masing.

Penyebaran ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah di daerah Sambas Kalimantan Barat (asal Syaikh Ahmad Khatib) dilakukan oleh dua orang wakilnya yaitu Syaikh Nuruddin dari Philipina dan Syaikh Muhammad Sa'ad putra asli Sambas. Baik di Sambas sendiri, maupun di daerah-daerah lain di luar pulau Jawa, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah tidak dapat berkembang dengan baik. Keberadaan tarekat ini di luar pulau Jawa, termasuk di beberapa negara tetangga berasal dari kemursyidan yang ada di pulau Jawa. Penyebab ketidakberhasilan penyebaran tarekat ini di luar pulau Jawa adalah karena tidak adanya dukungan sebuah lembaga permanen seperti pesantren.

Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat (1878), 
pengembangan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dilakukan oleh salah seorang wakilnya yaitu Syaikh Tolhah bin Talabudin bertempat di kampung Trusmi Desa Kalisapu Cirebon. 

Selanjutnya Dia disebut Guru Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah untuk daerah Cirebon dan sekitarnya. Salah seorang muridnya yang bernama Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang kemudian dikenal sebagai Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya.

Wallahu a'lam


Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

Wednesday, 20 March 2019

Rosulullah menunggangi kendaraan super cepat waktu isro mi'raj


                                  البراق
Alburoq

cahaya atau kilat adalah sesosok makhluk tunggangan yang super hebat sehingga bisa menembus dimensi waktu dengan waktu singkat membawa Nabi Muhamad SAW dari Masjid al-Aqsa menuju Mi'raj ketika peristiwa Isra Mi'raj. 

Bentuk burok

1.sabda rosulullah saw

وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu buraq.
 (HR. Bukhari)

2.sabda rosulullah saw

ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، يُقَالُ لَهُ: الْبُرَاقُ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ، فَحُمِلْتُ عَلَيْه

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya Buraq. Lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya
(HR. Ahmad & Muslim).

3.rosulullah saw

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Aku mengikat buraq di salah satu pintu masjid baitul maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka 
(Muslim)

Peristiwa menembus kecepatan cahaya sebelum rosulullah saw isro mi'raj

Sebelum Nabi Muhammad memang pernah terjadi pada benda. 
Benda tersebut bisa berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang jauh dalam orde sepersekian detik saja DENGAN MENEMBUS DIMENSI WAKTU Itulah peristiwa berpindahnya singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba ke Kerajaan Nabi Sulaiman. 
Waktu itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya yang ketika itu memang sengaja dikumpulkan olehnya. 
Nabi Sulaiman mengatakan kepada para stafnya untuk melakukan suatu kejutan terhadap Ratu Balqis yang ketika itu sedang menuju ke kerajaan Nabi Sulaiman. 
Ternyata Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu Balqis ke kerajaannya. 
Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya siapa yang bisa melakukan hal tersebut. 
Yang mengajukan diri pertama kali adalah Jin Ifrit. 
Ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa memindahkannya. Dijawab oleh Jin Ifrit bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya dijamin singgasana itu sudah sampai di hadapannya. 

Tentunya hal ini sangat cepat tapi ternyata Nabi Sulaiman belum puas akan hal tersebut.

Kemudian Nabi Sulaiman bertanya lagi kepada para stafnya siapa yang bisa lebih cepat melakukan hal tersebut. 
Yang mengajukan diri kemudian ternyata adalah seorang manusia, yaitu manusia yang menguasai ilmu dari al-Kitab. 

Orang itu kemudian ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa melakukannya. 
Dijawab oleh orang itu bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip lagi. 
Ternyata memang benar adanya, sebelum Nabi Sulaiman berkedip, singgasana Ratu Balqis sudah berada di hadapannya. 

Satu kedipan mata berarti waktunya kurang dari satu detik. 

Berkaitan dengan Isra’ Mi’raj, ternyata perjalanan Nabi Muhammad tersebut terjadi dalam waktu tidak sampai satu kedipan mata pun.

Analisa logika

baginda nabi menggunakan mesin waktu (Buraq) yang melesat diatas kecepatan cahaya.

Contoh misalnya 

kecepatan cahaya 300.000km perdetik
satu hari disisi Allah = 1000 tahun didunia 

maka 1000 x 365 x 24 x 60 x 60 = 31.536.000.000 detik.

Apabila di kalikan lagi dengan kecepatan cahaya = 9.460.800.000.000.000. 

Apakah ini kecepatan kendaraan nabi dalam hitungan detik ?

Wallohu a'lam

sedangkan

Kereta api yang tercepat di dunia yaitu maglev train, kecepatannya sekitar 600 kilometer per jam.

Pesawat terbang tercepat di dunia ini, dapat terbang maksimal dengan kecepatan 3500 kilometer per jam

Roket terbang menembus atmosfer memiliki kecepatan 40.000 kilometer per jam,

Satelit terbang ke ruang hampa udara berkecepatan 60.000 kilometer per jam. 

Peluru setelah di tembakan hanya memerlukan waktu semenit untuk ditembakkan sejauh 100 mil dan akan kena sasaran secara akurat atau Delapan kali kecepatan suara

Dan mungkin teknologi buatan manusia bisa jadi ada yang lebih tingkat kecepatanya lebih dari itu..

Kalau isro mi'raj di terimanya hanya dengan keimanan,mungkin jaman dulu banyak orang tidak percaya dikarenakan mustahil karena jarak antara Masjidil Haram (Mekah) dan Masjidil Aqsha (Palestina) sekitar 1500 km, yang memerlukan masa perjalanan sekitar 40 hari lamanya.

Tapi waktu jaman sekarang bisa di buktikan dengan perbandingan teknologi yang ada meskipun tidak akan sama minimal untuk gambaran
Meskipun tidak bisa di gambarkan, berapa km/jam kecepatan kendaraan rosulullah waktu isro mi'raj ????
Wallohu a'lam

Maka pantas perjalanan isro mi'raj dengan jarak bermilyar2 kilometer bisa di tempuh dengan waktu yang singkat..

Subhanallah


Artikel terkait tentang sidratul muntaha di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/sidratul-muntaha-dan-akarnya-yang_19.html


Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:



https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

Wednesday, 13 March 2019

Sejarah perayaan maulid dan isro mi'raj nabi

Di beberapa penjuru dunia ada sebagian muslim bilamana datang bulan robiul awal dan bulan rojab suka melaksanakan pengajian yang di beri judul


Perayaan maulid nabi saw
                         &
Perayaan isro mi'raj nabi saw


Bagaimana sejarahnya


Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. 
Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. 
Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. 
Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana
namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai dan dekat dihati rakyat jelata. 

Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub –katakanlah dia setingkat Gubernur. 

Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. 
Kata Salahuddin semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. 

Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, 
ternyata khalifah setuju. 

Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Apa yang dilakukan Salahuddin pada waktu itu sebetulnya pada mulanya  ditentang oleh  ulama. 
Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. 
Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, 
yaitu 

Idul Fitri dan Idul Adha. 

Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, 
bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. 
Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. 

Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. 

Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. 
Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. 

Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. 

Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanj. 

Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 

‘Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) 

yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. 
Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. 
Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.


Pendapat ulama tentang

PERAYAAN MAULID NABI



1.Pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashriy Qaddasallahu Sirrah (wafat 116 H) yaitu generasi salafush shaleh dan ayah beliau adalah pelayan Sahabat Zaid bin Tsabit (penulis wahyu)

Imam Hasan Al-Bashriy pernah berjumpa sekitar 100 sahabat Nabi. Menurut Qatadah, Imam Hasan paling tahu tengtang halal dan haram, pendapatnya seperti Sahabat Umar bin Khatththab radliyallahu ‘anh, menjadi rujukan dalam bertanya. 

Menurut Hisyam bin Hasan, Imam Hasan Al-Bashriy adalah paling pandai dimasanya dan menurut Abu Umar bin al-‘Ala’, orang yang sangat fashih. Beliau mengatakan tentang betapa istimewanya Maulid Nabi,


قال الحسن البصري، قدس الله سره: وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لانفقته على قراءة مولد الرسول


 “Seandainya aku memiliki emas

seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya (semuanya) kepada orang yang membacakan Maulid ar-Rasul


2.Pendapat Al-Imam Ma’aruf Al-Kharkhiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 200 H), beliau juga termasuk generasi salafush shaleh yang alim, zuhud dan terkenal dikalangan fukaha’ sebagai orangyang fakih

Beliau mengungkap peringatan Maulid Nabi yang terjadi dimasa beliau, keistimewaan serta balasan bagi orang yang memperingati Maulid Nabi,

قال معروف الكرخي قدس الله سره: من هيأ لاجل قراءة مولد الرسول طعاما، وجمع إخوانا، وأوقد سراجا، ولبس جديدا، وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الاولى من النبيين، وكان في أعلى عليين

 “Al-Imam Ma’aruf Al-Kurkhiy Qaddasallahu sirrah, barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, mengumpulkan saudara-saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi), maka Allah akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi2

3.Pendapat Al-Imam Agung Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i Rahimahullah (wafat 204 H)

Beliau menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berjamaah dan disediakan makanan sebagai rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, serta beliau juga menuturkan keutamaan orang yang memperingatinya,

قال الشافعى رحمه الله من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين

 “Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم) karena kecintaan (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin


4.Pendapat Al-‘Arif Billah Al-Imam As-Sirriy As-Saqathiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 257 H). Termasuk generasi salafush shaleh yaitu generasi tabiut tabi’in

seorang yang sangat berpendirian teguh, wara, sangat alim dan ahli ilmu tauhid. Beliau mengungkapkan keutamaan memperingati Maulid Nabi karena kecintaan kepada Rasulullah dan kelak akan bersama dengan Rasulullah,

وقال السري السقطي: من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة 


“Imam As-Sirry As-Saqathiy berkata, barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم), maka sungguh dia menghendaki “Raudhah (taman)” dari taman-taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Sungguh Rasul (صلى الله عليه وسلم) bersabda : “barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga

5.Pendapat Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy Rahimahullah (wafat 297 H), masih termasuk generasi shalafuh shaleh

Beliau menuturkan beruntungnya keimanan seseorang yang menghadiri Maulid Nabi,

قال الجنيدي البغدادي رحمه الله: من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان

 “Imam Junaid al-Baghdadiy rahimahullah berkata, barangsiapa yang menghadiri Maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah), maka dia beruntung dengan keimananny


6.Pendapat Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah
beliau menuturkan tentang keutamaan Maulid Nabi sebagai berikut,

قال ابن الجوزي رحمه الله تعالى من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام 

“Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah
 berkata, diantara keistimewaan Maulid Nabi adalah keadaan aman (pencegah mushibah) pada tahun itu, kabar gembira serta segala kebutuhan dan keinginan terpenuhi” 


7.Pendapat Al-Imam Abu Syamah Rahimahullah (wafat 655 H). Beliau ulama agung bermadzhab Syafi’i dan merupakan guru besar dari

Al-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Asy-Syekhul Islam An-Nawawiy Ad-Damasyqiy Asy-Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam Abu Syamah menuturkan,

قال الامام أبو شامة شيخ المصنف رحمه الله تعالى: ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل في كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده (صلى الله عليه وسلم): من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور، فإن ذلك مع ما فيه من الاحسان إلى الفقراء يشعر بمحبة النبي (صلى الله عليه وسلم) وتعظيمه وجلالته في قلب فاعل ذلك، وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين 

“dan sebagus-bagusnya apa yang diada-adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus 
ebagai rahmat bagi semesta alam

8.Pendapat Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad Ibnu Abdullah Al-Jazariy Asy-Syafi’i (wafat 660 H)
Beliau adalah guru dari para Qurra’ (Ahli baca Al-Qur’an) dan Imam Qira’at pada zamannnya. 
Beliau memiliki karya Maulid yang masih berupa manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “ ‘Arfut Ta’rif bi Al-Maulidi Asy-Syarif”. 
Beliau mengatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi sangat pantas untuk menampati surga yang penuh kenikmatan

,
فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم، لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم 

“maka jika Abu Lahab yang kafir yang diturunkan ayat al-Qur’an untuk mencelanya masih diberi ganjaran kebaikan didalam neraka karena bergembira pada malam Maulid Nabi, lantas bagaimana dengan seorang Muslim yang mentauhidkan Allah, yang merupakan umat dari Nabi (صلى اله عليه وسلم) yang senang dengan kelahiran Beliau dan menafkahkan apa yang dia mampu demi kecintaannya kepada Nabi (صلى اله عليه وسلم). Demi Allah, sesungguhnya yang pantas bagi mereka berupa balasan dari Allah yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamannya kedalam surga yang penuh kenikmatan


9.Pendapat Al-Imam Yafi'i Al-Yamaniy Rahimahullah (wafat 768 H) 
turut menuturkan keutamaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, 

وقال الامام اليافعي اليمنى: من جمع لمولد النبي (ص) إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

 “Dan berkata Imam Al-Yafi’iy Al-
Yamani : “Barangsiapa yang mengumulkan saudara-saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan, beramal yang baik dan menjadikannya untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, maka Allah akan membangkitkan pada hari Kiamat bersama para Shadiqin, Syuhada, Shalihin dan menempatkannya pada tempat yang tinggi

10.Pendapat Al-Hafidz Al-Imam Al-Muhaddits Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqiy (777 H - 842 H) 
yang telah mengarang kitab Maulid, diantaranya kitab Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil Mukhtar (terdiri dari 3 jilid), Al-Lafdzur Roiq fi Maulidi Khayril Khalaiq (bentuknya ringkas), Mauridush Shadi fi Maulidil Had. Beliau mengatakan (dalam sebuah syair),

إذا كان هـذا كافرا جـاء ذمـه وتبت يـداه في الجحـيم مخـلدا أتى أنـه في يـوم الاثنين دائـما يخفف عنه للسـرور بأحــمدا فما الظن بالعبد الذي طول عمره بأحمد مسرورا ومات موحـــدا

 “Jika orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya (yakni) “dan celakalah kedua tangannya didalam neraka Jahannam kekal didalamnya” ; “Telah tiba pada (setiap) hari senin untuk selamanya diringankan (siksa) darinya karena bergembira ke (kelahiran) Ahmad ; “lantas bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, karena (kelahiran) Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya


11.Fatwa Al-Imam Asy-Syeikhul Islam Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (773 H - 852H)
yang telah mensyarah kitab monumental Imam Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama dengan kitabnya tersebut dengan nama Fathul Bari ‘alaa Shahih Bukhari. 
Beliau memfatwakan bahwa amal Maulid termasuk ke dalam bid’ah Hasanah (perkara baru yang bagus) dan beliau juga mendapati dasar syara’ yang sangat terang mengenai peringatan Maulid Nabi,

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة، وإلا فلا 

“Asal amal Maulid adalah bid’ah, tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi bersamanya mencakup (mengandung) kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barangsiapa yang mengambil kebaikan-kebaikannya pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka itulah bid’ah Hasanah (بدعة حسنة), dan jika tidak (menjauhi keburukannya) maka tidak (bukan bid’ah Hasanah

Lebih lanjut lagi, beliau memfatwakan dasar yang sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi,

وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم

 “dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hokum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu
]


12.Fatwa Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy (849 H - 911 H), didalam kitabnya beliau menuturkan bahwa sangat jelas dasar syara’ mengenai peringatan Maulid Nabi,

وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر، وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته، والعقيقة لا تعاد مرة ثانية فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى الله عليه وسلم إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين، وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه، لذلك فيستحب لنا أيضا إظهار الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات

 “dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan (riwayat) bahwa kakek beliau Abdul Mutthalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya. adapun aqiqah tidak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi (صلى الله عليه وسلم) menerangkan tentang (rasa) syukur beliau karena Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh karena itu, maka juga boleh (mustahab/patut) bagi kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (karena kelahiran 

beliau
Fatwa beliau lainnya menyatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala dan peringatan Maulid Nabi termasuk kedalam bid’ah hasanah. Beliau ditanya tentang Maulid Nabi,

فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟ الجـــــواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف وأول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبرى بن زين الدين علي بن بكتكين أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد، وكان له آثار حسنة، وهو الذي عمر الجامع المظفري بسفح قاسيون 

“Sungguh telah ada pertanyaaan 
tentang peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul awwal, tentang bagaimana hukumnya menurut syara’ dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan serta apakah orang yang memperingatinya mendapatkan pahala ?” Jawabannya, menurutku pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusai, membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permualaan perintah Nabi serta tanda-tanda yang datang mengiringi kelahiran Nabi kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar setelah itu tanpa ada tambahan-tambahan lain, itu termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. 
Karena perkara didalamnya adalah bagian dari pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan merupakan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad, dan yang pertama mengadakan hal semacam itu (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja al-Mudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan demawan. Beliau 
membangun al-Jami’ al-Qari


begitu juga tentang PERAYAAN isro mi'raj nabi sebab di peristiwa itu ada peristiwa yang luar biasa dengan kata lain untuk MENGAGUNGKAN rosululloh yang di muliakan oleh alloh swt sehingga di dari jumlah nabi 124.000 dan jumlah rosul 313 hanya rosulullah saw yang di betangkatkan oleh allah sampai sidratul muntaha yang di kenal dengan isro mi'raj
Tujuan peringatan maulid dan isro mi'raj


Peringatan Maulid dan Isra Mi’roj  bukanlah kegiatan ritual keagamaan (ibadah mahdhoh), melainkan bagian dari upaya syi’ar Islam, menambah wawasan Islam bagi ummat, menggairahkan semangat ber-Islam ummat serta mempererat silaturrahim ummat. 

Ummat Islam qurun awwal memang mash belum memerlukan hal-hal yang bias mendongkrak keimanan mereka, sebab keimanan mereka masih sangat kuat. Berbeda dengan ummmat yang hidup belakangan yang kadar keimanannya sudah berbeda seiring makin banyaknya godaan dan kendala serta semakin jauhnya mereka dengan qurun keemasan Islam.

Mengangungkan syi’ar agama adalah perintah Allah Swt.

ذلك ومن يعظم حرمات الله فهو خير له عند ربه 

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.”  (Q.S. Al-Hajj  : 30)

ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب  

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
 (Q.S. Al-Hajj :32)

Kedua ayat diatas terkait pelaksanaan manasik haji dan ibadah kurban. Kalau menghormati pelaksanaan kurban dianggap mengagungkan syi’ar Allah, apalagi menghormati Nabi Muhammad yang kemunculannya merupakan syi’ar yang agung.

Perayaan maulud dan isra’ mi’raj Nabi saw adalah ekspresi penghormatan ummat Islam terhadap Nabi Muhammad saw, bukan menghormati hari kelahiran dan di isra’ mi’rojkannya. Dan menghormati Nabi saw adalah perintah agama.

ولقد أخذ الله ميثاق بني إسرائيل وبعثنا منهم اثني عشر نقيبا وقال الله إني معكم لئن أقمتم الصلاة وآتيتم الزكاة وآمنتم برسلي وعزرتموهم وأقرضتم الله قرضا حسنا لأكفرن عنكم سيئاتكم ولأدخلنكم جنات تجري من تحتها الأنهار فمن كفر بعد ذلك منكم فقد ضل سواء السبيل

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”.  
(Q.S. Al-Ma’idah (5) : 12)

فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون 
               
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” 
 (Q.S. Al-A’raf (7) : 157)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ      

Banyak manfaat yang dapat diambil dari Peringatan maulid dan isra’ mi’raj Nabi saw. Antara lain :Menambah wawasan tentang kisah hidup Nabi Muhammad saw.

وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك وجاءك في هذه الحق وموعظة وذكرى للمؤمنين 

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” 
 (Q.S. Hud 120)

Dapat mempererat ukhwwah Islamiyyah antar ummat. Hal ini terjadi akibat berkumpulnya ummat Islam didaerah sekitar pelaksanaan.Menambah gairah keislaman serta mengingatkan ummat agar teguh menjalankan ajaran Islam.

وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين 

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” 
(Q.S. Al-Dzariyat  : 55)

Menyemarakkan syiar Islam.Menambah wawasan kemasyarakatan dan keislaman.

Pemahaman ma’na bid’ah tidak dapat digeneralisir. 
Makna bid’ah menurut jumhur bukanlah sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw, melainkan sesuatu yang tidak memiliki dasar  syara’.
 Jika bid’ah diartikan sebagai sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw, maka tentu akan teramat banyak hal yang termasuk bid’ah, 
terutama hal-hal yang terkait dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bahkan dimasa khulafa al-rayidin pun banyak hal hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi kemudian dilakukan shahabat, misalnya pengumpulan dan penulisan  al-Qur’an yang dilakukan oleh Abu Bakr ra atas inisiatif Umar ra. Abu Bakar ra ketika itu sempat menolak dan berkata “ Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat Rasulullah saw ?” , tetapi kemudian setelah mendapat penjelasan dari Umar ra, beliau pun melakukannya Pembukuan Hadits Nabi Saw.

Yang dimaksud bid’ah dholalah oleh Nabi saw adalah penambahan aqidah, ritual ibadah mahdhah atau ghair mahdhah atau pengadaan mu’amalat  baru yang tidak memiliki dasar syara’ dan tidak sesuai  dengan semangat ajaran Islam.                                                                                                                                        
 الامر المحدث الذي لم يكن عليه النبي صلي الله عليه وسلم ولم يكن مما اقتضه دليل الشرع   

“Hal baru yang tidak ada sumbernya dari Nabi saw serta tidak sesuai dengan dalil syara.

Pendapat ini sejalan dengan firman Allah swt. ;

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضي بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم 

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.”  (Al-Syurara 21)

Bila bid’ah ma’nanya dipersempit dengan apa yang tidak pernah dilakukan Nabi saw saja, maka tentu apa yang dilakukan oleh sahabat Umar ra berupa pelaksanaan shalat tarawih 20 rakaat berjama’ah dimasjid termasuk bid’ah dholalah, dan itu tidak mungkin karena Umar ra termasuk salah seorang yang dijamin masuk surga.
 Bahkan terkait dengan pelaksanaan shalat tarawih itu, Umar ra menyatakan  نعم البدعة هذه  (inilah sebaik-baiknya bid’ah).

Adalah tindakan gegabah dan ngawur mencap Umar ra sebagai pelaku bid’ah. 
Begitupun sahabat Utsman ra yang mempelopori adzan jum’at 2 kali. Kepentingan yang mengacu  dasar syara’ yang melatarbelakangi apa yang dilakukan Utsman ra. Karenanya ijma’ menetapkan Utsman sebagai salah seorang sahabat utama Nabi saw yang dijamin masuk surga. Tidaklah mungkin Utsman termasuk pelaku bid’ah.

Wallohul muwafiqi ila aqwamittoriq


Adapun kalau ada dari saudara/i yang tidak biasa atau tidak pernah melaksanakan peringatan maulid atau isro mi'raj nabi kita hormati,terpenting dengan perbedaan yang ada tidak di lihat titik perbedaanya tapi di lihat titik kesamaanya yaitu 
cinta kepada rosulullah saw,
tentunya dengan berbagai cara dalam hal mengungkapkan rasa cintanya kepada rosulullah saw...
Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya kelak...

Amin amin ya robbal alamin

Baca juga penjelasan martabat hadis yang menceritakan alqomah sang anak durhaka,
Di alamat:
https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/martabat-hadis-alqomah-anak-durhaka.html?m=1