Sunday, 25 August 2024

Ma'mun bawa sejadah besar

*pertanyaan*

Bagaimana hukum ma'mum yang memakai sejadah besar diwaktu solat berjama'ah

*Jawaban*

bagi seseorang ma'mum menggunakan sajadah lebar dalam shalat berjamaah di mushala atau masjid yang menyebabkan shaf tidak rapat Maka hukumnya Haram,karena mengambil hak orang lain.
Kecuali bila pemilik sajadah melipat sebagian sajadahnya atau mempersilakan (menyuruh merapat) pada orang yang berada di sampingnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab:

الحاوى للفتاوى الجزء الأول ص:١٤٣ 
لَيْسَ للإنسان فِي الْمَسْجِدِ إلَّا مَوْضِعُ قِيَامِهِ وَسُجُودِهِ وَجُلُوسِهِ ، وَمَا زَادَ عَلَى ذَلِكَ فَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ ، فَإِذَا بَسَطَ شَيْئًا لِيُصَلِّي عَلَيْهِ احْتَاجَ لِأَجْلِ سَعَةِ ثَوْبِهِ أَنْ يَبْسُطَ شَيْئاً كَبِيْرًا لِيَعُمَّ ثَوْبُهُ عَلَى سَجَادَتِهِ فَيَكُوْنُ فِي سَجَادَتِهِ اِتِّسَاعٌ خَارِجٌ فَيُمْسِكُ بِسَبَبِ ذَلِكَ مَوْضِعَ رَجُلَيْنِ أَوْ نَحْوِهِمَا إِنْ سَلِمَ مِنَ الكِبَرِ مِنْ أَنَّهُ لاَ يَضُمُّ إِلَى سَجَادَتِهِ أَحَدًا فَإِنْ لَمْ يَسْلَمْ مِنْ ذَلِكَ وَوَلَّى النَّاسَ عَنْهُ وَتَبَاعَدُوْا مِنْهُ هَيْبَةً لِكُمِّهِ وَثَوْبِهِ وَتَرَكَهُمْ هُوْ وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالقُرْبِ إِلَيْهِ فَيُمْسِكُ مَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ فَيَكُوْنُ غَاصِبًا لِذَلِكَ الْقَدْرِ مِنَ المَسْجِدِ فَيَقَعُ بِسَبَبِ ذَلِكَ فِي المُحَرَّمِ المُتَّفَقِ عَلَيْهِ المَنْصُوْصِ عَنْ صَاحِبِ الشَّرِيْعَةِ صلوات الله عليه وسلامه قال عليه الصلاة والسلام من غصب شبرا من أرض طوقه الله يوم القيامة إلى سبع أرضين أو كما قال عليه الصلاة والسلام وذلك الموضع الذي أمسكه بسبب قماشه وسجادته ليس للمسلمين به حاجة في الغالب إلا في وقت الصلاة وهو في وقت الصلاة غاصب له فيقع في هذا الوعيد بسبب قماشه وسجادته وزيه فإن بعث سجادته إلى المسجد في أول الوقت أو قبله ففرشت له هناك وقعد هو إلى أن يمتلئ المسجد بالناس ثم يأتي غاصبا لذلك الموضع الذي عملت السجادة فيه لأنه ليس له أن يحجره وليس لأحد فيه إلا موضع صلاته انتهى

Seseorang tidak memiliki hak di dalam masjid kecuali tempat berdiri,sujud dan duduknya,dan selain itu adalah hak orang-orang Muslim lainnya.
Bagi seorang yang menggelar sajadahnya untuk shalat dan karena besar pakaiannya, ia membutuhkan sajadah yang besar untuk mencakup pakaiannya,sehingga menggunakan tempat satu atau dua orang,
bila ia tidak melipat atau mempersilakan orang lain untuk merapat,maka tidak diperbolehkan karena ia termasuk orang yang ghoshob

Dari dasar hukum diatas *Hati hati* kalau mau membawa alas solat bawalah yang hanya pas untuk sendiri apalagi dijaman sekarang setiap mesjid bisanya sudah dilengkapi dengan kapret yang mencukupi..


Saturday, 24 August 2024

hukum jual beli kohe

*pertanyaan*

Apakah boleh membeli barang najis,seperti kotoran hewan atau kohe

*Jawaban*

Didalam persoalan ini ulama berbeda pendapat :

-Dalam pandangan ulama madzhab Syafi’i, barang yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah barang tersebut harus suci dan bermanfaat maka dari itu tidak sah jual belinya dikala memperjualbelikan barang najis namun ada cara 
yakni dengan menggunakan sistem pemindahan hak (pemilik uang memberikan uangnya kepada pemilik pupuk dan sebaliknya pemilik pupuk memberikan pupuknya kepada pemilik uang) atau sama halnya dengan mengganti jasa. 
Pupuk tersebut dapat dimiliki dengan cara akad serah terima barang yang ditukar dengan barang lain *tanpa transaksi jual beli*

Seperti keterangan kitab Hasyiyah al-Bajuri Ala syarkh ibn Qasim Juz 1, Hal 343

ولايصح بيع عين نجسة) ولامتنجسة كخمر ودهن وخل متنجس ونحوه مما لايمكن تطهيره.  (وقوله: ولايصح بيع عين نجسة) أي سواء أمكن تطهيرها بالإستحالة كالخمر وجلد الميتة أم لاكالسرجين والكلب ولو معلما.  ويجوز نقل اليد  عن اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف.  وطريقه أن يقول المستحق به أسقطت حقي من هذا بكذا،  فيقول الآخر قبلت. اه

-Dalam pandangan ulama hanafiyyah

وَلَمْ يَشْتَرِطْ الْحَنَفِيَّةُ هَذَا الشَّرْطَ فَأَجَازُوْا بَيْعَ النَّجَاسَاتِ كَشَعْرِ الْخِنْزِيْرِ وَجِلْدِ الْمَيْتَةِ لِلانْتِفَاعِ بِهَا إِلاَّ مَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِهِ مِنْهَا كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ كَمَا أَجَازُوْا بَيْعَ الْحَيَوَانَاتِ الْمُتَوَحِّشَةِ وَالْمُتَنَجِّسِ الَّذِيْ يُمْكِنُ اْلانْتِفَاعُ بِهِ فِيْ اْلأَكْلِ وَالضَّابِطُ عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوْزُ لِأَنَّ اْلأَعْيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ اْلإِنْسَانِ 

Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). 
Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan barang mutanajis/barang yang kena najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan (contoh telur) Dan patokanya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.
maka boleh menjual-belikannya
Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia..

*maka kesimpulannya menurut hanafiyyah sah akad memperjualbelikan barang najis*