Gunung Singkup yang berada di Desa Bojongkondang, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran menyimpan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Gunung Singkup menjadi tempat bermunajat dan mengatur sertategi para tokoh agama Islam dan Tentara Hizbullah dibawah kepemimpinan Kiai Abdul Hamid.
"Pada tahun 1944 Kiai Abdul Hamid bergabung dengan Partai Masyumi, tahun 1946 pasca Proklamasi Kemerdekaan RI membentuk laskar perjuangan yaitu Hizbullah dan Sabilillah,"
Hizbullah dan Sabilillah berlatih selama kurang lebih 5 bulan di Pesantren Cicau sebelum berangkat ke Bandung untuk berjuang mempertahankan Kemerdekaan NKRI.
Selama bermukim di Cicau, Kiyai Abdul Hamid terus menegakkan dakwah Islamiyyah dan memberantas berbagai bentuk kemusyrikan yang saat itu masih sangat kental di masyarakat,” paparnya.
Salah satu bentuk dakwah yang dilakukan Kiai Abdul Hamid berhasil menghilangkan keyakinan masyarakat menyembah berhala yang terkenal dengan nama Panyembahan Karantenan hingga berhasil dihacurkan dengan berkah karomah Kiai Abdul Hamid.
Kembali dari Bandung, pasukan Hizbullah dan Sabilillah memutuskan untuk kembali ke Langkaplancar.
Namun karena kondisi masyarakat sudah berubah dengan masuknya faham baru yaitu Darul Islam (DI) yang tidak sejalan dengan pemikiran dan pemahaman Kiai Abdul Hamid maka Kiyai Abdul Hamid bersama laskarnya memutuskan untuk tinggal di Gunung Singkup sebagai tempat riyadhoh dan mengatur berbagai strategi.
"Karena Kiai Abdul Hamid menolak bergabung dengan DI maka dituduh berpihak pada Belanda dan dimusuhi, sementara pasukan Belanda sendiri terus berupaya mencari keberadaan Kyai Abdul Hamid untuk di bunuh,"
Bahkan, waktu itu Belanda menargetkan pembunuhan kepada para Kiai dengan harapan salah satunya adalah Kai Abdul Hamid.
Melihat gelombang fitnah semakin menjadi-jadi, para sahabat Kiai Abdul Hamid menyarankan agar ia pindah ke Daerah Karang Gedang Ciamis.
Atas usulan tersebut Kiyai Abdul Hamid hijrah ke Karang Gedang, Kabupaten Ciamis dan bermukim di sana selama sekira 7 bulan sampai akhirnya meninggal dibunuh gerombolan PKI bersama 3 santrinya.
Ketiga santri yang dibunuh oleh PKI waktu itu diantaranya Ajengan Sa'aduddin, Kiyai Zaenal Arifin dan Kiyai Zaenal Mutaqin, mereka difitnah bergabung dengan Belanda lalu diculik dan dibawa ke daerah Cigembor Ciamis, di sana mereka dibunuh dengan kejam.
dan dimakamkan bersama ketiga di Karang Gedang Ciamis yang beralamat:
Kp karang gedang rt/rw 004 /007 desa linggasari kec ciamis kab ciamis jawabarat

