Monday, 27 May 2024

bekal dzikir

*Bekal dzikir*

Maqolah seh Yahya bin Muadz Ar-Razi

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya"

Lapad arofa:

Siapa yang arofa atau Arif atau tau akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb-nya

Lapad nafsahu 

yang dimaksud dan dipanggil Allah sebagai “diri” pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs dalam bahasa kita, adalah “jiwa”.

Nafs kita sudah ada bahkan sebelum alam semesta ada.

Ia juga yang terus akan melanjutkan hidup di alam barzakh dan alam-alam berikutnya setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah.

Itulah sebabnya, akan sangat berbahaya jika kita memahami agama hanya berupa hafalan dalil dan konsep di kepala, namun tidak terpahami secara mengakar hingga ke jiwa. Seiring dengan hancurnya otak kita, maka semua konsep di dalamnya pun akan lenyap, sementara jiwa kita melanjutkan perjalanannya dengan tidak membawa apa-apa.

Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian maupun dari daya-daya syahwati jasadnya. 

Nafs yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah yang disebut “nafs yang tenang”.

Nafs yang tenang ini dalam Al-Qur’an disebut sebagai “Nafs Al-Muthma’innah”. Sebagaimana permukaan air yang telah tenang, pada kondisi nafs yang telah tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya semua pengetahuan yang pernah Allah tanamkan kepadanya pun akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya.

Lantas apa tugas kita:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku telah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. 

(Q.S. Adz-Dzariyat 56)

Hanya sayangnya, kata *ya’bud* di sana biasanya hanya diterjemahkan sebagai  untuk beribadah dalam pengertian untuk melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan semacamnya,Tujuan penciptaan kita seakan-akan hanya untuk melakukan ibadah ritual formal.

Dengan memahami makna kata *ya’bud* hanya seperti ini maka pada akhirnya tujuan hidup manusia dipahami hanya sebatas untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dalam rangka seleksi untuk memasuki surga atau neraka saja.

Padahal kata *ya’bud* di sana berasal dari kata *abid*  kata benda yang bermakna hamba, budak, atau seorang abdi.adapun kata *Ya’bud*  adalah kata kerja,bermakna “menjadikan diri sebagai hamba”

atau tepatnya adalah “mengabdi”

Itulah tujuan penciptaan kita: untuk melaksanakan sebuah pengabdian bukan sekadar untuk beribadah.

Mengabdi dalam tataran pengertian yang paling luar dan paling sederhana bagi umat Rasulullah Muhammad SAW adalah melakukan apa saja yang diperintahkan dalam koridor syariat yang dibawa oleh Beliau.

Kita melakukan shalat, puasa, zakat dan semacamnya kita “beribadah”

Namun dalam tataran yang lebih dalam, yang dimaksud “ya’bud” (mengabdi) di sini bukan semata-mata sekadar ritual ibadah formal.

Mengabdi sebagaimana apa yang dilakukan seorang abid  adalah melaksanakan perintah tuannya.

Dan baktinya yang tertinggi seorang ‘abid pada tuannya adalah menjalankan perannya untuk tuannya, sesuai dengan hal terbaik yang mampu dilakukannya.

Seorang hamba akan mempersembahkan kemampuan dan karyanya yang terbaik untuk tuannya atau tepatnya melakukan hal terbaik yang bisa dilakukannya atas nama tuannya

Inilah inti dari menjadi seorang hamba: melaksanakan sebuah pengabdian untuk tuannya 

langkah awal untuk mengenal jiwa adalah dengan membebaskannya dulu dari:

-  waham / angan2 dari timbunan dosa

-  kungkungan sifat-sifat jasadi maupun dominasi syahwat dan hawa nafsu atas jiwa kita.

- Kungkungan sipat ketuhanan (seolah2 diri kita yang berkuasa akan segalanya yang terjadi) dengan arti lain kita harus mengakui sifat kehamba'an, bahwa kita sejatinya Abid atau hamba yang tidak punya kuasa akan diri kita

Dalam bahasa agama, langkah ini disebut sebagai memulai perjalanan taubat perjalanan kembali kepada Allah Ta’ala.
Taubat berasal dari kata “taaba” yang artinya kembali.

Maka penjelasan diatas bekal kita untuk berdzikir kepada Allah SWT supaya benar2 dzikir sesuai ketentuan sbb dikala bekal di atas dihiraukan (sesuai penjelasan tempo hari dzikir jadi pengundang setan) maka jangan kaget dikala Dzikir terus dilaksanakan tapi malah tambah keras hati & tidak tenangya hati,itu bukan salah dalam hal dzikirnya tapi bekal diatas diabaikan atau tidak tau sama sekali.




No comments: