Tarekat
dalam pelaksanaan yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak beguna.
(Imam Ghazali)
(Imam Ghazali)
Tarekat
menurut bahasa berarti "jalan" atau "metode", dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf
sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam yaitu :
syari'at, tariqah, haqiqah, dan tingkatan keempat ma'rifat yang merupakan tingkatan yang 'tak terlihat'.
Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat,
Korelasi antara Syariah, Thariqah, Haqiqah dan Ma'rifat
Uraian tentang syariat,thariqah,haqiqah dan ma'rifat di atas menggambarkan betapa seriusnya para ulama sufi dalam upaya memberi jalan bagi umat untuk mengamalkan ajaran Islam dengan mudah dan tepat, sehingga mengantarkan hamba menuju kebahagiaan lahir dan batin.
Bahwa keempat tema tersebut adalah sebuah konseptualisasi terhadap islam oleh para sufi dalam rangka menjelaskan prosedur pengamalan islam dengan benar sehingga berfungsi bagaikan program dan kurikulum yang harus di lalui seorang hamba agar mencapai tujuan ber-islam.
Islam sebagai agama Allah ini adalah berdimensi luas, yaitu zhohir dan batin (esosentrik dan esoteri) sebagaimana kesempurnaan Allah sendiri yang Maha Zhohir dan Maha Batin sekaligus.
Jika syariah mewakili dimensi eksoterik islam, maka haqiqah dan ma'rifat adalah menempati dimensi batinnya.
Demikian itu adalah karena memang ada seorang hamba yang mengamalkan Islam hanya berdimensi badaniah zhahiriah saja. Adpula yang mengamalkan serempak menembus dimensi rohaniahnya, sehingga dapat mencapai tujuan pengalaman islam.
Singkatnya,konseptualisasi tersebut menggambarkan intensitas keislaman pengamalnya, bukannya mengkotak-kotakan islam menjadi empat dimensi terpisah.
Dalil tentang tarekat dalam riwayat hadits dinyakan bahwa :
ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة
"Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga".
(HR. Thabrani)
(HR. Thabrani)
Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya'rany ada sebuah hadits yang menyatakan :
ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة...
ما سلك احد طريقة منها الا نجا
ما سلك احد طريقة منها الا نجا
"Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat".
Bermuara dari firman allah swt
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu TUJUH THORIQOH; dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami.
(Al Mu'minuun 17).
(Al Mu'minuun 17).
Ahli tarekat akan melalui
1.Alam nasut
artinya alam dunia yakni alam yang dihuni manusia yang juga disebut alam al-mulk ( alam kekuasaan ) atau
Alam yang terlihat oleh mata ahir (Alam jasmani) yang
Alam yang terlihat oleh mata ahir (Alam jasmani) yang
isinya :
Manusia, hewan asalnya dari unsur air, kejadiannya dari Nafsu Sawiah (bening), keluarnya dari mata, wataknya bisa mlihat.
ilmunya : tingkat syareat,
akalnya : hasab (mencari)
alam nasut merupakan alam kasat mata atau alam syahadah.
والحاصل
: إنّ السالك إذا أخذ فى سيره إلى مولاه ، وجدّ فى سيره ، وتأدّب مع الرقيق فى مسراه قطع العوالم حتّى يتشرف بالوصول إلى تلك المعالم
(Dan hasilnya) bahwasanya seorang salik itu apabila mengambil pada perjalanan kepada Tuhannya dan bersungguh-sungguh ia pada perjalanannya dan beradab beserta Syaikhnya pada zahir bathinnya, diputuskan segala ‘awaalim hingga hampir dengan sampai kepada maksudnya daripada segala ‘awaalim itu.
فأوّل عالم يُقَطِّعهُ عالم الملك وهو ما يدرك بالبصر من الأجسام وغيرها وهو عالم النفس
Maka pertama yang diputuskan ‘Alam Mulk dan yaitu yang didapat akan dia dengan mata kepala, daripada segala ajsam dan lainnya, maka dinamakan dia ‘alam an-Nafs.
2.Alam Malakut
ثمّ عالم الملكوت وهو ما يدرك بالبصيرة وهو عالم القلب
Kemudian maka ‘alam malakut dan yaitu barang yang dapat akan dia dengan mata hati dan dinamakan dia ‘alam al-Qalb.
Alam malakut ialah Alam Qolbi (hati) isinya para malaikat,
asalnya dari unsur angin, kejadiannya dari Nafsu Mutmainah (tenang),
keluarnya dari hidung,
wataknya bisa mencium,
ilmunya tingkt hakekat,
Akalnya Huda (menjedi wayang) artinya orang itu sudah betul-betul pasrah (tawakal) bagaimana yang mengatur saja, dan ia merasakan kehadiran Allah, dan orang yang ilmu pengetahuannya sudan mencapai Alam Malakut,
maka ia akan bisa melihat suatu Alam yang mana makhluknya serba putih yang sedang berdiri, ruku, sujud,dan duduk. Dan orang yang mencapai tingkat ini hatinya di penuhi oleh Nur (Cahaya) sehingga di kehidupannya tenang dan tentram
3.Alam jabarut
‘ثمّ عالم الجبروت وهو عالم الروح
Kemudian maka ‘alam jabaruut dan
yaitu dinamakan ‘alam arwah.
yaitu dinamakan ‘alam arwah.
Alam jabarut ialah alam kekuasaan Allah Swt.
Alam jabarut juga merupakan realitas yang disebut singgasana ( Al-Arsy ) hal ini merupakan bagian supra formal atau manifestasi kemalaikatan,
Yaitu Alam yang tidak terlihat oleh mata lahir (Alam Rohani) isinya : Jin, Syetan, Merkayangan dan Bangsa Siluman,
asalnya dari unsur api,
kejadiannya dari Nafsu Amarah (panas), keluarnya dari telinga, wataknya bisa mendengar, ilmunya tingkat thorikot,
akalnya a’to (yang melakukan)
Orang ilmu pengetahuannya sudah masuk Alam Jabarut, pada umumnya orang tersebut di katakan jadab, karena dia sudah melihat dua Alam (Alam nyata dan alam tidak nyata), sehingga kelakuannya orang tersebut itu agak aneh,
tidak umum dengan orang ain.
Dan biasanya orang tersebut hatinya hidup.
Dia bisa melihat dan mendengar susuatu yang sifatnya ghoib walaopun masih tahapan (tipuan) artinya apa yang dia lihat atau di dengar tidak semua benar, kadang bisa menjatuhkan dan menyesatkan.
Sehingga orang yang masuk Alam Jabarut harus hati-hati dan waspda, jangan sampai terpedaya, dan menjadi sibuk lupa dngan tujuan hidup yaitu ingat bahwa pengetahuan yang di berikan kepadanya dari allah swt
4.Alam Lahut
ثمّ عالم اللاهوت وهو عالم السر وعنده يذهب الإسم والرسم ، ولايشهد هناك إلا الأحد وهذا غاية الفناء ، ومنه يرجع العارف إلى البقاء ويصير مرشدا ومقتدى
Kemudian maka alam lahuut dan dinamakan ‘alam as-Sir dan padanya hilang nama dan segala musamma dan tiada dilihat disana melainkan Tuhan Yang Waahidul Ahad.
Dan inilah sehingga-hingga fana dan daripadanya kembali orang yang ‘arif itu kepada baqa`nya, dan jadi ia mursyid,
yakni yang menunjukkan muridin dan tempat ikutan,
ولتخلع النعلين خلع محقق – وخلا عن الكونين في مسراه ولتفن حتى عن فنائك إنه – عين البقاء فعند ذاك تراه
Dan tanggalkan olehmu dua kaus kamu yakni ilmu dan ‘amal itu sebagai tanggal yang sebenar-benarnya,
Dan sucikan di dalam hatimu daripada dua kaun yaitu dunia dan akhirat Dan fana`kan olehmu hingga daripada fana`mu, bahwasanya ialah dinamakan maqam baqa` Maka pada ketika itu melihat engkau akan Dia
Lahut berasal dari kata al-llah atau ketuhanan,
lahut adalah mahluk dan pribadi tuhan Alam lahut terkadang disebut pula alam `izzah (alam keagungan) sebagai bagian dari nama-nama aifat allah Swt.
Ia merupakan Al-Kholiq ( pencipta ) dalam kaitanya dengan dunia dan akhirat dan sebagai Tuhan pribadi atau sebagai Pribadi,
yang mendengarkan permohonan , yang mematikan
yang menghidupkan,
yang member penghidupan,
yang mencipta,
yang menerima tobat dsb
Adapun Alam Lahut itu adalah mertabat Latain artinya tidak ada pernyataan,
maka dinamakan Alam Lahut itu adalah Asma ‘Zat, artinya Isma’ Zat Allah Taala Zat yang belum bernama Allah,
hanya dengan bernama Zat Ahadiah.
Di dalam mertabat Alam Lahut,
Asma ‘Zat yang Maha Suci itu adalah tujuh Asma’nya yaitu:
1.HU artinya Zat Tuhan yang Esa semata-mataGHAIBUL GHUYUB artinya, tidak ada berpihak dan tidak bertempat, tidak Ia diatas, di bawah, di kiri, di kanan, di depan dan di belakang.
2.AHADIAH artinya dari pihak yang tidak sampai ke pengenalan para-para Nabi, apa lagi yang lain dari Nabi-nabi, yang mengetahui hanya dia.
3.GHAIBUL HAWIAH artinya, dari pihak Ia tidak berzat, berisma ‘dan berakal seperti manusia.
4.UJUDUL MUTLAK artinya tidak semua yang Hakiki hanya DIA ABADAN ABADA artinya tidak ada yang mengetahui wujudnya sesuatu semuanya
5.LATAIN artinya tidak dapat dipikirkan oleh akal, Makrifat orang-orang yang Arifin Billah. Alam Lahut pada mertabat Latain,
DIAlah Zatul MUTLAK yang tidak bercerai dan tidak berkumpul, semata-mata DIA, belum lagi bernama ALLAH, karena belum ada NUR MUHAMMAD SAW.
Berkenaan dengan ILMU Tajali Alam Lahut tidak ada Ilmu pada Nur Muhammad, hanya DIA yang bertajali semata.Martabat ITHLAQ artinya gaib yang sepenuhnyaZatul BUHTI artinya zat semata-mataGAHIBUL MUTLAK artinya gahib yang sepenuhnya‘ZIHIN’ artinya tatkala sunyi ia dari sesuatuALAM sirr artinya rahasia allah
Para ulama sufi yang kasyaf mengabarkan bahwa secara garis besar alam terdiri dari
1.alam nasut (alam mulk / alam jasad)
2.alam malakut (alam mitsal)alam 3.jabarut (alam ruh)alam lasut
4.Alam lahut adalah alam derajat/tingkatan/maqom nya di atas Alam Jabarut.
Alam Jabarut, adalah alam yang “paling dekat” dengan aspek-aspek Ketuhanan, penghuni alam Jabarut adalah ‘sesuatu yang bukan Allah dalam aspek Ahadiyyah’, melainkan derivasi (turunan) dari aspek Ahadiyyah yang tertinggi selain apa pun yang ada.
Misal penghuni alam ini adalah Nafakh Ruh (Tiupan Ruh Allah) yang mampu manghidupkan jasad, Ruh Al-Quds.
Alam Malakut adalah suatu alam yang tingkat kedekatan dengan aspek Allahnya lebih rendah dari Alam Jabarut, namun masih lebih tinggi dari Alam Mulk.
Baik Alam Jabarut maupun Alam Malakut, keduanya adalah realitas/wujud yang tidak dapat ditangkap oleh indera jasadiah kita. Indera jasad biasanya hanya bisa menangkap sesuatu yang terukur secara jasad, sedang Alam Jabarut dan Alam Malakut memiliki ukuran melampui ukuran jasad.
Misal penghuni Alam Malakut adalah malaikat, An-nafs(jiwa)
Alam Mulk, adalah alam yang tingkat kedekatannya dengan aspek Allah adalah yang paling rendah.
Dalam wujudnya terbagi menjadi 2, yang tertangkap oleh indera jasad dan yang gaib (dalam arti tidak tertangkap/terukur) bagi indera jasad. Jadi karena keterbatasan indera jasad kita, ada wujud yang sebetulnya bukan penghuni alam-alam yang lebih tinggi dari alam Mulk, tetapi juga tidak tertangkap kemampuan indera jasad.
Yang terukur oleh indera jasad contohnya tubuh/jasad manusia, jasad hewan, jasad tumbuhan. Penghuni alam Mulk yang tidak terukur oleh indera jasad contohnya adalah jin dengan segala kehidupannya.
Jin dengan segala kehidupannya bisa dimengerti oleh indera-indera malakuti (indera-indera an-nafs/jiwa)
Manusia hidup di dua alam sekaligus, tubuh (jasad) kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu.
Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut,alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya.
Sementara itu, ruh kita hidup di alam ghaib (metafisik), tidak terikat dalam ruang dan waktu.
Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Bukan hanya manusia, segala sesuatu mempunyai malakutnya.
Perkembangan tarekat
pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M).
Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut.
Pada masa itu ilmu Tasawuf sering pula disamakan dengan ilmu Tarekat dan teori tentang maqam (peringkat kerohanian) dan hal (jamaknya ahwal, keadaan rohani).
Di antara maqam penting yang ingin dicapai oleh seorang penempuh jalan tasawuf ialah
1.mahabba atau `isyq (cinta),
2.fana` (hapusnya diri/nafs yang rendah),
3.baqa` (rasa hidup kekal dalam Yang Satu), ma`rifa (makrifat) dan ittihad (persatuan mistikal), serta kasyf (tersingkapnya penglihatan hati).
Kehidupan para sufis abad 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme.
Keadaan ini memberikan sumbangsih pada terjadinya degradasi moral masyarakat.
Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme abad tersebut.
Maraknya praktek sufisme dan tarekat di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosio-politik dunia Islam.
tarekat yang pernah muncul sejak abad ke-12 (abad ke-6 H) itu antara lain :
1.Tarekat Qadiriyah, (dihubungkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang wafat di Irak pada 1161 H) yang mempunyai penganut di Irak, Turki, Turbekistan, Sudan, Cina, India, dan Indonesia.
2.Tarekat Syadziliah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Asy-Syadzili, yang wafat di Mesir pada 1258 M), yang mempunyai pengikut di Mesir, Afrika Utara, Syiria, dan Negri-negri Arab lainnya.
Pokok-pokok ajarannya antara lain :
A.Bertaqwa kepada Allah ditempat sunyi dan ramai Mengikuti sunnah dalam segala perkataan dan perbuatan
B.Berpaling hati dari makhluk waktu berhadapan dari waktu membelakangi
C.Kembali kepada Allah diwaktu senang dan susah
3.Tarekat Rifaiyah, (dihubungkan kepada Syekh Ahmad Ar-Rifai, yang wafat di Mesir pada 1182 M), yang mempunyai pengikut di irak dan di Mesir.
4.Tarekat Naqsabandiyah (dihubungkan kepada Syekh Bahaudin Naqsabandi yang wafat di Bukhara pada 1389 M), yang mempunyai pengikut di Asia Tenggara, Turki, India, Cina, dan Indonesia.
PONDASI tarekat Naqsabandiah antara lain :
A.Berpegang teguh kepada aqidah ahlusunnah
B.Meningggalkan ruqsah
C.Memilih hokum-hukum yang Senantiasa dalam muraqabahTetap berhadapan dengan TuhanMenghasilkan malakah hudhur (menghadirkan Tuhan dalam hati)
D.Menyendiri ditengah keramaian serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah
E.Berpakaian dengan pakaian mukmin biasa
F.Zikir tanpa suara
5.Tarekat Syatarriyah, (dihubungkan menghidupkan Syekh Abdullah Asy-Sattari yang wafat di india pada 1236 M), yang mempunyai pengikut India dan Indonesia.
Tokoh-tokoh toriqoh yang terkemuka sebagai guru kerohanian tidak hanya menguasai ilmu tasawuf, tetapi juga bidang ilmu agama lain seperti fiqih, hadis, syariah, tafsir al-Qur’an, usuluddin, ilmu kalam, nahu, adab atau kesusastraan,tarikh (sejarah), dan lain sebagainya.
Bahkan juga tidak jarang yang menguasai ilmu ketabibab, ilmu hisab (arithmatika), mantiq (logika), falsafah, ilmu falaq (astronomi), perkapalan, perdagangan, geografi, pelayaran, dan lain sebagainya. Dalam berdakwah tidak jarang mereka menggunakan media kesenian dan juga menggunakan budaya lokal
Di antara tarekat yang mula-mula muncul dan berkembang luas dalam perjalanan sejarah Nusantara adalah tarekat Qadiriyyah di Baghdad.
Tarekat ini dinisbahkan kepada Muhyidin Abdul Qadir bin Abdullah al-Jelani (w.1166 M).
Tarekat yang lain adalah tarekat Rifa'iyah di Asia Barat yang didirikan oleh Syekh Ahmad Rifa’i (w.1182 M).
tarekatSadziliyah di Maroko dengan Nuruddin Ahmad bin Abdullah al-Syadzily (w.1228 M) sebagai Syekhnya.
Dari Mesir berkembang tarekat Badawiyah atau Ahmadiyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad al-Badawi (w.1276 M),
sementara dari Asia Tengah muncul tarekat al-Naqsabandi(w.1317 M). Selain itu bermunculan lagi tarekat lain seperti Bektasiyah di Turki, dan al-Tijaniyah di Afrika Utara.
sejauh ini diketahui bahwa penyebaran tarekat di nusantara berpusat pada satu tokoh utama, yakni Abdur Rauf al-Sinkli di Aceh. Melalui sejumlah muridnya,
ajaran Tarekat Mu'tabaroh Syattariyah kemudian tersebar ke berbagai wilayah di dunia Melayu-Indonesia.
Diantara murid-murid al-Sinkli adalah
- Syeikh Burhanudin dari Ulakan Pariaman Sumatera Barat
- Syeikh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Keduanya berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di wilayahnya masing-masing.
Di Nusantara Syeh Abdurrauf menjadi guru utama tareqat ini dan ia masuk dalam silsilah tarekat yang dibacakan penganut tarekat Syattariyah sampai saat ini.
Syeh Abdurrauf memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Nurantara.
Ia memiliki murid dari berbagai daerah.
Di Sumatera Barat ajaran-ajaran tasauf As-Sinkili dibawa oleh muridnya Syaikh Burhanuddin Ulakan.
Berkat muridnya ia Tarekat Syattariyah menjadi tarekat yang sangat berpengaruh di sekitar daerah Pariaman.
Sementara di Sulawesi ajaran-ajaran tasawuf as-Sinkili dibawa oleh Syaikh Yusuf Tajul Khalwati Makssar.
Di kepulauan Jawa Syattariyah disebarkan oleh muridnya Syaeh Abdul Muhyi.
Ia belajar kepada as-Sinkili pada saat singgah di Aceh dalam pejalanannya ke Makkah utuk menunaikan ibadah haji.
Ada lagi qodiriyyah yaitu nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh muhyiddin abu muhammad abdul qodir al jaelami .
Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di iraq dan syiria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke 13 Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di mekah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M
Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS, ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat.
Garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini berasal dari Sayidina Muhammad Rasulullah SAW,
kemudian turun temurun berlanjut melalui
* Sayidina Ali bin Abi Thalib ra
* Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra,
* Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra,
* Sayidina Muhammad Baqir ra
* Sayidina Al-Imam Ja'far As Shodiq ra
* Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim
* Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido
* Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi
* Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti
* Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi
* Syaikh Abu Bakar As-Syibli
* Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi
* Syaikh Abul Faraj Altartusi
* Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari
* Syaikh Abu Sa'id Mubarok Al Makhhzymi
* Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS.
Di indonesia cabangan tarekat Qodiriyah ini secara khusus oleh Syaikh Achmad khotib al syambasi digabungkan dengan tarekat Naqsyabandiyah menjadi tarekat QODIRIYYAH WA NAQSABANDIYYAH.
Kemudian garis salsilahnya yang salah satunya melalui Syaikh Abdul Karim Tanara Al-Bantani berkembang pesat di seluruh Indonesia.
Syaikh Ahmad Khatib memiliki banyak wakil, di antaranya adalah:
* Syaikh Abdul Karim dari Banten, *Syaikh Ahmad Thalhah dari Cirebon,
* Syaikh Ahmad Hasbullah dari Madura,
*Muhammad Isma'il Ibn Abdul Rahim dari Bali,
* Syaikh Yasin dari Kedah Malaysia,
* Syaikh Haji Ahmad dari Lampung
* Syaikh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang.
Mereka kemudian menyebarkan ajaran tarekat ini di daerah masing-masing.
Penyebaran ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah di daerah Sambas Kalimantan Barat (asal Syaikh Ahmad Khatib) dilakukan oleh dua orang wakilnya yaitu Syaikh Nuruddin dari Philipina dan Syaikh Muhammad Sa'ad putra asli Sambas. Baik di Sambas sendiri, maupun di daerah-daerah lain di luar pulau Jawa, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah tidak dapat berkembang dengan baik. Keberadaan tarekat ini di luar pulau Jawa, termasuk di beberapa negara tetangga berasal dari kemursyidan yang ada di pulau Jawa. Penyebab ketidakberhasilan penyebaran tarekat ini di luar pulau Jawa adalah karena tidak adanya dukungan sebuah lembaga permanen seperti pesantren.
Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat (1878),
pengembangan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dilakukan oleh salah seorang wakilnya yaitu Syaikh Tolhah bin Talabudin bertempat di kampung Trusmi Desa Kalisapu Cirebon.
Selanjutnya Dia disebut Guru Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah untuk daerah Cirebon dan sekitarnya. Salah seorang muridnya yang bernama Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang kemudian dikenal sebagai Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya.
Wallahu a'lam
Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:
https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

No comments:
Post a Comment