Tuesday, 17 September 2024

kafir masuk mesjid

Deskripsi mas'alah:

Kafir masuk mesjid


Murut ulama Kalangan Syafi’iyah


قال النووي في المجموع، قال أصحابنا لا يكن كَافِرٌ مِنْ دُخُولِ حَرَمِ مَكَّةَ، وَأَمَّا غَيْرُهُ فيجوز أن يدخل كل مسجد ويبيت فيه بِإِذْنِ الْمُسْلِمِينَ وَيُمْنَعُ مِنْهُ بِغَيْرِ إذْنٍ،


Imam Nawawi berpendapat dalam al-Majmu’, para golongan kami mengatakan bahwa tidak mungkin orang kafir masuk ke dalam Masjidil haram Makkah, adapun masjid selain Masjidil haram diperbolehkan masuk asal mendapatkan izin dari orang muslim.

Kalangan Hanafiyah

وقالت الحنفية ومجاهد يجوز دخول الكتابى دون غيره لِحَدِيثِ جَابِرٍ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (لايدخل مسجدنا هذا بعد عامنا هذا مشرك إلا أهل العهد وخدمهم، أخرجه أحمد بسند جيد، وهذا هو الظاهر

Ulama Hanafiyah dan mujahid memperbolehkan ahli kitab dan melarang selainnya untuk masuk kedalam semua masjid berdasarkan hadis dari Jabir bahwa nabi Muhammad SAW bersabda , “Tidak boleh memasuki masjid kita setelah tahun ini orang musyrik, kecuali orang yang mengikat perjanjian dan pelayan mereka.” Diriwayatkan imam Ahmad dengan sanad jayyid, dan ini qoul dhohir.


Kalangan Malikiyah

وقالت المالكية (لا يجوز للكافر دخول مسجد الحل والحرم إلا لحاجة) قال العلامة الصاوى يمنع دخول الكافر المسجد وإن أذن له مسلم إلا لضرورة عمل، ومنها قلة أجرته عن المسلم على الظاهر.

Ulama malikiyah berpendapat bahwa orang kafir tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid al-Halli (masjid selain Masjidil haram) dan Masjidil Haram kecuali tanpa adanya keperluan. Telah berkata al-Allamah as-Showi mengenai dilarangnya orang kafir masuk masjid walaupun diizini oleh orang muslim kecuali ada kedaruratan misalnya murahnya bayaran mereka daripada orang muslim ketika dipekerjakan menurut pendapat dzahir.


Kalangan Hanabilah

وقالت الحنبلية (لا يجوز لكافر دخول الحرم مطلقا ولا مسجد الحل إلا لحاجة)

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa orang kafir tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram dan masjid lain secara mutlak kecuali adanya keperluan.


Semoga bisa membuka cakrawala keilmuan kita

tingkatan sabar

Deskripsi 

Berapa tingkatan sabar

Jawaban

Sabar dan Derajatnya

الصَّبْرُ ثَلَاثٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثَمِائَةِ دَرَجَةٍ بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ، وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ مَرَّتَيْنِ

Sabar ada tiga tingkatan.
Sabar atas musibah sabar dalam menjalani ketaatan dan sabar dari laku kemaksiatan.
Siapa saja yang sabar menghadapi musibah,sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin,Allah akan mengangkat 300 derajatnya.
Di mana satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi.
Dan yang bersabar dalam menjalani ketaatan Allah mengangkat 600 derajatnya. 
Di mana satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy.
Sedangkan bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan Allah mengangkat 900 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy.

10 jenis sihir


10 jenis sihir anu diharamkeun 

- *Sihir Simiya* 

Anu dimaksud sihir simia nyaeta howarik anu sok dipake ku ngangge media taneuh,minyak,batu dll contoh taneuh kuburan anu sok dipake pikeun ngahancurkeun usaha Batur atau minyak anu sok dipake ngalieurkeun lawan jenis anu intina jin perewangan teh di tunda Dina media2 anu Aya di alam

- *Sihir Himiya* nyaeta khowarik anu cendrung kana nujum sbb anu diangge mediana perbintangan atau tingkah2 sato saperti sio lamun urang cinamh.
tahun anu berjalan Tina perbintangan dijuluki tahun kerbau maka kuduna lamun Hoyong hoki kudu ini itu dst

- *Sihir Hindi* nyaeta khowarik anu terjadi Tina amalan mantra (bisa dimengerti Hartinanmh cuma keur nyilakakeun Batur) anu tea eta mantra di baca tapi bari nincak tomat anu dibayangkeuna jantung seseorang supaya seseorang eta keuna serangan jantung,Atawa pake media boneka  

- *Sihir Yamani* ampir mirip saperti sihir hindi pake manntra cuma kerjana etamh supaya anu dituju t dipikaresep ku batur atau wajah seseorang dikala katingali ku Batur pikasieuneun eta biasana dipake keur ngajomblokeun Batur atau misahkeun hiji pasangan supaya t dipikaresep ku pasangana anu ahirna paburisat rumah tanggana 

- *Sihir Tilasmat* nyaeta khowarik anu ngangge media jimat atau razah cuma rajah eta t bisa kahartian ku bahasa naon wae oge 

- *Sihir Roqi* nyaeta khowarik anu datang Tina lapalan mantra anu eta mantra t bisa kaharti ku bahasa naon wae Oge ( boh t bisa dimengerti sawareh atau beberapa teks wungkul) lamun diurang Sunda disebut jangjawokan 

- *Sihir 'Azimat* nyaeta tulisan atau lapad anu di cokot tina nami2 malaikat Atawa wali2 lamun tea dipanggil bisa ngajangelek anu bersangkutana،conto2na Dina kitab Al ajnas,pabalatak boh manggil malaikat boh manggil seh Kandias bahkan manggil malaikat anu bersemayam Dina surat Al ikas tur bisa diperintah sakahayang

- *Sihir Istikhdamah* nyaeta manggil jin atau manggil Sato gaib conto pamacan Jeung sajenisna anu eta jin bisa ngaraksuk ka hiji jalmi ( boh secara permanen asupna disebut di isi khodam atau t permanen Mun baheulamh pabalatak Dina tayangan televisi Dina acara dua dunia)maka cara pemanggilana biasana ku sasajen & asap dupa atau menyan.

- *Sihir Wifiq* nyaeta mediana berupa tulisan atau angka2 arab bari mentana Kana eta wafak atau meyakini eta wafak boga tapak gawe tapi menurut imam Ghozali lamun tea paham Kana makna anu terkandung Dina eta angka arab bari kayakinan ttp Allah SWT anu gaduh tapak gawe maka hukumna halal 

- *Khowasil Makhluq* sesuatu khowarik anu t Aya persambungan Dina ranah adat yg tidak ada persambungan adat (irtibat dn ittishol) 
Conto sepeti kai kaboa bisa Mangil macan atau mani gajah bisa jadi kuat bertubuh atau galih kelor bisa meningkatkan stamina atau kelor bisa muragkeun susuk atau palapah taleus hideung bisa ngalemahkeun anu kebal.

Sunday, 1 September 2024

hijrah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

(QS. At-Taubah: 20)


Hijrah yakni berasal dari bahasa Arab yang artinya meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat.

Ada dua macam hijrah yaitu ‘Hijrah Makaniyah” dan “Hijrah Maknawiyah’ sebagai umat muslim patutlah kita harus meneladaninya

Pertama adalah Hijrah Makaniyah. Hijrah Makaniyah merupkan hijrah yang meninggalkan suatu tempat. Pada saat di masa kenabian, peristiwa Hijrah Makaniyah terjadi sebanyak tiga kali

- habasya atau etopia

- Thoif

- Madinah Atau yasrib


Kedua Hijrah Maknawiyah’ adalah meninggalkan semua apa yang dilarang oleh Allah SWT.  

Maka dari hijrah maknawiyyah terbagi :

1.Fikriyah berasal dari kata fiqrun yang artinya adalah pemikiran. Seiring dengan  berkembangnya zaman, majunya dunia teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia semakin luwes dan beresiko lebih bebas. Berbagai macam informasi dan pemikiran dari belahan bumi dapat diperoleh dari dunia maya dengan mudah dan cepat. Oleh karena itu hijrah fikriyah harus dilakukan dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menimbulkan mudharat.


2.Hijrah I’tiqadiyah adalah hijrah yang diiringi dengan keyakinan. Akar iman mengalami proses naik dan turun, kuat dan lemah, malas dan semangat. Namun terkadang Iman bercampur dengan kemusyrikan dan terkadang Iman berada dalam kemurnian menuju kebaikan. Maka alangkah baiknya bahwa hijrah keyakinan dapat dilakukan jika kenyakinan berada di tepi jurang kekufuran senantiasa untuk menguatkan fondasi Iman.


3.hijrah sulukiyyah yakni berarti tingkah laku atau kepribadian dapat disebut juga sebagai akhlaq. Akhlak manusia mengalami perubahan berdasarkan perubahan nilai yang ada di masyarakat dari faktor lingkungan atau budaya. Adanya berbagai perubahan nilai dapat menggeser akhlaqul karimah ke arah akhlaqul sayyi’ah. Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak moral, asusila, dan kekerasan di masyarakat.


4.hijrah Syu’uriyah yakni memiliki cita rasa yaitu kesenangan dan kesukaan.Pada diri manusia yakni sering terpengaruhi oleh kesenangan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan melenceng. Mereka lupa akan kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah dan Rasulnya sehingga mendekatkan larangan Allah SWT.  Sebabnya Hijrah Syu’uriyyah harus dilakukan saat  hati manusia cenderung kepada kesenangan yang tidak sesuai Islam untuk lekas melakukan hal kebaikan.


Setelah mengetahui macam Hijrah, saatnya sebagai umat muslim menjadi tonggak keberhasilan untuk negeri yang lebih baik.

Dengan menghadapi berbagai perubahan, kuatkanlah akar fondasi iman dan takwa dengan terus mengisi dengan kebaikan tanpa kenal lelah. 

Bahwasannya Allah SWT sungguh mencintai hamba-hambaNya yang berhijrah dan berdakwah berjuang di jalan-Nya untuk menegakan kebenaran dan memancarkan keberkahan.

Tuesday, 27 August 2024

Rebo wekasan

Sejauh mana legitimasi Amalaiyah Rebo Wekasan seperti dalam keterangan kitab Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir, berikut kajiannya:

1. Didasarkan pada ilham dari sebagian orang-orang yang ahli makrifat tersebut, atau dalam kata lain sebagian waliyullah (kekasih Allah), sebagaimana Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah yg mengharuskan kita mengakui adanya berbagai macam ilmu pengetahuan dan mukasyafah yang diberikan oleh Allah kepada para wali

العقيدة الوسيطية
ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات

2. Bahwa Ilham yang dikemukakan dalam Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir di atas, tidak dengan hukum islam (wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram). Namun Ilham di atas hanya informasi perkara ghaib yang biasa terjadi kepada para wali Allah, tentang turunnya malapetaka pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. 

كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور للشيخ عبد الحميد بن محمد قدس المكي الشافعي ص٢٥

ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُمِائَةِ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ، وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ؛ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ؛ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي
فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ سُوْرَةَ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ خَمْسَ مَرَّاتٍ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّةً مَرَّةً، وَيَدْعُوْ بَعْدَ السَّلَامِ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلَايَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَلَمْ تَحُمْ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا إِلَى تَمَامِ السَّنَةِ والدعاء المعظم هو :
بسم الله الرحمن الرحيم وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم 
اَللّـٰـهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوٰى، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيْزُ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، اِكْفِـنِيْ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ، يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضِّلُ، يَا مُنْعِمُ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لآَ إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّـٰـهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِـيْهِ وَأُمِّـهِ وَبَنِيْـهِ اِكْفِـنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ، يَا كَافِيْ (فَسَـيَكْفِيْـكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم
وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

3. Dalam ilmu tasawuf, ilham maupun mukasyafah seorang wali tidak boleh dipercaya dan diamalkan, sebelum dikomparasikan dengan dalil-dalil al-Quran dan sunnah. Apabila sesuai dengan al-Quran dan sunnah, maka dipastikan benar. Akan tetapi apabila bertentangan dengan al-Quran dan sunnah, maka itu jelas salah dan harus ditinggalkan jauh-jauh. 

الموسوعة الفقهية الكويتية ٢٢/‏٧ — مجموعة من المؤلفين
والفَرْقُ بَيْنَ الرُّؤْيا والإْلْهامِ أنَّ الإْلْهامَ يَكُونُ فِي اليَقَظَةِ، بِخِلاَفِ الرُّؤْيا فَإنَّها لاَ تَكُونُ إلاَّ فِي النَّوْمِ
الحُكْمُ الإْجْمالِيُّ ومَواطِنُ البَحْثِ:
٤ - يَتَّفِقُ الأْصُولِيُّونَ عَلى أنَّ الإْلْهامَ مِنَ اللَّهِ تَعالى لأِنْبِيائِهِ حَقٌّ، وهُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلنَّبِيِّ ﷺ حُجَّةٌ فِي حَقِّهِ، كَذَلِكَ هُوَ فِي حَقِّ أُمَّتِهِ، ويَكْفُرُ مُنْكِرُ حَقِيقَتِهِ، ويَفْسُقُ تارِكُ العَمَل بِهِ كالقُرْآنِ. 
أمّا إلْهامُ غَيْرِ الأْنْبِياءِ مِنَ المُسْلِمِينَ، فَإنَّهُ لَيْسَ بِحُجَّةٍ، لأِنَّ مَن لَيْسَ مَعْصُومًا لاَ ثِقَةَ بِخَواطِرِهِ لأِنَّهُ لاَ يَأْمَنُ مِن دَسِيسَةِ الشَّيْطانِ فِيها، وهُوَ قَوْل جُمْهُورِ أهْل العِلْمِ، وهُوَ المُخْتارُ عِنْدَ الحَنَفِيَّةِ، ولاَ عِبْرَةَ بِما قالَهُ قَوْمٌ مِنَ الصُّوفِيَّةِ بِأنَّهُ حُجَّةٌ فِي الأْحْكامِ.
وقِيل: هُوَ حُجَّةٌ عَلى المُلْهَمِ لاَ عَلى غَيْرِهِ، إذا لَمْ يَكُنْ لَهُ مُعارِضٌ مِن نَصٍّ أوِ اجْتِهادٍ أوْ خاطِرٍ آخَرَ، وهَذا ذَكَرَهُ غَيْرُ واحِدٍ، فَيَجِبُ العَمَل بِهِ فِي حَقِّ المُلْهَمِ، ولاَ يَجُوزُ أنْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ إلَيْهِ.
واعْتَمَدَهُ الإْمامُ الرّازِيُّ فِي أدِلَّةِ القِبْلَةِ، وابْنُ الصَّبّاغِ مِنَ الشّافِعِيَّةِ. (٣)
وهَل هُوَ فِي حَقِّ الأْنْبِياءِ مِنَ الوَحْيِ الظّاهِرِ أمِ الوَحْيِ الباطِنِ؟ خِلاَفٌ بَيْنَ الأْصُولِيِّينَ.

4. Kaitannya dengan ilham atau mukasyafah Rebo Wekasan yang diterangkan dalam Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir di atas, tentu ada dasar yang menguatkannya.

- Firman Allah swt :
-Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada HARI NAHAS YANG TERUS MENERUS.” (Q.S al-Qamar (54:19)

-Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil berkata :
Dikatakan: hari nahas tersebut adalah hari Rabu akhir bulan.

تفسير البغوي - طيبة ٧/‏٤٣٠ — البغوي، أبو محمد (ت ٥١٦)
القمر←١٨
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ (١٩)
﴿فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ﴾ شَدِيدٍ دَائِمِ الشُّؤْمِ، اسْتَمَرَّ عَلَيْهِمْ بِنَحْوِ سَنَةٍ فَلَمْ يُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا إِلَّا أَهْلَكَهُ. قِيلَ: كَانَ ذَلِكَ يَوْمُ الْأَرْبِعَاءِ فِي آخِرِ الشَّهْرِ.

- Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي. (الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي، الجامع الصغير في أحاديث البشير النذير، ١/٤، والحافظ أحمد بن الصديق الغماري، المداوي لعلل الجامع الصغير وشرحي المناوي، ١/۲٣).

"Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya na'as yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi dari Ibnu Abbas

- Hadits di atas kedudukannya dhaif (lemah) selama tidak maudhu'. Tetapi meskipun hadits tersebut lemah, posisinya tidak dalam menjelaskan suatu hukum, tetapi berkaitan dengan bab targhib dan tarhib (anjuran dan peringatan), yang disepakati otoritasnya di kalangan ahli hadits sejak generasi salaf.

الاذكار ٨
قال العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم : يجوز ويستحب العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن ‏موضوعا ‏‎
- Selain itu juga disebut oleh Imam Suyuthi di kitab Jami' shoghir mengenai hadits anjuran bekam yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Hakim, Ibnu Sunni dan Abu Nua'im dari sahabat Ibnu Umar, bahwa Rasulullah pernah bersabda :

ﻭاﺟﺘﻨﺒﻮا اﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻳﻮﻡ اﻷﺭﺑﻌﺎء، ﻓﺈﻧﻪ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺬﻱ اﺑﺘﻠﻲ ﻓﻴﻪ ﺃﻳﻮﺏ، ﻭﻣﺎ ﻳﺒﺪﻭ ﺟﺬاﻡ ﻭﻻ ﺑﺮﺹ ﺇﻻ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﺃﻭ ﻟﻴﻠﺔ اﻷﺭﺑﻌﺎء

"Jauhilah bekam di hari Rabu, karena hari itu adalah hari dimana Nabi Ayyub mendapatkan cobaan. Dan tidaklah seorang terjangkit penyakit lepra dan baros (belang) kecuali di hari Rabu atau malam Rabu".

5. Dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa memang pada hari Rabu itu terdapat riwayat-riwayat hadits yang menunjukkan terhadap kena'asan atau kesialan. Tetapi kita tidak diperbolehkan untuk meyakini terhadap kesialan itu dalam arti bahwa semuanya adalah Allah yang menaqdirkan dan tidak ada yang mampu memberikan kemanfaatan maupun kemadharatan kecuali hanya Allah semata. Hanya saja untuk langkah kehati-hatian ini kita disunnahkan untuk memperbanyak bertaqarrub kepada Allah, dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.

 "Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang. (HR al-Bukhari dan Muslim).
 
أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَسْتَشْئِمُوْنَ بِصَفَر وَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ شَهْرٌ مَشْئُوْمٌ، فَأَبْطَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ، وَهَذَا حَكَاهُ أَبُوْ دَاوُودَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُوْلِيِّ عَمَّنْ سَمِعَهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ، وَلَعَلَّ هَذَا الْقَوْلَ أَشْبَهُ اْلأَقْوَالِ، وَ كَثِيْرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَر، وَ رُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ فِيْهِ، وَ التَّشَاؤُمُ بِصَفَر هُوَ مِنْ جِنْسِ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا. (الإمام الحافظ الحجة زين الدين ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص/١٤٨).

 "Maksud hadits di atas, orang-orang jahiliyah meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar. Mereka berkata, Shafar adalah bulan sial. Maka Nabi SAW membatalkan hal tersebut. Pendapat ini diceritakan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya berpendapat demikian. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini adanya pertanda buruk) yang dilarang.

6. Syekh Abdurrauf al Munawi dalam kitab Faidhul Qadir juz 1 hal 45 menjelaskan secara detail : 

ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻛﻮﻥ ﺫﻛﺮ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﻧﺤﺲ ﻋﻠﻰ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﺘﺨﻮﻳﻒ ﻭاﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﺃﻱ اﺣﺬﺭﻭا ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻌﺬاﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻬﻼﻙ ﻭﺟﺪﺩﻭا ﻟﻠﻪ ﺗﻮﺑﺔ ﺧﻮﻓﺎ ﺃﻥ ﻳﻠﺤﻘﻜﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺆﺱ ﻛﻤﺎ ﻭﻗﻊ ﻟﻤﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﺭﺃﻯ ﻣﺨﻴﻠﺔ ﻓﺰﻉ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﺇﺫا ﻧﺰﻝ اﻟﻤﻄﺮ ﺳﺮﻱ ﻋﻨﻪ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﻳﺆﻣﻨﻨﻲ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﻋﺬاﺏ ﻛﻤﺎ ﻭﻗﻊ ﻟﺒﻌﺾ اﻷﻣﻢ اﻟﺴﺎﺑﻘﺔ 

"Diperbolehkan menyebutkan hari Rabu sebagai hari na'as dalam arti untuk memberikan peringatan, maksudnya seperti ucapan seseorang "Takutlah terhadap hari itu karena terdapat adzab yang turun dan kerusakan, perbaharuilah taubat kalian kepada Allah karena ditakutkan akan terjadi mara bahaya sebagaimana yang terjadi terhadap kaum sebelum kalian". Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam apabila beliau melihat sesuatu yang dianggap tahayul beliau bergegas untuk melakukan sholat sehingga apabila turun hujan maka beliau bergembira dan beliau berkata : "Aku tidak merasa aman dari turunya adzab sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu".

7. Untuk itu ketika kita menghadapi adanya kabar atau perkara-perkara yang kita khawatirkan hendaknya kita kembali kepada Allah, sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Rajab Al Hanbali ketika menjelaskan mengenai bulan Shofar yang dianggap sial, dalam kitabnya Lathoiful Ma'arif hal 72 :

ﻭﻫﺬا ﻛﻠﻪ ﻣﻤﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻷﺳﺒﺎﺏ اﻟﻤﻜﺮﻭﻫﺔ ﺇﺫا ﻭﺟﺪﺕ ﻓﺈﻥ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ اﻹﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﻤﺎ يرجى ﺑﻪ ﺩﻓﻊ اﻟﻌﺬاﺏ اﻟﻤﺨﻮﻑ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ اﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ﻭاﻟﺪﻋﺎء ﻭﺗﺤﻘﻴﻖ اﻟﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻭاﻟﺜﻘﺔ ﺑﻪ ﻓﺈﻥ ﻫﺬﻩ اﻷﺳﺒﺎﺏ ﻛﻠﻬﺎ ﻣﻘﺘﻀﻴﺎﺕ ﻻ ﻣﻮﺟﺒﺎﺕ ﻭﻟﻬﺎ ﻣﻮاﻧﻊ ﺗﻤﻨﻌﻬﺎ ﻓﺄﻋﻤﺎﻝ اﻟﺒﺮ ﻭاﻟﺘﻘﻮﻯ ﻭاﻟﺪﻋﺎء ﻭاﻟﺘﻮﻛﻞ ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺪﻓﻊ ﺑﻪ.

"Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya apabila sebab-sebab yang dibenci muncul, maka hal yang disyariatkan adalah menyibukkan diri dengan amaliah yang bisa menjadi tolak balak, yaitu amal-amal ketaatan, do'a dan perkara-perkara yang menguatkan tawakal dan keyakinan kepada Allah. Karena sesungguhnya sebab-sebab ini adalah perkara yang menyebabkan bukan perkara yang menjadikan kepastian terjadinya bala'. Hal-hal yang menyebabkan musibah itu pasti mempunyai perkara yang mencegahnya, dan amal-amal kebaikan, taqwa, do'a dan tawakal adalah termasuk hal yang paling agung (bermanfaat) untuk menolaknya"

8. Kaifiyah sholat. Tatacara sholat yang disebutkan di atas bukanlah menjadi sebuah keharusan yang harus dilakukan, dimana kalau tidak dilakukan sesuai kaifiyah tersebut maka tidak sah. Sholat diatas adalah merupakan sholat sunah biasa yang sering dilakukan oleh seorang muslim dalam keseharian nya. Maka apabila seorang muslim melakukan sholat ini, tidak lain hanyalah untuk merealisasikan hadits fi'li sebagaimana disebutkan di kitab Faidhul Qadir juz 1 hal 45 dimana setiap kali menemui sesuatu yang dianggap tahayul beliau Rasulullah bergegas untuk melakukan sholat. Dengan berapa raka'at dan dengan bacaan surat apapun, maka diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan seseorang memperbanyak sholat tanpa dibatasi jumlah raka'at maupun bacaan surat tertentu. Sholat yang seperti ini dinamakan sholat muthlaq, dimana tujuannya adalah menyibukkan diri dengan sholat. 

9. Maka apabila seorang melaksanakan sholat di Rabu wekasan ini, hendaknya diniatkanlah untuk sholat muthlaq atau sholat hajat dengan hajat yang diminta agar dijauhkan dari mara bahaya. Mengenai sholat muthlaq dan kesunahan memperbanyak melakukan ibadah, Syeh Nawawi al Bantani telah memperinci hukumnya di kitab Nihayatuz Zain hal 55 :

ﺃﻣﺎ اﻟﻨﻔﻞ اﻟﺬﻱ ﻳﺤﺼﻞ اﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﻣﻨﻪ ﺑﻜﻞ ﺻﻼﺓ ﻓﻜﺎﻟﻨﻔﻞ اﻟﻤﻄﻠﻖ ﻭﺫﻟﻚ ﻛﺗﺤﻴﺔ اﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺭﻛﻌﺘﻲ اﻟﻮﺿﻮء ﻭاﻹﺣﺮاﻡ ﻭاﻻﺳﺘﺨﺎﺭﺓ ﻭاﻟﻄﻮاﻑ ﻭﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﻭﺳﻨﺔ اﻟﺰﻭاﻝ ﻭﺻﻼﺓ اﻟﻐﻔﻠﺔ ﺑﻴﻦ اﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭاﻟﻌﺸﺎء ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﻭﺇﺫا ﺃﺭاﺩ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﻟﻠﺴﻔﺮ ﻭﺻﻼﺓ اﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺇﺫا ﻧﺰﻝ ﻣﻨﺰﻻ ﻭﺃﺭاﺩ ﻣﻔﺎﺭﻗﺘﻪ ﻭﺻﻼﺓ اﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﺭﻛﻌﺘﻲ اﻟﻘﺘﻞ ﻭﻋﻨﺪ اﻟﺰﻓﺎﻑ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻗﺼﺪ ﺑﻪ ﻣﺠﺮﺩ اﻟﺸﻐﻞ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ

"Adapun sholat sunah yang bisa hasil maksud (terlaksana dengan sah) dengan semua sholat adalah seperti sholat muthlaq, sholat tahiyatul masjid, sholat dua raka'at wudhu, sholat ihram, sholat istikharah, sholat thawaf, sholat hajat, sholat zawal, sholat ghoflah yang dilakukan antara Maghrib dan Isya', sholat di dalam rumah, sholatnya musafir yang menghendaki berpergian, sholatnya musafir ketika istirahat dari perjalanan atau ketika berangkat lagi, sholat taubat, sholat dua raka'at perang, sholat pengantin baru, dan sholat-sholat selain diatas yang ditujukan hanya untuk menyibukkan diri dengan sholat".

10. Adapun kaifiyah dengan bilangan 4 raka'at sebagaimana disebutkan diawal, itu bukanlah sebuah keharusan. Dimana jika ingin dua raka'at atau bahkan 10 raka'at pun boleh, karena niatnya adalah niat sholat muthlaq yang ditujukan untuk menyibukkan diri dengan sholat. Sebagian ahli kasyf menyebutkan bilangan 4 raka'at itu, ada kemungkinan karena 4 raka'at adalah sholat yang dianggap proporsional. Kalau 2 raka'at terlalu sedikit dan seandainya diatas 4 raka'at maka bagi orang awam akan merasa keberatan. Maka diambilah 4 raka'at tersebut, yang pada intinya 4 raka'at itu bukan sebuah keharusan.

11. Dalam kaifiyah diatas disebutkan setiap raka'at membaca surat al Kautsar 17 kali, al Falaq 5 kali, al Falaq dan an Nas masing-masing satu kali. Bacaan surat-surat tertentu dengan bilangan seperti diatas, bukanlah menjadi sebuah kewajiban melainkan hanya mengikuti anjuran para Auliya'. Karena kita mengetahui bahwa memperbanyak sholat adalah hal yang baik, memperbanyak membaca al Qur'an juga hal yang baik. Maka apabila ada seorang wali Allah yang menganjurkan untuk sholat dan membaca Al Qur'an, tentu itu pasti baik untuk diri kita dan bukanlah bid'ah. 

12. Terdapat kisah di kitab al Bukhari di bab "Babul Jam'i Bainas Suratain fir Rok'ah" bahwasanya ada seorang sahabat Anshor yang menjadi imam di masjid Quba', tetapi setiap kali beliau akan memulai membaca surat beliau pasti membaca surat al Ikhlas dulu. Hal itu ia ulangi dalam setiap raka'at. Para sahabat protes kepadanya dan mengkritik keputusannya tersebut, singkat cerita sahabat ini dibawa ke hadapan Rasulullah dan beliau menanyakan kepadanya : 

"ﻳﺎ ﻓﻼﻥ، ﻣﺎ ﻳﻤﻨﻌﻚ ﺃﻥ ﺗﻔﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﺄﻣﺮﻙ ﺑﻪ ﺃﺻﺤﺎﺑﻚ، ﻭﻣﺎ ﻳﺤﻤﻠﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺰﻭﻡ ﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ" ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻲ ﺃﺣﺒﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: "ﺣﺒﻚ ﺇﻳﺎﻫﺎ ﺃﺩﺧﻠﻚ اﻟﺠﻨﺔ"

"Wahai Fulan apa yang mencegahmu untuk melakukan apa yang para sahabatmu perintahkan dan apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surat ini dalam setiap raka'at?", 
Maka dia menjawab : "Saya mencintainya..!"
Beliau bersabda : "Cintamu terhadapnya akan mengantarkanmu ke surga".

- Jadi pengulangan surat-surat diatas bukanlah menjadi masalah. Terbukti ketika ada sahabat yang mengulang-ulang surat al Ikhlas tidak ditegur oleh Rasulullah bahkan mendapatkan apresiasi dengan jaminan surga. Jika alasan sahabat tersebut mengulang-ulang surat al Ikhlas hanya karena alasan cinta dan diapresiasi oleh Rasulullah dengan jaminan surga. Maka bagaimana pendapat anda jika seorang itu tidak cuma mencintai al Ikhlas tetapi al Kautsar, al Falaq dan an Nas, bahkan seorang itu mengamalkannya karena cintanya terhadap para Auliya' para kekasihnya Allah. Pastilah lebih dekat dengan surga.

13. Di masyarakat kita sholat sunah pada hari Rabu wekasan itu dilakukan dengan berjamaah, hal itu tidak bertentangan dengan fiqh, walaupun dalam konteks ini Syeh Abdul Hamid Quds menyebutkan dalam kitab kanzun najah hal 91 : 

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى‎
 
“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu ini, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya.” 

14. Pernyataan beliau secara dhohir menganjurkan untuk melakukan sholat secara sendirian. Hal itu bukan berarti bahwa apabila dilakukan secara berjama'ah hukumnya menjadi dimakruhkan, karena tidak ditemukan dalam madzhab Syafi'i sholat sunah yang dimakruhkan dilakukan dengan berjama'ah. Al Habib Abdurrahman bin Muhammad al Masyhur dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 137 menuturkan : 

(مسألة : ب ك) : تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِي نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلاَ ثَوَابَ، نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنَ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ

“Diperbolehkan shalat berjamaah di dalam sholat seperti witir dan Tasbih, tidak makruh dan tidak dapat pahala, kecuali jika bertujuan mengajarkan orang yang shalat dan memberi dorongan kepada mereka untuk melakukannya, maka mendapatkan pahala karena niat yang baik".

- Juga diperjelas oleh al Habib Ahmad bin Umar as Syathiri dalam Hasyiyah Bughyatul Mustarsyidin:

قوله (فلا كراهة) إذ لا يوجد فى مذهب الشافعي نفل تكره الجماعة فيه كما هو 
مقرر ومصرح به. أهـ أصل (ك)

"Karena tidak ditemukan dalam madzhab Syafi'i sholat sunah yang dimakruhkan dilakukan dengan berjama'ah sebagaimana yang hal telah ditetapkan dan ditegaskan"

15. Do'a. Sebagai seorang hamba yang senantiasa taat kepada Tuhannya kita tidak akan pernah bisa terlepas dari kepasrahan dan tawakal kepada Allah. Sebagai realisasi kepasrahan dan tawakal adalah dengan do'a, karena dengan do'a sifat kehambaan kita akan muncul sebagai makhluk yang tidak mempunyai daya dan upaya. Kemudian sifat ketuhanan Allah akan benar-benar dirasakan, karena seorang hamba saat berdo'a merasa dirinya tak mempunyai kekuatan apapun, sehingga memasrahkan semua perkaranya secara totalitas kepada Allah ta'ala yang mempunyai kekuasaan muthlaq. Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik : 

اﻟﺪﻋﺎء ﻣﺦ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

"Do'a adalah intinya ibadah". HR. Tirmidzi

16. Jadi sebagai seorang muslim dalam keadaan apapun pastinya senantiasa menengadahkan kedua tangan berdo'a dan berdo'a, terlebih ketika menemui perkara yang ditakutkan.

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺠﻴﺐ اﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻋﻨﺪ اﻟﺸﺪاﺋﺪ ﻓﻠﻴﻜﺜﺮ ﻣﻦ اﻟﺪﻋﺎء ﻓﻲ اﻟﺮﺧﺎء

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : "Barang siapa yang senang Allah ijabahkan do'anya dalam keadaan kepayahan, maka perbanyaklah do'a dalam keadaan lapang". HR. Tirmidzi dan Hakim

كَنْزِ النَّجَاحِ وَالسُّرُوْرِ
فَاعْمَلْ يـَا أَخِيْ بِـكُلِّ مَا فِيْ هَذَا الْكِتَابِ [كَنْزِ النَّجَاحِ وَالسُّرُوْرِ، مِنَ الْأَدْعِيَةِ الَّتِيْ تَشْرَحُ الصُّدُوْرَ] فَإِنَّهَا كَثِيْرَةُ   الْفَوَائِدِ وَاعْمَلْ بِهَذَا الْمَطْلَبِ، وإِنَّمَا الَّذِيْ يَضُرُّكَ لَوْ اِعْتَقَدْتَ مَعَ الْعَمَلِ بِهَا ثُبُوْتَ وُرُوْدِهَا عَنِ النَّبِيِّ الْأَفْخَمِ، لِئَلَّا تَنْسِبَ إلَيْهِ مَا لَمْ يَقُلْهُ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَدْخُلَ فِي الْحَدِيْثِ الْوَارِدِ عَنِ نَبِيِّنَا الْمُخْتَارِ؛ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ فَاعْمَلْ بِهَا حِيْنَئِذٍ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ، غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى مَا سِوَاهُ، لَا عَلَى أَنَّهَا مَرْوِيَّةٌ يَقِيْنًا عَنِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَزْكَى التَّسْلِيْمِ، اِقْتِدَاءً بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ الَّذِيْنَ كَانُواْ يَفْعَلُوْنَهَا، وَيَحُضُّوْنَ عَلَيْهَا، تَبَرُّكًا بِعَمَلِهِمْ النَّاجِحِ، وَتَأَسِّيًا بِالسَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ، وَامْتِثَالًا لِقَوْلِ مَنْ أَوْصَى بِهَا، وَتَيَمُّنًا بِأَفْعَالِهِمْ اَلْمَرْضِيَّةِ، نَفَعَنَا اللهُ تَعَالَى بِهِمْ أَجْمَعِيْنَ، وَوَفَّقَنَا وَإِيَّاكَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ آمِيْنَ

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

 تحفة المحتاج فى شرح المنهاج ج ٢ ص ٢٣٨
لَا تَجُوزُ وَلَا تَصِحُّ هَذِهِ الصَّلَوَاتُ بِتِلْكَ النِّيَّاتِ الَّتِي اسْتَحْسَنَهَا الصُّوفِيَّةُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرِدَ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ نَعَمْ إنْ نَوَى مُطْلَقَ الصَّلَاةِ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا بِمَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اسْتِعَاذَةٍ أَوْ اسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ

 تحفة الحبيب ٢/٦٩
والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

 كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور للشيخ عبد الحميد بن محمد علي قدس المكي الشافعي ص٢٣

قال العلامة الشيخ زين الدين تلميذ ابن حجر المكي في كتابه إرشاد العباد كغيره من علماء المذهب : ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه.
قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . وبالله التوفيق

 كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور للشيخ عبد الحميد بن محمد قدس المكي الشافعي ص٢٥

ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُمِائَةِ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ، وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ؛ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ؛ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي
فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ سُوْرَةَ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ خَمْسَ مَرَّاتٍ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّةً مَرَّةً، وَيَدْعُوْ بَعْدَ السَّلَامِ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلَايَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَلَمْ تَحُمْ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا إِلَى تَمَامِ السَّنَةِ والدعاء المعظم هو :
بسم الله الرحمن الرحيم وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم 
اَللّـٰـهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوٰى، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيْزُ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، اِكْفِـنِيْ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ، يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضِّلُ، يَا مُنْعِمُ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لآَ إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّـٰـهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِـيْهِ وَأُمِّـهِ وَبَنِيْـهِ اِكْفِـنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ، يَا كَافِيْ (فَسَـيَكْفِيْـكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم
وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

كنز النجاح و السرور ص ١٨
تنبيه ) قال العلامة الشيخ زين الدين تلميذ ابن حجر الملكي في كتابه ارشاد العباد كغيره من علماء المذهب : ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب – الى ان قال – أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا يغتر عن ذكرها اه .

قلت ومثله صلاة الصفر , فمن أراد الصلاة في وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له

📚 نهاية الزين ١/١٠٥
ﻭﻣﻨﻪ ﺻﻼﺓ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﻓﻤﻦ ﺿﺎﻕ ﻋﻠﻴﻪ اﻷﻣﺮ ﻭﻣﺴﺘﻪ ﺣﺎﺟﺔ ﻓﻲ ﺻﻼﺡ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺩﻧﻴﺎﻩ ﻭﺗﻌﺴﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻼﺓ اﻵﺗﻴﺔ

 حاشية البجيرمي على الخطيب - ٤/٧ 
قال في المجموع : ومن البدع المذمومة صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة من رجب ، وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة ولا يغتر بمن يفعل ذلك . 
قوله : ( ومن البدع المذمومة ) أي بأن قصد خصوص المعنى المذكور في ذلك الوقت ، وإلا فهي من أفراد الصلوات المطلوبة مطلقا ق ل . وهي تنعقد إذا لا مانع من انعقادها ؛ لأنها من النفل المطلق . 

 تفسير حقي تفسير القرأن للشيخ إسماعيل البروسوي  17/360  ط/الدار السفسة الهند  
قال الامام أبو الليث رضي الله عنه اقل صلاة ليلة القدر ركعتان واكثرها ألف ركعة واوسطها مائة ركعة واوسط القرآءة فى كل ركعة أن يقرأ بعد الفاتحة انا انزلناه مرة وقل هو الله احد ثلاث مرات ويسلم على كل ركعتين ويصلى على النبى عليه السلم بعد التسليم ويقوم حتى يتم ما اراد من مائة او اقل او اكثر ويكفى فى فضل صلاتها ما بين الله من جلالة قدرها وما اخبر به الرسول عليه السلام من فضيلة قيامها وصلاة التطوع بالجماعة جائزة من غير كراهة لو صلوا بغير تداع وهو الاذن والاقامة كما فى الفرآئض صرح بذلك كثير من العلماء قال شرح النقاية وغيره وفى المحيط لا يكره الاقتدآء بالإمام فى النوافل مطلقا نحو القدر والرغائب وليلة النصف من شعبان ونحو ذلك لأن ما رأه المؤمنون حسنا فهو عند الله حسن فلا تلتفت الى قول من لا مذاق لهم من الطاعنين فانهم بمنزلة العنين لا يعرفون ذوق المناجاة وحلاوة الطاعات. 

 خزينة الأسرار جليلة الأذكار للأستاذ السيد محمد حقي النازلي (ص37) ط/الهداية  
(الثانية) ليلة نصف مائة ركعة في رواية مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما يقرأ في كل ركعة منها الفاتحة مرة والإخلاص عشر مرات كل ركعتين بتسليمة وفي رواية أنس رضي الله عنه عشر ركعات يقرأ في كل ركعة الفاتحة مرة والإخلاص مائة مرة والسلف يسمون هذه الصلاة صلاة الخير ويجتمعون فيها وربما يصلون بجماعة وفي رواية طاوس عن وائلة ين الأسقع أربع ركعات بعد الغسل والنظافة يقرا في كل ركعة الفاتحة  مرة والإخلاص خمسا وعشرين مرة.    

مهمات النفائس في بيان أسئلة الحادث للسيد أحمد دحلان 79-80  ط/فتح الكريم الإسلامية  
مسألة ما قولكم دام فضلكم فيمن يصلي اثني عشر ركعة بسلام واحد يقرأ بعد الفاتحة في كل ركعة إنا أنزلناه مرة وسورة الإخلاص خمسة عشرة مرة في كل سبع وعشرين ليلة من رمضان بنية ليلة القدر كيف هذا أفتونا ؟  
الجواب اللهم هداية للصواب الصلاة بالكيفية المذكورة لم ترد عن الني صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه بأحاديث صحيحة ولكن لا بأس بها من حيث أن التطوع بها مطلوب شرعا لكن الذي يحب أن يصليها يجعلها من صلاة التهجد أو غيره نعم ورد أن من صلى بعد العشاء أربع ركعات كانت له بمثلها من ليلة القدر فليشمر الراغب في الخيرات والله أعلم سيد أحمد دحلان  

 البحر الرائق شرح كنز الدقائق للشيخ زين الدين بن إبراهيم بن محمد الشهير بابن نجيم الحنفي (970 هـ - 1563م)  (ج2/ص57)  ط/ دار الكتاب الإسلامي 
ومن المندوبات إحياء ليالي العشر من رمضان وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجة وليلة النصف من شعبان كما وردت به الأحاديث وذكرها في الترغيب والترهيب مفصلة والمراد بإحياء الليل قيامه وظاهره الاستيعاب ويجوز أن يراد غالبه ويكره الاجتماع على إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد قال في الحاوي القدسي ولا يصلى تطوع بجماعة غير التراويح وما روي من الصلوات في الأوقات الشريفة كليلة القدر وليلة النصف من شعبان وليلتي العيد وعرفة والجمعة وغيرها تصلى فرادى انتهى ومن هنا يعلم كراهة الاجتماع على صلاة الرغائب التي تفعل في رجب  في أول ليلة جمعة منه وأنها بدعة وما يحتاله أهل الروم من نذرها لتخرج عن النفل والكراهة فباطل وقد أوضحه العلامة الحلبي وأطال فيه إطالة حسنة كما هو دأبه وفي الفتاوى البزازية
(قَوْلُهُ وَمِنْ هُنَا يُعْلَمُ إلَخْ ) قَالَ الشَّيْخُ إسْمَاعِيلُ وَقَدْ ذَكَرَ الْغَزْنَوِيُّ صَلَاةَ الرَّغَائِبِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ بِسِتِّ تَسْلِيمَاتٍ وَصَلَاةَ الِاسْتِفْتَاحِ عِشْرِينَ رَكْعَةً فِي النِّصْفِ مِنْ رَجَبٍ بِهِ صَلَاةَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ بِخَمْسِينَ تَسْلِيمَةً وَيَنْبَغِي حَمْلُهُ عَلَى الِانْفِرَادِ كَمَا مَرَّ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ النِّصْفِ  ذَكَرَهَا الْغَافِقِيُّ الْمُحَدِّثُ فِي لَمَحَاتِ الْأَنْوَارِ وَصَاحِبُ أُنْسِ الْمُنْقَطِعِينَ وَأَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ فِي الْقُوتِ عَبْدُ الْعَزِيزِ الدِّيرِينِيُّ فِي طَهَارَةِ الْقُلُوبِ وَابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي كِتَابِ النُّورِ وَالْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ قَالَ الْحَافِظُ الطَّبَرِيُّ جَرَتْ الْعَادَةُ فِي كُلِّ قُطْرٍ مِنْ أَقْطَارِ الْمُكَلَّفِينَ بِتَطَابُقِ الْكَافَّةِ عَلَى صَلَاةِ مِائَةِ رَكْعَةٍ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ بِأَلْفٍ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَتُرْوَى فِي صِحَّتِهَا آثَارٌ وَأَخْبَارٌ لَيْسَ عَلَيْهَا الِاعْتِمَادُ وَلَا نَقُولُ أَنَّهَا مَوْضُوعَةٌ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فَإِنَّ الْحُكْمَ بِالْوَضْعِ أَمْرُهُ خَطِيرٌ وَشَأْنُهُ كَبِيرٌ مَعَ أَنَّهَا أَخْبَارُ تَرْغِيبٍ وَالْعَامِلُ عَلَيْهَا بِنِيَّتِهِ يُثَابُ وَيَصْدُقُ عَزْمُهُ وَإِخْلَاصُهُ فِي ابْتِهَالِهِ يُجَابُ وَالْأَوْلَى تَلَقِّيهَا بِالْقَبُولِ مِنْ غَيْرِ حُكْمٍ بِصِحَّتِهَا وَلَا حَرَجٍ فِي الْعَمَلِ بِهَا ا هـ . ( قَوْلُهُ وَفِي الْفَتَاوَى الْبَزَّازِيَّةِ ) أَيْ وَأَوْضَحَهُ فِي الْفَتَاوَى الْبَزَّازِيَّةِ. 

 الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي ٢/٥٣  ط/دار الفكر  
وسئل نفع الله به عن صوم منتصف شعبان هل يستحب على ما رواه ابن ماجه أن النبي قال: «إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا» أو لا يستحب وهل هذا الحديث صحيح أو لا؟ وإن قلتم باستحبابه فلم لم يذكره الفقهاء وما المراد بقيام ليلها أهو صلاة البراءة أم لا؟. فأجاب بأن الذي صرح به النووي رحمه الله في المجموع أن صلاة الرغائب وهي ثنتا عشرة ركعة بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة من شهر رجب وصلاة ليلة النصف من شعبان مائة ركعة بدعتان قبيحتان مذمومتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب، وفي أحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ولا ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك، وقد صنف ابن عبد السلام كتاباً نفيساً في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد اهــــ. وأطال النووي أيضاً في فتاويه في ذمهما وتقبيحهما وإنكارهما، واختلفت فتاوى ابن الصلاح فيهما وقال في الآخر هما وإن كانا بدعتين لا يمنع منهما لدخولهما تحت الأمر الوارد بمطلق الصلاة، ورده السبكي بأن ما لم يرد فيه إلا مطلق طلب الصلاة وأنها خير موضوع فلا يطلب منه شيء بخصوصه فمتى خص شيئاً منه بزمان أو مكان أو نحو ذلك دخل في قسم البدعة، وإنما المطلوب منه عمومه فيفعل لما فيه من العموم لا لكونه مطلوباً بالخصوص اهـ، وحينئذ فالمنع منهما جماعة أو انفراداً خلافاً لمن وهم فيه متعين إزالة لما وقع في أذهان العامة وبعض المتفقهة والمتعبدين من تأكد سنهما  
وأنهما مطلوبتان بخصوصهما مع ما يقترن بذلك من القبائح الكثيرة هذا ما يتعلق بحكم صلاة ليلة نصف شعبان، 
كشف الخفاء في علو م الأحاديث للشيخ إسماعيل العجلوني   
وقال القاري وهو وإن كان باطلا لكنه صحيح المعنى، وكذا أحاديث الصلوات التي ذكروها في الأيام المكرمة والليالي المعظمة يعني كصلاة الرغائب، وأشهرها صلاة ليلة النصف من شعبان ، لأنها ليست بموضوعة بل ضعيفة، انتهى، وهذا على مذهب الحنفية، وإلا فهي على الصحيح عند الشافعية باطلة وأحاديثها موضوعة، كما نبه على ذلك النووي كالعز بن عبد السلام، 

المدخل للشيخ أبي عبد الله محمد بن محمد العبدري المالكي الفاسي المعروف ص ٤/٢٥٠
   
فصل في ذكر صلاة الرغائب قد تقدم أن فعلها في المسجد جماعة بدعة منكرة . إلى أن قال  
ثم لا يخلو المانع لها إما أن يمنعها لكون الحديث عنده موضوعا فإن كان كذلك فيمنعها ألبتة , وإن كان الحديث عنده ضعيفا فيمنعها جماعة في المساجد  والمواضع المشهورة ويجوز فعلها في البيت ما لم يتخذها عادة ليقع الفرق بين ما ثبت بدليل صحيح وضده

Sunday, 25 August 2024

Makanan dari yang bakhil jadi penyakit

Makanan dari orang yang Soleh jadi obat sedangkan makanan dari yang bakhil jadi penyakit

Dikisahkan imam Syafi'i berkunjung ke rumah imam Ahmad bin Hambal:

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .
وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها يا أبتاه
 ... أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟قال : نعم يا ابنتي .
فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟

وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله: يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .

فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم

*Artinya*

Suatu hari Imam Syafi'i semoga Allah merahmatinya berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah.

kalau malam beribadah,siang berpuasa dan menyukai kisah orang-orang shalih. Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi'i secara langsung sebab sang ayahnya sangat menghormatinya.

Ketika Imam Syafi'i berkunjung kerumah mereka,sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi'i serta mendengar ucapan-ucapannya. 

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan sholat dan dzikir,Imam Syafi'i tiduran terlentang,sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi'i sampai fajar

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya: "wahai ayahku... Apakah benar dia ini Imam Syafi'i yang engkau ceritakan padaku dulu?"

Imam Ahmad: " benar anakku .." 

Putri: "aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi'i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia...tidak sholat, tidak dzikir tidak pula wirid? dan aku juga melihat ada 3 hal yg aneh".

Imam Ahmad: "apa saja 3 hal itu, wahai anakku?" 

Putri:" ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi'i

- dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yg ku dengar

- Ketika masuk kamar, dia tidak beribadah sholat malam

- Dan ketika sholat subuh bersama kita, dia sholat tanpa wudlu."

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang,Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi'i tentang apa yang dilihat oleh putrinya,lalu Imam Syafi'i -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Wahai aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia 

*sedangkan makan orang mulia adalah obat kalau makanan orang bakhil adalah penyakit*

jadi aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu. 

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku utk tidur,aku melihat seolah-olah al Qur'an dan Hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yg kususun untuk kemaslahatan muslimin,

maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan sholat malam. 

Adapun ketika sholat subuh bersama kalian aku tidak wudhlu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhlu.

Semalam suntuk aku terjaga jadi aku sholat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat Isya

Kemudian Imam Syafi'i berpamitan dan pulang. 

Imam Ahmad berkata kepada putrinya:

 "yang di kerjakan oleh Imam Syafi'i semalam dalam keadaan tiduran,lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil sholat malam ."  

Sumber: Zaadul Murobbiyyin

cara untuk mengetahui kelemahan diri sendiri

Pertanyaan 

Bagaimana supaya bisa mengetahui kekurangan diri sendiri

Jawaban 

Menurut Imam Al-Ghazali menuturkan;

إعلم أن الله عز وجل إذا أراد الله بعبد خيرا… بصره بعيوب نفسه، فمن كانت بصيرته نافذة… لم تخف عليه عيوبه، فإذا عرف العيوب… أمكنه العلاج، ولكن أكثر الخلق جاهلون بعيوب أنفسهم، يرى أحدهم القذى فى عين أخيه ولا يرى الجذع فى عين نفسه.
Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hambanya… Allah menunjukkan kekurangan dirinya, maka siapa yang mata hatinya terbuka… pasti akan terlihat kekurangan dirinya, jika dia mengetahui kekurangan dirinya… maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya, akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka, salah seorang dari mereka bisa mengetahui kekurangan orang lain tapi tidak bisa mengetahui kekurangan dirinya.

فمن أراد أن يقف على عيب نفسه… فله أربعة طرق 
الأول : أن يجلس بين يدي شيخ بصير بعيوب النفس، مطلع على خفايا الآفات
الثاني : أن يطلب صديقا صدوقا بصيرا متدينا، فينصبه رقيبا على نفسه ليلاحظ أحواله وأفعاله، فما كرهه من أخلاقه وأفعاله، وعيوب الباطنة والظاهرة… ينبهه عليه
الطريق الثالث : أن يستفيد معرفة عيوب نفسه من ألسنة أعدائه
الطريق الرابع : أن يخالط الناس، فكل ما رآه مذموما فيما بين الخلق فليطالب نفسه به وينسبها إليه؛ فإن المؤمن مرآة المؤمن، فيرى من عيوب غيره عيوب نفسه،

Maka barangsiapa yang ingin mengetahui kekurangan dirinya… maka baginya empat jalan atau cara:

Yang pertama: Duduk di hadapan seorang guru yang mengetahui kekurangan dirinya dan dapat melihat hal-hal jelek yang samar.


Yang kedua: Mencari teman yang jujur, mengerti kekurangan dirinya dan menjalankan perintah agama, maka dia menjadikannya pemantau dirinya untuk memerhatikan keadaan dan perbuatan-perbuatannya, apa yang dia lihat tidak baik dari akhlak, perbuatan dan kekurangan lahir dan bathin… dia mengingatkannya atas hal itu. 
 Cara yang ketiga: Hendaknya dia mengambil faedah untuk mengetahui kekurangan dirinya dari lisan-lisan musuhnya.
Cara yang keempat: Berkumpul dengan orang, maka setiap apa yang dilihatnya dari orang lain tercela hendaknya dia menuntut dirinya dengannya dan menjauhinya; karena seorang mukmin cermin untuk mukmin lainnya, melihat kekurangan orang lain sama dengan melihat kekurangan yang ada pada dirinya, 

قيل لعيسى عليه السلام : من أدبك؟ قال : ما أدبني أحد، رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته

Nabi 'Isa 'alaihissalam ditanya: Siapa yang mengajarkan adab kepadamu? Beliau menjawab: Tidak ada yang mengajari aku adab, aku melihat kebodohan orang bodoh itu jelek maka aku menjauhinya

silaturrahmi kepada yang pulang haji

*pertanyaan*

Apakah diharuskan silaturrahmi kepada orang yang pulang ibadah haji

*jawaban*

Keutamaan silaturrahmi kepada orang yang pulang ibadah haji untuk minta didoakan sebab
Empat puluh hari,dihitung sejak kedatangannya dari Mekah maka doa2nya masih mustajabah

 وَيُنْدَبُ لِلْحَاجِّ الدُّعَاءُ لِغَيْرِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْ 
وَلِغَيْرِهِ سُؤَالُ الدُّعَاءِ مِنْهُ بِهَا وَذَكَرُوا أَنَّهُ أَيْ الدُّعَاءَ يَمْتَدُّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مِنْ قُدُومِهِ 

“Dan disunahkan bagi orang yang berhaji untuk mendo’akan kepada orang (yang tidak berhaji) dengan ampunan meskipun orang tersebut tidak meminta. 
Dan bagi orang yang tidak berhaji hendaknya meminta dido’akan oleh dia. Para ulama menyebutkan bahwa do’a tersebut sampai empat puluh hari dari kedatangannya” 
(Hasiah aljamal zuz 2 hal 545)

Adapun keharusan bagi yang baru datang dalam safar diantaranya safar habis melaksanakan ibadah haji atau umroh dijelaskan oleh mam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab (4/400)

 
يستحب النقيعة، وهي طعام يُعمل لقدوم المسافر ، ويطلق على ما يَعمله المسافر القادم ، وعلى ما يعمله غيرُه له  

 “Disunnahkan untuk mengadakan naqi’ah, yaitu hidangan makanan yang digelar sepulang safar. Baik yang menyediakan makanan itu orang yang baru pulang safar atau disediakan orang lain.”

Imam Nawawi mengambil dasar hukum dari hadis Rasulullah saw:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة من سفره نحر جزوراً أو بقرةً ” رواه البخاري  

“Sesungguhnya Rasulullah saw ketika tiba dari Madinah sepulang safar, beliau menyembelih onta atau sapi.” (HR Bukhari)



jual beli kredit menurut islam

*pertanyaan*

Apakah kredit boleh dalam Islam

*jawaban*

Jual beli kredit dalam istilah fiqih disebut dengan: بيع تقسيط
Adapun jual beli dengan bertempo disebut dengan istilah: بيع بالثمن الآجل 
Jual beli bertempo atau taqsîth yang disertai dengan uang muka, disebut dengan istilah :بيع عربان 

Ketiga-tiganya merupakan jual beli dengan harga tidak tunai (harga tunda).

البيع بالتقسيط بيع بثمن مؤجل يدفع إلى البائع في أقساط متفق عليها، فيدفع البائع البضاعة المبيعة إلى المشتري حالة، ويدفع المشتري الثمن في أقساط مؤجلة، وإن اسم " البيع بالتقسيط " يشمل كل بيع بهذه الصفة سواء كان الثمن المتفق عليه مساويًا لسعر السوق، أو أكثر منه، أو أقل، ولكن المعمول به في الغالب أن الثمن في " البيع بالتقسيط " يكون أكثر من سعر تلك البضاعة في السوق، فلو أراد رجل أن يشتريها نقدًا، أمكن له أن يجدها في السوق بسعر أقل ولكنه حينما يشتريها بثمن مؤجل بالتقسيط، فإن البائع لا يرضى بذلك إلا أن يكون ثمنه أكثر من ثمن النقد، فلا ينعقد البيع بالتقسيط عادة إلا بأكثر من سعر السوق في بيع الحال.
 
“Bai’ taqsith adalah praktik jual beli dengan harga bertempo yang dibayarkan kepada penjual dalam bentuk cicilan yang disepakati. Sementara itu, penjual menyerahkan barang dagangan (bidla’ah) yang dijualnya kepada pembeli seketika itu juga pada waktu terjadinya aqad. Kewajiban pembeli adalah menyerahkan harga untuk barang yang dibeli dalam bentuk cicilan berjangka. 
Disebut dengan istilah bai’ taqsith adalah karena memuatnya ia kepada sebuah bentuk transaksi jual beli dengan ciri harga yang disepakati:
1) sama dengan harga pasar
2) lebih tinggi dari harga pasar
3) lebih rendah dari harga pasar. 
Akan tetapi yang umum berlaku adalah pada umumnya harga dari barang bai’ taqsith adalah lebih tinggi dibanding harga jual pasar.
(Majma’ al-Fiqhu al-Islamy hal 596)
 
Memperhatikan sisi definisi di atas,maka jual beli kredit bisa dikelompokkan ke dalam bai’ taqsith

Imam Nawawi menyatakan di dalam kitab Raudlatu al-Thalibin, bahwasannya jual kredit hukumnya adalah “boleh.”

روضة الطالبين الجز الثالث ص ٣٩٩

ﻭﻣﻨﻬﺎ : ﺑﻴﻌﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺑﻴﻌﺔ ، ﻭﻓﻴﻪ ﺗﺄﻭﻳﻼﻥ ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﻓﻲ "ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺮ
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﺑﻌﺘﻚ ﻫﺬﺍ ﺑﺄﻟﻒ ، ﻋﻠﻰ ﺃﻥ
ﺗﺒﻴﻌﻨﻲ ﺩﺍﺭﻙ ﺑﻜﺬﺍ ، ﺃﻭ ﺕﺷﺘﺮﻱ ﻣﻨﻲ ﺩﺍﺭﻱ ﺑﻜﺬﺍ ، ﻭﻫﻮ
ﺑﺎﻃﻞوالثاني أن يقول بعتكه بألف نقدا أو بألفين نسيئة فخذه بأيهما شئت أو شئت أنا وهو باطل أما لو قال بعتك بألف نقدا وبألفين نسيئة أو قال بعتك نصفه بألف ونصفه بألفين فيصح العقد.

diantaranya adalah jual beli dengan dua harga dalam satu akad (ﺑﻴﻌﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺑﻴﻌﺔ ، ) , menurut yang disebut dalam kitab Mukhtashor kalimat ini mempunyai dua pengertian (ta'wil)

*pertama*

bila ada penjual berkata : "aku jual barang ini dengan harga 1000 dengan syarat kamu menjual rumahmu kepadaku dengan harga sekian" atau bila ada penjual berkata : "aku jual barang ini dengan harga 1000 dengan syarat kamu beli rumahku dengan harga sekian"
Akad ini batal / tidak sah dikarenakan ada 2 harga dalam satu aqad (harga barang dan harga rumah) maka ketentuannya aqad tsb selesaikan satu persatu misalkan selesaikan aqad barang dulu setelah selesai baru aqad rumah


*kedua*

bila ada penjual berkata : "aku jual barang ini dengan harga 1000 jika cash 2000 jika kredit, silakan dipilih dengan harga yang mana,maka Akad ini juga batal / tidak sah (ada 2 harga dalam satu aqad)

adapun bila ada penjual berkata : "aku jual barang ini kepadamu dengan harga 1000 kalau cash *dan* aku jual kepadamu 2000 kalau kredit atau aku jual barang ini kepadamu separo dengan harga 1000 *dan*  yang separo lagi 2000" .
maka sah hukumnya (ada 2 harga dalam 2 aqad)

Sebelum jual beli kredit dengan pihak ke 3 (Bank atau leasing) kita kupas dulu mekanismeunya:

-pembeli sebagai pihak ke 1

-shorum sebagai pihak ke 2

-lising sebagai pihak ke 3


Dikala pihak ke 1 mau membeli satu yunit kendara'an dengan cara chas biasanya pihak ke 2 tidak akan melibatkan pihak ke 3 sbb pada dasarnya pihak ke 2 hanya melayani chas sedangkan pihak ke 3 hanya melayani kredit,maka selsai aqad jual beli chas antara pihak ke 1 dan pihak ke 2.(satu harga satu aqad,sah jual belinya)

Dikala pihak ke 1 berkehendak kredit maka pihak ke 2 menjual yunit ke pihak ke 3 (satu aqad satu harga,sah jual belinya) setelah itu pihak ke 2 sebagai wakil pihak ke 3 kepeda pihak ke 1 dalam hal aqad kredit dengan satu harga yaitu harga kredit dan satu aqad maka jual belinya sah..

Berhubung jual belinya sah jadi tidak ada unsur riba.


Ma'mun bawa sejadah besar

*pertanyaan*

Bagaimana hukum ma'mum yang memakai sejadah besar diwaktu solat berjama'ah

*Jawaban*

bagi seseorang ma'mum menggunakan sajadah lebar dalam shalat berjamaah di mushala atau masjid yang menyebabkan shaf tidak rapat Maka hukumnya Haram,karena mengambil hak orang lain.
Kecuali bila pemilik sajadah melipat sebagian sajadahnya atau mempersilakan (menyuruh merapat) pada orang yang berada di sampingnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab:

الحاوى للفتاوى الجزء الأول ص:١٤٣ 
لَيْسَ للإنسان فِي الْمَسْجِدِ إلَّا مَوْضِعُ قِيَامِهِ وَسُجُودِهِ وَجُلُوسِهِ ، وَمَا زَادَ عَلَى ذَلِكَ فَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ ، فَإِذَا بَسَطَ شَيْئًا لِيُصَلِّي عَلَيْهِ احْتَاجَ لِأَجْلِ سَعَةِ ثَوْبِهِ أَنْ يَبْسُطَ شَيْئاً كَبِيْرًا لِيَعُمَّ ثَوْبُهُ عَلَى سَجَادَتِهِ فَيَكُوْنُ فِي سَجَادَتِهِ اِتِّسَاعٌ خَارِجٌ فَيُمْسِكُ بِسَبَبِ ذَلِكَ مَوْضِعَ رَجُلَيْنِ أَوْ نَحْوِهِمَا إِنْ سَلِمَ مِنَ الكِبَرِ مِنْ أَنَّهُ لاَ يَضُمُّ إِلَى سَجَادَتِهِ أَحَدًا فَإِنْ لَمْ يَسْلَمْ مِنْ ذَلِكَ وَوَلَّى النَّاسَ عَنْهُ وَتَبَاعَدُوْا مِنْهُ هَيْبَةً لِكُمِّهِ وَثَوْبِهِ وَتَرَكَهُمْ هُوْ وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالقُرْبِ إِلَيْهِ فَيُمْسِكُ مَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ فَيَكُوْنُ غَاصِبًا لِذَلِكَ الْقَدْرِ مِنَ المَسْجِدِ فَيَقَعُ بِسَبَبِ ذَلِكَ فِي المُحَرَّمِ المُتَّفَقِ عَلَيْهِ المَنْصُوْصِ عَنْ صَاحِبِ الشَّرِيْعَةِ صلوات الله عليه وسلامه قال عليه الصلاة والسلام من غصب شبرا من أرض طوقه الله يوم القيامة إلى سبع أرضين أو كما قال عليه الصلاة والسلام وذلك الموضع الذي أمسكه بسبب قماشه وسجادته ليس للمسلمين به حاجة في الغالب إلا في وقت الصلاة وهو في وقت الصلاة غاصب له فيقع في هذا الوعيد بسبب قماشه وسجادته وزيه فإن بعث سجادته إلى المسجد في أول الوقت أو قبله ففرشت له هناك وقعد هو إلى أن يمتلئ المسجد بالناس ثم يأتي غاصبا لذلك الموضع الذي عملت السجادة فيه لأنه ليس له أن يحجره وليس لأحد فيه إلا موضع صلاته انتهى

Seseorang tidak memiliki hak di dalam masjid kecuali tempat berdiri,sujud dan duduknya,dan selain itu adalah hak orang-orang Muslim lainnya.
Bagi seorang yang menggelar sajadahnya untuk shalat dan karena besar pakaiannya, ia membutuhkan sajadah yang besar untuk mencakup pakaiannya,sehingga menggunakan tempat satu atau dua orang,
bila ia tidak melipat atau mempersilakan orang lain untuk merapat,maka tidak diperbolehkan karena ia termasuk orang yang ghoshob

Dari dasar hukum diatas *Hati hati* kalau mau membawa alas solat bawalah yang hanya pas untuk sendiri apalagi dijaman sekarang setiap mesjid bisanya sudah dilengkapi dengan kapret yang mencukupi..


Saturday, 24 August 2024

hukum jual beli kohe

*pertanyaan*

Apakah boleh membeli barang najis,seperti kotoran hewan atau kohe

*Jawaban*

Didalam persoalan ini ulama berbeda pendapat :

-Dalam pandangan ulama madzhab Syafi’i, barang yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah barang tersebut harus suci dan bermanfaat maka dari itu tidak sah jual belinya dikala memperjualbelikan barang najis namun ada cara 
yakni dengan menggunakan sistem pemindahan hak (pemilik uang memberikan uangnya kepada pemilik pupuk dan sebaliknya pemilik pupuk memberikan pupuknya kepada pemilik uang) atau sama halnya dengan mengganti jasa. 
Pupuk tersebut dapat dimiliki dengan cara akad serah terima barang yang ditukar dengan barang lain *tanpa transaksi jual beli*

Seperti keterangan kitab Hasyiyah al-Bajuri Ala syarkh ibn Qasim Juz 1, Hal 343

ولايصح بيع عين نجسة) ولامتنجسة كخمر ودهن وخل متنجس ونحوه مما لايمكن تطهيره.  (وقوله: ولايصح بيع عين نجسة) أي سواء أمكن تطهيرها بالإستحالة كالخمر وجلد الميتة أم لاكالسرجين والكلب ولو معلما.  ويجوز نقل اليد  عن اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف.  وطريقه أن يقول المستحق به أسقطت حقي من هذا بكذا،  فيقول الآخر قبلت. اه

-Dalam pandangan ulama hanafiyyah

وَلَمْ يَشْتَرِطْ الْحَنَفِيَّةُ هَذَا الشَّرْطَ فَأَجَازُوْا بَيْعَ النَّجَاسَاتِ كَشَعْرِ الْخِنْزِيْرِ وَجِلْدِ الْمَيْتَةِ لِلانْتِفَاعِ بِهَا إِلاَّ مَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِهِ مِنْهَا كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ كَمَا أَجَازُوْا بَيْعَ الْحَيَوَانَاتِ الْمُتَوَحِّشَةِ وَالْمُتَنَجِّسِ الَّذِيْ يُمْكِنُ اْلانْتِفَاعُ بِهِ فِيْ اْلأَكْلِ وَالضَّابِطُ عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوْزُ لِأَنَّ اْلأَعْيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ اْلإِنْسَانِ 

Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). 
Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan barang mutanajis/barang yang kena najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan (contoh telur) Dan patokanya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.
maka boleh menjual-belikannya
Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia..

*maka kesimpulannya menurut hanafiyyah sah akad memperjualbelikan barang najis*


Monday, 29 July 2024

nadzar

Bab nadzar

Nazar secara bahasa adalah janji (melakukan hal) baik atau buruk.

nazar menurut pengertian syara’ adalah menyanggupi melakukan ibadah yang bukan merupakan hal wajib (fardhu ‘ain) bagi seseorang.

Nadzar yang dilakukan seseorang tidak akan dapat menolak ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT. 

Oleh karenanya,ia tidak mempengaruhi berhasil atau gagalnya usaha seseorang.

 Nabi bersabda: 

لاَ يَأْتِي ابْنَ آدَمَ النَّذْرُ بِشَيْءٍ لَمْ يَكُنْ قُدِّرَ لَهُ، وَلَكِنْ يُلْقِيهِ النَّذْرُ إِلَى القَدَرِ قَدْ قُدِّرَ لَهُ، فَيَسْتَخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مِنَ البَخِيلِ 

“Nadzar itu tidak dapat membawa manusia pada sesuatu yang ditakdirkan, tetapi takdir yang membawa manusia itu kepada yang telah ditakdirkan.Allah mengeluarkan nadzar itu dari orang yang bakhil atau kikir”. (HR. Bukhari)

Sesuai dari kandungan dengan hadis ini, maka setiap orang muslim seharusnya menahan diri dari kebiasaan bernadzar, karena hal itu akan menandai orang yang melakukannya sebagai manusia yang bakhil

( *MINIMALNYA CIRI ORANG YANG BERAMAL IBADAH DENGAN KURANG ATAU TIDAK IKLAS*

contoh lamun hasil maksud Bade puasa sunah ciri t iklas puasana sbb puasana daek soten lamun hasil da lamun t hasilmh moal daek ieuh puasana)

Dalam hadis lain

Rasulullah SAW melarang nadzar, beliau bersabda:

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلاَ يُؤَخِّرُ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنَ البَخِيلِ

“Sesungguhnya nadzar itu tidak menolak takdir sedikitpun dan nadzar itu dikeluarkan dari orang yang bakhil”. 

(HR. Bukhari)

larangan bernadzar ditegaskan dengan fi’il nahi (larangan):

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَنْذِرُوا، فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا

 

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu bernadar, karena sesungguhnya nadzar itu tidak berfaidah terhadap takdir sedikitpun”.” (HR. Muslim)

Meskipun nadzar itu dilarang dalam Sariat apakah kalau sudah bernadzar wajib dilaksanakan? Maka jawabannya dari sabda Rasulullah Saw

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ“

Siapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka wajib di penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah,maka janganlah bermaksiat kepada-Nya

(HR al-Bukhari).


Bagaimana bagi seseorang yang tidak mampuh memenuhi sumpah nadzar yang terlanjur berucap nadar

 

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ فَكَفَّارَتُهٗٓ اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍۗ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْۗ وَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.Maka, kafaratnya (denda akibat melanggar sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang (biasa) kamu berikan kepada keluargamu, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (dan kamu melanggarnya).Jagalah sumpah-sumpahmu! Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Ma’idah 89)

Berdasarkan ayat di atas, maka orang yang melanggar nazar diberi tiga alternatif ketika tidak mampu melakukan nazar yang telah diucapkan:

  1. Memerdekakan satu budak perempuan yang beriman. Berhubung zaman sekarang tidak ada lagi budak, otomatis poin ini tidak mungkin dilakukan
  2. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin. Dengan jatah masing-masing sebesar satu mud atau  ¾ liter.
  3. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin. Masing-masing orang miskin diberi satu pakaian. Bisa berupa baju, celana, atau jilbab jika perempuan.
  4. Jika salah satu dari tiga alternatif tersebut tidak bisa dilakukan, maka kafaratnya adalah berpuasa selama tiga hari berturut-turut dengan niat menggugurkan sumpah (nazar).

Mudah2han manfaat kanggo diri, umumnamh anu maca

Saturday, 20 July 2024

hukum memajang poto

*pertanyaan*

Ada yang memberikan fatwa bahwa memajang Poto itu haram,bagaimana sebetulnya hukumnya?

*Jawaban*

Memajang foto orang,baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia itu diperbolehkan karena pada dasarnya, foto merupakan bayangan suatu obyek yang ditangkap dengan kamera. Sehingga tidak ada unsur menyamai hak penciptaan yang hanya dimiliki oleh Allah semata yang pelakunya diancam dengan siksaan yang berat.

Hukum ini berlaku jika gambar dalam foto tersebut tidak terbuka auratnya dan tidak menimbulkan syahwat. 
Jika yang dipajang adalah foto wanita yang tidak tertutup auratnya secara penuh, seperti tidak memakai jilbab maka hukumnya Haram terkecuali Poto tsb hanya dilihat oleh mahramnya

*Sumber*

فتاوى دار الإفتاء المصرية ٧/‏٢٢٠ — مجموعة من المؤلفين
الفوائد وتعليق الصور فى المنازل

عن السؤال الثانى ك اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات.
ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى 
تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات.

sedangkan gambar yang diharamkan itu adalah yang tiga dimensi yang memiliki bayang-bayang yang dimungkinkan bisa hidup dalam kodisi seperti itu bila ditiupkan ruh atau dengan kasus yang lain adalah patung yang dibikin sedemikian rupa miripnya dengan keadaan seluruh badan baik dari kalangan manusia atau binatang

*Sumber*

مجمعوع فتاوى ورسائل صـ ٢١٣ـ
وإن كانت هذه صورة الحونية الكاملة التى لاظل لها فها هنا تفصيل وهو أنها إن كانت فى محل ممتهن كبساط وحصير ووسادة ونحوها كاتنت مباحة ايضا فى مذهب الاربعة إلا أن المالكية قالوا فعل هذه خلاف الأولى وليس مكروها.

Tuesday, 2 July 2024

sholawat tahrim

Sholawat waktu tahrim disusun oleh
Seh Syekh Mahmud Kholil al Hussary

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞

Tuesday, 25 June 2024

ruawibidoh

Apa itu ruwaibidoh

Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya yang berbunyi: 


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيَأتي علَى النَّاسِ سنواتٌ خدَّاعاتُ يصدَّقُ فيها الكاذِبُ ويُكَذَّبُ فيها الصَّادِقُ ويُؤتَمنُ فيها الخائنُ ويُخوَّنُ فيها الأمينُ وينطِقُ فيها الرُّوَيْبضةُ قيلَ وما الرُّوَيْبضةُ قالَ الرَّجلُ التَّافِهُ في أمرِ العامَّةِ 


- Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidoh turut bicara,Lalu Rasulullah SAW ditanya, Apakah Ruwaibidlah itu?" Rasulullah SAW menjawab, "Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.

(Sunan Ibnu Majah)


وفي حديث آخر فسر الرسول الرويبضة بأنه الرجل الفاسق فقد جاء في كنز العمال عن أنس بن مالك : إن أمام الدجال سنين خداعة! يكذب فيها الصادق ، ويصدق فيها الكاذب، ويخون فيها الأمين ، ويؤتمن فيها الخائن، ويتكلم فيها الرويبضة قيل: وماالرويبضة؟ قال:الفاسق يتكلم في أمر العامة. فكلمة الرويبضة لا يعدو معناها عن أن يتكلم في الأمر من لا يصلح ، أي أن الأمر يوسد لغير أهله


- Dan di hadis lain Rasulullah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ruwaibidlah adalah seseorang yang Fasik.Dan dari kitab Kanzun Ummal, Anas bin Malik *Sesungguhnya di zaman Dajjal penuh dengan kedustaan* Pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat. Kemudian Rasulullah ditanya, apa itu Ruwaibidlah? Beliau menjawab seorang yang fasik berbicara tentang urusan umum. 
Kalimat Ruwaibidlah maknanya tentang bagaimana orang itu berbicara urusan yang tidak benar atau perkara itu disandarkan (diserahkan) kepada yang bukan ahlinya
.


Ketika seseorang sering tampil di depan khalayak umum melalui berbagai media informasi maka saat itu pula ia dapat mengubah citranya yang buruk menjadi baik

Berbagai informasi dari belahan dunia mudah untuk kita dapatkan melalui website, media sosial dan televisi. Popularitas dan viralitas menjadi impian dan tujuan banyak orang, semua orang berlomba-lomba untuk menjadi pusat perhatian banyak orang.

Sebab menjadi viral kita akan mendapatkan banyak keuntungan,salah satu dapat mengubah kondisi dan citra seseorang yang tadinya jelek bisa jadi baik begitupun sebaliknya yang tadina baik bisa jadi jelek maka dari itu berhati hatilah dalam bermedos budayakan kehati2an dan selalu Tabayyun supaya kita tidak ikut terseret di pusaran fitnah akhir jaman


Kenapa terjadi *amanat diberikan kepada penghianat* (sesuai hadis di atas) atau pemimpin dzolim?


Kita lihat hadis Rasulullah SAW:


ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ


Akan datang satu masa  dimana umatku akan lari (berpisah) dari ulama dan ahli fikih maka Allah akan memberikan dan menurunkan tiga bencana:

1. Allah akan mengangkat barokah dari usaha mereka

2. Allah akan turunkan pemimpin yang dholim

3. Allah akan keluarkan dari dunia dengan tanpa bekal Iman.


Lantas siapa itu ulama 


Kita lihat Surat Fathir ayat 28. 


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ 


“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” 

Ulama tafsir seperti seh Jamaluddin Al-Qasimi menjelaskan siapa ulama yang dimaksud dalam Surat Fathir ayat 28 ini. 


إنما يخشاه تعالى بالغيب، العالمون به عز وجل، وبما يليق به من صفاته الجليلية, وأفعاله الجميلة؛ لما أن مدار الخشية معرفة المخشي والعلم بشؤونه، فمن كان أعلم به تعالى، كان أخشى منه عز وجل. كما قال عليه الصلاة والسلام أنا أخشاكم لله وأتقاكم له


Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya.

Mereka juga memahami sifat keagungan dan perbuatan baik yang layak bagi-Nya karena titik tumpu dari rasa takut ini adalah pengenalan atas Zat yang ditakuti dan mengerti ‘kondisi’-Nya. 

Orang yang lebih mengenal-Nya,maka ia yang paling takut kepada-Nya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukori, ‘Aku orang yang paling takut di antara kamu kepada Allah, dan aku yang paling bertakwa di antara kalian’

Syekh Jamaluddin Al-Qasimi juga mejelaskan ulama yang dimaksud pada ayat ini adalah ulama yang memahami keilmuan dalam hal agama sehingga dengan keimuanya yang jadi amal,sehingga sampailah kepada derajat makrifatulloh


Kenapa penting dijelaskan?


- hadis ruwaibidoh ditiap pemilu terulang dan terulang bukan tidak baik diulang2 tapi seolah2 hadis tsb dipakai bukan untuk dakwah tapi untuk memukul lawan politik


- kalaupun misalkan kita memang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang jadi penghianat atau pemimpin dzolim bisa jadi konsekwensi bagi kita yang diberikan oleh Allah SWT akibat sudah jauh dari ulama,

- kalau ada pemimpin dzolim maka yang wajib kita pertanyakan sejauh mana orang2 dijaman sekarang mengikuti fatwa2 beliau ( ulama) meskipun rutinan terus berjalan,apakah ilmu itu jadi amal?



Sunday, 9 June 2024

supaya selamat dari kefakiran

*Tips dari rosulullah saw supaya dijaga dari kefakiran*

Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid al-Alawi al-Husaini at-Tarimi dalam salah satu kitabnya menceritakan bahwa suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW mengadukan nasibnya.

Laki-laki tersebut menceritakan bahwa dirinya tumbuh menjadi seorang fakir miskin yang hidupnya tidak menghasilkan penghasilan sedikit pun, sehari-harinya ia selalu bergantung kepada orang lain. 

Mendengar penuturan laki-laki tersebut, Rasulullah kemudian memberikan tips agar terhindar dari hidup dalam keadaan fakir miskin.

Rasulullah bersabda: 

اِذَا دَخَلْتَ مَنْزِلَكَ فَسَلِّمْ، اِنْ كَانَ فِيْهِ أَحَدٌ، وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ أَحَدٌ فَسَلِّمْ عَلَيَّ وَاقْرَأَ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) مَرَّةً وَاحِدَةً فَأَدَرَّ اللهُ عَلَيْهِ الرِّزْقَ، حَتَّى أَفَاضَ عَلَى جِيْرَانِهِ وَقَرَابَاتِهِ

 “Apabila engkau memasuki rumahmu maka (ucakanlah) salam jika di dalamnya ada satu orang, dan jika tidak ada seorang pun di dalamnya, maka (ucapkanlah) salam kepadaku (assalamu alaika ya Rasulallah) dan bacalah (qul huwa Allahu Ahad) satu kali.

(sesampainya di rumah ia langsung mengamalkan apa yang ia terima dari Rasulullah SAW. Amalan ini ia lakukan dengan istiqamah, alhasil Allah memberikan rezeki melebihi apa yang diinginkan laki-laki tersebut sebelumnya)

Maka Allah mengatur (memberi) kepadanya rezeki, hingga melimpah kepada tetangga dan kerabatnya.

(al-Wasailusy Syafiyah  halaman 471)


toriqoh mu'tabaroh

*Pertanya'an*

Saya belum masuk salah satu toriqoh baik qodiriyyah atau sadiliyyah atau naqsabandiyah apakah saya belum termasuk salik yang berjalan dalam satu toriqoh untuk menuju Allah SWT?

*Jawaban*


Berdasarkan rujukan yang digunakan dari kitab al-Adzkiya, Muktamar NU 1931 memutuskan hal penting lain yang memperluas cakupan thariqah mu’tabarah dan *dipandang telah mengikuti thariqah mu’tabarah* 

menurut nahdotul ulama:

1. orang-orang Islam yang mendawamkan membaca Al-Quran, Dala’il Khairat, 

2. orang-orang yg menyibukkan diri dengan belajar ilmu agama seperti Fathul Qarib, Kifayatul Awam, dan sejenisnya,

2. duduk di tengah khalayak sebagai guru, 

3. memperbanyak wirid-wirid seperti puasa, shalat, 

4. melayani masyarakat (pejabat)

5. mencari kayu bakar sebagai pemenuhan sedekah untuk logistik pangan

*SUMBER*
كفاية الأتقياء ص:٨ 
(ولكل واحدهم طريق من طرق # يختاره فيكون من ذا واصلا)
(كجلوسه بين الانام مربيا # وككثرة الاوراد كالصوم الصلا)
وكخدمة للناس والحمل للحطب # لتصدق بمحصل متمولا)
يعنى لكل واحد من القوم مسلك اختاره وسلكه فيصير واصلا الى الله تعالى من ذلك المسلك فبعضهم جالس بين الناس يربيهم بارشادهم الى العبادة والاخلاق السنية : قال الامام الغزالى رضى الله عنه من علم وعمل وعلم فهو الذي يدعى عظيما في ملكوت السموات فإنه كالشمس تضيء لغيرها وهي مضيئة في نفسها وكالمسك الذي يطيب غيره وهو طيب ومهما اشتغل بالتعليم فقد تقلد أمرا عظيما وخطرا جسيما فليحفظ آدابه اهـ وبعضهم يكثر الأوراد اى     وظائف العبادات من الصلاة والصوم وقراءة القرآن والتسبيح فهذا من درجة المتجردين للعبادة ومن طرق الصالحين وبعضهم يخدم الفقهاء والصوفية واهل الدين فهذا أفضل النوافل لانه عبادة واعانة للمسلمين 

*SUMBER*
إحياء علوم الدين - ١/ /٣٤٨ )
اعلم أن المريد لحرث الآخرة السالك لطريقها لا يخلو عن ستة أحوال فإنه إما عابد وإما عالم وإما متعلم وإما وال وإما محترف وإما موحد مستغرق بالواحد الصمد عن غيره
الأول العابد وهو المتجرد للعبادة الذي لا شغل له غيرها أصلا ولو ترك العبادة لجلس بطالا فترتيب أوراده ما ذكرناه
الثاني العالم الذي ينفع الناس بعلمه في فتوى أو تدريس أو تصنيف فترتيبه الأوراد يخالف ترتيب العابد فإنه يحتاج إلى المطالعة للكتب وإلى التصنيف والإفادة ويحتاج إلى مدة لها لا محالة
الثالث المتعلم والاشتغال بالتعلم أفضل من الاشتغال بالأذكار والنوافل فحكمه حكم العالم في ترتيب الأوراد ولكن يشتغل بالاستفادة حيث يشتغل العالم بالإفادة وبالتعليق والنسخ حيث يشتغل العالم بالتصنيف
الرابع المحترف الذي يحتاج إلى الكسب لعياله فليس له أن يضيع العيال ويستغرق الأوقات في العبادات بل ورده في وقت الصناعة حضور السوق والاشتغال بالكسب ولكن ينبغي أن لا ينسى ذكر الله تعالى في صناعته بل يواظب على التسبيحات الأذكار وقراءة القرآن فإن ذلك يمكن أن يجمع إلى العمل
الخامس الوالي مثل الإمام والقاضي والمتولي في أمور المسلمين فقيامه بحاجات المسلمين وأغراضهم على وفق الشرع وقصد الإخلاص أفضل من الأوراد المذكورة فحقه أن يشتغل بحقوق الناس نهارا ويقتصر على المكتوبة ويقيم الأوراد المذكورة بالليل كما كان عمر رضي الله عنه يفعله
السادس الموحد المستغرق بالواحد الصمد الذي أصبح وهمومه هم واحد فلا يحب إلا الله تعالى ولا يخاف إلا منه ولا يتوقع الرزق من غيره ولا ينظر في شيء إلا 
ويرى الله تعالى فيه

Maka dari itu hasil rujukan di atas meskipun Anda belum masuk dalam satu toriqoh husus asalkan sesuai rujukan diatas maka Anda juga sudah termasuk yang bertoriqoh menuju Allah swt..

semoga dapat dipahami dan menjadikan spirit untuk Anda meskipun anda bukan bagian dari salah satu toriqoh yang ada di kita yaitu qodiriyyah,tijaniyyah,naqsabandiyah dll

afdol domba daripada udunan sapi untuk kurban

*Pertanyaan*

Apdol mana antara qurban sapi dengan 7 orang dan qurban domba untuk satu orang 

*Jawaban*

والشاة أفضل من مشاركة سبعة في بدنة أو بقرة لأنه يتفرد بإراقة دم

Berqurban dengan seekor kambing, lebih afdhal dibandingkan ikut udunan onta atau sapi bersama 7 orang,Karena qurban seekor kambing berarti menumpahkan  darah (menyembelih) sendirian. 
(al-Muhadzab, 1/433).

Keterangan Ibnu Qasim Al-Ghazzi Syafiiyah 

وتجزىء الشاة عن شخص واحد وهي أفضل من مشاركته في بعير

Seekor kambing bisa untuk qurban satu orang, dan seekor kambing lebih utama dibandingkan ikut udunan unta. (Fathul Qarib, hlm. 312)

aqiqah dengan unta

*Penjasan aqiqah dengan unta atau sapi* 


Misalnya ada tujuh orang yang patungan membeli sapi,dari ketujuh orang tersebut yang tiga berniat untuk aqiqah,sedang yang lainnya hanya sekedar mengambil dagingnya untuk dimakan ramai-ramai atau mayoran.


لَوْ ذَبَحَ بَقَرَةً أَوْ بَدَنَةً عَنْ سَبْعَةِ أَوْلَادٍ أَوْ اشْتَرَكَ فِيهَا جَمَاعَةٌ جَازَ سَوَاءٌ أَرَادُوا كُلُّهُمْ الْعَقِيقَةَ أَوْ بَعْضُهُمْ الْعَقِيقَةَ وَبَعْضُهُمْ اللَّحْمَ كَمَا سَبَقَ فِي الْاُضْحِيَّةِ


 Jika seseorang menyembelih sapi atau unta yang gemuk untuk tujuh anak atau adanya keterlibatan (isytirak) sekelompok  orang dalam hal sapi atau unta tersebut maka boleh,baik semua maupun sebagian dari mereka berniat untuk aqiqah sementara sebagian yang lain berniat untuk mengambil dagingnya untuk pesta (makan besar/mayoran)
(an Nawawi Al-Majmu zuz 8 hal 409)

Adapun aturan aqiqah (pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama) sesuai hadis rosulullah saw:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya, dan diberi nama
(HR Tirmidzi).

Disina ada persolan,bukan aqiqahnya tapi hewan aqiqah ada kalanya hewan aqiqah memakai hewan unta atau sapi 
( selain kambing yang ada dalam hadis 
على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا )

Kita tinjau dulu pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits diatas adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian,kenikmatan dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Adapun aqiqah pakai hewan salain kambing ulama berbeda pendapat :


وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْبَدَنَةَ وَالْبَقَرَةَ أَفْضَلُ مِنَ الْغَنَمِ وَقِيلَ بَلِ الْغَنَمُ أَفْضَلُ أَعْنِي شَاتَيْنِ فِي الْغُلَامِ وَشَاةً فِي الْجَارِيَةِ 
لِظَاهِرِ السُّنَّةِ


- Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing

- Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, (yang di maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan) karena sesuai dengan bunyi sunah,” 
(Kifayatul Akhyar hal 535).

Berhubung pendapat para ulama yang mu'tamad ada dua pendapat meskipun titik temunya sama ( tentunya sama2 hewan yang gemuk & sarat2 yang lainya)
Maka pilihan ada di kita masing2 dikarenakan keduanya juga tidak melarang baik dengan kambing atau unta

Berkurban dengan hewan betina

Berkurban dengan hewan betina

Menurut Imam Nawawi jenis kelamin hewan kurban ini dianalogikan dengan hadits yang menjelaskan kebolehan untuk memilih jenis kelamin jantan maupun betina untuk aqiqah.
 
ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا 

وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب

Dan diperbolehkan dalam berkurban dengan hewan jantan maupun betina. Sebagaimana mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kuraz dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau pernah bersabda “(aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing.
Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah. 
Jika dalam hal aqiqah saja diperbolehkan dengan landasan hadits tersebut, maka hal ini menunjukkan kebolehan untuk menggunakan hewan berjenis kelamin jantan maupun betina dalam kurban. Karena daging jantan lebih enak dari daging betina, dan daging betina lebih lembab
(al-Majmu zuz 8 hal 392)

Maka kesimpulannya dari analogi hadis aqiqah hukumnya boleh,sebab dari ketentuan qurban *tidak ada ketentuan husus mengenai jenis kelamin hewan kurban*

Tuesday, 4 June 2024

apakah wanita haid boleh memandikan zenajah

*Pertanyaan*

Apakah orang yang junub atau haid atau nifas boleh memandikan jenazah

*Jawaban*

Bagi wanita haid atau nifas atau junub memandikan & mengkapani zenajah *hukumnya boleh* baik zenajah keluarganya atau zenajah orang lain.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan: 

وَيُغَسَّلُ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ ) وَمِثْلُهُمَا النُّفَسَاءُ ( الْمَيِّتُ بِلَا كَرَاهَةٍ ) لِأَنَّهُمَا طَاهِرَانِ وَفِيهِ تَضْعِيفٌ لِمَا قَالَهُ الْمَحَامِلِيُّ مِنْ حُرْمَةِ حُضُورِهِمَا عِنْدَ الْمُحْتَضَرِ وَوُجِّهَ بِمَنْعِهِمَا لِمَلَائِكَةِ الرَّحْمَةِ لِمَا فِي الْخَبَرِ الصَّحِيحِ { أَنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ جُنُبٌ } إذْ لَوْ نَظَرَ لِذَلِكَ لَحَرُمَ تَغْسِيلُهُمَا لَهُ أَيْضًا وَلَا قَائِلَ بِهِ وَتَوَهُّمُ فَرْقٍ بَيْنَ الْمُحْتَضَرِ وَالْمَيِّتِ لَا يُجْدِي لِاحْتِيَاجِ كُلٍّ إلَى حُضُورِ مَلَائِكَةِ الرَّحْمَةِ 

“Orang junub dan haidl demikian pula wanita nifas diperbolehkan memandikan mayit tanpa dihukumi makruh, sebab keduanya suci. 
Pertimbangan ini melemahkan pendapat Imam al-Mahamili yang mengharamkan kehadiran orang junub dan haid berada di samping orang yang sekarat. 
Pendapat ini memiliki sisi pandang bahwa keduanya dapat mencegah malaikat rahmat berdasarkan hadits Nabi, ‘Sungguh malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat orang junub.’ 
Pendapat Al-Mahamili ini lemah sebab bila tolok ukurnya dapat mencegah malaikat rahmat,maka tentu orang junub dan wanita haidl haram memandikan mayit. Sementara tidak ulama’ yang mengatakannya. 
Klaim adanya perbedaan di antara orang yang sekarat mati dan mayit merupakan hal yang tidak prinsipil sebab masing-masing membutuhkan kehadiran malaikat rahmat,"
(Tuhfatul Muhtaj halaman 166)

قَوْلُ الْمَتْنِ بِلَا كَرَاهَةٍ ) أَيْ وَلَوْ مَعَ وُجُودِ غَيْرِهِمَا ع ش قَالَ الْبَصْرِيُّ لَكِنْ يَظْهَرُ أَنَّهُ خِلَافُ الْأَوْلَى لِلْحَدِيثِ الْآتِي ا هـ . 

“Ucapan dalam matan itu,tidak adanya hukum makruh (tahrim)memandikan mayit bagi junub dan wanita haid maksudnya meskipun ditemukan orang lain yang suci, seh hasan al-Bashri mengatakan akan tetapi menurut pandangan yang unggul hal tersebut hukumnya khilaful aula"


Monday, 3 June 2024

tradisi ruatan prespektif islam

*pertanyaan*

Bagaimana pandangan syariat tentang ruwatan

*jawaban*

- Kata “ruwat” mempunyai arti terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa. Ruwatan atau meruwat berarti upaya manusia untuk membebaskan seseorang yang menurut kepercayaan akan tertimpa nasib buruk, dengan cara melaksanakan suatu upacara dan tata cara tertentu
 
Hukum ruwatan itu tidak haram, dengan syarat :

1. Tidak ada kegiatan yang bersifat kemaksiatan dan kemunkaran

2. Apabila Kegiatan dalam ruwatan adalah membaca yasin, doa, dzikir dan semacamnya maka hukumnya boleh karena termasuk tawasul dengan syarat : Tidak meyakini di syareatkannya bacaan tsb secara khusus (madzhab Maliki) 

3. Penyembelihan/memberikan makanan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar terhindar dari kejelekan/bahaya jin dll serta mensedekahkan daging/makanan tersebut kepada masyarakat

- Sebab tidak boleh menelantarkan daging/makanan tersebut tanpa ada yang menkonsumsinya .

4. Tidak meyakini bahwa yang memberikan dampak kebaikan/keburukan adalah bulan/hari na’as atau tradisi Ruwatan (artinya, kita harus tetap meyakini bahwa yang menentukan kebaikan/keburukan hanyalah Allah SWT).

*sumber*

إيضاح مفاهيم السنة ص: ١١
وَمَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس أَوْ غَيْرَهَا مِنَ الْقرآنِ للهِ تَعَالَى طَالِبًا الْبَرَكَةَ فِيْ الْعُمْرِ وَالْبَرَكَةَ فِيْ الْمَالِ وَالْبَرَكَةَ فِيْ الصِّحَّةِ فَإِنَّهُ لاَ حَرَجَ عَلَيْهِ وَقَدْ سَلَكَ سَبِيْلَ الْخَيْرِ، بِشَرْطِ أِنْ لاَيَعْتَقِدَ مَشْرُوْعِيَّةَ ذَلِكَ بِخُصُوْصِهِ. فَلْيَقْرَأْ يس ثَلاَثًا أَوْ ثَلاَثِيْنَ مَرَّةً أَوْ ثَلاَثَمِائَةِ مَرَّةٍ بَلْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كُلَّهُ للهِ تَعَالَى خَالِصًا لَهُ مَعَ طَلَبِ قَضَاءِ حَوَائِجِهِ وَتَحْقِيْقِ مَطَالِبِهِ وَتَفْرِيْجِ هَمِّهِ وَكَشْفِ كَرْبِهِ وَشِفَاءِ مَرَضِهِ، فَمَا الْحَرَجُ فِيْ ذَلِكَ؟ وَاللهُ يُحِبُّ مِنَ الْعَبْدِ أَنْ يَسْأَلَهُ كُلَّ شَيْءٍ حَتىَّ مِلْحَ الطَّعَامِ وَإِصْلاَحِ شِسْعِ نَعْلِهِ. وَكَوْنُهُ يُقَدِّمُ بَيْنَ يَدَيْ ذَلِكَ سُوْرَةَ يس أَوِ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هُوَ إِلاَّ مِنْ بَابِ التَّوَسُّلِ بِاْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَبِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ. وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَى مَشْرُوْعِيَّتِهِ. إهـ

*sumber*


الفقه الإسلامي وأدلته - (ج / ص ٧/١٢٢)
السؤال الحادي والعشرون : كثير من المناسبات العامة التي يدعى المسلمون لحضورها تقدم فيها الخمور ويختلط فيها النساء والرجال، واعتزال المسلمين لبعض هذه المناسبات قد يؤدي إلى عزلهم عن بقية أبناء المجتمع، وفقدانهم لبعض الفوائد. فما حكم حضور هذه الحفلات من غير مشاركة لهم في شرب الخمر أو الرقص أو تناول الخنزير؟
الجواب : في حضور حفلات تقدم فيها الخمور لا يجوز للمسلم أو المسلمة حضور مجالس المعاصي والمنكرات.

*sumber*

فتح الباري لابن حجر العسقلاني - (ج ١٠ / ص ٤٠٩)
وَقَالَ السُّبْكِيُّ الْكَبِيرُ فِي الْحَلَبِيَّاتِ الضَّابِطُ فِي إِضَاعَةِ الْمَالِ أَنْ لَا يَكُونَ لِغَرَضٍ دِينِيٍّ وَلَا دُنْيَوِيٍّ فَإِنِ انْتَفَيَا حَرُمَ قَطْعًا وَإِنْ وُجِدَ أَحَدُهُمَا وُجُودًا لَهُ بَالٌ وَكَانَ الْإِنْفَاقُ لَائِقًا بِالْحَالِ وَلَا مَعْصِيَةَ فِيهِ جَازَ قَطْعًا وَبَيْنَ الرُّتْبَتَيْنِ وَسَائِطُ كَثِيرَةٌ لَا تَدْخُلُ تَحْتَ ضَابِطٍ فَعَلَى الْمُفْتِي أَنْ يَرَى فِيمَا تَيَسَّرَ مِنْهَا رَأْيَهُ وَأَمَّا مَا لَا يَتَيَسَّرُ فَقَدْ تَعَرَّضَ لَهُ فَالْإِنْفَاقُ فِي الْمَعْصِيَةِ حَرَامٌ كُلُّهُ وَلَا نَظَرَ إِلَى مَا يَحْصُلُ فِي مَطْلُوبِهِ مِنْ قَضَاءِ شَهْوَةٍ وَلَذَّةٍ حَسَنَةٍ وَأَمَّا إِنْفَاقُهُ فِي الْمَلَاذِّ الْمُبَاحَةِ فَهُوَ مَوْضِعُ الِاخْتِلَافِ فَظَاهِرُ قَوْلِهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَين ذَلِك قواما أَنَّ الزَّائِدَ الَّذِي لَا يَلِيقُ بِحَالِ الْمُنْفِقِ إِسْرَاف ثمَّ قَالَ وَمن بذل مَا لَا كَثِيرًا فِي غَرَضٍ

*sumber*

غاية تلحيص المراد من فتاوي ابن زياد [ ٢٥٦ ]
(مسئلة) إذا سأل رجل آخر هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أوالنقلة فلا يحتاج إلى جواب لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله. وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا والمؤثر هو الله تعالى فهذا عندي لا بأس به وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات. وأفتى الزملكاني بالتحريم مطلقا وأفتى ابن الصلاح بتحريم الضرب بالرمل وبالحصى ونحوها. قال حسين الأهدل وما يوجد من التعاليق في الكتب من ذلك فمن خرفات المنجمين والمتحٍٍذلقين وترهاتهم لا يحل اعتقاد ذلك وهو من الاستقسام بالأزلام ومن جملة الطيرة المنهي عنها وقد نهى عنه علي وابن عباس وضي الله عنهما.

*sumber*

تحفة المريد [٥٧  ]
فمن اعتقد أن الأسباب بالعادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر في مسبباتها الحرق والقطع والشبع والري بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففي كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الاختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجي إن شاء الله اهـ

*sumber*

التفسير المنير للشيخ وهبة الزحيلي، ٦٧/٨
يحرم الإسلام التبذير، والتبذير كما قال الشافعي رضي الله عنه  إنفاق المال في غير حقه ، ولا تبذير في عمل الخير، وهذا قول الجمهور. وقال مالك : التبذير : هو أخذ المال من حقه ووضعه في غير حقه، وهو الإسراف ، وهو حرام؛ لقوله تعالى : ( إن المبذرين كانوا إخون الشيطين ) أي أنهم في حكمهم؛ إذ المبذر ساع في إفساد كالشياطين.
 
*sumber*

حاشية الباجوري عل فتح القريب في باب الحجر،٦٧٩/٢
(المبذر لماله) أي يصرفه في غير مصارفه قوله : (المبذر لماله) من التبذير وهو والسرف مترادفان على صرف المال في غير مصارفه كما يقتضيه كلام الغزالي ويوافقه قول غيره ما لا يقتضي محمدة عاجلا ولا أجرا آجلا
 
*sumber*

سراج العارفين ص ٥٧
اما وضع الطعام والازهارفي الطرق والمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره في الايام المعتادة كيوم العيد ويوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما فكل ذالك من الامورالمحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل اهل الشرك اهـ

*sumber*

بلغة الطلاب  ص ٩٠
مسألة - ث : العادة المطردة فى بعض البلاد لدفع شر الجن من وضع طعام أو نحوه فى الأبيار أو الزرع وقت حصاده وفى كل مكان يظن أنه مأوى الجن وكذلك إيقاد السرج فى محل ادخار نحو الأرز الى سبعة أيام من يوم الإدخار ونحو ذلك كل ذلك حرام حيث قصد به التقرب إلى الجن بل إن قصد التعظيم والعبادة له كان ذلك كفرا-والعياذ بالله- قياسا على الذبح للأصنام المنصوص فى كتبهم.
وأما مجرد التصدق بنية التقرب إلى الله ليدفع شر ذلك الجن فجائز ما لم يكن فيه إضاعة مال مثل الإيقاظ المذكور انفا, فإن ذلك ليس هو التصدق المحمود شرعا كما صرحوا أن الإيقاد أمام مصلى التراويح وفوق جبل أحد بدعة.
قلت : حتى إن مجرد التصدق بنية التقرب إلى الله لا ينبغى فعله فى خصوص تلك الأماكن لئلا يوهم العوام ما لا يجوز إعتقاده.


*sumber*

ثمرة الروضة الشهية ص ٨٦-٨٧
مسئلة (۱۰٤) ما حكم (ساجين) وهو عبارة عن وضع طعام أو غيره في الزرع وقت الحصاد أو في الأبيار وكل مكان يظن أنه مأوى الجن وقت الولائم لقصد دفع شر الجن وإيقاد المصابيح في البيت الذي يدخر فيه الأرز إلى سبعة أيام من يوم الإدخار لقصد ذلك فهل هو حرام لأنه تقرب لغير الله أولا ؟
الجواب ) إن قصد بتصدق ذلك الطعام التقرب إلى الله ليكفي الله شر ذلك من الجن لم يحرم لأنه لم يتقرب لغير الله كما لا يخفى للمنصف وأما إذا قصد الجن فحرام بل إن قصد التعظيم والعبادة لمن ذكر كان ذلك كفرا قياسا على نصهم في الذبح كما في فتح المعين ج ۲ ص ٣٤٩، والجمل على المنهج في كتاب الصيد والذبائح وغيرها اه ، هذا إذا لم يكن فيه إضاعة مال كأن لم يكن فيه إلا مأكول ويؤكل، وأما ماعهد الآن في بلدنا جاوة من أن فيه لبان جاؤه «منيان » والأزهار «كمباغ » وغيرهما مما لا يؤكل فحرام لأنه تصرف المال فيما لا يقصد شرعا ومنه الإيقاد المذكور في السؤال وقد نص العلماء أن الإيقاد أمام مصلى التراويح وفوق جبل عرفة بدعة اه والله أعلم

 *sumber*

المجموع شرح المهذب ، ٢٦٩/٢, ٢٣٣/٦
يستحب أن يتصدق بشيء أمام الحاجات مطلقا
وقال أصحابنا : يستحب الإكثار من الصدقة عند الأمور المهمة

*sumber*

تنقيح القول الحثيث ص ٢٨-٢٩
وقال صلى الله عليه وسلم : الصدقة تسد سبعين بابا من السوء ، وقال صلى الله عليه وسلم : الصدقة ترد البلاء وتطول العمر
 
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج
 قوله : ( انظروا أعمالا عملتموها صالحة ، فادعوا الله بها لعله يفرجها ) استدل أصحابنا بهذا على أنه يستحب للإنسان أن يدعو في حال كربه ، وفي دعاء الاستسقاء وغيره بصالح عمله ، ويتوسل إلى الله تعالى به ; لأن هؤلاء فعلوه فاستجيب لهم

*sumber*

تفسير صاوي جزء ثالث ص٣١٧ 
إِنَّ فِيْ الْقُرْآنِ لَسُوْرَةً تَشْفَعُ لِقَارِئِهَا وَتَغْفِرُ لِمُسْتَمِعِهَا، أَلاَ وَهِيَ سُوْرَةُ يس. تُدْعَى فِي التَّوْرَاةِ الْمُعِمَّةَ. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْمُعِمَّةُ؟ قَالَ تَعُمُّ صَاحِبَهَا بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَتَدْفَعُ عَنْهُ أَهْوَالَ اْلآخِرَةِ. وَتُدْعَى أَيْضًا الدَّافِعَةَ وَالْقَاضِيَةَ. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ تَدْفَعُ صَاحِبَهَا كُلَّ سُوْءٍ وَتَقْضِيْ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ ..... إِلَى أَنْ قَالَ: يس لِمَا قُرِئَتْ لَهُ. وَحِكْمَةُ اخْتِيَارِ الصَّالِحِيْنَ فِي اسْتِعْمَالِهَا التَّكْرَارَ كَأَرْبَعٍ أَوْ سَبْعٍ أَوْ أَحَدٍ وَأَرْبَعِيْنَ وَغَيْرِ ذَلِكَ شِدَّةُ الْحِجَابِ وَالْغَفْلَةِ عَلَى الْقَلْبِ، فَبِالتَّكْرَارِ تَصْفُوْ مِرْأَتَهُ وَتَرِقُّ طَبِيْعَتَهُ. إهـ 

*sumber*

تفسير صاوي جزء رابع ص١٣ 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ. الدُّعَاءُ فِيْ اْلأَصْلِ السُّؤَالُ وَالتَّضَرُّعُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فِيْ الْحَوَائِجِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَاْلأُخْرَوِيَّةِ الْجَلِيْلَةِ وَالْحَقِيْرَةِ. وَمِنْهُ مَا وَرَدَ: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى فِيْ شِسْعِ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ. وَقَوْلُهُ أَسْتَجِبْ لَكُمْ أَيْ أُجِبْكُمْ فِيْمَا طَلَبْتُمْ. إهـ 

*sumber*

اعانة الطالبين
فائدة من ذبح تقربا لله تعالى لدفع شر الجن عنه لم يحرم أو بقصدهم حرم (قوله فائدة من ذبح) أي شيئا من الإبل أو البقر أو الغنم (وقوله تقربا لله تعالى) أي بقصد التقرب والعبادة لله تعالى وحده وقوله لدفع شر الجن عنه علة الذبح أي الذبح تقربا لأجل أن الله سبحانه وتعالى يكفي الذابح شر الجن عنه وقوله لم يحرم أي ذبحه وصارت ذبيحته مذكاة لأن ذبحه لله لا لغيره (قوله أو بقصدهم حرم) أي أو ذبح بقصد الجن لا تقربا إلى الله حرم ذبحه وصارت ذبيحته ميتة بل إن قصد التقرب والعبادة للجن كفر كما مر فيما يذبح عند لقاء السلطان أو زيارة نحو ولي اهـ