Saturday, 23 March 2019

Setan akan mendatangi kita waktu sekarat

Sudah menjadi ketetapan Allah SWT setan menjadi musuh abadi manusia.
Allah Taala berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ، ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ ، وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ، وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ 

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mereka. Dan engkau tidak akan mendapat kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
(Al-A’raf 17)


Dengan dasar ayat itu jelas mereka selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia sehingga tidak selamat di kehidupan akhirat kelak.
Upaya itu dilakukan tatkala manusia menjalani kehidupan di alam dunia. Bahkan ketika manusia tengah menghadapi sakaratul maut dan ruh terlepas dari jasad.

Setan akan berusaha memanfaatkan titik-titik kelemahan, 
jika musibah berat menimpa muslim petaka telah hadir 
maka datanglah dia melalui jalannya untuk merusak keimanannya, sehingga dia menjadi ahli neraka.

Tidak diragukan lagi bahwa saat-saat sakratul maut merupakan saat-saat yang berat dan TITIK LEMAH MANUSIA
Maka sakratul maut adalah perkara yang besar.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri menghadapi hal sangat besar itu, sehingga belia berkata saat sakratul maut…

إِنَّ لِلمَوتِ لَسَكَرَاتٍ

“Sesungguhnya bagi kematian itu ada sakaratnya.”
(HR. Bukhari)

itu semua meruapakan fitnah mahya wal mamat (ujian hidup dan mati). Karena itulah, 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari ujian yang mengerikan ini. 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika tasyahud akhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, beliau membaca,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka, dari adzab kubur, dari ujian hidup dan mati, dan dari keburukan ujian masih dajjal.” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ

Aku berlindung kepada-Mu agar tidak disesatkan setan ketika kematian
(HR. Ahmad)

Al-Khathabi menjelaskan hadis di atas, 
dengan menyebutkan beberapa bentuk gangguan setan ketika mendekati kematian,

استعاذته عليه الصلاة والسلام من تخبط الشيطان عند الموت ، هو أن يستولي عليه الشيطان عند مفارقته الدنيا ، فيضله ويحول بينه وبين التوبة ، أو يعوقه عن إصلاح شأنه والخروج من مظلمة تكون قِبَله ، أو يؤيسه من رحمة الله تعالى ، أو يكره الموت ويتأسف على حياة الدنيا ، فلا يرضى بما قضاه الله من الفناء ، والنقلة إلى دار الآخرة ، فيختم له بسوء ، ويلقى الله وهو ساخط عليه .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari disesatkan setan ketika kematian, 
bentuknya adalah setan mengganggunya ketika dia hendak meninggal dunia. 
Lalu setan menyesatkannya, sehingga menghalangi dia untuk bertaubat, atau menutupi dirinya sehingga tidak mau memperbaiki urusannya atau memohon maaf dari kedzaliman yang pernah dia lakukan. 
Atau membuat dia merasa putus asa dari rahmat Allah. 
atau membuat dia benci dengan kematian dan merasa sedih meninggalkan hartanya, 
sehingga dia tidak ridha dengan keputusan Allah berupa kematian, dan menuju akhirat. Sehingga dia akhiri hidupnya dengan keburukan, lalu dia bertemu Allah dalam kondisi Dia murka kepada-Nya


Kemudian, al-Khithabi menegaskan,

وقد روي أن الشيطان لا يكون في حال أشد على ابن ادم منه في حال الموت ، يقول لأعوانه : دونكم هذا ، فإنه إن فاتكم اليوم لم تلحقوه بعد اليوم .


Diriwayatkan bahwa tidak ada kesempatan yang lebih diperhatikan setan untuk menyesatkan manusia, selain ketika kematiannya. 
Dia akan mengundang rekan-rekannya, “Kumpul di sini, jika kalian tidak bisa menyesatkannya pada hari ini, kalian tidak lagi bisa menggodanya selamanya.”

Ada beberapa kejadian yang dialami para ulama, ketika proses kematiannya, SETAN berusaha untuk menggodanya.

Diantaranya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah
Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad:

Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. 
Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. 
Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فُتَّنِي، وَأَنـاَ أَقُولُ: لَا بُعْدٌ لَا بُعْدٌ

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, masih jauh…. Tidak, masih jauh….”

Maksud kisah ini,
 setan hendak menyesatkan Imam Ahmad dengan cara memuji Imam Ahmad. 
Setan mengaku MENYERAH di hadapan Imam Ahmad, agar beliau menjadi UJUB terhadap diri sendiri dan bangga terhadap kehebatannya. Tapi beliau sadar, ini adalah TIPUAN

Beliau tolak dengan tegas: “Tidak, saya masih jauh, tidak seperti yang kamu sampaikan….” tidak bisa kita bayangkan, andaikan ujian semacam ini menimpa tokoh agama atau orang awam di sekitar kita…

Termasuk juga, kejadian yang pernah dialami salah satu ulama Kordoba. Seperti yang diceritakan Imam al-Qurthubi,

“Saya mendengar guru kami, Abu Abbas Ahmad bin Umar di daerah perbatasan Iskandariyah bercerita: ‘Saya menjenguk saudara guruku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad di daerah Kordoba. 
Ketika itu beliau sedang sekarat. Ada yang mentalqin beliau: ucapkan: Laa ilaaha illallaah…

Tapi orang ini malah menjawab: Tidak… Tidak… Setelah beliau sadar, beliau bercerita: ‘Ada dua setan mendatangiku, satu di sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri. Yang satu menyarankan: Matilah dengan memeluk Yahudi, karena itu adalah agama terbaik. Satunya berkata: Matilah memeluk Nasrani, karena itu adalah agama terbaik’. Lalu aku jawab: Tidak… Tidak…”

Memang tidak semua orang mengalaminya.
Ada yang mengalami kejadian demikian dan ada yang tidak mengalami.  

Namun setidaknya ini menjadi peringatan bagi kita akan betapa mencekamnya sakaratul maut. Karena yang menentukan status manusia adalah ujung hidupnya. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Nilai amal, dintentukan keadaan akhirnya.”
(HR. Bukhari)

Yang harus di CATAT oleh kita tentang hadis Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya”
(HR Muslim)

Berkata Al-Munaawi,

أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ 

“Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang BIASA IA JALANI SEBELUM SAKROTIL MAUT dan ia dibangkitkan di atas hal itu juga


CATATAN: 

saudara/i yang di rahmati allah swt
Biasakanlah di waktu sekarang kita berbuat baik dengan niat mencari keridhoan allah swt,yang di harapkan kita sedang berbuat baik ajal menjemput kita dan semoga dosa kita yang lalu di ampuni oleh allah swt.

Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

No comments: