Friday, 31 May 2024

menyikapi kehidupan

*Menyikapi masalah dalam kehidupan*

Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di alam ini kecuali dengan kehendak Allah.
Seorang hamba tidak akan mengalami atau ditimpa kesehatan,sakit,kefakiran, kekayaan dan lainnya kecuali dengan kehendak Allah ta’ala.
Demikian pula apapun yang Allah takdirkan dan Allah kehendaki pada diri hamba, maka hal itu tidak akan pernah meleset darinya.

 مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ
  
“Apapun yang Allah kehendaki ada atau terjadi, pasti akan ada dan terjadi, dan apapun yang tidak Allah kehendaki ada atau terjadi, pasti tidak akan ada dan tidak akan terjadi” 
(HR Abu Dawud)

Imam an-Nawawi dalam karyanya Raudhah ath-Thalibin, bab ar-Riddah, menegaskan bahwa orang yang mengatakan dirinya berbuat sesuatu tanpa takdir Allah maka ia telah kafir kepada Allah.

إنَّ أحَدَكُمْ لَنْ يَخْلُصَ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ حَتَّى يَسْتَيْقِنَ يَقِينًا غَيْرَ شَكٍّ أنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخطِئَهُ وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ، ويُقِرَّ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ
 

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian, iman tidak akan masuk ke hatinya (dan bersih dari syirik), hingga ia meyakini dengan keyakinan tanpa keraguan sedikit pun bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang tidak (ditakdirkan) menimpanya tidak akan pernah bisa menimpanya, dan menetapkan takdir keseluruhannya.” 
(HR al-Baihaqi)

Dalam penjelasan di atas kita sebagai hamba Harus iklas menerima ketentuan Allah SWT sbb pondasi awal kita bisa iklas dalam beribadah yaitu harus bisa menerima setiap ketentuan ma'bud / dzat yang kita sembah meskipun ketentuan ma'bud tidak sesuai dengan keinginan kita.

Bagaimana kita menyikapi dikala kita di dzolim oleh orang lain menurut Islam
- terima dengan hati yang legowo bahwa kajadian yang terjadi itu tidak terlepas dari skenario Allah swt
- Doa yang terbaik bagi yang mendzalimi kita itu sesuai akhlak rosulullah SWT dikala di sakiti oleh orang Taif maka beliau mendoakan kebaikan bagi orang Taif
- jangan mendoakan kejelekan atau melaknat bagi orang yang mendzalimi kita (meskipun orang2 kafir apalagi ke orang islam)

Sesuai maqolah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad:
 
واحذر - أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر "لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة".

Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak zalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang menzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT

واحذرأن تلعن مسلما أو بهيمة أوجمادا أو شخصا بعينه وان كان كافرا إلا إن تحققت أنه مات على الكفر كفرعون وابي جهل أو علمت أن رحمة الله لا تناله بحال كإبليس. 

Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.

Maqolah Sayyid Abdullah sebagai dalil larangan *MUBAHALAH*
 

Thursday, 30 May 2024

memelihara burung berkicau

*pertanyaan*

Apa boleh memelihara burung berkicau

*Jawaban*

Kita kupas satu satu dengan memakai:

-referensi ke 1 (QS. An-Nahl: 5 – 8)

وَالأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ. وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ. وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُواْ بَالِغِيهِ إِلاَّ بِشِقِّ الأَنفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.  dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  dan (dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.. 

-referensi ke 2

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair.

(HR. Mutafqun alaih).

Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pelajaran yang disimpulkan dari hadis ini. diantara yang beliau sebutkan,

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).

As-Syarwani ulama madzhab Syafiiyah mengatakan,

وسئل القفال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكُها بما تحتاج إليه لأنها كالبهيمة تُربط

”al-Qaffal ditanya tentang hukum memelihara burung dalam sangkar, untuk didengarkan suaranya atau semacamnya. Beliau menjawab, itu dibolehkan selama pemiliknya memperhatikan kebutuhan burung itu, karena hukumnya sama dengan binatang ternak yang diikat.” (Hasyiyah as-Syarwani, 9/210).

Maka kesimpulannya memelihara burung berkicau itu *mubah/boleh* selama kentuan tidak dilanggar

perbedaan makruh tanzih & makruh tahrim

Hukum Makruh:
 

(وَ الْمَكْرُوْهُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْكَرَاهَةِ (مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ) امْتِثَالًا (وَ لَا يُعَاقِبُ عَلَى فِعْلِهِ).

Makruh dilihat dari sisi sebagai perkara yang makruh yaitu perkara yang apabila ditinggalkan disertai niat untuk menjalankan perintah Allah akan mendapat pahala dan apabila dilakukan tidak akan mendapat siksa.

Penjelasan:

Pengertian makruh:

(مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالًا وَ لَا يُعَاقِبُ عَلَى فِعْلِهِ).

“Setiap perkara yang meninggalkannya dengan diniati karena Allah akan mendapat pahala, dan melakukannya tidak akan mendapat siksa.”

*Pertanyaan (1)*

Apakah ada perbedaan antara makruh taḥrim dan makruh tanzih?

*Jawaban* 

Ada, yakni melakukan makrūh tanzih tidak mendapat siksaan, dan melakukan makruh taḥrīm mendapat siksaan.

*Sumber*

وَ الْفَرْقُ بِيْنَهَا وَ بَيْنَ كَرَاهَةِ التَّنْزِيْهِ أَنَّ كَرَاهَةَ التَّنْزِيْهِ مَا لَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ بِخِلَافِ كَرَاهَةِ التَّحْرِيْمِ فَإِنَّهُ يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ (النَّفَحَاتُ صــــ٢٥ ).

“Perbedaan antara makrūh taḥrīm dan makruh tanzih adalah bahwa melakukan makruh tanzih, tidak mendapat siksa, berbeda dengan makruh taḥrim, maka melakukannya akan mendapat siksa.”

Contoh makruh tanzih :
Makan minum sambil berdiri,memakan makanan yang masih panas

Contoh makruh tahrim :
Solat sunat mutlak setelah solat asar & subuh,
Sholat sunnah yang dikerjakan tanpa adanya sebab tertentu..

*Pertanyaan (2)*

Apakah ada perbedaan antara makrūh dengan khilaf-ul-aula?

*Jawaban*

Menurut ulama ushul dan mutaqaddim dari golongan fuqaha’, keduanya sama. Menurut ulama muta’akhkhirīn dari golongan fuqaha’, keduanya beda.

*sumber*

(وَ الْمَكْرُوْهُ) الخ الشَّامِلُ لِخِلَافِ الْأَوْلَى وَ هُوَ مَا كَانَ بِنَهْيٍ غَيْرِ مَخْصُوْصٍ كَالنَّهْيِ عَنْ تَرْكِ الْمَنْدُوْبَاتِ الْمُسْتَفَادِ مِنْ أَوَامِرِهَا لِأَنَّ الْأَمْرَ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ وَ هُوَ أَصْلُ اصْطِلَاحِ الْأُصُوْلِيِّ وَ إِنْ خَالَفَ فِيْهِ بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْفُقَهَاءِ وَ مِنْهُمْ الْمُصنِّفُ فَخَصُّوْا الْأَوَّلَ بِالْمَكْرُوْهِ وَ الثَانِيْ بِخِلَافِ الْأَوْلَى. (النَّفَحَاتُ صــــ ٢١).

“(Ucapan pengarang: makrūh), mencakup khilāf-ul-aulā, yakni yang tidak menggunakan shighat larangan khusus (jelas), seperti larangan meninggalkan sunnah-sunnah yang diambil dari perintah-perintah sunnah. Karena perintah atas sesuatu adalah larangan untuk melakukan kebalikannya. Ini adalah asal istilah dari ahli ushul, meskipun tidak disepakati sebagian fuqahā’ muta’akhkhirīn, termasuk pengarang. Mereka menentukan yang pertama (disertai shighat larangan khusus) dengan nama makrūh, dan yang kedua (tanpa shighat larangan khusus) dengan nama khilāf-ul-aulā.”

وَ تَقْسِيْمُ خِلَافِ الْأَوْلَى زَادَهُ الْمُصَنَّفُ عَلَى الْأُصُوْلِيِّيْنَ أَخْذًا مِنْ مُتَأَخِّرِي الْفُقَهَاءِ حَيْثُ قَابَلُوا الْمَكْرُوْهَ بِخِلَافِ الْأَوْلَى فِيْ مَسَائِلَ عَدِيْدَةٍ وَ فَرَّقُوْا بَيْنَهُمَا وَ مِنْهُمْ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ بِالنَّهْيِ الْمَقْصُوْدِ وَ هُوَ الْمُسْتَفَادُ مِنَ الْأَمْرِ وَ عَدَلَ الْمُصَنِّفُ إِلَى الْمَخْصُوْصِ وَ غَيْرِ الْمَخْصُوْصِ أَيْ الْعَامِّ نَظَرًا إِلَى جَمِيْعِ الْأَوَامِرِ النَّدْبِيَّةِ وَ أَمَّا الْمُتَقَدِّمُوْنَ فَيُطْلِقُوْنَ الْمَكْرُوْهَ عَلَى ذِي النَّهْيِ الْمَخْصُوْصِ وَ غَيْرِ الْمَخْصُوْصِ وَ قَدْ يَقُوْلُوْنَ فِي الْأَوَّلِ مَكْرُوْهٌ كَرَاهَةً شَدِيْدَةً كَمَا يُقَالُ فِيْ قِسْمِ الْمَنْدُوْبِ سُنَّةٌ مَؤَكَّدَةٌ. (جَمْعُ الْجَوَامِعِ صـــــ١٠ ).

“Pembagian khilāf-ul-aulā adalah tambahan pengarang dari istilah ulama ushul, mengutip dari fuqahā’ muta’akhkhirīn, di mana mereka membandingkan makrūh dan khilāf-ul-aulā di beberapa masalah. Mereka, termasuk Imām Ḥaramain dalam an-Nihāyah membedakan keduanya dengan shighat larangan jelas dan yang tidak jelas, yakni yang diambil dari amr (perintah). Pengarang beralih dengan membahasakan shighat larangan khusus dan yang tidak khusus, yakni yang umum, memandang pada semua perintah-perintah sunnah. Sedangkan fuqahā’ mutaqaddimīn memutlakkan makrūh atas semua yang memiliki shighat larangan khusus dan yang tidak. Kadang mereka sebut yang pertama dengan makrūh berat (syadīdah), sebagaimana dalam sunnah ada sebutan sunnah mu’akkadah.”

menghutangkan barang hutang

*Pertanyaan*

Kalau Hutang di hutangkan lagi gimana hukumnya( baik bentuk uang maupun barang)

*Jawaban*

Menghutangkan barang hutangan itu diperbolehkan ketika barang hutangan tersebut telah diterima oleh pihak yg hutang,karena ia telah berhak sepenuhnya atas kepemilikan barang tersebut sehingga bebas untuk ditasyarufkan yg salah satunya dengan dihutangkan kembali ke orang lain *selama tidak ada unsur riba* (mensyaratkan kelebihan saat mengembalikan walaupun dengan suka rela)

نهاية الزين ٢٤١
ـ ( وملك مقترض ) شيئا مقرضا ( بقبض ) بإذن مقرض وإن لم يتصرف فيه بما يزيل الملك فينفقه

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ٦/‏١٠٤ — مجموعة من المؤلفين
 
إذا صح القرض ترتب عليه حكمه، وهو: انتقال ملكية المال المقترَض من المقرض إلى المستقرض على وجه يلتزم معه بردّ بدله حال طلب المقرض له. وهل تنتقل هذه الملكية بقبض العين المستقرضة أو بالتصرف فيها؟
والقول الأصح: أن المستقرض يملك العين المستقرضة بالقبض، لأنه يجوز له التصرّف فيه بعد القبض باتفاق، فدل على ثبوت ملكيته له قبله، إذ لو لم يملكه بالقبض لما جاز له التصرّف فيه.

إعانة الطالبين ٣/٢٠
وهو أنواع : ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض وربا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض وربا نساء بأن يشترط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع عليها. 

نهاية الزين ص: 226 
( و ) الربا حرام اتفاقا وهو إما ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض غير الرهن والكفالة والشهادة وإنما جعل ربا القرض من ربا الفضل مع أنه ليس من هذا الباب لأنه لما شرط نفعا للمقرض كان بمنزلة أنه باع ما أقرضه بما يزيد عليه من جنسه فهو منه حكما ومن شرط النفع ما لو أقرضه بمصر وأذن له في دفعه لوكيله بمكة مثلا
وإما ربا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض وإما ربا نساء بأن يشرط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع على بطلانها

Wednesday, 29 May 2024

tai kuku

*Pertanyaan*

Apakah kotoran dalam kuku yang panjang dikala waktu wudu sah wudunya kalau kotoran tsb tidak dibersihkan ?

*jawaban*

- Jika kotoran tersebut tidak mengahalangi sampainya air ke kulit maka tidak wajib dibersihkan (sah wudhunya)

- Menurut qoul Ashoh, kotoran yang berada dibawah kuku apabila bisa menghalangi sampainya air ketika wudlu maka tidak sah wudlunya (maka wajib dibersihkan)

- menurut Imam Ghozali, Juwaini dan Qoffal kotoran ini dima’fu (dimaafkan) jadi ttp sah wudunya

- Ada sebagian ulama yang mentafsil : jika termasuk kotoran yang biasa ada pada umumnya manusia maka di ma’fu ,karena dianggap berat oleh masyarakat. 
Apabila tidak demikian seperti kotoran dari semisal tepung bahan roti maka tidak dima’fu (wajib dibersihkan), karena tidak dianggap berat oleh masyarakat dalam menghilangkannya

*sumber*

بغية المسترشدين ص22
اما الوسخ الذى يجتمع تحت الاظفار فان لم يمنع وصول الماء صح معه الوضوء وان منع فلا فى الاصح ولنا وجه وجيه بالعفو اختاره الغزالى والجوينى والقفال بل هو اظهر من حيث القواعد من القول بعدمه عندى اذ المشقة تجلب التيسير فيجوز تقليده بشرطه ولو بعد الصلاة اه وفى ب نحوه فى وسخ الاظفار وزاد وفصل بعضهم بين ان يكون من وسخ البدن الذى لايخلو عنه غالب الناس فيصح معه الوضوء للمشقة وان يطرأمن نحو عجين فلا وهذا الذى اميل اليه

*sumber*

فتح المجيب القريب ١٣
و) الثالث (غسل اليدين إلى المرفقين) ويجب إزالة ما على اليدين من الحائل كالوسخ المتراكم من خارج إلا إذا تعذر فصله ويعفى عن قليل وسخ تحت الأظافير

kremian tidak membatalkan puasa

*Pertanyaan*

Apakah keremian dapat membatalkan puasa?

*Jawaban*

Jika di pagi hari seorang yang berpuasa ada sesuatu yg keluar dari dubur seperti ulat atau lainnya (juga termasuk kremian) kemudian dikeluarkan maka tidak membatalkan puasa

*sumber*
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ١/‏٥٤٩ — سعيد باعشن (ت ١٢٧٠)

ولو أصبح صائم وفي أذنه أو دبره نحو عود .. لم يفطر بإخراجه، لاختصاص الاستقاءة بالخارج من الفم

hukum nikah beda agama

*pertanyaan*

Apakah boleh menikah dengan beda agama

*jawaban*

Hukum menikahi dengan yang beda agama adalah tidak halal berdasarkan satu riwayat hadis:

وَجَاءَتِ المُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ، وَكَانَتْ أُمُّ كُلْثُومٍ بِنْتُ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ مِمَّنْ خَرَجَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ، وَهِيَ عَاتِقٌ، فَجَاءَ أَهْلُهَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرْجِعَهَا إِلَيْهِمْ، فَلَمْ يُرْجِعْهَا إِلَيْهِمْ  ...  رواه البخاري

Dan telah datang wanita-wanita beriman untuk berhijrah ke Madinah.
Ummu Kultsum Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu’aith termasuk orang yang keluar dari Makkah menuju Nabi saw di Madinah pada waktu itu  pasca Perjanjian Hudaibiyah.
Ia masih sangat muda yang lari dari suaminya Amru bin Al-‘As yang masih kufur.Lalu keluarganya menyusulnya dan meminta Nabi saw untuk mengembalikannya kepada mereka. Namun Nabi saw kemudian tidak mengembalikannya kepada mereka  
(HR Al-Bukhari)

Nabi menolak permintaan untuk mengembalikan Ummu Kultsum ke Makkah karena ia tidak halal lagi menjadi istri bagi mantan suaminya yang masih kufur.
berdasarkan ketegasan firman Allah dalam Al-Qur’an surat  al-baqarah ayat 221

وَلَا تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ 


“Janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sungguh budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.”


poligami

*Pertanyaan*

Apakah hukum poligami,sbb menurut beberapa kalangan poligami sama dengan menyuruh istrinya masuk surga dengan catatan mau dipoligami?


*Jawaban*

Perihal praktik poligami, para ulama berbeda pendapat, setidaknya terbelah menjadi dua;

1. Kalangan Syafiiyah dan Hanbaliyah yang tampak menutup pintu poligami karena rawan dengan ketidakadilan terkait jadwal kehadiran, nafkah finansial, atau kasih sayang terhadap anak-anak sehingga keduanya tidak menganjurkan praktik poligami

2. Dan  kalangan Hanafiyah menyatakan kemubahan praktik poligami dengan catatan calon pelakunya memastikan keadilan di antara sekian istrinya.

*Sumber*

الموسوعة الفقهية الكويتية ٤١/‏٢٢٠ — مجموعة من المؤلفين
أ - أنْ لاَ يَزِيدَ عَلى امْرَأةٍ واحِدَةٍ:
١٨ - ذَهَبَ الشّافِعِيَّةُ والحَنابِلَةُ إلى أنَّهُ يُسْتَحَبُّ أنْ لاَ يَزِيدَ الرَّجُل فِي النِّكاحِ عَلى امْرَأةٍ واحِدَةٍ مِن غَيْرِ حاجَةٍ ظاهِرَةٍ، إنْ حَصَل بِها الإْعْفافُ لِما فِي الزِّيادَةِ عَلى الواحِدَةِ مِنَ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ، قال اللَّهُ تَعالى: ﴿ولَنْ تَسْتَطِيعُوا أنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّساءِ ولَوْ حَرَصْتُمْ (١)﴾، وقال رَسُول اللَّهِ ﷺ: «مَن كانَ لَهُ امْرَأتانِ يَمِيل إلى إحْداهُما عَلى الأْخْرى جاءَ يَوْمَ القِيامَةِ أحَدُ شِقَّيْهِ مائِلٌ» (٢).
وقال الأْذْرَعِيُّ: لَوْ أعَفَّتْهُ واحِدَةٌ لَكِنَّها عَقِيمٌ اسْتُحِبَّ لَهُ نِكاحُ ولُودٍ.
ويَرى الحَنَفِيَّةُ إباحَةَ تَعَدُّدِ الزَّوْجاتِ إلى أرْبَعٍ إذا أمِنَ عَدَمَ الجَوْرِ بَيْنَهُنَّ فَإنْ لَمْ يَأْمَنِ اقْتَصَرَ عَلى ما يُمْكِنُهُ العَدْل بَيْنَهُنَّ، فَإنْ لَمْ يَأْمَنِ اقْتَصَرَ عَلى واحِدَةٍ (١) لِقَوْلِهِ تَعالى ﴿فَإنْ خِفْتُمْ ألاَّ تَعْدِلُوا فَواحِدَةً (٢)﴾

- Menurut Madzhab Syafi’i dengan jelas tidak menganjurkan praktik poligami. Bahkan Madzhab Syafi’i mempertegas sikapnya bahwa praktik poligami tidak diwajibkan

*sumber*

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ٤/‏٢٠٣ — الخطيب الشربيني (ت ٩٧٧)
وإنَّما لَمْ يَجِبْ لِقَوْلِهِ تَعالى: ﴿فانْكِحُوا ما طابَ لَكُمْ مِنَ النِّساءِ﴾ [النساء: ٣]؛ إذْ الواجِبُ لا يَتَعَلَّقُ بِالِاسْتِطابَةِ، ولِقَوْلِهِ - تَعالى -: ﴿مَثْنى وثُلاثَ ورُباعَ﴾ [النساء: ٣] ولا 
يَجِبُ العَدَدُ بِالإجْماعِ،


Meskipun ada perbedaan pendapat tetap ada titik sama yaitu *mubah* atau membolehkan praktek poligami

Adapun pendapat2 ulama yang lainya

- Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhayli memandang bahwa praktik poligami bukan bangunan ideal rumah tangga Muslim. Menurutnya, bangunan ideal rumah tangga Muslim adalah monogamy (beristri 1)

- Praktik poligami adalah sebuah pengecualian dalam praktik rumah tangga. Praktik ini bisa dilakukan dengan sebab-sebab umum dan sebab khusus. 
Walhasil, hanya kondisi darurat yang membolehkan seseorang menempuh praktik poligami.

*Sumber*

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ٩/‏٦٦٧٠ — وهبة الزحيلي (معاصر)
حكمة تعدد الزوجات:
إن نظام وحدة الزوجة هو الأفضل وهو الغالب وهو الأصل شرعًا، وأما تعدد الزوجات فهو أمر نادر استثنائي وخلاف الأصل، لا يلجأ إليه إلا عند الحاجة الملحة، ولم توجبه الشريعة على أحد، بل ولم ترغب فيه، وإنما أباحته الشريعة لأسباب عامة وخاصة.

anak dari hasil jina

*Pertanyaan*

Apakah anak diluar nikah si ayah biologisnya wajib menafkahinya?

*Jawaban*

Anak diluar nikah maka nasabnya terputus dari ayah biologisnya sesuai pendapat seh imam Ibnu qudamah:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak zina tidak dinasabkan kepada ayah biologisnya tetapi dinasabkan kepada ibunya.   

وَوَلَدُ الزِّنَا لَا يُلْحَقُ الزَانِــي فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ 

“Menurut mayoritas ulama anak zina tidak dinasabkan kepada lelaki pezina” 

*Sumber*
( al-Mughni juz 7 hal 130)

anak diluar nikah terputus nasab dengan ayah biologisnya Maka status anak jinah ada perbedaan ulama maka ibnu qudamah menceritakan:

وَيَحْرُمُ عَلَى الرَّجُلِ نِكَاحُ ابْنَتِهِ مِنَ الزِّنَا وَاُخْتِهِ وَبِنْتِ ابْنِهِ وَبِنْتِ بِنْتِهِ وَبِنْتِ أَخِيهِ وَاُخْتِهِ مِنَ الزِّنَا فِي قَوْلِ عَامَّةِ الْفُقَهَاءِ وَقَالَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ فِي الْمَشْهُورِ مِنْ مَذْهَبِهِ يَجُوزُ لَهُ لِاَنَّهَا اَجْنَبِيَّةٌ مِنْهُ وَلَا تُنْسَبُ إِلَيْهِ شَرْعًا وَلَا يَجْرِى التَّوَارُثُ بَيْنَهُمَا وَلَا تَعْتِقُ عَلَيْهِ إِذَا مَلَكَهَا وَلَا 
يَلْزَمُهُ نَفَقَتُهَا فَلَمْ تَحْرُمْ عَلَيْهِ كَسَائِرِ الْاَجَانِبِ   


-Menurut mayoritas fuqaha haram bagi lelaki menikahi anak perempuannyanya yang dihasilkan dari perzinahan, saudara perempuannya, anak perempuan dari anak laki-lakinya, anak perempuan dari anak perempuannya, anak perempuan saudara laki-lakinya, dan saudara perempuanya. 

-Sedang menurut Imam Malik dan Imam Syafii dalam pendapat yang masyhur di kalangan madzhabnya, boleh bagi laki-laki tersebut menikahi anak perempuanya karena ia adalah ajnabiyyah (tidak memiliki hubungan darah), tidak dinasabkan kepadanya secara syar’i, tidak berlaku di antara keduanya hukum kewarisan, dan ia tidak bebas dari laki-laki yang menjadi ayah biologisnya ketika sang yang memilikinya sebagai budak, dan *tidak ada keharus bagi sang ayah untuk memberi nafkah kepadanya Karenanya ia tidak haram bagi ayah biologisnya (untuk menikahinya) sebagaimana perempuan-perempuan lain*

*Sumber*
(al-Mughni juz 7 hal 485).

Adapun pendapat Ibnu  Hajar al-Asqalani menukil dari kejadian zuraiz dijaman Bani Israil yang dikisahkan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya maka Ibnu hajar berpendapat:

 وَاسْتَدَلَّ بَعْضُ الْمَالِكِيَّة بِقَوْلِ جُرَيْجٍ مَنْ أَبُوك يَا غُلَامُ بِأَنَّ مَنْ زَنَى بِامْرَأَةِ فَوَلَدَتْ بِنْتًا لَا يَحِلّ لَهُ التَّزَوُّج بِتِلْكَ الْبِنْت خِلَافًا لِلشَّافِعِيَّةِ وَلِابْنِ الْمَاجِشُونِ مِنْ الْمَالِكِيَّة . وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ جُرَيْجًا نَسَبَ اِبْنَ الزِّنَا لِلزَّانِي وَصَدَّقَ اللَّه نِسْبَتَهُ بِمَا خَرَقَ لَهُ مِنْ الْعَادَة فِي نُطْق الْمَوْلُود بِشَهَادَتِهِ لَهُ بِذَلِكَ ، وَقَوْلُهُ أَبِي فُلَانٌ الرَّاعِي ، فَكَانَتْ تِلْكَ النِّسْبَة صَحِيحَةً فَيَلْزَمُ أَنْ يَجْرِي بَيْنهمَا أَحْكَامُ الْأُبُوَّةِ وَالْبُنُوَّةِ ، خَرَجَ التَّوَارُث وَالْوَلَاء بِدَلِيلٍ فَبَقِيَ مَا عَدَا ذَلِكَ عَلَى حُكْمِهِ 


“Sebagian ulama dari kalangan madzhab malik berdalili dengan perkataan Juraij, ‘siapa sebenarnya ayahmu wahai anak bayi laki-laki?’ bahwa laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian si perempuan tersebut melahirkan seorang anak perempuan maka tidak halal bagi si laki-laki tersebut untuk menikahinya, berbeda dengan pandangan madzhab syafi’i dan Ibn al-Majisyun ulama dari kalangan madzhab maliki. Dan wajhud dilalah-nya adalah bahwa Juraij menasabakan anak zina kepada si pezina dan Allah swt membenarkan penasaban tersebut dengan sesuatu yang keluar dari kebiasaannya dan tampak dalam perkataan si anak yang memberikan kesaksiannya kepada Juraij atas hal tersebut. Dan pernyataan, ‘ayahku adalah fulan si pengembali’ maka menunjukkan bahwa penasaban tersebut adalah sahih. Karenanya, berlaku di antara keduanya (si anak dan si pengembala) hukum bapak-anak kecuali dalam hal pewarisan dan wala` karena ada dalil lain. 
Maka selain keduanya (pewarisan dan wala`) status hukukmnya masih tetap”. 

*sumber*
(Fathul-Bari Syarh Shahih al-Bukhari  juz 6 hal 483)  

*Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam kasus ini ulama ada perbedaan pendapat
- tidak wajib menafkahi sesuai argumentasi yang sudah ditulis di atas
- ketentuan menafkahi ini itu ttap diwajibkan kecuali waris dan Wala/wali kalau anak tsb perempuan maka anak tsb tidak berhak mendapatkanya*


Ahir kata perlakukanlah seorang anak dengan baik meskipun ia lahir akibat perzinahan karena ia tidak berhak menanggung kesalahan kedua orang tuanya didiklah anak tsb sehingga jadi anak Soleh sehingga dari jihat mendidiknya maka ayah dan ibu biologisnya mendapatkan pertolongan atau syafaat dari anak itu kelak dari satu sebab mendidiknya kejalan yang diridoi oleh Allah SWT.

Solat bagi wanita yang akan melahirkan

*Pertanyaan*

Apakah bagi wanita yang akan melahirkan & sudah keluar darah wanita tsb wajib solat?

*Jawaban*

وَالنِّفَاسُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ بَعْدَ فَرَاغِ الرَّحِمِ مِنْ الْحَمْلِ ، فَخَرَجَ بِمَا ذُكِرَ دَمُ الطَّلْقِ ، وَالْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ فَلَيْسَا بِحَيْضٍ ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ آثَارِ الْوِلَادَةِ ، وَلَا نِفَاسَ لِتَقَدُّمِهِ عَلَى خُرُوجِ الْوَلَدِ بَلْ ذَلِكَ دَمُ فَسَادٍ إلا أَنْ يَتَّصِلَ بِحَيْضِهَا المُتَقَدِّمِ فإنه يِكُونُ حيضًا انتهت- الى ان قال- الطَّلْقُ هو الوَجَعُ النَّاشئُ مِن الوِلادَةِ أو الصَّوْتُ المُصَاحِبُ لها ا ه شيخنا ح ف

  “Nifas adalah darah yang keluar
 setelah kosongnya rahim dari kehamilan. Definisi ini tidak memasukkan darah thalq dan darah yang keluar bersamaan dengan bayi (sebagai nifas). Kedua jenis darah ini tidak bisa dikatakan sebagian haid karena merupakan akibat dari proses persalinan. Juga tidak masuk kategori nifas karena keluar sebelum bayi, tetapi masuk kategori darah fasad (rusak), kecuali bila bersambung dengan darah haid sebelumnya (darah yang memenuhi syarat haid) baru bisa dikatakan sebagai haid. Pengertian thalq adalah nyeri yang timbul akibat proses persalinan dan suara yang 
keluar bersamaan melahirkan"

*Sumber*
(Hasyiyatul Jamal ‘alal Minhaj, juz I halaman 686).

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa pada umumnya ibu menjelang melahirkan tetap berkewajiban menjalankan shalat dan puasa, (kecuali diwaktu itu bersamaan dengan waktunya haid menurut kebiasaanya)
meskipun mengeluarkan flek darah dari jalan lahir.

Maka Ibu yang mengalami kontraksi :
1.dengan rasa nyeri yang ringan wajib wudhu dan shalat dengan normal. 
2.dengan nyeri perut yang berat  atau juga pusing sehingga sangat kepayahan tanpa mengeluarkan cairan dari jalan lahir 
wajib wudhu bila ada yang menolong dan shalat semampunya tanpa kewajiban qadha’.

Setelah lahir seorang bayi baru star tidak wajib solat sbb sudah masuk masa nifas jadi darahnya disebut darah nifas


bukan qurban nadzar

*Pertanyaan*

Kalau seseorang beli kambing untuk kurban apakah itu termasuk kurban nadzar?

*Jawaban*

Maka persoalan itu tidak termasuk nadzar kalau :

a) Jika si pemilik *tidak mengungkapkan niat nadzarnya* secara jelas sebagaimana menurut imam adzro'i, 

b) dan Jika hanya *bertujuan memberi kabar* saat menanggapi pertanyaan dari orang lain "untuk apa kambing itu" kemudian dijawab "sebagai hewan kurban" sebagaimana menurut sayyid umar al bashri

c) Bahkan menurut Imam Syibromalisi *menanggapi sebuah pertanyaan dari orang lain* dengan jawaban "untuk kurban" itu masih ditolelir bagi orang awam sehingga tidak menjadi nadzar

*sumber*

بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم صـــ ٦٩٤
و (لا تجب) الأضحية (إلا بالنذر) كسائر القرب، كـ (لله عليَّ) أو (عليَّ أن أضحي بهذه أو بشاة) أو (إن ملكت شاة فعليَّ أن أضحي بها)، بخلاف: (إن ملكت هذه فعلي أن أضحي بها)؛ لأن المعين لا يثبت في الذمة. (وبقوله: "هذه أضحية"، أو "جعلتها أضحية") لزوال ملكه عنها بمجرد التعيين كما لو نذر التصدق بمال عينه، ولزمه ذبحها في وقتها أداء. وإنما لم يزل ملكه عن قِنًّ نَذَرَ أن يعتقه إلا بإعتاقه وإن لزمه؛ لأن الملك هنا ينتقل للمساكين وثَمَّ لا ينتقل بل ينفك عنه اختصاص الآدميين. وإنما لم يجب الفور في أصل النذور والكفارات؛ لأنها مرسلة في الذمة وما هنا في عين وهي لا تقبل التأخير كما لا تقبل التأجيل. وألحق به ما في الذمة كعليَّ أن أضحي بشاة؛ لأن الغالب هنا التعيين. وخرج بقوله: (هذه أضحية) نية ذلك بلا لفظ فلغو، ولا يحتاج مع قوله: هذه أضحية لنية، بل لا عبرة بنية خلافه؛ لأنه صريح. فما يقع في العامة من قولهم: (هذه أضحية) جاهلين ما يترتب على ذلك، بل وإن قصدوا الإخبار تصير به منذورة كما في (حج) و (م ر). لكن قال السيد عمر البصري: محله ما لم يقصد الإخبار وإلا  لم تتعين

*sumber*

بغية المسترشدين صـــ ٢٥٧-٢٥٨
(مسئلة ب) ظاهر كلامهم أن من قال هذه اضحية او هي اضحية او هدي تعينت وزال ملكه عنها ولا يتصرف الا بذبحها فى الوقت وتفرقتها ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لانه صريح قال الاذرعى كلامهم ظاهر فى أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه واستحسنه فى القلائد قال ومنه يؤخذ أنه إن أراد انى أريد التضحية بها تطوعا كما هو عرف الناس المطرد فيما يأخذونه لذلك حمل على ما اراد وقد افتى البلقينى والمراغى بأنها لا تصير منذورة بقوله هذه اضحيتى باضافتها اليه ومثله هذه عقيقة فلان واستشكل ذلك فى التحفة ثم رده والقلب الى ما قاله الاذرعى أميل اهــ
تحفة المحتاج وحواشي الشرواني والعبادي الجزء التاسع صـــ ٣٥٥
وَحِينَئِذٍ فَمَا يَقَعُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنْ الْعَامَّةِ أَنَّهُمْ يَشْتَرُونَ أُضْحِيَّتَهُمْ مِنْ أَوَائِلِ السَّنَةِ وَكُلُّ مَنْ سَأَلَهُمْ عَنْهَا يَقُولُونَ هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ جَاهِلِينَ بِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ بَلْ وَقَاصِدِينَ الْإِخْبَارَ عَمَّا أَضْمَرُوهُ وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ أَنَّهُمْ مَعَ ذَلِكَ تَتَرَتَّبُ عَلَيْهِمْ تِلْكَ الْأَحْكَامُ مُشْكِلٌ وَفِي التَّوَسُّطِ فِي هَذَا هَدْيٌ ظَاهِرُ كَلَامِ الشَّيْخَيْنِ أَنَّهُ صَرِيحٌ فِي إنْشَاءِ جَعْلِهِ هَدْيًا وَهُوَ بِالْإِقْرَارِ أَشْبَهُ إلَّا أَنْ يُنْوَى بِهِ الْإِنْشَاءُ اهـ. وَيُرَدُّ بِأَنَّهُ نَظِيرُ هَذَا حُرٌّ أَوْ مَبِيعٌ مِنْك بِأَلْفٍ فَكَمَا أَنَّ كُلًّا مِنْ هَذَيْنِ صَرِيحٌ فِي بَابِهِ فَكَذَلِكَ ذَاكَ ثُمَّ رَأَيْت بَعْضَهُمْ قَالَ وَفِي ذَلِكَ حَرَجٌ شَدِيدٌ وَكَلَامُ الْأَذْرَعِيِّ يُفْهِمُ قَبُولَ إرَادَتِهِ أَنَّهُ سَيَتَطَوَّعُ بِالْأُضْحِيَّةِ بِهَا وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُهُمْ يُسَنُّ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلَانٍ مَعَ تَصْرِيحِهِمْ بِحِلِّ الْأَكْلِ مِنْهَا اهـ. وَيُرَدُّ مَا قَالَهُ أَوَّلًا بِمَا مَرَّ فِي رَدِّ كَلَامِ الْأَذْرَعِيِّ وَثَانِيًا بِأَنَّ مَا ذَكَرَهُ لَمْ يَرِدْ وَإِنَّمَا السُّنَّةُ مَا يَأْتِي اللَّهُمَّ هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلَانٍ وَهَذَا صَرِيحٌ فِي الدُّعَاءِ فَلَيْسَ مِمَّا نَحْنُ فِيهِ وَبِفَرْضِ أَنَّهُمْ ذَكَرُوا ذَلِكَ لَا شَاهِدَ فِيهِ أَيْضًا؛ لِأَنَّ ذِكْرَهُ بَعْدَ الْبَسْمَلَةِ صَرِيحٌ فِي أَنَّهُ لَمْ يُرِدْ بِهِ لَا التَّبَرُّكُ فَعُلِمَ أَنَّ هَذَا قَرِينَةٌ لَفْظِيَّةٌ صَارِفَةٌ وَلَا كَذَلِكَ فِي هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ
(قَوْلُهُ: بِمَا مَرَّ إلَخْ) فِيهِ نَظَرٌ إذْ غَايَةُ مَا مَرَّ أَنَّ ذَلِكَ صَرِيحٌ لَكِنَّ الصَّرِيحَ يَقْبَلُ الصَّرْفَ كَمَا تَبَيَّنَ فِي هَوَامِشِ بَابِ الْحَوَالَةِ اهـ. سم وَقَدَّمْنَاهُ عَنْ ع ش مَا يُوَافِقُهُ  وَقَالَ السَّيِّدُ عُمَرَ مَا نَصُّهُ يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّهُ أَيْ التَّعْيِينِ بِقَوْلِهِ هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ مَا لَمْ يَقْصِدْ الْإِخْبَارَ بِأَنَّ هَذِهِ الشَّاةَ الَّتِي أُرِيدُ التَّضْحِيَةُ بِهَا فَإِنْ قَصَدَهُ فَلَا تَعْيِينَ وَقَدْ وَقَعَ الْجَوَابُ كَذَلِكَ فِي نَازِلَةٍ رُفِعَتْ لِهَذَا الْحَقِيرِ وَهِيَ أَنَّ شَخْصًا اشْتَرَى شَاةً لِلتَّضْحِيَةِ فَلَقِيَهُ شَخْصٌ فَقَالَ مَا هَذِهِ فَقَالَ أُضْحِيَّتِي اهــ

*sumber*

فتاوى الرملي الجزءالرابع صـــ ٦٩
(سئل) عن رجل ملك شاة، وقال هذه أضحية أو جعلتها أضحية ولو عند الذبح هل تصير بذلك واجبة، ويحرم أكله منها، وإن نوى به التطوع لتلفظه بذلك أم لا وهل يحرم الأكل من الأضحية الواجبة بالنذر ابتداء أم لا؟ (فأجاب) بأن الشاة المذكورة تصير بلفظه المذكور أضحية، وقد زال ملكه عنها فيحرم عليه أكله من الأضحية الواجبة.

*sumber*

الياقوت النفيسة ص ٨٢٤
والأضحية كما ذكرنا سنة وتجب بالنذر ويجب التصدق بلحم المنذورة كلها لأنها خرجت بالنذر من ملكه إلى ملك الفقراء
(تنبيه) من اشترى شاة وقال هذه أضحيتي لازمته، ووجب التصدق بلحمها كله . إنما بعض المتأخرين قال لا تجب بالنسبة للعامة لأن العامى معذور لأنه لا يدرك معنى ما قاله ولا يقصد به النذر والعبارة إنشاء لا إقرار يعني غير مقر بأنها أصيحت أضحيته بمعنى هذه الشاة التي أريد أن أضحي بها. وفرق بين نية النذر ونية الإخبار كما قال في حاشية الياقوت ينبغي ان يكون محله ما لم يقصد الإخبار .

*sumber*

الياقوت النفيسة ص ٨٢٤
وقال السيد عمر البصري ينبغي ان يكون محله ما لم يقصد الإخبار، فإن قصده إي هذه الشاة التي أريد التضحية بها فلا تعيين. وقد وقع الجواب كذلك في نازلة وقعت في لهذا الحقير وهي أن شخصا اشترى شاة للتضحية فلقيه شخص أخر فقال ما هذه ؟ فقال اضحيتي .

panitia Kuban dapat jatah daging kurban

*pertanyaan*

Apakah hukum bebelok /panitia kurban dapat jatah daging kurban ?

*jawaban*

Panitia kurban diperbolehkan/tetap berhak menerima daging atau kulit hewan kurban *yang diniatkan sedekah* oleh yang berkurban ,bukan upah atas izin orang yang berkurban atau urf (kebiasaan) yg berlaku (upah tetap upah)

*Sumber*

حاشية الباجوري. ج2 ص311
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَحِّيْ بَيْعُ شَيْءٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا. وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةُ تَطَوُّعًا. اهـ
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة 
وله إعارته والتصدق به أفضل

*Sumber*

{الباجوري، ج ١ ص ٣٨٧}
ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها

*Sumber*

{المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٣٥٠}
ولايملك الوكيل من التصرف الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف

*Sumber*

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ - ‏( ﺝ / 1 ﺹ 533 ‏)
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻬﺎ ﺑﻞ ﻭﻻ ﺑﻴﻊ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻠﻪ ﺃﺟﺮﺓ ﻟﻠﺠﺰﺍﺭ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﺑﻞ ﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﻀﺤﻲ ﺃﻭ ﻳﺘﺨﺬ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺧﻒ ﺃﻭ ﻧﻌﻞ ﺃﻭ ﺩﻟﻮ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﻻ ﻳﺆﺟﺮﻩ ﻭﺍﻟﻘﺮﻥ ﻛﺎﻟﺠﻠﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻪ ﻭﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﺜﻤﻨﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﻋﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﺣﻜﺎﻳﺔ ﻗﻮﻝ ﻏﺮﻳﺐ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻊ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﻭﻳﺼﺮﻑ ﺛﻤﻨﻪ ﻣﺼﺮﻑ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .

*Sumber*

توشيخ على ابن قاسم ٢٧٢
(ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية

domba satu untuk qurban sekeluarga

*Pertanyaan*

Apakah qurban satu kambing bisa untuk semua sekeluarga?

*Jawaban* 

Hadis Rasulullah saw :

عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ اشْتَرَى كَبْشَيْنِ عَظِيمَيْنِ سَمِينَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مَوْجُوءَيْنِ فَذَبَحَ أَحَدَهُمَا عَنْ أُمَّتِهِ لِمَنْ شَهِدَ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيدِ وَشَهِدَ لَهُ بِالْبَلَاغِ وَذَبَحَ الْآخَرَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَعَنْ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diriwayatkan dari ‘Aisyah dan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak menyembelih kurban, Beliau membeli dua ekor kambing kibasy yang besar dan gemuk, bertanduk, berwarna putih dan terputus pelirnya. Beliau menyembelih seekor untuk umatnya yang bertauhid dan membenarkan risalah, kemudian menyembelih seekor lagi untuk *diri Beliau dan untuk keluarga Beliau* Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Maka maksud dari hadis itu adalah
*DALAM MASALAH PAHALANYA BOLEH DINIATKAN UNTUK DIRINYA DAN KELUARGANYA*

Adapun ketentuan dalam mazhab Syafii, ketentuan Hewan Kurban (al-an’aam) itu memiliki ukuran berapa orang yang bisa diatasnamakan untuk kurban,Untuk hewan jenis sapi, kerbau, unta, atau yang setara dengan keduanya bisa digunakan untuk berkurban tujuh orang,Sementara untuk jenis kambing atau domba maka hanya untuk satu orang.

*Sedangkan pahalanya boleh di syirkahkan/join/di niatkan untuk semua anggota keluarganya bahkan untuk jumlah yang tidak terbatas*

*sumber*

بغية المسترشدين
مسئلة : مذهب الشافعية ولا نعلم له مخالفا عدم جواز التضحية بالشاة عن اكثر من واحد لكنه سنة كفاية عندنا بمعنى سقوط الطلب عن اهل البيت بفعل واحد لا بحصول الثواب بل هي سنة لكل احد والمراد باهل البيت من تلزم نفقته كما فى النهاية, نعم. قال الخطيب و م ر. وغيرهما لو اشترك غيره فى ثواب التضحية كان قال عني وعن فلان او عن اهل بيت جاز وحصل الثواب للجميع

*sumber*

الباجوري ٢/٢٩٦
{قوله وتجزئ الشاة عن شخص واحد}أي لا عن أكثر منه ، فلو اشترك مع غيره فيها لم تكف ، نعم لو ضحى عنه وأشرك غيره معه في ثوابها لم يضر ، وكذلك لو ضحى عنه وعن أهله فلا يضر ، وعلى ذلك حمل خبر مسلم ؛ ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين وقال ؛ اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ، وظاهره شمول ذلك للفقراء والأغنياء ، لكن بعض الخطباء يقول ؛ لا تحزن أيها الفقير فقد ضحى عنك البشير النذير ، فخص الفقير دون الغني إلا أنه ليس فيه صيغة حصر 

*sumber*

حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب ٤/‏٣٣٣ — البجيرمي (ت ١٢٢١)
(و) تُجْزِئُ (الشّاةُ) المُعَيَّنَةُ مِن الضَّأْنِ أوْ المَعْزِ (عَنْ واحِدٍ) فَقَطْ فَإنْ ذَبَحَها عَنْهُ وعَنْ أهْلِهِ أوْ عَنْهُ وأشْرَكَ غَيْرَهُ فِي ثَوابِها جازَ وعَلَيْهِ حُمِلَ خَبَرُ مُسْلِمٍ: «ضَحّى رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - بِكَبْشَيْنِ وقالَ: اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِن مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ ومِن أُمَّةِ مُحَمَّدٍ» قالَ فِي المَجْمُوعِ: ومِمّا يُسْتَدَلُّ بِهِ لِذَلِكَ الخَبَرُ الصَّحِيحِ فِي المُوَطَّإ: أنَّ أبا أيُّوبَ الأنْصارِيَّ قالَ: كُنّا نُضَحِّي بِالشّاةِ الواحِدَةِ يَذْبَحُها الرَّجُلُ عَنْهُ وعَنْ أهْلِ بَيْتِهِ.

keputihan

*pertanyaan*

Bagaimana hukum keputihan di bagian organ intim wanita?

*Jawaban*

keputihan menurut sudut pandang hukum najis atau tidak,maka dari itu

Hukum keputihan terbagi jadi 3 bagian

1. apabila cairan keputihan ini keluar dari bagian luar vagina maka suci dan tidak membatalkan wudhu.

2. apabila keluar dari bagian dalam vagina hukumnya najis dan membatalkan wudhu. Maka, wajib bagi wanita untuk berwudhu setiap kali cairan keputihan keluar dari vagina bagian dalam. Tidak wajib bagi wanita tsb mencuci/membasuh cairan itu dari bajunya kecuali apabila yakin bahwa cairan itu betul-betul berasal dari bagian dalam rahim seperti cairan yang keluar saat melahirkan. Dalam kasus ini maka hukumnya najis dan wajib membasuh cairan itu dari baju. 

3. Apabila ragu atau tidak tahu apakah cairan itu keluar dari vaginana luar atau dalam, maka dalam kasus ini hukumnya suci dan tidak membatalkan wudhu. Karena yakin tidak hilang oleh keraguan. 

*Yang dimaksud bagian luar vagina* 

adalah bagian yang tampak saat wanita duduk untuk BAB (buang air besar) atau kencing. 

*yang dimaksud bagian dalam vagina*

adalah bagian yang tidak terlihat saat perempuan duduk untuk BAB atau kencing.


*sumber*

Bughiyah Al-Mustarsyidin, hlm. 53

– إذا خرجت هذه الإفرازات من ظاهر الفرج: فهي طاهرة، ولا تنقض الوضوء.
 أما إذا خرجت من باطن الفرج: فهي طاهرة أيضا، ولكنها تنقض الوضوء، فيجب على المرأة أن تتوضأ كلما نزلت عليها هذه الإفرازات الخارجة من الباطن، ولا يجب عليها غسلها عن ثيابها، إلا إذا تأكدت أن هذه الإفرازات قد نزلت عليها من عمق الرحم، كالسائل الذي ينزل عند الولادة: فهذا نجس يجب غسله من الثياب.
 أما إذا شكت المرأة ولم تعرف إن كانت هذه الإفرازات خرجت من ظاهر الفرج أم من باطنه: ففي هذه الحالة حكمها الطهارة، ولا تفسد الوضوء؛ لأن اليقين لا يزول بالشك.
وننبه هنا إلى أن ظاهر الفرج هو الذي يظهر عند قعود المرأة لقضاء الحاجة، وأما باطنه فهو ما وراء ذلك. هذا حاصل ما يقرره فقهاؤنا


belajar agama secara otodidak

*Peratnyaan*

Apakah cukup belajar ilmu agama secara otodidak?

*jawaban*

Ilmu agama tidak bisa diperoleh *dengan hanya membaca buku atau kitab atau melihat tayangan yotube*. 
Akan tetapi harus talaqqi atau belajar secara langsung kepada para ulama yang dipercaya. 
Hal ini seperti yang menjadi tradisi di dunia pesantren. 
Al-Hafizh Abu Bakar berkata:

*لا يؤخذ العلم إلا من أفواه العلماء*

Ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dari lidah para ulama. 

Sebagian ulama salaf berkata:

الذي يأخذ الحديث من الكتب يسمى صحفيا، والذي*
يأخذ القرآن من المصحف يسمى مصحفيا ولا يسمى قارئا*

Orang yang memperoleh hadits dari buku (tanpa berguru) disebut shahafi (pembuka buku). Orang yang mengambil al-Quran dari mushaf, disebut mushafi (pembuka mushaf), dan tidak disebut qari' (pembaca al-Quran).

Mengapa dalam ilmu agama harus belajar melalui seorang guru, dan tidak cukup secara otodidak? Hal ini didasarkan pada hadits-hadits berikut ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

*يا أيها الناس تعلموا فإنما العلم بالتعلم والفقه بالتفقه*

Wahai manusia, belajarlah ilmu. Karena sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar dan pengetahuan agama hanya diperoleh dengan belajar melalui guru. (Hadits hasan).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

*من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ*

Barangsiapa berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya sendiri, lalu pendapat itu benar, maka ia telah benar-benar keliru.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

*من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار*

Barangsiapa yang berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka. (Hadits shahih).

Hadits-hadits di atas memberikan pengertian keharusan berguru dalam ilmu agama
Bukan hanya dipelajari secara otodidak dari buku dan Google atau yotube

Berdasarkan paparan di atas, orang yang belajar ilmu agama secara otodidak atau belajar kepada kaum orientalis tidak bisa dikatakan sebagai orang yang alim, akan tetapi disebut sebagai bahits, peneliti dan pengkaji.
*Orang semacam ini tidak boleh menjadi rujukan dalam agama*
Sbb yang dikhawatirkan patwa2nya akan amburadul.

*CATATAN*

قال العلامة محمد أمين الكردي الإربلي : ولا يجوز تقليد غيرهم بعد عقد الإجماع عليهم؛ لأن مذاهب الغير لم تُدوَّن، ولم تُضبَط؛ بخلاف هؤلاء.
ومن لم يقلد واحداً منهم، وقال: أنا أعمل بالكتاب والسنة !! مدّعياً فهم الأحكام منهما، فلا يُسَلَّم له، بل هو مخطئ ضال مُضل، سيما في هذا الزمان الذي عمَّ فيه الفسق وكثرت فيه الدعوى الباطلة؛ لأنه استظهر على أئمة الدِّين وهو دونهم في العلم والعمل والعدالة والاطلاع ..”[تنوير القلوب : ص ٤١].

Berkata Al’Allamah Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili:
Dan barangsiapa yang tidak bertaqlid kepada salah seorang dari mereka (salah satu imam yang empat) dan berkata: “Aku beramal dengan al-Kitab dan as-Sunnah, mengaku-ngaku paham hukum dari al-Kitab dan as-Sunnah, maka tidak bisa diterimalah ucapannya, bahkan mereka itu salah, sesat menyesatkan, apalagi di zaman sekarang ini, zaman yang sudah merata di dalamnya kefasikan dan banyak pendakwah (da’i) yang bathil (karbitan), karena mereka menampakkan dirinya sederajat dengan Aimmatud Din (Imam empat madzhab) padahal dia derajatnya jauh di bawah mereka, baik dari segi ilmu, amal dan keadilan, maupun informasi ilmu pengetahuan.”
(Tanwirul Qulub : halaman 41.)

hewan untuk kurban lagi bunting

*Pertanyaan*

Bagaimana kalau kurban dengan hewan yang lagi bunting 

*Jawaban*

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat dikalangan ulama

- Menurut qoul mu'tamad hewan yang dalam keadaan hamil tidak cukup untuk dibuat kurban

- Disebabkan karena adanya kehamilan dapat mengurangi adanya daging, sementara sesuatu yang dapat mengurangi daging dianggap sebagai aib dalam kurban.

- Namun pendapat muqobilul mauktamad yg di dukung oleh ibnurrif'ah yang memperbolehkan berqurban dengan hewan dalam keadaan hamil

*sumber*

- حاشية البجيرمي على شرح المنهج، ٢٩٦/٤

وفي المجموع عن الأصحاب منع التضحية بالحامل وصحح ابن الرفعة الإجزاء
(قوله: منع التضحية بالحامل) هو المعتمد؛ لأن الحمل ينقص لحمها، وإنما عدوها كاملة في الزكاة؛ لأن القصد فيها النسل دون طيب اللحم. 

*sumber*

- أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٦٠/٢

(قاعدة) العيب ستة أقسام في البيع والزكاة والغرة والصداق إذا لم يفارق قبل الدخول ما مر وفي الكفارة ما أضر بالعمل إضرارا بينا وفي الأضحية والهدي والعقيقة ما نقص اللحم وفي النكاح ما نفر عن الوطء كما هو مبين في محله وفي الصداق إذا فارق قبل الدخول ما فات به غرض صحيح سواء أكان الغالب في أمثاله عدمه أم لا وفي الإجارة ما يؤثر في المنفعة تأثيرا يظهر به تفاوت في الأجرة قال الدميري وينبغي أن يزاد عيب المرهون فالظاهر أنه ما نقص القيمة فقط.

*Sumber*

- إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,2/378

والمعتمد عدم إجزاء التضحية بالحامل خلافا لما صححه ابن الرفعة.
(وقوله: خلافا لما صححه ابن الرفعة) أي من الإجزاء، معللا له بأن ما حصل بها من نقص اللحم ينجبر بالجنين، فهو كالخصي ورد بأن الجنين قد لا يبلغ حد الأكل كالمضغة وبأن زيادة اللحم لا تجبر عيبا، بدليل العرجاء السمينة.

alokasi daging qurban

*Pertanyaan*

Kemana saja yang tepat untuk mengalokasikan daging kurban?

*jawaban*

Adapun alokasi daging hewan qurban ada beberapa persoalan:

- Jika hewan qurbannya dinadzarkan maka haram bagi orang yang berqurban dan orang yang wajib dia beri nafkah untuk memakan dagingnya, meski hanya sedikit dan wajib disedekahkan semuanya

-  Jika qurbannya adalah qurban sunnah (tathawwu’), maka Pembagiannya terdapat cara yang utama dengan urutan seperti berikut: 

1. Lebih utama orang yang berqurban mengambil sesuap untuk dimakan karena ber-tabarruk dengan daging qurban dan seluruh sisa  dagingnya disedekahkan

2. Orang yang berqurban mengambil dan memakan satu pertiga daripada jumlah daging, dan  dua pertiga lagi/sisanya disedekahkan semuanya kepada fakir miskin 

3. Orang yang berqurban mengambil dan memakan satu pertiga daripada jumlah daging, dan satu pertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang mampu. 

- Daging qurban yg dihadiahkan kepada kaum muslimin yang kaya itu dalam bentuk ith’am (pemberian makan) bukan tamlik (memberikan hak kepemilikan)

- Sehingga bagi si kaya tersebut tidak diperbolehkan untuk menjual atau menghibahkannya.

- Berbeda dengan faqir miskin, yang pemberiannya berbentuk tamlik sehingga boleh baginya menjual atau yang lainnya.

*- Jika ia adalah orang yg berkurban(mudhohi), diperbolehkan mengambil sesuap atau kira2 yg cukup untuk dimakan sebagai tabarruk dengan daging kurban bahkan boleh mengambil 1/3 nya....*

*- Jika sekaligus sebagai panitia kurban, ia juga berhak/boleh mendapat daging kurban bukan sebagai upah tetapi sedekah atas izin yg berkurban atau urf (kebiasaan) yg berlaku*

*sumber*

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ١/‏٥٣٣ — تقي الدين الحصني (ت ٨٢٩)
(وَلَا يَأْكُل المضحى شَيْئا من الْأُضْحِية الْمَنْذُورَة وَيَأْكُل من المتطوع بهَا وَلَا يَبِيع مِنْهَا)
الْأُضْحِية الْمَنْذُورَة تخرج من ملك النَّاذِر بِالنذرِ كَمَا لَو أعتق عبدا حَتَّى لَو أتلفهَا لزمَه ضَمَانهَا فَإِذا نحرها لزمَه التَّصَدُّق بلحمها فَلَو أَخّرهُ حَتَّى تلف لزمَه ضَمَانه وَلَا يجوز لَهُ أَن يَأْكُل مِنْهَا شَيْئا قِيَاسا على جَزَاء الصَّيْد وَدِمَاء الجبرانات فَلَو أكل مِنْهَا شَيْئا غرم وَلَا يلْزمه إِرَاقَة دم ثَانِيًا لِأَنَّهُ قد فعله وَفِيمَا يضمن أوجه الرَّاجِح وَنَصّ عَلَيْهِ الشَّافِعِي ﵁ أَنه يغرم قِيمَته كَمَا لَو أتْلفه غَيره وَالثَّانِي يلْزمه مثل اللَّحْم وَالثَّالِث يشارط بِهِ فِي ذَبِيحَة أُخْرَى
وَأما المتطوع بهَا فَيُسْتَحَب لَهُ أَن يَأْكُل مِنْهَا بل قيل بِالْوُجُوب لقَوْله تَعَالَى ﴿فَكُلُوا مِنْهَا﴾ وَالصَّحِيح الِاسْتِحْبَاب لقَوْله تَعَالَى ﴿وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ﴾ جعلهَا الله ﷾ لنا لَا علينا وبالقياس على الْعَقِيقَة وَالْأَفْضَل التَّصَدُّق بِالْجَمِيعِ إِلَّا اللُّقْمَة أَو اللقمتان يأكلها فَإِنَّهَا مسنونة وَقَالَ الإِمَام وَالْغَزالِيّ التَّصْدِيق بِالْكُلِّ أحسن على كل قَول فَلَو لم يرد التَّصَدُّق بِالْكُلِّ فَمَا الَّذِي يفعل قيل يَأْكُل بِالنِّصْفِ وَيتَصَدَّق بِالنِّصْفِ لقَوْله تَعَالَى ﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴾ فَجَعلهَا الله نِصْفَيْنِ وَهَذَا نَص عَلَيْهِ الشَّافِعِي ﵁ فِي الْقَدِيم وَقيل يَأْكُل الثُّلُث وَيهْدِي الثُّلُث وَيتَصَدَّق بِالثُّلثِ لقَوْله تَعَالَى ﴿وأطعموا القانع والمعتر﴾ فَجَعلهَا لثَلَاثَة والقانع الْجَالِس فِي بَيته والمعتر السَّائِل وَقيل غير ذَلِك وَهَذَا هُوَ الْجَدِيد الْأَصَح فعلى هَذَا فَمَا المُرَاد بِالَّذِي يهدى إِلَيْهِم قيل هم المتجملون من الْفُقَرَاء فَيرجع حَاصله إِلَى التَّصَدُّق بالثلثين وَهَذَا مَا حَكَاهُ أَبُو الطّيب عَن الْجَدِيد وَصَححهُ وَقيل هم الْأَغْنِيَاء وَقَالَ الشَّيْخ أَبُو حَامِد يَأْكُل الثُّلُث وَيتَصَدَّق بِالثُّلثِ وَيهْدِي الثُّلُث للأغنياء والمتجملين وَلَو تصدق بالثلثين كَانَ أحب وَنقل الْبَنْدَنِيجِيّ كَون التَّصَدُّق بالثلثين أفضل عَن النَّص وَالله أعلم

*sumber*

حاشية الباجوري. ج2 ص311
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَحِّيْ بَيْعُ شَيْءٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا. وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةُ تَطَوُّعًا. اهـ
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل

*sumber*

{الباجوري، ج ١ ص ٣٨٧}
ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها

*sumber*

{المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٣٥٠}
ولايملك الوكيل من التصرف الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف

*sumber*

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ - ‏( ﺝ / 1 ﺹ 533 ‏)
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻬﺎ ﺑﻞ ﻭﻻ ﺑﻴﻊ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻠﻪ ﺃﺟﺮﺓ ﻟﻠﺠﺰﺍﺭ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﺑﻞ ﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﻀﺤﻲ ﺃﻭ ﻳﺘﺨﺬ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺧﻒ ﺃﻭ ﻧﻌﻞ ﺃﻭ ﺩﻟﻮ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﻻ ﻳﺆﺟﺮﻩ ﻭﺍﻟﻘﺮﻥ ﻛﺎﻟﺠﻠﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻪ ﻭﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﺜﻤﻨﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﻋﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﺣﻜﺎﻳﺔ ﻗﻮﻝ ﻏﺮﻳﺐ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻊ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﻭﻳﺼﺮﻑ ﺛﻤﻨﻪ ﻣﺼﺮﻑ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .

*sumber*

توشيخ على ابن قاسم ٢٧٢
(ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية

puasa Sunnah seorang istri tanpa izin

*Pertanyaan*

Bagaimana kalau seorang istri puasa sunah tapi tidak ada izin suaminya 

*Jawaban*

Puasanya tetap sah dalam ilmu fikih yang membatalkan puasa itu tidak ada satu pun *tidak ada izin suami*

Tetapi dalam sahnya puasa seorang istri tetap mendapatkan dosa dari sudut tidak dapat izin suaminya dari rujukan sabda Rasulullah saw

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Seorang wanita (istri) tidak boleh berpuasa, sedangkan suaminya ada di sisinya, kecuali dengan izinnya.

(HR Bukhori)

Dalam riwayat lain disebutkan,

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada di sisinya, kecuali dengan izinnya.

Dari rujukan hadis diatas maka ulama ahli fikih dalam madzhab 4:

-murut mazhab Malikiyah puasa yang di haramkan yaitu:

  • صَوْمُ الْمَرْأَةِ نَفْلاً بِغَيْرِ إِذْنِ زَوْجِهَا

“Pertama adalah puasa sunnah seorang istri tanpa izin suaminya.

-menurut mazhab Syafiiyyah

وَيَحْرُمُ صَوْمُ الْمَرْأَةِ تَطَوُّعًا وَزَوْجُهَا حَاضِرٌ إلَّا بِإِذْنِهِ

“Diharamkan seorang istri puasa sunnah sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya.

-mazhab Hambaliyyah

يَحْرُمُ صِيَامُ الْمَرْأَةِ نَفْلاً بِغَيْرِ إِذْنِ زَوْجِهَا إِنْ كَانَ حَاضِراً

Diharamkan seorang wanita berpuasa sunnah tanpa izin suaminya sedangkan suaminya ada di sisinya.

-Mazhab Hanafiah

بَابُ مَا جَاءَ فِي كَرَاهِيَةِ صَوْمِ الْمَرْأَةِ إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا

Bab Makruhnya (makruh tahrim) seorang istri berpuasa kecuali dengan izin suaminya.


*sumber*

(,فقه مذهب الاربعه ج ١ باب ص صوم و تطوع )


Maka dari penjelasan di atas jelas larangan bagi seorang istri melakukan puasa sunah tanpa izin suaminya dan madzhab 4 juga tidak ada perbedaan pendapat dengan dasar hadis Rasulullah saw.


daging kurban dipasak untuk konsumsi panitia

*pertanyaan*

Apakah boleh memasak daging kurban untuk panitia sedangkan daging tsb belum dibagikan ke Mustahik

*jawaban*

Memasak daging kurban
Untuk panitia diperbolehkan sbb 

- Panitia arti lainnya wakil,wakil adalah kepanjangan tangan dari orang yang berqurban

- Maka dari itu wakil / panitia hanya boleh mengambil daging qurban / mendapat jatah daging qurban sesuai yang direstui oleh orang yang berqurban baik dengan ucapan atau secara 'urf (ceuk adat kebiasaan)

- Panitia kurban dibolehkan mengambil untuk dimasak dari sebagian hewan qurban (daging, kulit, kepala dll), selama bukan sebagai upah tetapi sedekah atas izin orang yg berkurban (mudhohi) atau urf (kebiasaan) yg berlaku

- Dan diperbolehkan dikonsumsi bukan hanya untuk panitia saja tapi melibatkan masyarakat yang lain yang ada di lokasi  selama ada izin orang yang berkurban urf (kebiasaan) yg berlaku

*sumber*

حاشية الباجوري. ج2 ص311
(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَحِّيْ بَيْعُ شَيْءٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا. وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةُ تَطَوُّعًا. اهـ
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل

*sumber*

{الباجوري، ج ١ ص ٣٨٧}
ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها

*sumber*

{المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٣٥٠}
ولايملك الوكيل من التصرف الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف

*sumber*

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ - ‏( ﺝ / 1 ﺹ 533 ‏)
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻬﺎ ﺑﻞ ﻭﻻ ﺑﻴﻊ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺟﻌﻠﻪ ﺃﺟﺮﺓ ﻟﻠﺠﺰﺍﺭ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﺑﻞ ﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﻀﺤﻲ ﺃﻭ ﻳﺘﺨﺬ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺧﻒ ﺃﻭ ﻧﻌﻞ ﺃﻭ ﺩﻟﻮ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﻻ ﻳﺆﺟﺮﻩ ﻭﺍﻟﻘﺮﻥ ﻛﺎﻟﺠﻠﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻌﻪ ﻭﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﺜﻤﻨﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻣﺎ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﻋﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﺣﻜﺎﻳﺔ ﻗﻮﻝ ﻏﺮﻳﺐ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻴﻊ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﻭﻳﺼﺮﻑ ﺛﻤﻨﻪ ﻣﺼﺮﻑ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .

*sumber*

توشيخ على ابن قاسم ٢٧٢
(ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية

hukum memakan daging tupai

*Pertanyaan*

Bagaimanahukum memakan daging tupai

*Jawaban*

Dalam persoalan ini khilap pendapat ulama maka dari itu Imam Nawawi dalam kitabnya almajmu sebagai berikut;

وأما السمور والسنجاب والفنل بفتح الفاء والنون والقاقم بالقافين وضم الثانية والحواصل ففيها وجهان الصحيح المنصوص أنها حلال والثاني انها حرام

Adapun hukum berang-berang, tupai atau bajing, fenol, burung cerpelai, maka ada dua pendapat di kalangan para ulama:

*Pertama* dan ini merupakan pendapat yang shahih dan tegaskan (oleh ulama Syafiiyah) bahwa hukumnya halal

*Kedua* hukumnya adalah haram.

 

dalil haol

*pertanyaan*

Apakah ada dalil tentang ritual acara setelah kematian seseorang dari hari ke 1 dst,apakah itu hanya sebatas urf atau kebiasaan

*Jawab*

Kita ceramati dalil ini..

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى
ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨)
 والصدقة في الاربعين يوم يبقي ثوابها الي ماة

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: 
-shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari 
-shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, 
-shodaqoh di hari ke tujuh akan kekal pahalanya sampai 25 hari
pahala 25 sampai 40 harinya lalu 
-sodaqoh dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari 
-sodaqoh di 100 hari akan sampai kepada satu tahun 
-sodaqoh satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”
Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Itu sekaligus dalil haol bagi yang meninggal..

apa bulu kucing najis

*Pertanyaan*

Bagaimana hukum bulu kucing yang rontok dan nempel di pakaian atau alat untuk solat

*jawaban*

Para ulama mengkategorikan bulu yang rontok dari kucing sebagai benda yang najis. 
Meski demikian,najis tersebut dihukumi ma’fu (ditoleransi, dimaafkan) ketika dalam jumlah sedikit. 
Ditoleransi pula dalam jumlah banyak, khusus bagi orang-orang yang sering berinteraksi dengan kucing dan sulit menghindari rontokan buli kucing,misal bagi dokter hewan dan petugas salon kucing yang kesehariannya selalu berinteraksi dengan kucing.
Ketentuan hukum ini seperti yang teringkas dalam kitab Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi:

 (وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت الا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها
(قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين
 
“Sesuatu yang terputus dari hewan yang hidup, maka dihukumi sebagai bangkai, kecuali rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan.
Dalam sebagian kitab lainnya tertulis ‘kecuali rambut yang diolah menjadi permadani, pakaian, dan lainnya.’
Rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan ini seperti bulu pada kambing.
Kesucian rambut ini selama tidak berada pada potongan daging yang sengaja dipotong atau berada pada anggota tubuh yang terpotong dari hewan yang halal dimakan. 
Jika rambut berada dalam dua keadaan tersebut maka dihukumi najis sebab mengikut pada status anggota tubuh yang terpotong itu. 
Dikecualikan dengan redaksi ‘hewan yang halal dimakan’ yakni rambut atau bulu hewan yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan kucing.
Maka bulu dari hewan tersebut dihukumi najis.
Namun najis ini dihukumi ma’fu ketika dalam jumlah sedikit,bahkan dalam jumlah banyak bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan bulu tersebut,seperti bagi para tukang pemotong bulu”
(Hasyiyah al-Baijuri juz 2 hal. 290)

bagaimana makan kepiting laut

*Pertanyaan*

Bagaimana hukum memakan kepiting laut

*jawaban*

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat para ulama 

-Menurut mazhab Hanafi dan Syafi’iii

وَمَا عَدَا أَنْوَاعُ السَّمَكِ مِنْ نَحْوِ إِنْسَانِ الْمَاءِ وَخِنْزِيْرِهِ خَبِيْثٌ فَبَقِيَ دَاخِلًا تَحْتَ التَّحْرِيْمِ. وَحَدِيْثُ (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَالْحِلُّ مَيْتَتُهُ) الْمُرَادُ مِنْهُ السَّمَكُ 

"Dan selain berbagai macam ikan, seperti manusia laut (duyung) dan babi laut adalah menjijikkan dan masuk kategori haram

-Menurut mazhab Maliki dan mazhab Hanbali

وَصَيْدُ البَحْرِ كُلُّهُ حَلَالٌ إِلَّا أَنَّ مَالِكاً يَكْرَهُ خِنْزِيْرَ الْمَاءِ لِاسْمِهِ وَكَذَلِكَ كَلْبُ الْمَاءِ عِنْدَهُ وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ السَّرَطَانِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالضِّفْدَعِ 

Dan binatang buruan laut semuanya halal, hanya saja imam Malik memakruhkan babi laut karena namanya,begitu pula anjing laut menurutnya Dan tidak haram memakan kepiting, penyu,dan katak laut.

Sedangkan dalam kitab Al-Mughni halaman 337 Ibnu Qudamah menjelaskan: 

كُلُّ مَا يَعِيْشُ فِي الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْبَحْرِ لَا يَحِلُّ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ كَطَيْرِ الْمَاءِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَكَلْبِ الْمَاءِ إِلَّا مَا لَا دَمَ فِيْهِ كَالسَّرَطَانِ فَإِنَّهُ يُبَاحُ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ 

Setiap apa yang dapat hidup di daratan berupa binatang melata laut itu tidak halal, tanpa disembelih terlebih dahulu seperti burung laut penyu, dan anjing laut 
(semuanya dapat hidup didarat & dikaut)
Kecuali binatang yang tidak memiliki darah seperti kepiting,maka boleh dimakan tanpa disembelih.

hukum ulat dalam petai

*pertanyaan*

Bagaimana kalau menkonsumsi petai sedangkan didalamnya ada ulatnya (hileud peuteuy)

*jawaban*

Dalam persoalan tentang ulat yang menetap di buah-buahan bukan hanya dalam buah petai,sebenarnya pernah dialami oleh Rasulullah yang dijelaskan dalam salah satu hadits: 

عنْ أنَسِ بنِ مَالِكِ قالَ: أُتِيَ النّبيّ صلى الله عليه وسلم بِتَمْرِ عَتِيقٍ فَجَعَلَ يُفَتّشُهُ يُخْرِجُ السّوسَ مِنْهُ

Diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diberi kurma yang sudah usang. Lalu beliau meneliti kurma itu dan mengeluarkan ulat dari kurma tersebut.
(HR. Abu Dawud)


فِيْهِ كَرَاهَةُ أَكْلِ مَا يُظَنُّ فِيْهِ الدُّوْدُ بِلَا تَفْتِيْشٍ , قَالَهُ فِي فَتْحِ الْوَدُوْدِ وَفِيْهِ أَنَّ الطَّعَامَ لَا يَنْجُسُ بِوُقُوْعِ الدُّوْدِ فِيْهِ وَلَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ  

Dalam hadits di atas terkandung makna kemakruhan mengonsumsi makanan yang diduga kuat terdapat ulat di dalamnya dengan tanpa adanya penelitian terlebih dahulu, hal ini disampaikan Abdullah bin Muhammad at-Thayyar dalam kitab Fath al-Wadud. 
Dalam hadits ini pula terkandung pemahaman bahwa makanan tidak menjadi najis sebab adanya ulat di dalamnya serta tidak haram mengonsumsi makanan tersebut
(Aun al-Ma’bud juz II, halaman 262).

Adapun penjelasan Fathul Muin: 

وَحَلَّ أَكْلُ دُوْدِ نَحْوِ الْفَاكِهَةِ حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا بِشَرْطِ أَنْ لَا يَنْفَرِدَ عَنْهُ  

“Halal mengonsumsi ulat yang ada pada buah-buahan, baik ulatnya dalam keadaan hidup ataupun telah menjadi bangkai, dengan syarat ulat tidak terpisah secara tersendiri dengan buah-buahan,” 
( kitab Fathul Mu’ii  juz II halaman 354)

Masih dalam kitab I’anah at-Tholibin juz I halaman 90

وَيَحِلُّ أَكْلُ دُوْدِ مَأْكُوْلٍ مَعَهُ وَلَا يَجِبُ غَسْلُ نَحْوِ الْفَمِّ مِنْهُ (قَوْلُهُ وَيَحِلُّ أَكْلُ دُوْدِ مَأْكُوْلٍ) أَيْ كَدُوْدِ التِّفَاحِ وَسَائِرِ الْفَوَاكِهِ وَدُوْدِ الْخَلِّ فَمَيْتَتُهُ وَإِنْ كَانَتْ نَجَسَةً لَكِنَّهَا لَا تُنَجِّسُ مَا ذُكِرَ لِعُسْرِ الْإِحْتِرَازِ عَنْهُ. وَحَلَّ أَكْلُهُ لِعُسْرِ تَمْيِيْزِهِ 
 
“Halal mengonsumsi ulat dari makanan yang halal dimakan ketika dimakan secara bersamaan dan tidak wajib membasuh mulut atas bekas termakannya ulat tersebut. 
Ulat dari makanan yang halal dimakan misalnya seperti ulat yang terdapat pada buah apel dan aneka buah-buahan lainnya, serta ulat yang terdapat pada cuka’, maka bangkai ulat yang ada pada makanan tersebut,meskipun dihukumi najis (yang di-makfu) tetapi tidak dapat menajiskan makanan-makanan tersebut,sebab sulitnya menjaga dari ulat ini. 
Sedangkan kehalalan ikut mengonsumsi ulat karena sulitnya membedakan antara ulat dan makanan yang dihinggapinya"


sunah rosul malam jumat

*Pertanyaan*

Apakah hubungan intim suami istri harus malam senin dan malam Jumat,bahkan ada yang bilang sunah rosul

*Jawaban*

Hubunga badan antara suami istri adalah ibadah tapi kalau dianggap ada kesunahan harus malam-malam tertentu,maka menurut 
Syekh Wahbah Az-Zuhayli

وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة. 

“Di dalam sunah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat.
Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat” 
(Al-Fiqhul Islamiyyah juz 3 halaman 556).

Adapun yang menjadi dasar bagi yang menganjurkan yaitu :

*-Dasar yang ke 1*

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن يوم الجمعة فقال يوم صلة ونكاح قالوا كيف ذلك يا رسول الله قال لأن الأنبياء عليهم الصلاة والسلام كانوا ينكحون فيه

Rasulullah SAW ditanya perihal hari Jumat. Rasulullah menjawab: (Jumat) adalah hari hubungan dan perkawinan. 

Sahabat bertanya: Bagaimana demikian, ya Rasulullah? Nabi Muhammad menjawab: Para nabi dahulu menikah di hari ini

*-Dasar yang ke 2*

 من اغتسل يوم الجمعة وغسّل وغدا وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام وأنصت ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة 

Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan membuat orang lain mandi, lalu berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khutbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, lalu berkonsentrasi mendengarkan khutbah, maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun (HR Ahmad,An-Nasa’i,Ibnu Majah)

Dalam hadis ini sipatnya husus untuk hadir dalam solat Jumat dan mandinya pun tidak ada keharusan harus mandi besar setelah hubungan badan

-*Dasar yang ke 3*

فَإِنَّهُ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ أَغَضَّ لِلْبَصَرِ حَالَ الرَّوَاحِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَفِي الْقَدِيمِ كُنَّ النِّسَاءُ يَحْضُرْنَ الْجُمُعَةَ وَاللهُ أَعْلَمُ
 

Sesungguhnya jima’ setiap hari Jumat akan menundukkan mata (nafsu) pada saat Jumatan. Perlu diketahui bahwa di zaman dulu perempuan juga ikut melaksanakan Jumatan.

Sanad hadits di atas dikeritik oleh Seh Ahmad bin Hanbal digolongkan dhoif (rowi hadisnya bermasalah) bahkan oleh imam Al-Nasai dikategorikan dhoif wa matruk yang lemah kalau dipakai dasar hukum.

*kesimpulan*

Merujuk dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli tidak ada keharusan hubungan badan dimalam jumat

lantas darimana dasar yang menjadi keharusan bahkan disebut Sunnah dalam hal hubungan badan pasutri di malam Senin?

Wallohu a'lam

utang modal

*Pertanyaan*

Ada seseorang yang minta diberi modal untuk usaha,menurut perjanjian diawal *sistim bagi hasil* lalu Sohibul mal/robbul mal/investor menanyakan bagian dari bagi hasil tsb..apakah itu termasuk riba atau bukan

*Jawaban*

Dalam fikih muamalah ada beberapa istilah diantaranya

1.Utang modal merupakan aktivitas ngutang duit untuk modal usaha dalam fiqih dikenal sebagai akad qardh. 
Imam Sirajuddin Al-Bulqini telah menyampaikan definisi dari utang (qardh) sebagai berikut:   

دفعُ مالٍ مخصوصٍ إرفاقًا على وجهٍ مخصوصٍ ليردَّ بدَلَهُ

Menyerahkan uang tertentu karena niat menolong karena latar belakang tertentu supaya dikembalikan gantinya.” 
(juz II halaman 74).   

karena landasan akadnya adalah utang, maka kewajiban dari pihak yang berutang adalah mengembalikan jumlah uang yang diutang dengan nomimal yang sama.
Janji memberi hasil sebesar 100 ribu setiap bulan menempati derajat manfaat dari utang,sehingga termasuk praktik riba qardhi yang dilarang secara syara'.

فإن أقرضه شيئًا بشرط أن يرد عليه أكثر منه، بأن أقرضه درهمًا، بشرط أن يرد عليه درهمين ... لم يجز


Apabila ada seseorang mengutangi pihak lain dengan janji akan dikembalikan lebih, seperti mengutangi satu dirham dengan dikembalikan 2 dirham, maka tidak boleh." (Al-Bayan fi Madzhabil Imam As-Syafi' juz V halaman 463).

2.bagi hasil permodalan merupakan akad yang berbeda dengan akad utang modal. Secara syara’ akad ini merupakan akad yang legal dan dikenal sebagai akad qiradh atau mudharabah.  

  القراض مشروط برد رأس المال واقتسام الربح   

“Qiradh merupakan akad yang dibangun dengan landasan syarat pengembalian modal dan bagi keuntungan.” 
(Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab 336)

Akad mempunyai ciri: 

A.
100% modal berasal dari investor (robbul mal); pihak yang dimodali berlaku sebagai pelaksana lapangan dalam mengembangkan modal tersebut

B.
keuntungan yang didapat dari pengelolaan merupakan harta yang kelak dibagi hasil sesuai nisbah bagi hasil yang disepakati. Misalnya, 
pemodal 40% 
pengelola 60%
sesuai dengan kesepakatan nisbah bagi hasil *harus disepakati di awal kontrak* qiradh atau mudorobah itu dilakukan.

Maka kalau seperti itu tidak termasuk riba dan robbul mal boleh menagih bagian yang 40% dikarenakan sudah disepakati diawal kontrak akad mudorobah.

hukum mengkonsumsi ikan kecil dengan kotoranya

*Pertanyaan*

Apakah ikan kecil bisa dikonsumsi dengan kotoranya

*Jawaban*

Kotoran yang ada dalam ikan kecil dima'fu sebagaimana disebut dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1 hal 337 

 وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً. 

Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad dan Ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotorannya serta tidak dapat menajiskan minyak.
Bahkan Ar-Ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. 
Sementara Ibnu hajar dan Ibnu Ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkannya.

Maka dari dasar itu ikan kecil (Sunda:impun/burayak,anak lauk) boleh dikonsumsi dengan kotoranya


bagaiman hukum tai toko

*Pertanyaan*

Bagaimana hukum tai toko apakah najis

*Jawaban*

Kotoran Teter/Toko/rayap kayu kering keluar dari hewan warna putih seperti belatung yang ada dibuah nangka cuma bentuknya lebih kecil dan warnanya lebih putih,maka tai teter itu humnya najis cuma jenis najis yang di ma'fu/ ma'afkan Seperti halnya dima'funya kotoran burung (seperti dalam pertanyaan sebelumnya yang sudah dijawab) dengan syarat;

1- tidak basah/kering

2- tidak disengaja 
menyentuh/mengenainya

3- umumul balwa (sudah terlalu banyak dan tidak bisa di hindari atau sulit dihindari)

4- sulit menjaganya/masyaqhoh (meski sudah di bersihkan,ada lagi,di bersihkan ada lagi dan begituh strusnya)

*sumber*

 ﺇﻋﺎﻧﺔﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ. ﺝ ١ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٠٥:
ويعفى عن محل استجماره وعن ونيم ذباب وبول وروث خفاش فى المكان وكذا الثوب والبدن وان كثرت لعسر الاحتراز عنها ويعفى عما جف من ذرق سائر الطيور فى المكان اذا عمت البلوى به وقيضة كلام المجموع العفو عنه فى الثوب والبدن ايضا ولا يعفى بعر الفأر ولو يابسا على الاوجه لكن افتى شيخنا ابن زياد كبعض المتأخرين بالعفو عنه اذا عمت البلوى به كعمومها فى ذرق الطيور.
ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻤﺎ ﺟﻒ ﻣﻦ ﺫﺭﻕ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ. ﺫﻛﺮ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﻟﻠﻌﻔﻮ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﺠﻔﺎﻑ ﻭﻋﻤﻮﻡ ﺍﻟﺒﻠﻮﻯ، ﻭﺑﻘﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺫﺭﻕ ﺍﻟﻄﻴﻮﺭ ﻓﻴﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻓﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻣﻼﻣﺴﺘﻪ. ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ ﺗﺤﺮﻱ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ. ﺍﻫ.
قوله كعمومها اى عمت عموما كعمومها فى ذرق الطيور وذلك بأن يشق الاحتراز عنه.

*sumber*

(المجموع للنواوي)
وحكى الخراسانيون وجهاً ضعيفاً في طهارة روث السمك والجراد وما لا نفس له سائل، وقد قدمنا وجهاً عن حكاية صاحب «البيان» والرافعي أن بول ما يؤكل وروثه طاهران وهو غريب، وهذا المذكور من نجاسة ذرق الطيور كلها هو مذهبنا، وقال أبو حنيفة : كلها طاهرة إلا ذرق الدجاج لأنه لا نتن إلا في ذرق الدجاج، ولأنه عام في المساجد، ولم يغسله المسلمون كما غسلوا بول الآدمي. واحتج أصحابنا بما ذكره المصنف وأجابوا عن عدم النتن بأنه منتقض ببعر الغزلان، وعن المساجد بأنه ترك للمشقة في إزالته مع تجدده في كل وقت، وعندي أنه إذا عمت به البلوى وتعذر الإحتراز عنه يعفى عنه وتصح الصلاة كما يعفى عن طين الشوارع وغبار السرجين.

*sumber*

اسنى المطالب ١/١٧٠
 (ﻗﻮﻟﻪ: اﻟﺮاﺑﻊ ﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﻨﺠﺲ) ﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺜﺮ ﺫﺭﻕ اﻟﻄﻴﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻟﻠﻤﺸﻘﺔ ﻓﻲ اﻻﺣﺘﺮاﺯ ﻣﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻧﻘﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺨﺎﺩﻡ ﻋﻦ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻲ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﻓﻲ اﻟﺘﺬﻛﺮﺓ ﻓﻲ اﻟﺨﻼﻑ،

*sumber*

منهاج القويم ١/١١٣
ﻭﻳﻌﻔﻰ ﻋﻦ ﺫﺭﻕ الطيوﺭ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺇﻥ ﻛﺜﺮ ﻟﻤﺸﻘﺔ اﻻﺣﺘﺮاﺯ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ اﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﺃﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻮ ﺃﻭ ﻣﻤﺎﺭﺳﻪ ﺭﻃﺒًﺎ،

*sumber*

تحفة المحتاج ٢/١٢٠
ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﺫﺭﻕ اﻟﻄیوﺭ ﻓﻴﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺭﺿﻪ، ﻭﻛﺬا ﻓﺮاﺷﻪ ﻋﻠﻰ اﻷﻭﺟﻪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻓﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻣﻼﻣﺴﺘﻪ ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻜﻠﻒ ﺗﺤﺮﻱ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﻻ ﻓﻲ اﻟﺜﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ

*sumber*

الإقناع ١/٩٠
ﻭیعفیﻋﻦ ﺩﻡ اﻟﺒﺮاﻏﻴﺚ ﻭاﻟﻘﻤﻞ ﻭاﻟﺒﻖ ﻭﻭﻧﻴﻢ اﻟﺬﺑﺎﺏ ﻭﻋﻦ ﻗﻠﻴﻞ ﺑﻮﻝ اﻟﺨﻔﺎﺵ ﻭﻋﻦ ﺭﻭﺛﻪ ﻭﺑﻮﻝ اﻟﺬﺑﺎﺏ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﻢ ﺑﻪ اﻟﺒﻠﻮﻯ ﻭﻳﺸﻖ اﻻﺣﺘﺮاﺯ ﻋﻨﻪ ﻭﺩﻡ اﻟﺒﺮاﻏﻴﺚ ﻭاﻟﻘﻤﻞ ﺭﺷﺤﺎﺕ ﺗﻤﺼﻬﺎ ﻣﻦ (ﺑﺪﻥ) اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﺩﻡ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻹﻣﺎﻡ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻲ ﺩﻡ اﻟﺒﺮاﻏﻴﺚ ﻭﻣﺜﻠﻬﺎ اﻟﻘﻤﻞ.

menggauli istri istihadoh

*Pertanyaan*

Bagaimana hukum menggauli istri yang sedang istihadoh

*jawaban*

*Bersetubuh saat istri istihadhah*

- Menggauli wanita dalam kondisi istihadhoh diperbolehkan menurut madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama’, 

- Sedangkan menurut madzhab Hanbali dan beberapa ulama’ tidak diperbolehkan. 

- Meskipun begitu, jika dikhawatirkan membahayakan, baik bagi lelaki atau wanitanya sendiri terutama menggauli wanita tersebut saat darahnya keluar, sebaiknya hal ini tidak dilakukan

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

*sumber*

الموسوعة الفقهية الكويتية ٤٤/٢١
اختلف الفقهاء في جواز وطء المستحاضة على قولين
القول الأول: ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والشافعية والمالكية وأحمد في إحدى الروايتين عنه إلى جواز وطء المستحاضة. وقد نقله ابن المنذر عن ابن عباس رضي الله عنه وابن المسيب والحسن وعطاء وقتادة وسعيد بن جبير وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والأوزاعي والثوري وإسحاق وأبي ثور، وقال ابن المنذر: وبه أقول
واحتجوا على ذلك بقوله تعالى: {حتى يطهرن  } . وهذه طاهرة من الحيض، وبما روي أن حمنة بنت جحش رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأن أم حبيبة رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها ، وقد سألتا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أحكام المستحاضة، فلو كان وطؤها حراما لبينه لهما. ولأن المستحاضة كالطاهر في الصلاة والصوم والاعتكاف والقراءة وغيرها، فكذلك في الوطء، ولأنه دم عرق، فلم يمنع الوطء كالناسور، ولأن التحريم بالشرع، ولم يرد بتحريم في حقها، بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم
القول الثاني: ذهب الحنابلة في المذهب وابن سيرين والشعبي والنخعي والحكم وابن علية من المالكية إلى أنه لا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها، لما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: " المستحاضة لا يغشاها زوجها " . ولأن بها أذى فيحرم وطؤها كالحائض، فإن الله تعالى منع وطء الحائض معللا بالأذى بقوله: {قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض } . فأمر باعتزالهن عقيب الأذى مذكورا بفاء التعقيب، ولأن الحكم إذا ذكر مع وصف يقتضيه ويصلح له علل به، والأذى يصلح أن يكون علة فيعلل به، وهو موجود في المستحاضة فيثبت التحريم في حقها

*sumber*

حاشية ابن عابدين ١/٢٩١
ودم استحاضة) حكمه (كرعاف دائم) وقتا كاملا (لا يمنع صوما وصلاة) ولو نفلا (وجماعا) لحديث «توضئي وصلي وإن قطر الدم على الحصير
.................................
قوله وجماعا) ظاهره جوازه في حال سيلانه وإن لزم منه تلويث، وكذا هو ظاهر غيره من المتون والشروح وكذا قولهم: يجوز مباشرة الحائض فوق الإزار وإن لزم منه التلطخ بالدم، وتمامه في ط

*sumber*

جواهر الاكليل شرح مختصر الخليل ١/٣١
ثم هي مستحاضة وتغتسل كلما انقطع وتصوم وتصلي وتوطأ
...................................
هى مستحاضة) لا حائض فتغتسل من الحيض وتصلى وتصوم وتوطأ والدم نازل عليها -إلى أن قال- وتوطأ بعد غسلها على المعروف خلافا لصاحب الارشاد القائل لا يجوز وطؤها

*sumber*

المجموع على شرح المهذب ٢/٣٧٣
يجوز عندنا وطئ المستحاضة في الزمن المحكوم بأنه طهر وإن كان الدم جاريا وهذا لا خلاف فيه عندنا قال القاضي أبو الطيب وابن الصباغ والعبد رى وهو قول أكثر العلماء ونقله ابن المنذر في الإشراف عن ابن عباس وابن المسيب والحسن وعطاء وسعيد بن جبير وقتادة وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والاوزاعي ومالك والثوري واسحق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول وحكي عن عائشة والنخعي والحكم وابن سيرين منع ذلك وذكر البيهقي وغيره أن نقل المنع عن عائشة ليس بصحيح عنها بل هو قول الشعبي أدرجه بعض الرواة في حديثها وقال احمد لا يجوز الوطئ إلا أن يخاف زوجها العنت واحتج للمانعين بأن دمها يجري فأشبهت الحائض واحتج أصحابنا بما احتج به الشافعي في الأم وهو قول الله تعالى (فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن) وهذه قد تطهرت من الحيض واحتجوا أيضا بما رواه عكرمة عن حمنة بنت جحش رضي الله عنها أنها كانت مستحاضة وكان زوجها يجامعها رواه أبو داود وغيره بهذا اللفظ بإسناد حسن وفي صحيح البخاري قال قال ابن عباس المستحاضة يأتيها زوجها إذا صلت الصلاة أعظم ولأن فكذا في الوطئ ولانه دم عرق فلم يمنع الوطئ كالناسور ولأن التحريم بالشرع ولم يرد بتحريم بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم كما قال ابن عباس والجواب عن قياسهم على الحائض أنه قياس يخالف ما سبق من دلالة الكتاب والسنة فلم يقبل ولأن المستحاضة لها حكم الطاهرات في غير محل النزاع فوجب إلحاقه بنظائره لا بالحيض الذي لا يشاركه في شئ

*sumber*

كشاف القناع ١/٢١٨
ولا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها) لقول عائشة: المستحاضة لا يغشاها زوجها ولأن بها أذى فحرم وطؤها كالحائض، وعنه يباح مطلقا، وهو قول أكثر العلماء لأن حمنة كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأم حبيبة كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها، رواهما أبو داود وقد قيل: إن وطء الحائض يتعدى إلى الولد فيكون مجذوما

*sumber*

سنن ابن ماجه ٢/٧٨٤
حدثنا محمد بن يحيى قال: حدثنا عبد الرزاق قال: أنبأنا معمر، عن جابر الجعفي، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا ضرر ولا ضرار

kategori yatim

*pertanyaan*

Apakah yang menjadi patokan yang masih layak kategori yatim

*jawaban*

Dalam Islam,ada dua kriteria untuk menentukan seseorang disebut yatim. Jika dua kriteria ini ada, maka disebut yatim. Sebaliknya, jika keduanya atau salah satunya tidak ada, maka tidak disebut yatim.

*Pertama* seseorang yang ditinggal mati oleh bapak kandungnya.
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ali bin Muhammad al-Jurjani  dalam kitabnya at-Ta’rifat berikut:

اليتيم: هو المنفرد عن الأب؛ لأن نفقته عليه لا على الأم

“Yatim artinya seseorang yang bapaknya wafat karena nafkahnya wajib ditanggung bapaknya, bukan ibunya.”

*Kedua* masih belum baligh. 
Jika sudah baligh,meskipun bapaknya meninggal,maka tidak disebut anak yatim. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Ishaq al-Syairazi dalam kitabnya al-Muhazzab berikut;

اليتيم هو الذي لا أب له وليس لبالغ فيه حق لأنه لا يسمى بعد البلوغ يتيماً

“Yatim adalah seorang yang tak punya bapak sedang dia belum baligh. Setelah baligh maka orang itu tak disebut yatim.”

Dalam kitab al-Mabsuth Imam al-Sarokhsi al-Hanafi juga menyebutkan sebagai berikut;

فإذا احتلم يخرج من اليتم

“Ketika seseorang itu sudah ihtilam, maka telah keluar dari sifat yatim.”

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Daud, Nabi saw bersabda;

لا يتم بعد الحلم

“Tidak disebut yatim orang yang telah hulm/baligh.”

Dengan demikian, anak yang berusia 12 tahun jika belum baligh sementara bapaknya meninggal,maka masih disebut yatim.Namun jika sudah baligh,maka tidak disebut yatim.
Seseorang sudah disebut baligh dengan adanya salah satu tanda berikut :
1) keluar mani,baik melalui mimpi atau lainnya
2) haid atau hamil bagi perempuan
3) sudah berumur 15 tahun Qamariyah.

solat Jumat 2 dalam satu desa

*pertanyaan*

Apakah boleh mengadakan dua solat Jumat dalam satu desa

*jawaban*

Tidak diperbolehkan mendirikan dua sholat jum’at dalam satu desa kecuali ada salah satu sebab-sebab yg memperbolehkan (hajat) :

a)  Tempat sholat jum’at yang sempit, yakni tidak cukup menampung para jama’ah jum’at secara umum

b)  Pertikaian antara dua kelompok masyarakat

c)  Jauhnya ujung desa, yaitu bila seseorang ada ditempat (ujung desa) tidak bisa mendengarkan adzan jum’at.

Akan tetapi menurut pendapat Syaikh Ismail al-Yamani, boleh mendirikan shalat jumat lebih dari satu tempat dalam satu desa secara mutlak dengan syarat jumlah jama’ahnya tidak kurang dari 40 orang ahli jum’at yang mustauthin.

*sumber*

بغية المسترشدين ص٧٩
( مسألة ب ) وقع حرب واختلاف بين جندين فى بلدة وتحزب كل وخاف بعض الرعية من حضور الجمعة فى جامعها الأصلى فأحدثوا جمعة فى محلهم غير الجمعة الأصلية حرم عليهم إقامتها والحال ما ذكر فضلا عن ندبها أو أنها تلزمهم إذ لم يقل أحد من أئمة المذهب إن المعذورين بعذر من أعذار الجمعة والجماعة إذا اجتمع منهم أربعون فى جانب من البلدة الوحدة يلزمهم أن يقيموا جمعة بل ولا من أئمة المذاهب الثلاثة إلا ما نقل عن الإمام أحمد من جواز تعددها للحاجة وإنما الخلاف فيما إذا كان المعذورون بمحل يجوز فيه تعدد الجمعة كما يعلم من عبارة التحفة وغيرها. والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالبا والقتال بين الفئتين بشرطه وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لا يسمع منه النداء أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها إذ لا يلزمه السعى إليها إلا بعد الفجر اهـ وخالفه ى فقال يجوز بل يجب تعدد الجمعة حينئذ للخوف المذكور لأن لفظ التقاتل نص فيه بخصوصه ولأن الخوف داخل تحت قولهم إلا لعسر الاجتماع فالعسر عام لكل عسر نشأ عن المحل أو خارجه وانحصار التعدد فى الثلاث الصور التى استدل بها المجيب المتقدم ليس حقيقة إذ لم يحصر العذر فى التحفة والنهاية وغيرهما بل ضبطوه بالمشقة وهذا الحصر إما من الحصر المجازى لا الحقيقى إذ هو الأكثر فى كلامهم أو من باب حصر الأمثلة فالضيق لكل عسر نشأ عن المحل والبعد ولكل عسر نشأ عن الطريق والتقاتل ولغيرهما كالخوف على النفس والمال والحر الشديد والعداوة ونحوها من كل ما فيه مشقة.اهـ

*sumber*

شرح المنهاج بهامش حاشية العلامة سليمان الجمل ج٢ ص١٥-١٦
ومن صور جواز التعدد بعد طرفى البلد بحيث تحصل مشقة لا تحتمل عادة لأنها تسقط السعى عن بعيد الدار ومن جوازه أيضا وقوع خصام بين أهل جانبى البلد وإن لم تكن مشقة وعليه لو نقص عدد جانب أو كل جانب عن الأربعين لم تجب عليهم فيه ولا فى الآخر اهـ برماوى

*sumber*

الترمسى ج٣ ص: ٢١٢-٢١٣
وإن ضابط العسر ان تكون فيه مشقة لا تحتمل عادة قال سم والأوجة اعتبار الحاضرين بالفعل فى تلك الجمعة وأنهم لوكانوا ثمانين مثلا وعسر اجتماعهم بسبب واحد منهم فقط بان سهل اجتماع ما عدا واحد او عسر اجتماع الجميع انه يجوز التعدد إهـ – إلى أن قال – قالحاصل أن مشقة السعى التى لا تحتمل عادة تجوز التعدد دون الترك رأسا وهذا هو الأظهر الأوفق لضبطهم عسر الإجتماع بأن تكون فيه مشقة لا تحتمل عادة ومن صور جواز التعدد ايضا وقوع تقاتل او خصام بين أهل جانبى البلد وإن لم تكن مشقة فكل فئة بلغت اربعين تلزمها إقامة الجمعة ولو نقص عدد جانب او كل عن الأربعين لم تجب عليهم فيه ولا فى الآخر تأمل إهـ

*sumber*

قرة العين بفتاوي إسماعيل زين ص٨٣
مسألة : ما قولكم فى تعدد الجمعة فى بلدة واحدة أو قرية واحدة مع تحقق العدد المعتبر فى كل مسجد من مساجدها فهل تصح جمعة الجميع او فيه تفصيل فيما يظهر لكم؟
الجواب أما مسألة تعدد الجمعة فالظاهر جواز ذلك مطلقا بشرط أن لا ينقص عدد كل عن أربعين رجلا فإن نقص عن ذلك انضموا الى اقرب جمعة اليهم إذ لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع بأقل من ذلك وكذلك السلف الصالح من بعده والقول بعدم الجواز إلا عند تعذر الإجتماع فى مكان واحد ليس عليه دليل صريح ولا ما يقرب من الصريح لا نصا ولا شبهه بل إن سر مقصود الشارع هو إظهار الشعار فى ذلك اليوم وأن ترفع الاصوات على المنابر بالدعة الى الله والنصح للمسلمين فكلما كانت المنابر اكثر كانت الشعارات اظهر.

apakah bacaan untuk mayit sampai tidak

*pertanyaan*

Tetangga sebelah bilang bacaan Alquran yang ditujukan kepada orang meninggal tidak akan sampai,mohon diuraikan..trms

*jawaban*

Soal sampai tidaknya pahala bacaan Al Qur’an kepada orang yang sudah meninggal dunia tetap saja tajam meruncing,bahkan kelompok yang kontra mengatakan hal itu *perbuatan bid’ah* dan menyerang dengan mengutip balik penyataan Imam Syafi’i yang menurut pemahaman mereka justru mengatakan pahala bacaan Al Qur’an tidak sampai. 

Sementara kelompok yang meyakini pahalanya sampai adalah mayoritas pengikut madzhab Syafi’i. 

Ada beberapa catatan terkait pernyataan Imam as-Syafi’i,yang sering dinukil oleh mereka yang menyatakan tidak sampai ini.

*Pertama*

pernyataan dari Imam as-Syafi’i ini susah dilacak, kalaupun ada adalah pendapat yang masyhur dari madzhab as-Syafi’i.
Terlebih ini adalah pernyataan yang sepotong. 
Apakah dalam semua keadaan,bacaan al-Qur’an kepada mayyit itu tidak sampai, atau ada syarat khusus dan kriteria tertentu agar bisa bermanfaat kepada mayyit.

Karena Imam as-Syafi’i pernah juga menyatakan:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻭﺇﻥ ﺧﺘﻤﻮﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻨﺪﻩ ﻛﺎﻥ ﺣﺴﻨﺎ

Imam as-Syafi’i mengatakan: Disunnahkan membaca al-Qur’an kepada mayit yang telah di kubur. Jika sampai khatam al-Qur’an, maka itu lebih baik. 
(Riyadh as-Shalihin h 295)

Ada hal menarik disini Jika dikatakan menurut Imam as-Syafi’i muthlak tidak sampai dalam keadaan apapun, kenapa Imam as-Syafi’i malah menganjurkan mengkhatamkan al-Qur’an kepada mayit setelah di kuburkan? Atau bahasa lainnya, Imam as-Syafi’i  malah menganjurkan khataman al-Qur’an di kuburan.

*Kedua*

tentu yang lebih paham tentang fiqih Syafi’i adalah para ulama asli madzhab as-Syafi’I,bukan ulama dari non Syafi’iyyah pastinya. 
Karena sangat rentan mutilasi pernyataan atau kesalahan dalam memahami perkataan.

Syaikh al-Islam Zakaria Al-Anshari as-Syafi’i dan Ibnu Hajar Al-Haitami as-Syafi’i sebagai ulama dalam madzhab as-Syafi’i menyimpulkan bahwa,maksud bacaan al-Quran itu tidak sampai ke sipulan jika *tidak diniatkan untuk si pulan* atau tidak dibacakan di hadapan si mayit sipulan (Fath al-Wahhab juz 2 hal 23, dan Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Fiqhiyah Al-Kubro juz 2 hal 27)

*Ketiga* 
ini yang terpenting,memang masalah ini menjadi perbedaan diantara para ulama sejak dahulu. 
Hanya saja perbedaan mereka terkait, “Sampai atau tidak” *bukan* pada “Boleh atau tidak boleh” atau “Ada tuntunannya atau tidak” atau “Rasulullah melakukannya atau tidak”

Mengaji Fiqih Hanbali dari Ulama Hanbali

Jika memahami fiqih Syafi’i harusnya dari ulama Syafi’iyyah,tentu hal yang sama juga dalam memahami fiqih Hanbali.
Termasuk jika ada yang nyinyir mengatakan,
“Katanya ikut madzhab Syafi’i, tapi kenapa tak ikut Imam as-Syafi’i ?”
silahkan balas saja; “Katanya ikut madzhab Hanbali, tapi kenapa tak ikut Imam Ahmad bin Hanbal ?”

Hampir-hampir ulama Hanbali yang muktamad,semuanya menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit,termasuk Surat al-Fatihah.

Mana dalilnya? Kalau mau tau, silahkan tanya ulama dibawah ini:

Imam Ahmad bin Hanbal: 
Bacalah Surat al-Fatihah Saat ke Kuburan

Abu Bakar Al-Marrudzi al-Hanbali salah seorang murid terdekat Imam Ahmad bin Hanbal pernah mendengar sendiri Imam Ahmad berkata:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺮﻭﺫﻱ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﻳﻘﻮﻝ : ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺘﻢ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ ﻓﺎﻗﺮﺀﻭﺍ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ، ﻭﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ، ﻭﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺛﻮﺍﺏ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ؛ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ، ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻫﻜﺬﺍ ﻋﺎﺩﺓ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﺩﺩ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺗﺎﻫﻢ؛ ﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .

Saya (al-Marrudzi) pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat al-Fatihah, al-Muawwidzatain dan al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca al-Qur’an. (Mushtafa bin Saad al-Hanbali hal 935).

Disini ada 2 hal penting: 

*Pertama*
Membaca Surat al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

*Kedua*
Membaca al-Qur’an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshor.Paling tidak,ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal.

Hal itu bisa kita temukan di kitab Mathalib Ulin Nuha,karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali.
Beliau seorang ulama madzhab Hanbali kontemporer,seorang mufti madzhab Hanbali di Damaskus sejak tahun 1212 H sampai wafat.
Kitab Mathalib Ulin Nuha itu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Karmi (al-A’lam juz 7 hal 234)

Kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf ini juga banyak mengambil dari 2 kitab ulama Hanbali sebelumnya; al-Iqna’ li Thalib al-Intiqa’ karya Musa bin Ahmad Abu an-Naja al-Hajawi dan Muntaha al-Iradat karya Taqiyuddin Ibn an-Najjar al-Futuhi.Artinya Kitab Mathalib Ulin Nuha diatas,secara sanad keilmuan fiqih Hanbali,bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanadnya.

Kalau mereka memakai dalil dari ibnu taimiyyah maka syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata :
Yang Benar Adalah Semua Pahalanya Sampai, Bahkan Termasuk Shalat

Ibnu Taimiyyah al-Hanbali memang disatu sisi menjadi panutan utama beberapa kalangan yang membid’ahkan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an. Hanya dalam kaitan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an ini, Fatwa Ibnu Taimiyyah tak begitu dihiraukan.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa juz 24 halaman 367 :

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻼ ﻧﺰﺍﻉ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﻛﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﺍﻟﻌﺘﻖ ﻛﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ . ﻭﺗﻨﺎﺯﻋﻮﺍ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ : ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ . ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ

Adapun bacaan Al-Quran, shodaqoh dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, sholat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan.

Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.
Serunya dalam fatwa Ibnu Taimiyyah ini, beliau menyebut bahwa baik puasa, bacaan al-Qur’an bahkan shalat sekalipun itu akan sampai transferan pahalanya kepada mayyit.

kira-kira bagaimana teknisnya mengirim pahala shalat kepada mayyit,menurut fatwa Ibnu Taimiyyah ini ya? 
Kirim pahala shalat untuk mayyit, bid’ah apa lagi ini?

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah: Perkataan Bahwa Tak Ada Tuntunannya Dari Ulama Salaf,Itu Adalah Perkataan Dari orang Yang Tak Ada Ilmunya

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah sebagai murid Ibnu Taimiyyah bahkan menjelaskan panjang lebar masalah ini dalam kitab ar-Ruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebut:

ﻭﺃﻱ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻣﺠﺮﺩ ﻧﻴﺔ ﻭﺇﻣﺴﺎﻙ ﺑﻴﻦ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ، ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺃﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﺋﻞ ﻣﺎﻻ ﻋﻠﻢ ﻟﻪ ﺑﻪ

Apa bedanya sampainya pahala puasa dengan bacaan al-Qur’an dan dzikir.
Orang yang mengatakan bahwa ulama salaf (bukan salafi) tak pernah melakukan hal itu, berarti orang itu tak ada ilmunya (ar-Ruh hal 143)

Agak pedas memang pernyataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah ini.
Kata beliau, justru para salaf-lah yang melakukan hal itu. 
Mereka yang mengatakan para salaf tak pernah melakukannya,berarti perkataan itu muncul dari orang yang tak ada ilmunya.

Ibnu Quddamah al-Hanbali: 
Kaum Muslimin di Tiap Waktu dan Tempat,Mereka Berkumpul Untuk Menghadiahkan Bacaan al-Qur’an Untuk Mayit

Dengan jelas beliau menyebut bahwa di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an.
Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya. 
Dan itu adalah ijma’ kaum muslimin.

ﻭﻟﻨﺎ، ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ، ﻭﺃﻧﻪ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ؛ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻋﺼﺮ ﻭﻣﺼﺮ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻭﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻭﻳﻬﺪﻭﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺗﺎﻫﻢ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ

Ijma’ kaum muslimin menyatakan bahwa di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an. Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya.
(al-Mughni juz 2 hal 423)

Tentu pernyataan yang serius jika hal ini telah menjadi ijma’ kaum muslimin, dimana hampir semua zaman dan setiap tempat, para kaum muslimin melaksanakannya.

Bahkan lebih dari itu, mereka melakukannya dengan berkumpul berjamaah, bareng-bareng membaca al-Qur’an untuk dikirimkan kepada mayyit, persis seperti yang ada di negeri kita Indonesia ini.

Paling tidak, itulah yang dialami oleh Ibnu Quddamah al-Maqdisi dan kaum muslimin di Damaskus, sekitar 8 abad yang lalu di hampir seantero negeri saat itu.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 
lebih memilih bahwa bacaan al-Quran itu sampai dan boleh.

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻨﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻟﻔﻼﻥ ﺃﻭ ﻓﻼﻧﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﻗﺮﻳﺐ . ﻭﺍﻟﺮﺍﺟﺢ : ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻷﻧﻪ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺟﻮﺍﺯ ﺻﺮﻓﻬﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ

*Pendapat kedua*

adalah mayyit bisa mendapat manfaat dari apa yang dikerjakan orang yang masih hidup. Hukumnya boleh, orang membaca al-Quran lantas berkata; “Saya niatkan pahala ini untuk fulan atau fulanah. Baik orang itu kerabat atau bukan. Ini adalah pendapat yang rajih. 
(Majmu’ Fatawa wa Rosail, juj 7 hal 159).

Mari Ittiba’ Rasul !

Pernyataan ini benar, tapi tak jarang disalahgunakan.Suatu amalan yang pernah dikerjakan Nabi atau belum pernah itu,bukan standar satu-satunya sebuah amalan dikatakan boleh atau tidak boleh.

Justru kesalahan logika yang fatal, jika membuat sebuah kaidah ushul fiqih baru bahwa, amalan yang tak pernah dijalankan Nabi pasti semuanya bid’ah yang haram.

Tentu jika orang awam yang ditanya, “Memang Nabi pernah melakukannya?” pasti akan melongo, tak bisa jawab. Seolah dalil satu-satunya adalah ‘pernah dijalankan Nabi’.
Padahal ada hal yang penting untuk dibahas terlebih dahulu yaitu mendefiniskan apa itu dalil, berikut kriteria dan macam-macam dalil itu.

Kembali kepada judul tulisan, jika ingin tahu dalil sampai dan bolehnya bacaan al-Quran kepada orang yang telah wafat, silahkan digali dari ulama diatas.

Jika menganggap bahwa perbuatan menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an itu bid’ah, itu sama artinya menganggap Imam Ahmad bin Hanbal beserta ulama hanbali lainnya menganjurkan kebid’ahan.

Jika menganggap ulama salaf tak pernah menghadiahkan pahala bacaan al-Quran, sepertinya harus sekali-kali piknik ke kitabnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Jika menanggap bahwa berkumpul untuk bersama-sama membaca al-Qur’an, lalu pahalanya dikirimkan kepada mayyit hanya budaya Nusantara yang diwarisi dari Agama Hindu, sepertinya harus piknik ke kitabnya Ibnu Quddamah

Yuk kita piknik ke luasnya samudra ilmu para ulama! Dari situ kita ittiba’ Rasulullah
shallaAllahu alaihi wa sallam.