Monday, 15 April 2019

Apakah khilapah wajib

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكاً بَعْدَ ذَلِكَ

Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun. Kemudian setelah itu diganti kerajaan. (HR. Ahmad 22568, Turmudzi 2390 dan sanadnya dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Baca juga konstitusi madinah:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/konstitusi-madinah-hasil-rumusan.html?m=1

Dan kalau khilapah islamiah jadi sarat keimanan hamba maka rosulullah jauh jauh hari sudah menegaskanya
Sedangkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

وأيضا فنحن نعلم بالاضطرار من دين محمد بن عبد الله – صلى الله عليه و سلم – أنَّ الناس كانوا إذا أسلموا لم يجعل إيمانّم موقوفا على معرفة الإمامة

“Dan kami juga mengetahui -dengan pengetahuan yang sifatnya dharuri dalam agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa sejak dahulu manusia jika masuk Islam tidak pernah dipersyaratkan harus mengetahui masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) , untuk menyatakan kesahan iman mereka!”

Adapun kerajaan di anggap jelek pasti akan di jelaskan juga dengan sabda rosulullah
Imam Ibnu Abil Izz mengatakan,

وأول ملوك المسلمين معاوية وهو خير ملوك المسلمين؛ لكنه إنما صار إماما حقا لما فوض إليه الحسن بن علي رضي الله عنهم الخلافة

Raja pertama di tengah kaum muslimin adalah Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, dan beliau adalah raja terbaik di tengah kaum muslimin. Dan beliau berhak menjadi pemimpin setelah Hasan bin Ali menyerahkan tampuk kekhalifahan kepadanya – radhiyallahu ‘anhum. (Syarh Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil Izz, 3/172)

Apakah bendera rosulullah ada tulisannya baca di alamat:

https://myhutbah.blogspot.com/2019/03/imam-mahdi-penjelasan-panji-rosul.html?m=1


Perbedaan antara kholipah dan raja yaitu:

إن الخليفة الذي جاء مدحه هو الذي لا يستفيد من ملكه شيئا حتى في المباحات؛ وإنما يستفيد في ولايته في نصرة دين الله في دعوة الناس الى الواجبات والمستحبات وترك المحرمات والمكروهات وهو في نفسه لا يستفيد شيئا من هذه الولاية
أما الملك هو الذي يستفيد من ولايته في شيئ من دنياه؛ لذا أول ملوك في الاسلام خال المؤمنين؛ معاوية بن أبي سفيان – رضي الله عنهما –  ولم يكن معاوية -مع جلالة قدره- فإنه ليس خليفة؛ فمعاوية يستفيد من ملكه فيما يتعلق بالمباحات

"Adapun khalifah, seperti yang dipuji dalam hadis, adalah orang tidak mengambil manfaat dari kekuasaannya sedikitpun untuk pribadinya. 
Sampaipun dalam masalah yang mubah. 
Namun dia gunakan kekuasaannya untuk mendukung agaa Allah, mengajak manusia mengamalkan yang wajib dan sunah, serta meninggalkan yang haram dan makruh. 
Sementara untuk pribadinya, dia tidak memanfaatkannya sama sekali.

Sementara untuk raja,dia mengambil sebagian manfaat dari kekuasaannya untuk kepentingan dunianya. 
Karena itu, raja pertama dalam islam adalah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. 
Dan Muawiyah, – sekalipun beliau sahabat yang sangat mulia – beliau bukan khalifah. 
Karena Muawiyah mengambil sebagian manfaat yang MUBAH dari kekuasaannya "

Dan itupun tidak dilarang sebatas mengambil manfaat dari perkara yang mubah/boleh

Ibnul Arabi mengatakan:

كان الأمراء قبل هذا اليوم، وفي صدر الإسلام، هم العلماء والرعية هم الجند، فاطرد النظام، وكان العوام القواد فريقا والأمراء فريقا آخر. ثم فصل الله الأمر، بحكمته البالغة وقضائه السابق، فصار العلماء فريقا والأمراء آخر، وصارت الرعية صنفا وصار الجند آخر فتعارضت الأمور.

“Sebelum masa kita sekarang ini, yakni masa di awal-awal perkembangan Islam, para umara ialah para ulama sekaligus sedangkan rakyat ialah para tentaranya. Lalu struktur sosial ini pada tahap selanjutnya mengalami perubahan. Para komandan militer (yang sebelumnya juga pakar agama namun sekarang tidak) membentuk kelompok sosial tersendiri dan para umara juga membentuk kelompok sosialnya secara tersendiri.
Dan dengan kebijaksanaan dan takdir yang ditentukannya sejak zaman azali, Allah kemudian mengubah lagi struktur sosial ini: para ulama merupakan kelompok sosial tersendiri dan para umara juga membentuk kelompok sosialnya tersendiri. Dan pada tahap selanjutnya, rakyat juga menjadi kelompok sosial yang berbeda dari para tentara.”

AlMawardi rahimahullah 
menjelaskan hal itu:

فَصْلٌ: “فِي بَيَانِ حُكْمِ الخِلَافَةِ”
فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِمَامَةِ فَفَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَطَلَبِ الْعِلْمِ، فَإِذَا قَامَ بِهَا مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا سَقَطَ فَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَا أَحَدٌ خَرَجَ مِنَ النَّاسِ فَرِيقَانِ:
أَحَدُهُمَا: أَهْلُ الِاخْتِيَارِ حَتَّى يَخْتَارُوا إمَامًا لِلْأُمَّةِ.
وَالثَّانِي: أَهْلُ الْإِمَامَةِ حَتَّى يَنْتَصِبَ أَحَدُهُمْ لِلْإِمَامَةِ،
وَلَيْسَ عَلَى مَنْ عَدَا هَذَيْنِ الْفَرِيقَيْنِ مِنَ الْأُمَّةِ فِي تَأْخِيرِ الْإِمَامَةِ حَرَجٌ وَلَا مَأْثَمٌ،

Pasal: “Tentang penjelasan hukum Khilafah”.
Jika (sudah diketahui bahwa) benar-benar terbukti wajibnya menegakkan Imamah (Khilafah Islamiyyah),
maka (ketahuilah) kewajiban itu jenisnya adalah fardhu kifayah, seperti jihad dan menuntut ilmu maka jika telah dilaksanakan kewajiban tersebut oleh orang yang berkompeten, maka gugurlah kewajiban tersebut (bagi kaum muslimin yang lainnya) karena telah dilaksanakan olehnya.
Dan jika tidak ada seorangpun yang menunaikannya, maka tampillah dua golongan manusia (yang berkewajiban melaksanakannya),

Golongan Pertama: 
Ahlul Ikhtiyar (Dewan Perwakilan Rakyat yang bertugas memilih), sampai mereka memilih Imam (Khalifah) untuk umat.

Golongan Kedua :
Ahlul Imamah (Orang-orang yang terpenuhi syarat menjadi Imam (Khalifah)), sampai salah satu diantara mereka menjadi Imam (Khalifah) kaum muslimin,
dan bagi kaum muslimin selain dua golongan manusia tersebut, tidak salah dan tidak pula berdosa ketika terjadi penundaan pengangkatan Imam (Khalifah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

إنَّ القائل: إنَّ مسألة الإمامة أهم المطالب في أحكام 
الدين وأشرف مسائل المسلمين، كاذب بإجماع المسلمين

“Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) adalah tujuan yang tertinggi dalam hukum agama Islam dan permasalahan kaum muslimin yang teragung!”, (maka hakekatnya) ia berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin

Bahkan beliau menyatakan bahwa perkataan itu sebagai bentuk kekufuran,

بل هو كفر فإنَّ الإيمان بالله ورسوله أهم من مسألة الإمامة وهذا معلوم بالاضطرار من دين الإسلام. فالكافر لا يصير مؤمناً حتى يشهد أن لا إله إلا الله وأنَّ محمداً رسول الله

“Bahkan perkataan tersebut adalah bentuk kekufuran, karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jelas lebih penting dari pada masalah Imamah (Khalifah Islamiyyah) dan ini merupakan perkara mendasar dalam agama Islam yang sifatnya dhoruri  (Sebagaimana diketahui) orang kafir tidaklah sah menjadi seorang beriman sampai bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

فمن المعلوم أنَّ أشرف مسائل المسلمين، وأهم المطالب في الدين ينبغي أن يكون ذكرها في كتاب الله تعالى أعظم من غيرها، وبيان الرسول لها أولى من بيان غيرها، والقرآن مملوء بذكر توحيد الله تعالى، وذكر أسمائه، وصفاته، وآياته، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقصص، والأمر والنهي، والحدود والفرائض، بخلاف الإمامة، فكيف يكون القرآن مملوءً بغير الأهم الأشرف؟

“Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa suatu perkara kaum muslimin yang sifatnya teragung sekaligus ia merupakan tujuan yang terpenting dalam agama Islam, selayaknyalah hal itu disebutkan dalam Kitabullah Ta’ala lebih besar daripada penyebutan perkara selainnya, dan penjelasan Rasulullah terhadapnya, selayaknyalah lebih utama daripada penjelasan beliau tentang perkara selainnya. 
Sedangkan (kenyataannya) Aquran penuh dengan penyebutan Tauhidullah Ta’ala, nama dan sifat-Nya, Ayat-Ayat, Malaikat dan Kitab-Kitab dan para Rasul-Nya serta hari Akhir serta kisah-kisah,perintah, larangan, hukuman Had dan kewajiban-kewajiban.
Namun, untuk masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) tidaklah demikian Maka bagaimana mungkin Alquran dikatakan dipenuhi dengan perkara yang tidak paling penting dan tidak pula paling mulia?”

Kesimpulan:
imam/amirul mu'minin/presiden/raja apapun sebutanya tetap disebut pemimpin atau kholipah..
setelah tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia, jadilah masing-masing wilayah negara memiliki kepala negara masing-masing pula, yang kekuasaannya terbatas pada wilayah negara yang dipimpinnya saja.
Maka wajib bagi masing-masing warga negara ta’at kepada kepala negaranya masing-masing
Adapun pemimpin islam sedunia kelak akan muncul sesuai
Hadis yang diriwayatkan Ibnu Kathir: berkata:

لا يلي الخلافة أحد من أهل البيت إلا محمد بن عبد الله المهدي الذي يكون في آخر الزمان عند نزول عيسى بن مريم.

Artinya: Tidak akan datang khilafah seorangpun dari “Ahlul Bait” kecuali Muhammad bin Abdillah Al-Mahdi yang akan ada pada akhir zaman ketika turunnya Isa putra Maryam.



Wallohu a'lam

No comments: