ROJAB ATAU RAJAB
Mengapa Dinamakan “Rajab”?
Ibnu Rajab Al Hanbaliy pernah mengatakan
–secara makna-
“Dinamakan bulan Rajab itu dengan “Rajab”
karena bulan itu
“Yurjab”
yakni dimuliakan dikatakan
“Rajaba fulaanun maulaah” yakni ‘azh-zhamah’ (si fulan memuliakan tuannya).
Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu karena para malaikat memuliakan dengan bertasbih dan bertahmid di bulan itu, namun hadits tentang hal ini maudu”
Kaum Jahiliah Memuliakan Bulan Rajab
Kaum Jahiliah dahulu memuliakan bulan Rajab, terlebih kabilah Mudhar, oleh karena itu dalam hadits di atas disebutkan “Wa Rajab mudhara…dst”
Ibnul Atsir dalam An Nihayah berkata, “Diidofatkan (disambung) kata-kata Rajab dengan Mudhar, karena mereka (kabilah Mudhar) memuliakannya berbeda dengan lainnya, dari situ seakan-akan mereka mengistimewakannya.”
Di antara bentuk penghormatan mereka terhadap bulan itu adalah dengan mengharamkan perang di bulan itu, sampai-sampai mereka menamakan perang yang terjadi di bulan itu dengan nama
“Harbul fajaar” (perang pelanggaran).
Mereka juga melakukan penyembelihan di bulan itu dengan nama “Al ‘Atiirah” berupa kambing yang mereka sembelih untuk berhala mereka lalu darah tersebut dituangakan ke kepalanya.
Kemudian Islam datang membatalkan perbuatan itu sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim,
لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيْرَةَ
“Tidak ada lagi fara’ (penyembelihan kepada berhala) dan ‘Atiirah.”
MENJELANG BULAN ROJAB
Menjelang bulan rajab mulai banyak pesan berantai via whatsapp,sms tentang puasa di bulan rajab sedangkan
di antara ibadah yang kerap kali dipermasalahkan ialah puasa Rajab dan tujuanyapun ingsya alloh baik yaitu untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
di antara ibadah yang kerap kali dipermasalahkan ialah puasa Rajab dan tujuanyapun ingsya alloh baik yaitu untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Sebagian orang berpendapat bahwa puasa Rajab tidak diperbolehkan, alias bid’ah, karena tidak ada dalil spesifik yang membolehkannya. Bahkan hadits-hadits keutamaan puasa di bulan Rajab kebanyakan dhaif dan maudhu’.
Downloads here dzikir https://www.mediafire.com/file/3bx0z8t5j2l2kn1/Allah_hu_Allah.mp3/file
Hadits seputar keutamaan bulan Rajab ini sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Hasil kajiannya itu ditulis dalam kitab berjudul Tabyinul ‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab.
Dalam kitab itu ia berkata:
Hasil kajiannya itu ditulis dalam kitab berjudul Tabyinul ‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab.
Dalam kitab itu ia berkata:
لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه ولا في صيام شيئ منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسما عيل الهروي الحافظ.....ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيرد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعيف، ما لم تكن موضوعة
Artinya, “Tidak ada hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah terkait keutamaan Rajab, puasa Rajab, atau puasa di hari tertentu di bulan Rajab, serta beribadah pada malam tertentu di bulan Rajab.
Sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian ini, yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafidz. Meskipun demikian sesungguhnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits tentang fadhilah amal, walaupun kualitasnya lemah, selama tidak maudhu’.”
Sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian ini, yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafidz. Meskipun demikian sesungguhnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits tentang fadhilah amal, walaupun kualitasnya lemah, selama tidak maudhu’.”
Ibnu Hajar mengakui bahwa belum ditemukan dalil shahih dan spesifik terkait keutamaan bulan Rajab atau dalil khusus yang menyatakan keutamaan puasa di bulan Rajab. Namun dengan tidak adanya dalil shahih yang spesifik itu bukan berati puasa Rajab tidak boleh. Maksudnya bukan demikian Atau langsung bicara bid'ah.
Dari sini kemudian suatu amal ibadah dapat dimasukkan ke dalam dua kategori, sunah atau bid‘ah.
Amalan sunah adalah amalan yang memiliki pijakan dalam sumber agama Islam.
Sedangkan amalan bid‘ah adalah amal yang tidak memiliki pijakan dalam Islam.
Hanya saja yang perlu diingat kembali bahwa amalan sunah dan bid’ah yang dibahas di sini dipahami menurut definisi syariah,
bukan secara bahasa yang cakupannya terlalu umum sehingga apapun dapat dikenakan label bid‘ah.
Hal ini disebutkan oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut:
وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.
Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa.
(Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali padaSyarah Shahih Bukhari).
Apakah beramal dengan hadis dhoif boleh?
beramal dengan hadits dhaif dibolehkan selama tidak berkaitan dengan akidah dan kualitas haditsnya tidak terlalu lemah.
Apalagi dalam persoalan puasa Rajab, sebetulnya ada hadits shahih yang menjadi landasan kebolehan puasa Rajab.
Misalnya dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sahabat yang bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab.
Said menjawab, “Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Rasulullah SAW selalu berpuasa, dan ia tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga ia tidak puasa,”
(HR Muslim).
Kemudian dalam riwayat lain adalah hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Al-Baihaqai, dan lain-lain yang menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berpuasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum). Sementara salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam adalah bulan Rajab.
Jadi dengan banyaknya beredar hadits dhaif tentang keutamaan Rajab bukan berati memperbanyak amalan pada bulan itu tidak dibolehkan, karena hadits dhaif itu sendiri masih boleh diamalkan dengan syarat tidak berkaitan dengan akidah dan kelemahannya tidak terlalu parah.
Namun apakah kelemahan dalil tersebut berdampak pada ketidakbolehan puasa di bulan Rajab?
Jawabannya tentu tidak.
Pertanyaan hukum puasa Rajab pernah ditanyakan Utsman bin Hakim kepada Sa’id Ibnu Jubair. Dialog kedua orang ini direkam oleh Imam Muslim bin Hajaj dalam kitab Shahih-nya.
حدثنا عثمان بن حكيم الأنصاري، قال: سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب ونحن يومئذ في رجب، فقال: سمعت ابن عباس رضي الله عنهما يقول: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر، ويفطر حتى نقول لا يصوم
Artinya, "Utsman bin Hakim al-Anshari berkata, ‘Saya pernah bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab. Said menjawab, ‘Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Beliau SAW selalu berpuasa, dan Beliau tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga Beliau tidak puasa,
(HR Muslim).
Terkait hadis ini khususnya jawaban Sa’id Ibnu Jubair saat ditanya hukum puasa Rajab,
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim berpendapat sebagai berikut.
الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لانهى عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي دود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها
Artinya, “Istidlal yang dilakukan Sa’id Ibnu Jubair menunjukan tidak ada larangan dan kesunahan khusus puasa di bulan Rajab. Hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya, sebab tidak ada larangan dan kesunahan khusus terkait puasa Rajab. Akan tetapi hukum asal puasa adalah sunah.
Di dalamSunan Abu Dawud disebutkan Rasulullah SAW menganjurkan puasa di bulan haram (bulan-bulan terhormat). Sementara Rajab termasuk bulan haram.”
Berdasarkan pendapat Imam An-Nawawi ini, hukum puasa di bulan Rajab adalah sunah.
Pendapat ini berpatokan pada hukum asal puasa itu sendiri, boleh dilakukan kapan pun kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha.
Fenomena pelarangan puasa Rajab sebenarnya bukan hal yang baru. Dahulu ada seorang ustadz di zaman Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dengan lantangnya menyuarakan pelarangan puasa Rajab.
Ia seakan merasa lebih alim dari ulama pada waktu itu yang secara keilmuan jauh lebih luas darinya.
Ia berargumen begini:
أَحَادِيثُ صَوْمِ رَجَب مَوْضُوعَةٌ وقد قال النَّوَوِيُّ الْحَدِيثُ الْمَوْضُوعُ لَا يُعْمَلُ بِهِ وقد اتَّفَقَ الْحُفَّاظُ على أَنَّهُ مَوْضُوعٌ
“Hadits-hadits tentang puasa bulan Rajab adalahmaudlu’ (palsu), al-Imam al-Nawawi mengatakan hadits maudlu’ tidak bisa diamalkan. Sedangkan para huffazh sepakat bahwa hadits tersebut palsu.
Dengan argumen tersebut secara frontal ia mengharamkan dan membid’ahkan masyarakat setempat yang menjalankan puasa Rajab.
Hal ini membuat masyarakat resah atas fatwa haram tersebut
hingga akhirnya persoalan tersebut dihaturkan kepada Syekh Ibnu Hajar al-Haitami untuk memberikan solusi jawaban atas fatwa tersebut.
Jawaban Syekh Ibnu Hajar al-Haitami atas fatwa bid’ah berpuasa Rajab tersebut setidaknya dapat disimpulkan sebagai berikut:
PERTAMA memang betul terdapat beberapa hadits puasa Rajab yang maudlu’ (palsu), hanya saja para ulama dalam menetapkan kesunahan berpuasa Rajab sama sekali tidak berpegangan pada hadits tersebut. Beliau menegaskan:
نَعَمْ رُوِيَ في فَضْلِ صَوْمِهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ مَوْضُوعَةٌ وَأَئِمَّتُنَا وَغَيْرُهُمْ لم يُعَوِّلُوا في نَدْبِ صَوْمِهِ عليها حَاشَاهُمْ من ذلك وَإِنَّمَا عَوَّلُوا على ما قَدَّمْته وَغَيْره
“Betul demikian, terdapat banyak hadits palsu yang menerangkan keutamaan berpuasa Rajab, hanya saja para imam kita dan yang lain tidak berpedoman pada hadits-hadit tersebut, dan sungguh tidak mungkin bila hal tersebut tetjadi.
Akan tetapi mereka berpegangan pada argumen yang telah saya sampaikan dan dalil-dalil lainnya.”
KEDUA kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa secara umum, seperti hadits qudsi:
يقول الله كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ له إلَّا الصَّوْمَ
“Allah berfirman, seluruh amal Ibnu Adam diperuntukan kepadanya kecuali puasa.”
Atau hadits Nabi tentang puasa Daud:
إنَّ أَفْضَلَ الصِّيَامِ صِيَامُ أَخِي دَاوُد كان يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasanya saudaraku Daud, ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari berikutnya.”
Dalam hadits tersebut, Rasulullah tidak mengecualikan bulan tertentu, termasuk Rajab. Ibnu Hajar menegaskan:
وكان دَاوُد يَصُومُ من غَيْرِ تَقْيِيدٍ بِمَا عَدَا رجب من الشُّهُورِ
“Dan Nabi Daud berpuasa tanpa ada batasan pengecualian di bulan Rajab.”
KETIGA kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram.
Dan sudah sangat maklum, Rajab termasuk dari bulan-bulan haram, bahkan tergolong yang paling mulia di antara bulan-bulan haram tersebut.
Seperti dalam hadits riwayat Abi Daud, Ibnu Majah dan lainnya:
عن الْبَاهِلِيِّ أَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم فَقُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ أنا الرَّجُلُ الذي أَتَيْتُك عَامَ الْأَوَّلِ قال فما لي أَرَى جِسْمَك نَاحِلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ ما أَكَلْت طَعَامًا بِالنَّهَارِ ما أَكَلْته إلَّا بِاللَّيْلِ قال من أَمَرَك أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَك قُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي أَقْوَى قال صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ
“Dari al-Bahili, aku mendatangi Nabi, dan berkata: ‘Ya Rasul, aku adalah laki-laki yang mendatangimu di tahun yang lalu.’ Rasul menjawab, ‘Aku lihat badanmu semakin kurus.’ Ia menjawab, ‘Ya Rasul, aku tidak makan di siang hari, aku makan hanya di malam hari.’ Rasul berkata, ‘Siapa yang memerintahmu untuk menyiksa dirimu?’ Aku berkata, ‘Ya Rasul sesungguhnya aku kuat (berpuasa).’ Rasul berkata, ‘Berpuasa di bulan sabar dan tiga hari setelahnya, berpuasalah di bulan-bulan mulia.”
وفي رِوَايَةٍ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا من كل شَهْرٍ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ يَوْمَيْنِ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ من الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ من الحرم وَاتْرُكْ وقال بِأُصْبُعِهِ الثَّلَاثِ يَضُمُّهَا ثُمَّ يُرْسِلُهَا
“Dalam riwayat lain disebutkan, berpuasalah di bulan sabar dan satu hari di setiap bulannya. Al-Bahili menjawab, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah dua hari.’ Al-Bahil berkata, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah tiga hari setelahnya, berpuasalah dari bulan haram, tinggalkanlah dari bulan haram, berpuasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah darinya.’ Nabi berisyarah dengan ketiga jarinya seraya mengumpulkan dan melepaskannya.”
Setelah mengutip hadits di atas, Syekh Ibnu Hajar menegaskan:
فَتَأَمَّلْ أَمْرَهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم بِصَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ في الرِّوَايَةِ الْأُولَى وَبِالصَّوْمِ منها في الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ تَجِدهُ نَصًّا في الْأَمْرِ بصوم رَجَب أو بِالصَّوْمِ منه لِأَنَّهُ من الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ بَلْ هو من أَفْضَلِهَا
“Renungkanlah perintah Nabi dengan berpuasa penuh di bulan haram dalam riwayat pertama, dan berpuasa di sebagian hari bulan haram dalam riwayat kedua, maka engkau akan menemukan dalil nash yang tegas tentang anjuran berpuasa di sepanjang bulan Rajab atau beberapa hari darinya, sebab Rajab termasuk bulan-bulan mulia, bahkan termasuk yang paling utama di antara bulan-bulan mulia tersebut.”
KEEMPAT terdapat beberapa hadits dla’if yang menganjurkan berpuasa di bulan Rajab secara khusus, di antaranya hadits riwayat al-Baihaqi dari sahabat Anas:
إنَّ في الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ له رَجَبٌ أَشَدُّ بَيَاضًا من اللَّبَنِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ من صَامَ من رَجَبٍ يَوْمًا سَقَاهُ اللَّهُ من ذلك النَّهْرِ
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sungai yang disebut Rajab, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa dari bulan Rajab satu hari, maka Allah kelak memberinya minum dari sungai tersebut.”
Hadits ini tergolong hadits mauquf atas Abi Qilabah, seorang tabi’in.
Dalam hadits lain disebutkan:
عن أبي هُرَيْرَةَ أَنَّ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم لم يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إلَّا رَجَبَ وَشَعْبَانَ
“Dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi tidak berpuasa setelah Ramadlan kecuali di bulan Rajab dan Sya’ban.”
Sanad hadits ini adalah lemah (dla’if).
Meski tergolong dla’if, namun hadits di atas dapat dipakai dalam konten yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadlail al-a’mal), dan berpuasa Rajab termasuk dalam konteks ini. Syekh Ibnu Hajar menegaskan:
وقد تَقَرَّرَ أَنَّ الحديث الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضَلَ وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بها في فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ من فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فيه بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذلك إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ
“Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama.
Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa Rajab termasuk dalam keutamaan amal maka cukup memakai hadits-hadits dla’if dan sesamanya.
Dan tidak mengingkari kesimpulan ini kecuali orang bodoh yang tertipu.”
bahkan menurut Syekh Ibnu Abdissalam sebagaimana dikutip Syekh Ibnu Hajar,
pihak yang berfatwa demikian adalah orang bodoh.
Ditegaskan dalam kitab al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:
وَاَلَّذِي يَنْهَى عن صَوْمِهِ جَاهِلٌ مَعْرُوفٌ بِالْجَهْلِ وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُقَلِّدَهُ في دِينِهِ
“Orang yang melarang berpuasa Rajab adalah orang bodoh yang dikenal kebodohannya.Dan tidak halal bagi orang muslim untuk mengikutinya dalam urusan agama.”
PERSOALAN MUNCUL
ketika sebagian orang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan, apakah boleh baginya menggabungkan niat puasa Rajab dengan qadla’ puasa Ramadhan?
Puasa Rajab sebagaimana puasa sunnah lainnya sah dilakukan dengan niat berpuasa secara mutlak tidak disyaratkan ta’yin (menentukan jenis puasanya).
Misalkan dengan niat “Saya niat berpuasa karena Allah”, tidak harus ditambahkan “karena melakukan kesunnahan puasa Rajab”.
Sementara puasa qadla’ Ramadhan tergolong puasa wajib yang wajib ditentukan jenis puasanya, misalkan dengan niat “Saya niat berpuasa qadla’ Ramadhan fardlu karena Allah”
Menggabungkan niat puasa Rajab dengan puasa qadla’ Ramadhan hukumnya diperbolehkan (sah) dan pahala keduanya bisa didapatkan.
Bahkan menurut Syekh al-Barizi, meski hanya niat mengqadla’ puasa Ramadhan secara otomatis pahala berpuasa Rajab bisa didapatkan.
Kesimpulan di atas didasarkan atas keterangan dalam kitab Fathul Mu’in beserta hasyiyahnya, I’anatuth Thalibin sebagai berikut:
وبالتعيين فيه النفل أيضا فيصح ولو مؤقتا بنية مطلقة كما اعتمده غير واحد
(وقوله ولو مؤقتا) غاية في صحة الصوم في النفل بنية مطلقة أي لا فرق في ذلك بين أن يكون مؤقتا كصوم الاثنين والخميس وعرفة وعاشوراء وأيام البيض أو لا كأن يكون ذا سبب كصوم الاستسقاء بغير أمر الإمام أو نفلا مطلقا
(قوله بنية مطلقة ) متعلق بيصح فيكفي في نية صوم يوم عرفة مثلا أن يقول نويت الصوم ( قوله كما اعتمده غير واحد) أي اعتمد صحة صوم النفل المؤقت بنية مطلقة وفي الكردي ما نصه في الأسنى ونحوه الخطيب الشربيني والجمال الرملي الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا نواه معه أو لا وذكر غيره أن مثل ذلك ما لو اتفق في يوم راتبان كعرفة ويوم الخميس انتهى
“Dan dikecualikan dengan pensyaratan ta’yin (menentukan jenis puasa) dalam puasa fardlu, yaitu puasa sunnah, maka sah berpuasa sunnah dengan niat puasa mutlak, meski puasa sunnah yang memiliki jangka waktu sebagaimana pendapat yang dipegang oleh lebih dari satu ulama.
“Ucapan Syekh Zainuddin, meski puasa sunnah yang memiliki jangka waktu, ini adalah ghayah (puncak) keabsahan puasa sunnah dengan niat puasa mutlak, maksudnya tidak ada perbedaan dalam keabsahan tersebut antara puasa sunnah yang berjangka waktu seperti puasa Senin-Kamis, Arafah, Asyura’ dan hari-hari tanggal purnama. Atau selain puasa sunnah yang berjangka waktu, seperti puasa yang memiliki sebab, sebagaimana puasa istisqa’ dengan tanpa perintah imam, atau puasa sunnah mutlak”.
“Ucapan Syekh Zainuddin, dengan niat puasa mutlak, maka cukup dalam niat puasa Arafah dengan niat semisal, saya niat berpuasa.”
“Ucapan Syekh Zainuddin, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh lebih dari satu ulama, maksudnya lebih dari satu ulamaberpegangan dalam keabsahan puasa sunnah dengan niat puasa mutlak. Dalam kitabnya Syekh al-Kurdi disebutkan, dalam kitab al-Asna demikian pula Syekh Khatib al-Sayarbini dan Syekh al-Jamal al-Ramli, berpuasa di hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa secara otomatis tertuju pada hari-hari tersebut, bahkan apabila seseorang berniat puasa beserta niat puasa lainnya, maka pahala keduanya berhasil didapatkan. Dalam kitab al-I’ab ditambahkan, dari kesimpulan tersebut, Syekh al-Barizi berfatwa bahwa apabila seseorang berpuasa qadla’ (Ramadhan) atau lainnya di hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala keduanya bisa didapat, baik disertai niat berpuasa sunnah atau tidak. Ulama lain menyebutkan, demikian pula apabila berketepatan bagi seseorang dalam satu hari dua puasa rutin, seperti puasa hari Arafah dan puasa hari Kamis.
( I’anatuth Thalibin juz 2 halaman 224).
Wallohu a'lam.
KESIMPULANYA:
bagi saudara/i yang tetap tidak mau melaksanakan sebab dasarnya hadis doip,ya silahkan,
Bagi yang mau melaksanakan juga ya monggo.
bab furuiyyah tidak usah di pakai perdebatan yang berujung jidal dan
Semoga jadi menambah dewasa dalam menyikapi urusan puruiyyah

No comments:
Post a Comment