Showing posts with label Riwayat & Hadist. Show all posts
Showing posts with label Riwayat & Hadist. Show all posts

Thursday, 9 May 2019

Pertengahan bulan romadon akan terdengar suara

Sekarang sedang gencar di medsos video yang mengambil dari kutipan hadis:

قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan).

Derajat Hadits

Hadits ini derajatnya palsu (maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. 
Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini

1. Nu’aim bin Hammad
Dia seorang perawi yang dha’if (lemah),
An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)”

Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak mempunyai dasar sanad.

”Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah),
 yang semuanya itu adalah kedustaan

Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran” 

2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)
Dia seorang perawi yang dha’if (lemah), 
karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)” 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar” 


3. Abdul Wahhab bin Husain
Dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).
Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang majhul (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)” 

Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” 

4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani
Dia seorang perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.
An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)”Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”

Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya”.

Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya”

5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.
Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.
An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya)”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan”

Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” 

Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini

Al-Uqaily rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya), atau dari jalan yang tsabit (kuat dan benar adanya).” 

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” 

Dengan demikian,kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam
Karena disamping sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, 
juga realita telah mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jum’at yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini, Alhamdulillah.

Wallohu a'lam bisowab

Monday, 15 April 2019

Apakah khilapah wajib

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكاً بَعْدَ ذَلِكَ

Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun. Kemudian setelah itu diganti kerajaan. (HR. Ahmad 22568, Turmudzi 2390 dan sanadnya dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Baca juga konstitusi madinah:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/konstitusi-madinah-hasil-rumusan.html?m=1

Dan kalau khilapah islamiah jadi sarat keimanan hamba maka rosulullah jauh jauh hari sudah menegaskanya
Sedangkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

وأيضا فنحن نعلم بالاضطرار من دين محمد بن عبد الله – صلى الله عليه و سلم – أنَّ الناس كانوا إذا أسلموا لم يجعل إيمانّم موقوفا على معرفة الإمامة

“Dan kami juga mengetahui -dengan pengetahuan yang sifatnya dharuri dalam agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa sejak dahulu manusia jika masuk Islam tidak pernah dipersyaratkan harus mengetahui masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) , untuk menyatakan kesahan iman mereka!”

Adapun kerajaan di anggap jelek pasti akan di jelaskan juga dengan sabda rosulullah
Imam Ibnu Abil Izz mengatakan,

وأول ملوك المسلمين معاوية وهو خير ملوك المسلمين؛ لكنه إنما صار إماما حقا لما فوض إليه الحسن بن علي رضي الله عنهم الخلافة

Raja pertama di tengah kaum muslimin adalah Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, dan beliau adalah raja terbaik di tengah kaum muslimin. Dan beliau berhak menjadi pemimpin setelah Hasan bin Ali menyerahkan tampuk kekhalifahan kepadanya – radhiyallahu ‘anhum. (Syarh Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil Izz, 3/172)

Apakah bendera rosulullah ada tulisannya baca di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/imam-mahdi-penjelasan-panji-rosul.html?m=1


Perbedaan antara kholipah dan raja yaitu:

إن الخليفة الذي جاء مدحه هو الذي لا يستفيد من ملكه شيئا حتى في المباحات؛ وإنما يستفيد في ولايته في نصرة دين الله في دعوة الناس الى الواجبات والمستحبات وترك المحرمات والمكروهات وهو في نفسه لا يستفيد شيئا من هذه الولاية
أما الملك هو الذي يستفيد من ولايته في شيئ من دنياه؛ لذا أول ملوك في الاسلام خال المؤمنين؛ معاوية بن أبي سفيان – رضي الله عنهما –  ولم يكن معاوية -مع جلالة قدره- فإنه ليس خليفة؛ فمعاوية يستفيد من ملكه فيما يتعلق بالمباحات

"Adapun khalifah, seperti yang dipuji dalam hadis, adalah orang tidak mengambil manfaat dari kekuasaannya sedikitpun untuk pribadinya. 
Sampaipun dalam masalah yang mubah. 
Namun dia gunakan kekuasaannya untuk mendukung agaa Allah, mengajak manusia mengamalkan yang wajib dan sunah, serta meninggalkan yang haram dan makruh. 
Sementara untuk pribadinya, dia tidak memanfaatkannya sama sekali.

Sementara untuk raja,dia mengambil sebagian manfaat dari kekuasaannya untuk kepentingan dunianya. 
Karena itu, raja pertama dalam islam adalah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. 
Dan Muawiyah, – sekalipun beliau sahabat yang sangat mulia – beliau bukan khalifah. 
Karena Muawiyah mengambil sebagian manfaat yang MUBAH dari kekuasaannya "

Dan itupun tidak dilarang sebatas mengambil manfaat dari perkara yang mubah/boleh

Ibnul Arabi mengatakan:

كان الأمراء قبل هذا اليوم، وفي صدر الإسلام، هم العلماء والرعية هم الجند، فاطرد النظام، وكان العوام القواد فريقا والأمراء فريقا آخر. ثم فصل الله الأمر، بحكمته البالغة وقضائه السابق، فصار العلماء فريقا والأمراء آخر، وصارت الرعية صنفا وصار الجند آخر فتعارضت الأمور.

“Sebelum masa kita sekarang ini, yakni masa di awal-awal perkembangan Islam, para umara ialah para ulama sekaligus sedangkan rakyat ialah para tentaranya. Lalu struktur sosial ini pada tahap selanjutnya mengalami perubahan. Para komandan militer (yang sebelumnya juga pakar agama namun sekarang tidak) membentuk kelompok sosial tersendiri dan para umara juga membentuk kelompok sosialnya secara tersendiri.
Dan dengan kebijaksanaan dan takdir yang ditentukannya sejak zaman azali, Allah kemudian mengubah lagi struktur sosial ini: para ulama merupakan kelompok sosial tersendiri dan para umara juga membentuk kelompok sosialnya tersendiri. Dan pada tahap selanjutnya, rakyat juga menjadi kelompok sosial yang berbeda dari para tentara.”

AlMawardi rahimahullah 
menjelaskan hal itu:

فَصْلٌ: “فِي بَيَانِ حُكْمِ الخِلَافَةِ”
فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِمَامَةِ فَفَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَطَلَبِ الْعِلْمِ، فَإِذَا قَامَ بِهَا مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا سَقَطَ فَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَا أَحَدٌ خَرَجَ مِنَ النَّاسِ فَرِيقَانِ:
أَحَدُهُمَا: أَهْلُ الِاخْتِيَارِ حَتَّى يَخْتَارُوا إمَامًا لِلْأُمَّةِ.
وَالثَّانِي: أَهْلُ الْإِمَامَةِ حَتَّى يَنْتَصِبَ أَحَدُهُمْ لِلْإِمَامَةِ،
وَلَيْسَ عَلَى مَنْ عَدَا هَذَيْنِ الْفَرِيقَيْنِ مِنَ الْأُمَّةِ فِي تَأْخِيرِ الْإِمَامَةِ حَرَجٌ وَلَا مَأْثَمٌ،

Pasal: “Tentang penjelasan hukum Khilafah”.
Jika (sudah diketahui bahwa) benar-benar terbukti wajibnya menegakkan Imamah (Khilafah Islamiyyah),
maka (ketahuilah) kewajiban itu jenisnya adalah fardhu kifayah, seperti jihad dan menuntut ilmu maka jika telah dilaksanakan kewajiban tersebut oleh orang yang berkompeten, maka gugurlah kewajiban tersebut (bagi kaum muslimin yang lainnya) karena telah dilaksanakan olehnya.
Dan jika tidak ada seorangpun yang menunaikannya, maka tampillah dua golongan manusia (yang berkewajiban melaksanakannya),

Golongan Pertama: 
Ahlul Ikhtiyar (Dewan Perwakilan Rakyat yang bertugas memilih), sampai mereka memilih Imam (Khalifah) untuk umat.

Golongan Kedua :
Ahlul Imamah (Orang-orang yang terpenuhi syarat menjadi Imam (Khalifah)), sampai salah satu diantara mereka menjadi Imam (Khalifah) kaum muslimin,
dan bagi kaum muslimin selain dua golongan manusia tersebut, tidak salah dan tidak pula berdosa ketika terjadi penundaan pengangkatan Imam (Khalifah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

إنَّ القائل: إنَّ مسألة الإمامة أهم المطالب في أحكام 
الدين وأشرف مسائل المسلمين، كاذب بإجماع المسلمين

“Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) adalah tujuan yang tertinggi dalam hukum agama Islam dan permasalahan kaum muslimin yang teragung!”, (maka hakekatnya) ia berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin

Bahkan beliau menyatakan bahwa perkataan itu sebagai bentuk kekufuran,

بل هو كفر فإنَّ الإيمان بالله ورسوله أهم من مسألة الإمامة وهذا معلوم بالاضطرار من دين الإسلام. فالكافر لا يصير مؤمناً حتى يشهد أن لا إله إلا الله وأنَّ محمداً رسول الله

“Bahkan perkataan tersebut adalah bentuk kekufuran, karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jelas lebih penting dari pada masalah Imamah (Khalifah Islamiyyah) dan ini merupakan perkara mendasar dalam agama Islam yang sifatnya dhoruri  (Sebagaimana diketahui) orang kafir tidaklah sah menjadi seorang beriman sampai bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

فمن المعلوم أنَّ أشرف مسائل المسلمين، وأهم المطالب في الدين ينبغي أن يكون ذكرها في كتاب الله تعالى أعظم من غيرها، وبيان الرسول لها أولى من بيان غيرها، والقرآن مملوء بذكر توحيد الله تعالى، وذكر أسمائه، وصفاته، وآياته، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقصص، والأمر والنهي، والحدود والفرائض، بخلاف الإمامة، فكيف يكون القرآن مملوءً بغير الأهم الأشرف؟

“Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa suatu perkara kaum muslimin yang sifatnya teragung sekaligus ia merupakan tujuan yang terpenting dalam agama Islam, selayaknyalah hal itu disebutkan dalam Kitabullah Ta’ala lebih besar daripada penyebutan perkara selainnya, dan penjelasan Rasulullah terhadapnya, selayaknyalah lebih utama daripada penjelasan beliau tentang perkara selainnya. 
Sedangkan (kenyataannya) Aquran penuh dengan penyebutan Tauhidullah Ta’ala, nama dan sifat-Nya, Ayat-Ayat, Malaikat dan Kitab-Kitab dan para Rasul-Nya serta hari Akhir serta kisah-kisah,perintah, larangan, hukuman Had dan kewajiban-kewajiban.
Namun, untuk masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) tidaklah demikian Maka bagaimana mungkin Alquran dikatakan dipenuhi dengan perkara yang tidak paling penting dan tidak pula paling mulia?”

Kesimpulan:
imam/amirul mu'minin/presiden/raja apapun sebutanya tetap disebut pemimpin atau kholipah..
setelah tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia, jadilah masing-masing wilayah negara memiliki kepala negara masing-masing pula, yang kekuasaannya terbatas pada wilayah negara yang dipimpinnya saja.
Maka wajib bagi masing-masing warga negara ta’at kepada kepala negaranya masing-masing
Adapun pemimpin islam sedunia kelak akan muncul sesuai
Hadis yang diriwayatkan Ibnu Kathir: berkata:

لا يلي الخلافة أحد من أهل البيت إلا محمد بن عبد الله المهدي الذي يكون في آخر الزمان عند نزول عيسى بن مريم.

Artinya: Tidak akan datang khilafah seorangpun dari “Ahlul Bait” kecuali Muhammad bin Abdillah Al-Mahdi yang akan ada pada akhir zaman ketika turunnya Isa putra Maryam.



Wallohu a'lam

Sunday, 31 March 2019

Bisikan gaib menurut sudut pandang islam

Ada kalanya manusia yang mengaku telah mendapatkan wisik dari alam gaib atau BISIKAN GAIB,
bagaimana sikap kita sebagai umat islam

Kita renungkan ucapan Seh jalaludin As-Suyuthi yang mengatakan,

وأما رواية الإنس عنهم، فالظاهر: منعها، لعدم حصول الثقة بعدالتهم

”Adapun manusia meriwayatkan berita dari jin yang zahir,
dilarang karena TIDAK BISA DI BUKTIKAN KEJUJURANYA tingkat keadilan mereka.

Allah swt sudah menjelaskan di dalan firmanya:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Ingatlah hari di waktu Allah mengumpulkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”,
lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia:
“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya sebahagian daripada Kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan Kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”.
Allah berfirman: “Neraka Itulah tempat tinggal kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.
(QS. A-An’am: 128).

Dari ayat di atas bahwasanya dari golongan jin sudah menyesatkan manusia dengan berbagai cara dan muslihatnya,bisa dengan jin itu memberikan bisikan yang dikenal dengan sebutan bisikan gaib atau menampakan dirinya kepada manusia.

Perlu dipahami bahwa mahluk yang namanya jin menampakkan diri atau memberi bisikan kepada manusia itu terjadi murni karena kehendak jin itu sendiri dan DILUAR kehendak manusia.
tujuanya juga jelas sesuai ayat di atas yaitu untuk membodohi manusia supaya manusia tersesat.

Jin menampakan diri kepada manusia bukan kali ini saja dan kejadian itu pernah juga dialami oleh sahabat rosulullah yaitu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sampai mahluk jin itu berani membodohi sahabat

Ketika abu hurairoh radhiyallahu ‘anhu diberi tugas oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga makanan zakat, 

malam harinya ada anak remaja mencuri makanan. 
Ketika ditangkap dan hendak dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berusaha memelas dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi

Saat pagi hari tiba.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kejadian semalam,
“Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?”

“Ya Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam kondisi butuh dan juga punya keluarga. 
Oleh karena itu, aku sangat kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Jawab Abu Hurairah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia berdusta kepadamu. Dia akan datang lagi.”

Dan ternyata ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang itu datang kembali dengan alasan yang sama.

Sampai di hari ketiga, Abu Hurairah benar-benar bertekad membawanya menghadap Rasulullah. 
Karena dikuasai rasa takut, ternyata kemudian orang itu malah mengajari Abu Hurairah sebuah dzikir, 
yang bila dibaca saat beranjak tidur, maka Allah akan mengirimkan penjaga dan setan tidak akan sanggup mendekatinya sampai pagi hari. Dzikir itu adalah ayat kursi.

Pagi harinya, kejadian itu sampaikan kepada Rasulullah abu hurairoh berkata

قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ  وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ

Ya Rasulullah, ia berkata kepadaku mengajariku jika anda hendak pergi tidur di ranjang, bacalah ayat kursi sampai selesai, yaitu bacaan :

Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum….’.

Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat sangat semangat dalam mengerjakan kebaikan.”

lalu rosulullah saw bersabda,

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ

”Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” 
(HR. Bukhari).

Maka dengan dalil dalil di atas jelas bahwasanya jin itu adalah pendusta.

sekarang sedang semarak tayangan di televisi yang jadi narasumbernya yaitu seseorang yang mendapatkan bisikan gaib dengan kemampuan Indigo,Maka dari itu setelah membaca penerangan di atas kita bisa mengambil sikap apa yang harus di lakukan supaya kita selamat didunia dan akhirat

Thursday, 28 March 2019

Hari kebangkitan manusia setelah melewati alam barjah


Seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ.

Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah. 
[HR Thabrani].

Meskipun rentang waktu tersebut lama, namun terasa sebentar bagi kaum Mukminin, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

(يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ)
مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفِ سَنَةٍ فَيَهُوْنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ

Tentang firman Allah “(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam” seukuran setengah hari dari lima puluh ribu tahun. Yang demikian itu (sangatlah) mudah (ringan) bagi orang mukmin, seperti matahari menjelang terbit sampai terbit.
(HR Ibnu Hibaan)

Padang mahsyar

adalah tanah yang rata, belum ditempati seorangpun. 
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَقِيِّ لَيْسَ فِيْهَا عَلَمٌ لأَحَدٍ رواه مسلم وفي رواية البخاري: قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ: لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

Pada hari Kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah yang rata seperti roti putih yang bundar dan pipih; tidak ada tanda untuk seorangpun.
(HR Muslim)

Pada waktu itu matahari akan dekat jaraknya dengan mahluk yang di bangkitkan,sesuai sabda rosulullah saw

عَنِ الْمِقْدَادِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: تَدْنُو الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ, قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : وَاللَّهِ ! مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ؟ قَالَ: فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

Dari al Miqdad Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada hari Kiamat, matahari akan mendekat (kepada) makhluk (manusia) hingga jaraknya dari mereka seperti ukuran satu mil”. Sulaim bin ‘Amir berkata,”Demi Allah! Aku tidak mengerti yang dimaksud dengan satu mil tersebut, apakah ukuran dunia ataukah mil yang digunakan sebagai alat celak mata?” Beliau berkata: “Sehingga manusia berada sesuai dengan ukuran amalannya dalam keringatnya. Ada di antara mereka yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya menenggelamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya ke mulut beliau.
(HR Muslim)


Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata : “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?”

Hingga manusia bercucuran keringat dan keringatnya menenggelamkan mereka. 
Ada yang hanya mencapai kedua mata kakinya.
Ada yang sampai kedua lututnya,
ada yang sampai pinggangnya,
ada yang keringatnya menenggelamkan mulutnya. 
Bahkan sampai ada yang keringatnya melampaui kepalanya 

sesuai sabda rosulullah saw

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلي  نِصْفَ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إٍلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى الْعَجْزِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى وَسَطِ فِيْهِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ أَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيْرُ هَكَذَا- وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيْهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً وَأَمَرَ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيْبَ الرَّأْسَ , دَوَّرَ رَاحَتَهِ يَمِيْنًا وَشِمَالاً

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Matahari mendekat dari bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara manusia ada yang keringatnya mencapai tumitnya, ada yang mencapai setengah betisnya, ada yang mencapai kedua lututnya, ada yang mencapai pantatnya, ada yang mencapai lambungnya, ada juga yang mencapai kedua bahunya, ada yang mencapai lehernya, dan ada yang mencapai tengah mulutnya –beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya memenuhi mulutnya, (dan) aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan demikian- serta ada di antara mereka yang keringatnya menenggelamkannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul dengan tangannya sebagai isyarat dan meletakkan tangannya di atas kepalanya tanpa menyentuh kepala. Beliau memutar telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.
(HR Ahmad)

Di hari itu ada beberapa golongan yang di naungi oleh allah swt

Sesuai sabda rasulullah saw :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh orang yang Allah naungi dalam naunganNya pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, 
(yaitu) : 

1.Imam yang adil, 

2.pemuda yang berkembang dalam ibadah kepada Allah, 

3.seorang yang hatinya bergantung kepada masjid, 

4.dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah di atasnya, 

5.seorang yang diajak seorang wanita pemilik kedudukan dan kecantikan (untuk berzina), lalu (ia) menyatakan “Aku takut kepada Allah”

6.seorang yang bershadaqah lalu menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya,

7. seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan bersendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.
[HR al Bukhari dan Muslim].


Peristiwa di Padang Mahsyar sangatlah dahsyat Sehingga setelah mencapai puncaknya, 
manusia mencari orang yang dapat menjadi pemberi syafa’at, agar Allah mempercepat keputusanNya. 
Setiap umat mengikuti nabinya. 

Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi:

إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جُثًا كُلُّ أُمَّةٍ تَتْبَعُ نَبِيَّهَا

Sungguh pada hari Kiamat, manusia menjadi berkelompok-kelompok. Setiap umat mengikuti nabi mereka. [HR al Bukhari].

Di waktu itu manusia akan datang ke setiap nabi dari adam dst untuk meminta syafaat 
sesuai yang di sabdakan oleh rosulullah saw di dalam hadisnya:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ مَاجَ النَّاسُ فِي بَعْضٍ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِإِبْرَاهِيمَ فَإِنَّهُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُوسَى فَإِنَّهُ كَلِيمُ اللهِ فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِعِيسَى فَإِنَّهُ رُوحُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْتُونِي فَأَقُولُ أَنَا لَهَا فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنُ لِي ….

“Ketika hari kiamat datang, manusia berduyun-duyun mendatangi nabi Adam dan mengatakan, “Berilah syafa’at kepada rabbmu !” 
Adam menjawab, “Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Ibrahim karena dia adalah kekasih Allah Azza wa Jalla ,” mereka mendatangi Nabi Ibrahim, 
nabi Ibrahim berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Musa karena dia adalah kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah). 
mereka mendatangi Nabi Musa, 
nabi Musa berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Isa karena dia adalah ruhullah dan kalimatNya,” Mereka mendatangi Nabi Isa, 
nabi Isa berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Muhammad.” Maka mereka mendatangiku, maka aku katakan, “Ya aku punya hak, maka aku minta idzin kepada rabbku, maka Dia memberiku idzin ….”.

Allohuma soli ala sayidina muhammad 

Hanya rosulullah saw yang di berikan ijin untuk memberikan syafaat kepada seluruh manusia yang beriman dari jaman nabi adam as sampai manusia terahir...

Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

Friday, 22 March 2019

Imam mahdi (+penjelasan panji rosul)

IMAM MAHDI


adalah seorang muslim berusia muda yang akan dipilih oleh allah swt untuk menghancurkan semua kedzaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari qiyamat,ia menjadi pemimpin yang jujur dan adil menggunakan harta kekayaannya yang berlimpah untuk kemajuan umat islam.

Sebelum dibaiat sebagai Imam Mahdi, calon Imam Mahdi sama sekali tidak tahu bahwa dirinya adalah al-Mahdi. Sebagaimana dulu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diutus oleh Allah, dirinya tidak mengetahui akan menjadi nabi.

Abdurrazaq al-Bithar. Dalam kitabnya, beliau menyatakan,

ويؤخذ من قوله صلى الله عليه وسلم في المهدي أنه يصلحه الله في ليلته أن المهدي لا يعلم بنفسه أنه المهدي المنتظر قبل وقت إرادة الله إظهاره، ويؤيد ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم وهو أشرف المخلوقات لم يعلم برسالته إلا وقت ظهور جبريل له بغار حراء

Dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-Mahdi  bahwa Allah memperbaikinya dalam semalam menunjukkan bahwa al-Mahdi tidak tahu bahwa dirinnya  itu al-Mahdi yang dinantikan, sebelum waktu Allah menghendaki untuk mengeluarkanya di masyarakat. Kasus ini sejenis dengan apa yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk paling mulia, beliau tidak tahu tentang risalah kenabiannya, hingga Jibril datang menemuinya di gua hira.

Kemudian beliau kembali menegaskan,

فإذا كان النبي صلى الله عليه وسلم لم يعلم بأنه رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بعد ظهور جبريل عليه السلام له، وقوله: ” اقرأ باسم ربك ” فبالأولى أن المهدي المنتظر لا يعلم بأنه المهدي المنتظر إلا بعد إرادة الله إظهاره

Apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui bahwa dirinya adalah utusan Allah kecuali setelah datangnya Jibril ‘alaihis salam kepada beliau dan menyampaikan Iqra, 
maka lebih layak lagi yang terjadi pada al-Mahdi al-Muntadzar, dia tidak mengetahui bahwa dirinya al-Mahdi kecuali setelah Allah menghendaki untuk ditonjolkan di tengah umat.

Al-Mahdi akan keluar dari arah timur. 

Diterangkan dalam hadits dari Tsauban Radhiyallahu anhu dia berkata, 
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلاَثَةٌ؛ كُلُّهُمْ اِبْنُ خَلِيْفَةٍ، ثُمَّ لاَ يَصِيْرُ إِلَـى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ قِتْلاً لَمْ يَقْتُلْهُ قَوْمٌ… (ثُمَّ ذكر شَيْئًا لاَ أَحْفَظُهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ.

“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di sisi simpanan kalian; mereka semua adalah putera khalifah,kemudian tidak akan kembali ke salah seorang dari mereka. 
Akhirnya muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, 
lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun… 
(lalu beliau menutur-kan sesuatu yang tidak aku fahami, kemudian beliau berkata:) 
Jika kalian melihatnya,maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya ia adalah khalifah Allah al-Mahdi.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda :  

لاتذهب الدنيا حتى يملك العرب رجل من اهل بيتي يواطئ اسمه اسمي

ِArtinya : Tidak hilang dunia ini sehingga mengusai Arab oleh seorang laiki-laki dari pada kerabatku, yang namanya sama dengan namaku.
(H.R. Turmidzi)

Dari Ummu Salamah, beliau berkata, aku mendengar Rasuluulah SAW bersabda :

المهدي من عترتي من ولد فاطمة

Artinya : Al-Mahdi adalah dari keturunanku dari anak Fatimah. 
(H.R. Abu Daud)

Dari Abu Sa’id al-Khudry Rasulullah SAW bersabda :

المهدي مني أجلى الجبهة أقنى الأنف يملأ الأرض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما ويملك سبع سنين

Artinya : Al-Mahdi adalah dariku, yang luas dahinya dan bungkuk hidungnya. Dia memenuhi bumi ini dengan kearifan dan keadilan sebagaimana dipenuhi dengan kefasikan dan kedzaliman. 
Al-Mahdi berkuasa selama tujuh tahun.

Dari Ali bin Abi Thalib
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَهْدِىُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللَّهُ فِى لَيْلَةٍ

Al-Mahdi termasuk golongan kami, ahli bait, Allah memperbaikinya dalam semalam.
(HR. Ahmad & Ibnu Majah).

Ada beberapa keterangan ulama tentang makna 

Allah memperbaikinya dalam semalam’,

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

أي يتوب الله عليه، ويوفقه ويلهمه، ويرشده بعد أن لم يكن كذلك

Artinya: 
Allah menerima taubatnya, memberikan taufiq dan ilham serta petunjuk untuknya, setelah sebelumnya dia tidak seperti itu.

Keterangan lain disampaikan Imam Ali al-Qori,

“يُصْلِحُهُ اللَّهُ فِي لَيْلَةٍ” أي: يصلح أمره ويرفع قدره في ليلة واحدة أو في ساعة واحدة من الليل ; حيث يتفق على خلافته أهل الحل والعقد فيها

Allah memperbaikinya dalam semalam’ artinya Allah memperbaiki urusannya, mengangkat kemualiaannya dalam waktu semalam, dalam satu waktu di malam itu, di mana para tokoh masyarakat sepakat untuk membaiatnya sebagai khalifah.

Ibnu Katsir menjelaskan bendera hitam yang dibawa al-Mahdi,

ويؤيده بناس من أهل المشرق ينصرونه ويقيمون سلطانه ويشدون أركانه وتكون راياتهم سوداء أيضا وهو زي عليه الوقار لأن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء يقال لها العقاب

“Beliau didukung oleh masyarakat dari timur,menegakkan kekuasaannya,memperkuat pasukannya dan bendera mereka saat itu pun BERWARNA HITAM yang melambangkan kerendahan hati.
SEPERTI BENDERA ROSULULLAH SAW dahulu berwarna hitam, yang bernama al-‘Uqaab.”

BAGAI MANA BENDERA ROSULULLAH SAW DULU

ada beberapa hadis yang akan di kutip:

HADIS KE 1

عن جابر رضي الله عنه قال: كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، و رايته سوداء ” .

“Dari Jabir ra. Dia berkata, 
“Liwaa’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan rooyah-nya berwarna hitam”.
(HR. AT-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majah)

” أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة يوم الفتح ولواؤه أبيض “

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam masuk kota Mekah pada saat pembebasan benderanya berwarna putih”.
(HR. Abu dawud, an-Nasa’i, ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : كَانَتْ رَايَاتُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.

“Dari Ibnu Abbas ra. 
Bahwa dia berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwaa’ beliau berwarna putih”
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Abu Ya’la dan Abu Nu’aim)

HADIS YANG MENCERITAKAN BENDERA ROSULULLAH ADA TULISAN

وأخرجه ابن عدي والطبراني وابو الشيخ من طريق حيان بن عبيد الله وهو مضطرب الحديث،كان قد اختلط، وصعفه ابن عدي في الكامل، ويزيد أحيانا في هذا الحديث: ” ولواؤه أبيض مكتوب فيه لا اله الا الله محمد رسول الله ” وهو قد اضطرب في هذه الزيادة فتارة يذكرها وتارة يحذفها، وتارة يرويه عن ابن عباس وتارة يرويه عن بريدة ولذلك قال الحافظ:إسنادها واه. أي شديد الضعف.

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ibnu Ady, Ath-Thabarani, Abu Asy-Syaikh dari jalur Hayyan bin Abdullah, seorang yang haditsnya tidak konsisten (mudthorib), hafalannya lemah dan di-lemahkan oleh Ibnu Ady dalam kitab Al-Kamil.
Bahkan TERKADANG menambah redaksi hadis:

“LIWAA’ BELIAU BERWARNA PUTIH DAN TERTULIS ‘LAA ILAAHA ILLAALLOOH MUHAMMADUR ROSULULLOH”.

Tambahan konten hadits ini tidak konsisten karena terkadang menyebutkannya dan terkadang membuangnya.
Bahkan terkadang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lain kali meriwayatkannya dari Buraidah. 

Karenanya Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, ‘Sanadnya waahin (sangat-sangat lemah).

وأخرجه أبو الشيخ من حديث أبي هريرة من طريق محمد بن أبي حميد ، عن الزهري ، عن سعيد بن المسيب ، عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، مثله.
وهذا منكر جدا ولا أصل له من حديث الزهري ولا سعيد ابن المسيب، وآفته محمد بن أبي حميد تفرد به عن إمام يجمع حديثه بسند مشرق، وهو مع ذلك فقد قال البزار فيه: أحاديثه لا يتابع عليها، ولا أحسب ذلك من تعمده ، ولكن من سوء حفظه ، فقد روي عنه أهل العلم. وقال الهيثمي: قد أجمعوا على ضعفه، وهو ضعيف جدا. وقال البخاري: وهو ضعيف ذاهب الحديث لا أروي عنه شيئا. وقال أبو حاتم: هو منكر الحديث.

Hadits serupa ditakhrij oleh Abu Asy-syeikh dari hadits Abu Hurairah dari jalur Muhammad bin Abi Humaid, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan redaksi yang sama.

Penilaian beliau Riwayat ini dinila sebagai MUNGKAR JIDAN/SANGAT BURUK SEKALI sebab tidak berdasar sama sekali.

Cacat hadits ini ada pada perawi yang bernama Muhammad bin Abu Humaid.
Al-Bazzar berkata, Hadits-haditsnya tidak bisa dikuatkan dg riwayat lain. 

Itu bukan karena faktor kesengajaannya,tetapi lebih karena faktor hafalannya yang tidak tajam. 

Namun banyak ulama meriwayatkan darinya.
Al-Haitsami berkata, Muhadditsun bersepakat ttg lemahnya Muhammad bin Abu Humaid ini. Dia sangat lemah sekali.

Imam Al-Bukhori berkata, “Dia lemah dan hilang haditsnya. Tak satupun aku meriwayatkan darinya”.

Abu Hatim berkata, “Dia haditsnya MUNKAR:yaitu sebuah hadits dengan perawi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya,atau nampak kefasiqannya 

  وأخرج العقيلي في الضعفاء عن يزيد بن بلال، وكان من أصحاب علي رضي الله عنه ، قال: ” رأيت راية علي حمراء مكتوب فيها محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم “. إسناده ضعيف جدا

Al-Uqaili Yazid bin Bilal mentyakhrij dalam kitab Adh-Dhu’afa dari Yazid bin Bilal (pengikut Ali bin Abi Thalib). Dia berkata, 
“SAYA MENYAKSIKAN ROOYAH ALI BERWARNA MERAH DAN TERTULIS ‘MUHAMMAD RASULULLAH”.

(Sanadnya ini sangat-sangat lemah sekali)

HADIS KE 2

عن أبي هريرة قال: “كانت راية النبي صلى الله عليه وسلم قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض، وكان يحملها سعد بن عبادة ثم يركزها في الأنصار في بني عبد الأشهل وهي الراية التي دخل بها خالد بن الوليد ثنية دمشق وكان اسم الراية العقاب فسمت ثنية العقاب”. أخرجه ابن عدي في الكامل وابن عساكر في تاريخه ، وإسناده ضعيف.

“Dari Abu Hurairah ra. “Rooyah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berupa qith’ah qothifah (sepotong kain mantel) warna hitam yang miliki Aisyah ra. Dan Liwaa’
beliau berwarna putih 
Mulanya Rooyah itu dibawa oleh Sa’d bin Ubadah, lalu ditancapkan di kalangan Anshor Bani Asyhal; itulah rooyah yang dibawa masuk Kholid bin Al-Walid ke dataran Damaskus. Rooyah tersebut diberi nama Al-Iqaab. Sehingga dataran Damaskus dinamai sebagai Tsaniyah Al-Iqaab”. (HR. Ibnu Ady dalam Al-Kamil Ibnu Asakir dalam kitab At-Tarjikh martabat hadis lemah


HADIS KE 3

عن عمرة بنت عبد الرحمن ، قالت : “كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، وكانت رايته سوداء من مِرطٍ لعائشة مُرَحّل ” أخرجه أبو يوسف في الخراج وابن أبي شيبة في المصنف وأبو الشيخ في أخلاق النبي والبغوي

“Dari Amrah bin Abdurrohman, dia berkata, “Liwaa’ Rsulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan Rooyahnya berwarna hitam yang terbuat dari kain selimut milik Aisyah ra. bergambar rohl (dudukan penunggang onta)”.
Penilaian Muhadditsin: Sanad hadits ini lemah karena menggunakan model periwayatan ‘an’anah Ibnu Ishaq yang terkenal sebagai mudallis (tukang memelintir sanad). 

Namun hadits ini bisa naik kelas menjadi Hasan lighoirihi (baik karena didukung riwayat lain)
Riwayat Penguat:

عن ابن أبي جرير: ” أنّ راية النبي صلى الله عليه وسلم كانت قطعة من مرط كان لعائشة ”

“Dari Ibnu Abi Jarir, ‘Sesungguhnya Rooyah nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sepotong kain dari selimut milik Aisyah ra.”

HADIS KE 4

عن يونس بن عبيد مولى محمد بن القاسم قال: بعثني محمد بن القاسم إلى البراء بن عازب يسأله عن راية رسول الله صلى الله عليه و سلم ما كانت؟ فقال: كانت سوداء مُرَبّعَة من نَمِرَة. (أخرج البخاري في التاريخ وأحمد في المسند والترمذي وأبو داود والنسائي في الكبرى وأبو يعلى والروياني في مسنديهما) ، وقال البخاري في علل الترمذي: هو حديث حسن
.
“Dari Yunus bin Ubaid, budak
 Muhammad bin Al-Qasim. Dia berkata, Muhamamad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Barrabin Azib guna menanyakan tentang Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; bagaimana bentuknya?. Al-Barra menjawab, ‘Rooyah beliau berwarna hitam persegi dari namirah (selimut wol belang belang-belang seperti kulit macan)”.
(Dikeluarkan oleh Al-Bukhari,imam Ahmad ,At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Abu Ya’la dan Rouyani.martabat hadis hasan)
Terkait bendera dan panji Rasulullah “Rooyah namirah” ini banyak ulama (Imam Al-Farra`, Imam Tsa’lab, Al-Hafidz Ibnu Hajar) memberikan gambaran yang semuanya mengarah bahwa Rooyah Namirah ini tidak murni berwarna hitam pekat, tetapi ada garis-garis putih tipis sehingga nampak dari kejauhan berwarna hitam


HADITS KE 5


عَنْ الْحَارِثِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ: قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا عَلَى الْمِنْبَرِ وَبِلَالٌ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيْهِ مُتَقَلِّدٌ سَيْفًا وَإِذَا رَايَةٌ سَوْدَاءُ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ قَدِمَ مِنْ غَزَاةٍ . (أخرج ابن ماجة في سننه وأحمد في المسند وابن أبي شيبة في المسند ) حسن .

“Dari Al-Harits bin Hassan, dia berkata, “Aku datang ke Madinah, lalu aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar, sementara Bilal berdiri di depan beliau sambil menghunus pedang. Tiba-tiba nampak bendera hitam. Maka aku bertanya, ‘Siapa orang ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini adalah Amr bin Al-Ash ra. baru datang dari perang”. (Ditakhrij oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Abi syaibah). Hadits ini bernilai 
HASAN/baik


HADITS KE 6

عن أنس قال : استخلف رسول الله صلى الله عليه و سلم بن أم مكتوم مرتين على المدينة ولقد رأيته يوم القادسية معه راية سوداء. (أخرج أحمد في المسند) حسن

“Dari Anas, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di Madinah sebanyak dua kali. Aku melihatnya pada perang Qadisiyah membawa rooyah hitam”. (Ditakhrij oleh Imam Ahmad). Hadits ini bernilai 
HASAN/baik tidak bermasalah

HADITS KE 7

عن أبي بكر بن عياش قال : قدم علينا شعيب بن شعيب بن محمد بن عبد الله بن عمرو بن العاص ، فكان الذي بيني وبينه ، فقال يا أبا بكر : « ألا أخرج لك مصحف عبد الله بن عمرو بن العاص ؟ فأخرج حروفا تخالف حروفنا ، فقال : وأخرج راية سوداء من ثوب خشن ، فيه زران وعروة ، فقال : هذه راية رسول الله صلى الله عليه وسلم التي كانت مع عمرو ». أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، إسناده لا بأس به

Dari Abu Bakar bin Ayyasy, dia berkata, “Datang kepadaku syu’aib bin Syu’aib bin Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Antara dia dan aku terjalin pertemanan. Dia berkata, ‘Wahai Abu Bakar, maukah engkau aku tunjukkan mushaf milik Abdullah bin Amr bin Al-Ash?’. Lalu dia mengeluarkan mushaf yang berisi tulisan yang berbeda dengan mushaf kami. Lalu dia mengeluarkan lagi Rooyah berwarna hitam dari dalam kantung kain kasar yang ada dua kancing dan tali. Kemudia dia berkata, ‘Ini adalah Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang disimpan Amr bin Al-Ash”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Sanad riwayat ini tidak bermasalah.

HADITS KE 8

عن يزيد بن أبي حبيب قال: كانت رايات رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداً . أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، مرسل
.
“Dari Yazid bin Abi Habib, dia
berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Hadits ini MURSAL

HADIS KE 9

عن ابن عمر ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا عقد لواء عقده أبيض ، وكان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض . أخرج أبو الشيخ في أخلاق النبي ، إسناده ضعيف

“Dari Ibnu Umar, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika memasang Liwaa’ maka Liwaa’ itu berwarna putih. Dan memang Liwaa’ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih”. (Ditakhrij oleh Abu Asy-Syaikh dalam Akhlaq An-Nabi). Sanadnya lemah
.
عن أبي بكر بن عياش قال : قدم علينا شعيب بن 
شعيب بن محمد بن عبد الله بن عمرو بن العاص ، فكان الذي بيني وبينه ، فقال يا أبا بكر : « ألا أخرج لك مصحف عبد الله بن عمرو بن العاص ؟ فأخرج حروفا تخالف حروفنا ، فقال : وأخرج راية سوداء من ثوب خشن ، فيه زران وعروة ، فقال : هذه راية رسول الله صلى الله عليه وسلم التي كانت مع عمرو ». أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، إسناده لا بأس به

Dari Abu Bakar bin Ayyasy, dia berkata, “Datang kepadaku syu’aib bin Syu’aib bin Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Antara dia dan aku terjalin pertemanan. Dia berkata, ‘Wahai Abu Bakar, maukah engkau aku tunjukkan mushaf milik Abdullah bin Amr bin Al-Ash?’.
 Lalu dia mengeluarkan mushaf yang berisi tulisan yang berbeda dengan mushaf kami. Lalu dia mengeluarkan lagi Rooyah berwarna hitam dari dalam kantung kain kasar yang ada dua kancing dan tali. Kemudia dia berkata, ‘Ini adalah Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang disimpan Amr bin Al-
Ash”


HATI HATI PEMEGANG BENDERA PALSU

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhu berkata

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدَ فَالْزَمُوْا الْاَرْضَ وَلَا تُحَرِّكُوْا أَيْدِيَكُمْ وَلَا أَرْجُلَكُمْ ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لَا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوْبُهُمْ كَزُبُرِ الْحَدِيْدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لَا يَفُوْنَ بِعَهْدٍ وَلَا مِيْثَاقٍ ، يَدْعُوْنَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوْا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُوْرُهُمْ مِرْخَاةٌ كَشُعُوْرِ النِّسَاءِ حَتَّى يَخْتَلِفُوْا فِيْهَا بَيْنَهُمْ ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

“Jika kalian melihat bendera hitam, maka bertahanlah di bumi. 
Jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. 
Kemudian akan muncul kaum lemah yang lemah tidak dihiraukan (rendahan). 
Hati mereka seperti batangan baja (kaku, keras). Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan. 
Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar. 
Nama mereka menggunakan kunyah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah. Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka. Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki”
Menjelang kehadiran imam Mahdi banyak kelompok membuat bendera hitam dengan tujuan menjadi pembela imam Mahdi, padahal kenyataannya justru sebaliknya,


sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir :

( ثُمَّ تَطْلُع الرَّايَات السُّود ) قَالَ اِبْنُ كَثِيرٍ هَذِهِ الرَّايَاتُ السُّوْدُ لَيْسَتْ هِيَ الَّتِي أَقْبَلَ بِهَا أَبُو مُسْلِمٍ الْخُرَاسَانِيّ فَاسْتَلَبَ بِهَا دَوْلَةَ بَنِي أُمَيَّة بَلْ رَايَاتٌ سُوْدٌ أُخَرُ تَأْتِي صُحْبَةَ الْمَهْدِيّ)

“Hadis (kemudian mencul bendera hitam). 
Ibnu Katsir berkata: “Bendera hitam ini bukanlah bendera yang dibawa oleh Abu Muslim al-Khurasani yang kemudian mengganti dinasti Bani Umayyah, namun bendera hitam yang lain, yang akan datang mengiringi kedatangan al-Mahdi”


CATATAN:

1.TARJIH :berarti mengeluarkan. Konsep ini muncul ketika terjadinya pertentangan secara lahir antara satu dalil dengan dalil yang lainnya yang sederajat dan tidak bisa diselesaikan dengan cara al-jam’u wa al-taufiq. dalil yang dikuatkan disebut dengan rajih, sedangkan dalil yang dilemahkan disebut marjuh

2.Hadis hasan: adalah hadits yang tidak berisi informasi yang bohong, tidak bertentangan dengan hadits lain dan Al-Qur'an dan informasinya kabur, serta memiliki lebih dari satu Sanad

3.Hadis mursal dalam hal ini ada 3 pendapat:

Pendapat pertama: Hadits mursal adalah hadits dho’if dan tertolak.
Yang berpendapat seperti ini adalah mayoritas ulama pakar hadits, serta kebanyakan ulama ushul dan fiqh. Alasan mereka karena dalam hadits mursal terdapat jahalah perowi (ada perowi yang tidak diketahui keadaannya), boleh jadi yang terhapus adalah selain sahabat.

Pendapat kedua: Hadits mursal adalah hadits shahih, bisa dijadikan hujjah.
Yang berpendapat seperti ini adalah tiga ulama madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad) dan juga sekelompok ulama lainnya. Namun mereka memberi syarat, tabi’in yang meriwayatkan hadits mursal harus tsiqoh (terpercaya), sehingga ia tidak meriwayatkan selain dari yang tsiqoh. Hujjah mereka adalah bahwa tabi’in yang tsiqoh mustahil ia katakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian, kecuali ia mendengarnya dari yang tsiqoh pula.

Pendapat ketiga: Hadits mursal bisa diterima dengan memenuhi syarat.
Inilah yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i dan ulama lainnya.
Syarat yang harus dipenuhi ada empat. Tiga syarat berkaitan dengan perowi dan satu syarat berkaitan dengan hadits mursalnya. Syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Yang meriwayatkan hadits mursal adalah tabi’in senior (bukan junior).Tabi’in tersebut dikatakan tsiqoh oleh orang yang meriwayatkannya.Didukung oleh pakar hadits terpercaya lainnya yang tidak menyelisihinya.Hadits mursal tersebut didukung oleh salah satu dari: 
(1) hadits musnad, 
(2) hadits mursal lain, 
(3) bersesuaian dengan perkataan sahabat,
 (4) fatwa mayoritas ulama.

Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah yang merinci sebagaimana pendapat ketiga yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.

Wallohu a'lam

Untuk membaca kajian islam lebih banyak lagi Silahkan klik di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

Tuesday, 12 March 2019

Martabat hadis Alqomah anak durhaka

Kisah alqomah anak durhaka


sangat masyhur di kalangan kaum muslimin.
Para penceramah selalu menyebutkan ketika berbicara tentang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Bahkan sepertinya, jarang sekali kaum muslimin yang tidak mengenal kisah ini.
Dan yang semakin membuatnya masyhur adalah bahwa kisah ini terdapat dalam kitab al Kabairyang disandarkan kepada al Hafidz adz Dzahabi rahimahullah.
Padahal kitab al Kabair yang terdapat kisah ini, bukanlah tulisan Imam adz Dzahabi rahimahullah, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman rahimahullah dalam kitab beliau Kutubun Hadzara Minha Ulama, juga dalam muqoddimah kitab adz Dzahabi rahimahullah yang sebenarnya.
Kisah ini juga terdapat dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua.


CATATAN

Membedah kisah ini bukan tujuan untuk menyanggah tentang kedurhakaan seorang anak kepada ibunya tp bentuk sanggahan bahwa alqomah itu orang yang beriman hidup di jaman rosululloh saw berarti 
Alqamah adalah sahabat Nabi, dan belum pernah ada riwayat shahih yang menunjukkan bahwa sahabat nabi durhaka kepada orang tuanya, apalagi terhadap ibu mereka.
Hadits ini pun juga menjadi pembunuhan karakter terhadap kepribadian sahabat nabi.


begini bunyi hadisnya


وعن عبد الله بن أبي أوفى ، رضي الله عنه ، قال : كنا عند النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم فأتاه آت ، فقال : شاب يجود بنفسه ، قيل له : قل : لا إله إلا اللّه. فلم يستطع. فقال : كان يصلي ؟ قال : نعم. فنهض رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ونهضنا معه فدخل على الشاب ، فقال له : قل : لا إله إلا اللّه , فقال : لا أستطيع ، قال : لم ؟ قال : كان يعق والدته. فقال النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : أحية والدته ؟ قالوا : نعم ، قال : ادعوها , فجاءت ، فقال : هذا ابنك ؟ فقال : نعم , فقال لها : أرأيت لو أججت نار ضخمة ، فقيل لك : إن شفعت له خلينا عنه وإلا حرقناه بهذه النار أكنت تشفعين له ؟ قال : يا رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ، إذًا أشفع ، قال : فأشهدي الله وأشهديني أنك قد رضيت عنه ، قال : اللهم إني أشهدك وأشهد رسولك أني قد رضيت عن ابني , فقال له رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : يا غلام ، قل : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله , فقالها ، فقال رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : الحمد للّه الذيما أنقذه بي من النار.
                    

Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami pernah berada bersama  NabiShallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu datanglah seseorang, ia  berkata, "Ada seorang pemuda yang nafasnya hampir putus, lalu  dikatakan kepadanya, ucapkanlah Laa ilaaha illallah,akan tetapi ia  tidak sanggup mengucapkannya."Beliau bertanya kepada orang itu," Apakah anak muda itu masih menjalankan shalat?" Jawab orang itu,"Ya." Lalu Rasulullah  Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bangkit berdiri dan kami pun berdiri besama beliau, kemudian beliau masuk menemui anak muda itu, beliau  bersabda kepadanya,"Ucapkan Laa ilaaha illallah." Anak muda itu  menjawab, "Saya tidak sanggup." Beliau bertanya, "Kenapa?" Dijawab oleh orang lain, "Dia telah durhaka kepada ibunya." Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, "Apakah ibunya masih hidup?"  Mereka menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Panggillah ibunya kemari," Lalu datanglah ibunya, maka belaiu bersabda, "Ini anakmu?" Jawabnya, "Ya." Beliau bersabda lagi kepadanya, "Bagaimana pandanganmu kalau sekiranya dibuat api unggun yang besar lalu  dikatakan kepadamu: Jika engkau memberikan syafa'atmu  (yaitu memaafkannya,) kepadanya niscaya akan kami lepaskan  dia, dan jika tidak pasti kami akan membakarnya dengan api, apakah engkau mau memberikan syafa'at kepadanya?"Perempuan itu menjawab, "Kalau begitu, aku akan memberikan syafa'at kepadanya." Beliau bersabda," Maka Jadikanlah Allah sebagai saksinya dan  jadikanlah aku sebagai saksinya sesungguhnya engkau telah meridhai anakmu." Perempuan itu berkata, "Ya Allah sesungguhnya aku  menjadikan Engkau sebagai saksi dan aku menjadikan RasulMu sebagai saksi sesungguhnya aku telah meridhai anakku". Kemudia Rasulullah Shallallahu 'Alaihi waSallam bersabda kepada anak muda itu, "Wahai anak muda ucapkanlah Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna muhammada 'abduhu wa rasuluhu." Lalu anak muda itupun dapat mengucapkannya. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi waSallam, "Segala puji bagi Allah yang telahmenyelamatkan dirinya  dari api neraka, lantaran diriku.”


Imam AlBushiri  Rahimahullah mengatakan:

رواه أحمد بن منيع ، والطبراني واللفظ له ، وعبد الله بن أحمد بن حنبل ، وقال : لم يحدث أبي بهذا الحديث ، ضرب عليه من كتابه لأنه لم يرض حديث فائد بن عبد الرحمن ، وكان عنده متروك الحديث.
قلتُ : وضعفه ابن معين وأبو حاتم ، وأبو زرعة والبخاري ، وأبو داود والنسائي ، والترمذي وغيرهم ، وقال الحاكم : روى عن ابن أبي أوفى أحاديث موضوعة.
               
 Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, Ath Thabarani –dan ini adalah lafaz miliknya-, dan Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata: “Ayahku (Imam Ahmad) belum pernah membicarakan hadits ini, Beliau menghilangkannya dari kitabnya, karena beliau tidak ridha dengan hadits Faaid bin Abdurrahman. Menurutnya (Imam Ahmad), Faaid adalah matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.
 Aku (Al Bushiri) berkata: “Dia didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al Bukhari, Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmidzi, dan selain mereka. Al Hakim berkata: diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Aufa hadits-hadits palsu.” 
(Imam Al Bushiri, Az Zawaid, No. 5039)

Imam Al Haitsami juga mengatakan demikian:

 رواه الطبراني وأحمد بأختصار كثير وفيه فائد أبو الورقاء وهو متروك

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dan Ahmad dengan banyak diringkas, dan di dalam sanadnya terdapat Faaid bin Abdurrahman Abu Al Waraqa’, dan dia adalah matruk
(Majma’ Az Zawaid, 8/148)

     
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa hadits ini tidak sah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 
Dalam sanadnya terdapat Faaid. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan:matrukul hadits
Yahya mengatakan: “Bukan apa-apa.” Ibnu Hibban mengatakan: 
“tidak boleh berhujjah dengannya.” Al ‘Uqaili mengatakan: “Tidak ada yang menjadimutaba’ah (penguat) hadits ini, kecuali dari orang yang seperti dia juga.”

Dalam sanadnya juga terdapat Daud bin Ibrahim. Imam Abu Hatim mengatakan: Dia berdusta. 
Maka jelaslah bahwa hadits ini tidak sah disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kisah ini juga dikomentari oleh para ulama lainnya seperti al-Uqaili , al-Baihaqi , al-Mundziri , adz-Dzahabi , Ibnu Arraq , asy-Syaukani dan sebagainya .
Kesimpulanya hadits ini adalah maudhu..

Wallohu a'lam

Perlu di ingat

Mendidik anak supaya patuh kepada orang tua itu suatu keharusan tapi yang harus di ingat
berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam merupakan kemungkaran dan dosa yang besar.

عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”
[HR. Al-Bukhori]

Berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sama dengan berdusta dalam syari’at dan dampaknya menimpa seluruh umat. Oleh karena itu, dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat.

Dalam hadits lain, 
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka.
[HR. Al-Bukhori Muslim]

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ  بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barang siapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (Neraka) Jahannam.”
[HR. Thobroni]

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa menceritakan sebuah hadits dariku, dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta. [HR. Muslim]

Naudzubilah

Baca juga artikel dengan judul IBLIS di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/02/iblis.html?m=1

Baca juga artikel dengan judul sebab suami yang celaka dunia rugi akhirat di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/01/suami-yang-rugi-dunia-celaka-ahirat.html?m=1

Suami jadi sebab wanita masuk neraka di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/01/suami-menjadi-sebab-wanita-masuk-neraka.html?m=1

Tuesday, 5 February 2019

Iblis

Imam Al-Rozi mengatakan dalam kitab tafsirnya yang masyhur dengan sebutan At-Tafsir Al-Kabir atau Mafaatiih Al-Ghoib:


Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan Malaikat.


Sedangkan para ahli kalam (Muatakalimun) dan sebagian Ahli Ushul (Ushuliyun) mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan Jin.


script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-7691476900848140", enable_page_level_ads: true }); </script>

Argumen Jumhur:

Pertama: 



Allah swt dalam ayatNya Al-Baqoroh ayat 34


وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِين


Mengecualikan Iblis dari Malaikat. Dalam kaedah bahasa Arab ini disebut dengan istilah Istitsna dan Istitsna ini sering sekali disebutkan dalam redaksi-redaksi ayat Al-Qur'an.
Redaksi lafadznya yaitu Ibliisa.
Lafadz Iblis berharokat akhir Fathah. Ini namanya Ististna Muttasil,dimana mustatsna itu dari golongan Mustatsna minhu.
Dalam redaksi ini,Iblis menjadi Mustatsna dan Malaikat menjadi Mustatsna minhu.
Kalau saja iblis itu bukan dari golongan malaikat,pastilah tidak dibaca dengan akhiran fathah.
Atau kalau saja iblis itu bukan dari golongan malaikat,tidak akan disebut malaikat di awal surat.


Kedua:


Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam. Redaksinya:
"dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para Malaikat: 'bersujudlah kalian kepada Adam'. Kemudian bersujudlah mereka semua kecuali Iblis"
Yang menolak perintah itu iblis, berarti iblis itu dari golongan Malaikat.
Karena Allah memerintahkan itu kepada malaikat.
Allah memerintahkan itu kepada malaikat.
Seandainya Iblis bukan dari golongan malaikat,
pastilah perintah itu bukan ditujukan kepada Malaikat.




Lebih dekatnya seperti ini, seseorang berkata: "sang guru menyruruh seluruh anak muridnya untuk masuk ke dalam kelas.
Maka masuklah semua muridnya ke dalam kelas kecuali Jaja"
Berarti Jaja adalah satu dari murid-murid sang guru.




Argumen Mutakallimun:
Pertama:
Iblis itu sudah barang tentu dari golongan Jin.
Sesuai apa yang difirmankan oleh Allah swt dalam surat Al-Kahfi ayat 50:


وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّفَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّه.



"dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya……"


Namun Imam Al-Rozi mengatakan bahwa dalil ini lemah,
karena kata Jin جن itu berasal dari kata Ijtinan  اجتنان yang berarti tertutup atau tidak terlihat.
Itu kenapa Janin disebut janin جنين karena ia tidak terlihat.
Surga dalam bahasa Arab disebut Jannah جنة kerana surga itu tertutup oleh pepohonan tebal dan lebat sehingga tidak terlihat siapa yang ada didalamnya.


Begitu juga orang gila disebut Junun جنون itu karena otaknya sudah tertutup/hilang.  


Begitu juga malaikat, ia masuk dalam kata jin ini karena ia tidak terlihat oleh mata.


Maka ketika malaikat pun masuk dalam kategori jin secara bahasa, mestinya jin dalam ayat diatas tidak hanya diartikan makhluk jin saja. Tetapi malaikatpun masuk dalam kata itu.



Kedua:

Iblis itu punya keturunan, sedangkan Malaikat tidak punya keturunan.
Jadi Iblit itu dari golongan jin sebagaimana layaknya jin.
Ini sejalan dengan Firman Allah swt yang menerangkan tentang sifat Iblis:
"…………Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?............." 
(QS Al-kahfi 50)


Ketiga:


Malaikat adalah  makhluk Allah yang ma'sum (terjaga) sehingga ia tidak bermaksiat kepada Allah.
Firman Allah swt:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". 
(QS Al-Tahrim 6)

Sedangkan Iblis itu bermaksiat kepada Allah seperti apa yang telah kita ketahui cerotanya.
Jadi sudah jelas bahwa Iblis itu dari golongan Jin.


Keempat: 


Iblis adalah makhluk yang terbuat dari api. "Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api ……" 
(QS Al- A'rof 12).
Sedangkan Malaikat jauh berbeda,ia diciptakan dari cahaya.
Dari 'Aisyah ra, Rasul saw bersabda: "malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan Jin diciptakan dari nyala Api tanpa Asap" 
(HR Muslim)
Inilah apa yang disebutkan oleh Imam Al-Rozi dalam kitab tafsirnya tentang masalah perbedaan ulama mengenai apakah Iblis itu dari golongan Jin atau Malaikat.


Imam Ibnu Katsir


Lebih lanjut tentang Iblis, Imam Ibnu Katsir menuliskan dalam kitab tafsirnya sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Iblis itu adalah sekelompok bala tentara dari golongan malaikat.
Yang bernama Al-Harits, dan juga bertugas menjadi penjaga surga.
Diceritakan bahwa Makhluk pertama yang mendiami bumi ialah golongan Jin.
Namun keberadaan Jin di bumi hanya mengacaukan bumi, menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah satu sama lain.
Lalu Allah mengirim Pasukan Iblis untuk mengatasi masalah yang ada di bumi itu dan segala kerusakan yang telah terjadi akibat kelakuakn Jin itu.
Dan dengan kelebihan yang Allah berikan Iblis pun berhasil menumpas dan menangani Jin-Jin perusak tersebut lalu membuangnya ke lautan serta ke pegunungan.
Karena keberhasilannya itu, timbullah rasa sombong dan angkuh dalam diri Iblis sampai-sampai ia berkata: "aku telah melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh yang lain.".
Ibnu Abbas berkata: Allah telah memperlihatkan kesombongan dalam diri Iblis tapi tidak pada malaikat yang ada bersamanya saat itu.

script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-7691476900848140", enable_page_level_ads: true }); </script>

Saudaraku.....
Iblis itu adalah musuk kita,maka kenali musuh kita sebelum berperang denganya
Perlu di ketahui



IBLIS ITU SANGAT ALIM
JANGAN DI SANGKA IBLIS TIDAK TAU ALQUR'AN
Jika engkau bertanya tentang Al-Qur'an kpd iblis,
maka iblis akan bisa menerangkan dg sangat jelas, karena iblis tau persis kapan ayat itu turun dari langit...



JANGAN DI SANGKA IBLIS TIDAK TAU HADIS
Jika engkau bertanya tentang ilmu hadist kpd iblis
maka iblis akan pandai menjelaskannya sebab iblis itu asbab wurudnya hadis




JANGAN DI SANGKA IBLIS TIDAK TAU KISAH PARA NABI
Jika engkau bertanya tentang kisah para nabi, iblis akan dg tepat menceritakannya karena iblis sudah ada sejak nabi adam masih berada dalam surga...




JANGAN DI SANGKA IBLIS TIDAK TAU SURGA
jika engkau tanya tentang kenikmatan surga maka iblis akan bisa menerangkanya sebab iblis awalnya penghuni surga
iblis ahli alqur'an...
iblis ahli hadist....
iblis ahli riwayat..
iblis tau kenikmatan surga..
Tapi iblis tdk menjadi kekasih Allah, karena dalam diri iblis ada kalimat...



AKU LEBIH BAIK DARIPADA KAMU(ke nabi adam)



Semoga sedikit ilmu yg dititipkan Allah Subhana Wa Ta'alla dihati kita tdk menjadikan kita sombong dalam segala urusan...
Juga paham bahwa ilmu tak menjamin orang pasti ta'at dan sholeh.


YANG AKU TAKUTKAN.....


hatiku tambah mengeras dan sulit menerima nasehat namun
sangat pandai menasehati
Yang aku takut...
aku merasa paling benar, sehingga merendahkan yang lain.


YANG AKU TAKUTKAN...


Kegoisaku terlalu tinggi
hingga
merasa paling baik di antara yang lain.


YANG AKU TAKUTKAN....


aku lupa bercermin,namun
sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.


YANG AKU TAKUTKAN


ilmuku membuatku sombong sehingga memusuhi orang lain yang berbeda denganku


YANG AKU TAKUTKAN


lidahku makin lincah membicarakan aib orang lain,namun lupa dengan aibku yang menggunung dan tak sanggup kubenahi.


YANG AKU TAKUTKAN


aku hanya hebat dalam berkata namun buruk dalam berbuat.


YANG AKU TAKUTKAN


aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengkoreksi diri sendiri.


YANG AKU TAKUTKAN


aku membenci dosa orang lain, namun saat aku sendiri buat dosa aku enggan membencinya.


LIHATLAH KE HATI,APAKAH ADA YANG SEPERTI DI SEBUTKAN DI ATAS....?????


Semoga Allah swt
senantiasa menyadarkanku sehingga lebih rajin instrospeksi diri daripada sibuk melihat orang lain yang belum tentu perilaku dan tutur katanya lebih baik dari diriku.. Aamiin...


Wallahu a'lam Bishowab

Thursday, 24 January 2019

Dalil adanya siksa kubur

firman Allah Ta’ala:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
(QS. Ibrahim: 27)
Al Baroo’ bin ‘Aazib mengatakan,
نَزَلَتْ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ.
Ayat ini turun untuk menjelaskan adanya siksa kubur.
(HR. Muslim)
Bahkan Ibnul Qoyyim rahimahullah ulama yang sudah diketahui keilmuannya mengatakan bahwa hadits yang menjelaskan mengenai siksa kubur adalah hadits yang sampai derajat mutawatir.
(At Tafsir Al Qoyyim)
Dalam ayat lain allah swt berfirman
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”
(Q.S Al-Mukminun: 100)
Mengenai Firman Allah Ta’ala yang berarti “Dan di hadapan mereka ada dinding”, terdapat ancaman bagi orang-orang zhalim yang mengalami adzab alam barzakh.
Sebagaimana difirmankan-Nya yang bermakna
“Dan di hadapan mereka ada jahannam”
(Q.S Al-Jaatsiyah: 10).
Firman-Nya yang bermakna “Sampai hari mereka dibangkitkan” Yakni adzab itu akan berlangsung terus padanya sehingga datang hari kebangkitan. (Tafsir Ibnu Katsir)
1. Diperlihatkan neraka jahannam
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat’.”
(Muttafaqun ‘alaih)
2. Dipukul dengan palu dari besi
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ
Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.
Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril dan Mikail ‘alaihissalam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:
فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا
“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.
(HR. Al-Bukhori)
5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ
Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)
(HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.”)