Monday, 11 March 2019

Uais Al qorni adalah penduduk bumi dan langit

Seseorang yang sampai kepada derajat kekasih alloh swt atau waliyyulloh dengan sebab berbakti kepada ibunya

Semoga bisa jadi motipasi bagi pembaca


Pada zaman Nabi Muhammad saw ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya.

Ia bernama Uwais Al Qarni dengan nama lengkap Abu Amru Uwais bin Amir bin Jaza al-Qarni al-Muradi al-Yamani berasal dari kaum Qarn.
Ia seorang pemuda yang berpenyakit Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya seorang perempuan wanita tua yang lumpuh,
Uwais dalam keseharianya senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan yaitu:

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, 
Uwais termenung. 

Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. 
Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan..

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. 

Kemudian....

dibelilah seekor anak lembu,
kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. 

Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit “Uwais gila.. Uwais gila. 

kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. 
Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. 
Makin hari anak lembu itu makin besar dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. 
Tetapi karena latihan tiap hari anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu sampailah pada musim haji. 
Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. 
Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. 
Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? 

Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. 
Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. 
Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. 
Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga.

Cukuplah RIDHA dari ibu yang akan membawaku ke surga


Masya alloh


Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. 
Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. 
Hanya tertinggal bulatan putih di telapak tanganya



Uais alqorni ingin bertemu rosululloh


Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengannya.
Tetapi apakan daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah ibunya yang jika ia pergi, tiada orang yang akan menjaganya.

Di khabarkan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah S.A.W mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais.
Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah.
Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. 

Hari berganti dan musim berlalu dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu dengan Rasulullah tidak dapat dipendam lagi. 

Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah baginda dari dekat ? 
Tetapi bukankah ia mempunyai ibu yang sangat memerlukan penjagaannya dan tidak boleh ditinggal bersendirian. 
Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya pada suatu hari Uwais mendekati ibunya mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. 
Si-ibu walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. 
Beliau memahami perasaan Uwais, lalu berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. 
Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tidak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Bergerak dari Yaman ke Madinah
Sesudah berpeluk cium dengan ibunya, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang jaraknya lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman. 

Perjalanan yang begitu berat ditempuhnya, 
tidak peduli kepada perompak dan penyamun, bukit yang curam, padang pasir yang begitu panas, seluas dan sejauh mata memandang dan dapat menyesatkan, dan apabila malam ia menjadi begitu sejuk. 
Semua itu tiada menjadikan halangan baginya asalkan dapat bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras rupa baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.


Akhirnya tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. 
Beliau segera ia menuju ke rumah Nabi SAW diketuknya pintu rumah, sambil mengucapkan salam. 

Keluarlah Sayyidatina Aisyah RA sambil menjawab salam Uwais. 
Uwais bersegera menanyakan Nabi yang ingin ditemuinya. 
Namun ternyata baginda SAW tidak berada di rumah kerana berada di medan perang. 
Betapa kecewa hati Uwais. 
Dari jauh ia datang untuk bertemu Rasulullah tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. 
Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kepulangan Nabi S.A.W dari medan perang. 
Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit, 
agar ia cepat pulang ke Yaman,

” Engkau harus lekas pulang”. 

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan bertemu dengan Nabi SAW. 
Ia akhirnya dengan terpaksa memohon keizinan kepada Sayyidatina Aisyah RA untuk segera pulang ke negrinya. 
Dia hanya mengirimkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan terharu.

Sekembalinya dari medan perang, Nabi SAW terus menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. 
Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). 
Mendengar kata-kata Rasulullah SAW tersebut, Sayyidatina Aisyah RA. dan para sahabatnya tercengang. 

Menurut Sayyidatina Aisyah RA, 

memang benar ada orang yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman,
karena ibunya sudah tua dan sakit-sakit sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah – tengah tapak tangannya.” Sesudah itu baginda memandang kepada Sayyidina Ali dan Sayyidina Umar RA. dan bersabda : “Suatu hari nanti, apabila kamu bertemu dengannya, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Baca juga penjelasan konstitusi madinah di alamat:
https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/konstitusi-madinah-hasil-rumusan.html

Kisahnya yang paling mashur 

adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ.
قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin  Khottob ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, 
ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” 

Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” 

Uwais menjawab, “Iya, benar.” 

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” 

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”

Uwais menjawab, “Iya.”

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. 
Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. 
Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. 
Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. 
Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” 

Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. 

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Saya mohon.. supaya hari ini saja hamba diketahui orang. 
Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah saya yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” 

Uwais menjawab, “Ke Kufah”.

Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”

Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

قَالَ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ».

Tahun berikutnya, 
ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. 
Umar pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, 
“Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” 

Umar pun mengatakan sabda :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.

فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ لَقِيتَ عُمَرَ قَالَ نَعَمْ. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”

Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.


فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ

“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.”
(HR. Muslim)

Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui keduduka spiritualnya yang demikian tinggi di mata Rasulullah saw, 
mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya. 
Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati  terbatas untuk yang selain Dia. Tentu saja, “kesunyian” disini tidak identik dengan kesendirian (pengasingan diri).

Hikmah pertemuan dari uais dengan sahabat rosululloh

1.Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.

2.menurut Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.

Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,

أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ

“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan Uwais.”

Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering merendahkannya.

3.Keistimewaan dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.

4.Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.

5.Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.

6.Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab, 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.”
(HR. Muslim). 

Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.
Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais.
Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7.Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. 

Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada ‘Umar,

أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah, menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. 
Jadi Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. 
Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

8.Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.

9.Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.

10.Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.

11.Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).

12.Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.

Dll


Uais alqorni beribadah haji setelah wafatnya rosulullah saw


Pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. 
Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais menerima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. 
Seketika itu ia pingsan.

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. 
Rasa tidak nyamannya atau lebih tepatnya perasaan malu muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. 
Uwais memposisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makam Rasulullah. 
Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. 

Rasata'dhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.



Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya.

Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. 

Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. 

Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. 

Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. 

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. 

“Wahai waliyullah,” 

Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. 

Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” 

“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. 

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” 

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” 

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. 

Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih.
Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. 
Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”
Kami berkata “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? 
”Tanya kami. 

“Uwais al-Qorni”. 

Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, 
”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” 
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. 
Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.
“Ya,”jawab kami. 

Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. 
Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.



Uais alqorni wafat tedapat banyak keanehan


Beberapa tahun kemudian, 
Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. 
Anehnya pada saat dia akan di mandikan, 
tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. 
Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. 
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. 
Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya. 
   
Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. 
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. 
Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, 
padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. 

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, 

“Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? 
Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. 
Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. 
Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. 
Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. 

Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Masya alloh

Semoga kita bisa memetik hikmah dari butiran butiran hikmah yang terjadi dari qisoh uais al qorni..
Amin amin amin ya robbal alamin

Wallohul muwafiq ila aqwamittoriq

Baca juga hukum onani dan manstrubasi di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/onani-dan-mantrubasi-di-tinjau-dari.html

Baca juga penjelasan tentang apa saja yang bisa menyebabkan jatuh talaq seorang suami kepada istrinya,di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/02/hukum-talaq.html

Baca juga penjelasan masa iddah bagi wanita di tinggal cerai dan meninggal di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/02/masa-iddah-bagi-wanita.html

Baca juga ciri wanita solihah,di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/01/ciri-ciri-istri-solihah.html

No comments: