Jauh jauh hari allah swt sudah memberikan rambu rambu bagi kita dengan pirmanya
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُُ تُولِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Katakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."
(Ali Imran: 26-27).
Sebab turun ayat
Al-Wâhidî meriwayatkan sebuah Hadis dari Ibnu Abbâs dan Anas ibn Malik, bahwa ketika Rasulullah SAW menaklukan Kota Mekah, Beliau(Nabi SAW) menjanjikan kepada umatnya akan kerajaan Persia dan Romawi. Kemudian orang-orang Munafik dan Yahudi berkata: “Alangkah jauhnya dari manakah kamu Muhammad akan mendapatkan kerajaan Persia dan Romawi, sedangkan mereka jauh lebih kuat dan mulia dibandingkan dengan kemenanganmu(Nabi SAW) ini. Tidak cukupkah bagi Muhammad Mekah dan Madinah, sampai ia(Nabi SAW) hendak menaklukkan Persia dan Romawi?
Dalam riwayat lain
Menurut Ibnu Abu Hatim dari Qatadah, katanya, "Orang- orang mengatakan kepada kami bahwa Rasulullah saw. memohon kepada Tuhan agar menundukkan kerajaan Romawi dan Persi ke dalam kekuasaan umatnya, maka Allah pun menurunkan, 'Katakanlah! Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan...sampai akhir ayat.'"
(Q.S. Ali Imran 26)
Allah berhak memberikan kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki tidak bisa dihalangi oleh siapapun.
Allah menghinakan orang yang Dia kehendaki pula meskipun dibela oleh siapapun.
Allah menghinakan orang yang Dia kehendaki pula meskipun dibela oleh siapapun.
Itu semua hak prerogatip allah swt
Apapun cara kita untuk menghinakan seseorang kalau allah memuliakan orang tsb maka orang itu tidak akan hina,begitupun sebaliknya apapun usaha kita untuk memuliakan seseorang kalau allah telah menghinakan seseorang maka orang itu tidak akan mulia
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”
[HR At-Tirmidziy]
Allah memiliki kuasa yang mutlak untuk mengangkat ataupun merendahkan derajat dan pangkat siapa saja.
Kemutlakan kekuasaan-Nya tersebut logis sebab Allah pemilik segala kekuasaan.
Allah tidak akan salah memberikan sesuatu kepada hambanya
Manusia adakalanya dihadapkan dengan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh dirinya,tidak sedikit manusia tidak bisa menerima kenyataan pahit dihadapanya,sikap tsb menurut ahli pesikologi ada gangguan jiwa yang dinamakan penyakit DELUSI
yaitu satu penyakit yang harus diobati dengan serius sebb bagi penderita penyakit itu bilamana ada sesuatu hal pahit dihadapan kehidupanya maka sulit untuk menerimanya dengan kata lain "sulit menerima kenyataan sesuatu yang terjadi di hadapanya dikarenakan tidak sesuai kehendaknya"
yaitu satu penyakit yang harus diobati dengan serius sebb bagi penderita penyakit itu bilamana ada sesuatu hal pahit dihadapan kehidupanya maka sulit untuk menerimanya dengan kata lain "sulit menerima kenyataan sesuatu yang terjadi di hadapanya dikarenakan tidak sesuai kehendaknya"
Itu semua bisa jelek menurut kita tapi kita tidak mengetahui menurut allah swt
sesuai firman allah swt
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
” Jika Kamu Tidak Menyukai Mereka (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang baik padanya ”
(Qs Anisa :19)
(Qs Anisa :19)
Dalam ayat lain di jelaskan
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS Al-Baqarah: 216).
(QS Al-Baqarah: 216).
Ayat ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.
Musibah-musibah yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan sebab mempunyai keyakinan sesungguhnya allah memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang beriman
Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan.
Kalapun dihadapan kehidupan kita ada kegagalan janganlah melimpahkan kegagalan itu kepada orang lain sebab
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
Kalapun dihadapan kehidupan kita ada kegagalan janganlah melimpahkan kegagalan itu kepada orang lain sebab
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Se-andainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi…
Semoga kita bisa menyikapi sesuatu yang ada dihadapan kita dengan keimanan dan sekaligus sebagai penguat keyakinan kepada allah swt
Catatan:
1.Manusia hanya punya rencana dan ikhtiar tapi allah yang menakdirkanya ,terimalah dengan lapang dada sepahit apapun hasilnya
2.janganlah menutupi kelemahanmu dengan menyalahkan orang lain
Untuk memaca judul yang lain kunjungi di alamat:
https://myhutbah.blogspot.com/?m=1

No comments:
Post a Comment