Saturday, 24 August 2024

hukum jual beli kohe

*pertanyaan*

Apakah boleh membeli barang najis,seperti kotoran hewan atau kohe

*Jawaban*

Didalam persoalan ini ulama berbeda pendapat :

-Dalam pandangan ulama madzhab Syafi’i, barang yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah barang tersebut harus suci dan bermanfaat maka dari itu tidak sah jual belinya dikala memperjualbelikan barang najis namun ada cara 
yakni dengan menggunakan sistem pemindahan hak (pemilik uang memberikan uangnya kepada pemilik pupuk dan sebaliknya pemilik pupuk memberikan pupuknya kepada pemilik uang) atau sama halnya dengan mengganti jasa. 
Pupuk tersebut dapat dimiliki dengan cara akad serah terima barang yang ditukar dengan barang lain *tanpa transaksi jual beli*

Seperti keterangan kitab Hasyiyah al-Bajuri Ala syarkh ibn Qasim Juz 1, Hal 343

ولايصح بيع عين نجسة) ولامتنجسة كخمر ودهن وخل متنجس ونحوه مما لايمكن تطهيره.  (وقوله: ولايصح بيع عين نجسة) أي سواء أمكن تطهيرها بالإستحالة كالخمر وجلد الميتة أم لاكالسرجين والكلب ولو معلما.  ويجوز نقل اليد  عن اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف.  وطريقه أن يقول المستحق به أسقطت حقي من هذا بكذا،  فيقول الآخر قبلت. اه

-Dalam pandangan ulama hanafiyyah

وَلَمْ يَشْتَرِطْ الْحَنَفِيَّةُ هَذَا الشَّرْطَ فَأَجَازُوْا بَيْعَ النَّجَاسَاتِ كَشَعْرِ الْخِنْزِيْرِ وَجِلْدِ الْمَيْتَةِ لِلانْتِفَاعِ بِهَا إِلاَّ مَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِهِ مِنْهَا كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ كَمَا أَجَازُوْا بَيْعَ الْحَيَوَانَاتِ الْمُتَوَحِّشَةِ وَالْمُتَنَجِّسِ الَّذِيْ يُمْكِنُ اْلانْتِفَاعُ بِهِ فِيْ اْلأَكْلِ وَالضَّابِطُ عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوْزُ لِأَنَّ اْلأَعْيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ اْلإِنْسَانِ 

Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). 
Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan barang mutanajis/barang yang kena najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan (contoh telur) Dan patokanya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.
maka boleh menjual-belikannya
Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia..

*maka kesimpulannya menurut hanafiyyah sah akad memperjualbelikan barang najis*


Monday, 29 July 2024

nadzar

Bab nadzar

Nazar secara bahasa adalah janji (melakukan hal) baik atau buruk.

nazar menurut pengertian syara’ adalah menyanggupi melakukan ibadah yang bukan merupakan hal wajib (fardhu ‘ain) bagi seseorang.

Nadzar yang dilakukan seseorang tidak akan dapat menolak ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT. 

Oleh karenanya,ia tidak mempengaruhi berhasil atau gagalnya usaha seseorang.

 Nabi bersabda: 

لاَ يَأْتِي ابْنَ آدَمَ النَّذْرُ بِشَيْءٍ لَمْ يَكُنْ قُدِّرَ لَهُ، وَلَكِنْ يُلْقِيهِ النَّذْرُ إِلَى القَدَرِ قَدْ قُدِّرَ لَهُ، فَيَسْتَخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مِنَ البَخِيلِ 

“Nadzar itu tidak dapat membawa manusia pada sesuatu yang ditakdirkan, tetapi takdir yang membawa manusia itu kepada yang telah ditakdirkan.Allah mengeluarkan nadzar itu dari orang yang bakhil atau kikir”. (HR. Bukhari)

Sesuai dari kandungan dengan hadis ini, maka setiap orang muslim seharusnya menahan diri dari kebiasaan bernadzar, karena hal itu akan menandai orang yang melakukannya sebagai manusia yang bakhil

( *MINIMALNYA CIRI ORANG YANG BERAMAL IBADAH DENGAN KURANG ATAU TIDAK IKLAS*

contoh lamun hasil maksud Bade puasa sunah ciri t iklas puasana sbb puasana daek soten lamun hasil da lamun t hasilmh moal daek ieuh puasana)

Dalam hadis lain

Rasulullah SAW melarang nadzar, beliau bersabda:

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلاَ يُؤَخِّرُ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنَ البَخِيلِ

“Sesungguhnya nadzar itu tidak menolak takdir sedikitpun dan nadzar itu dikeluarkan dari orang yang bakhil”. 

(HR. Bukhari)

larangan bernadzar ditegaskan dengan fi’il nahi (larangan):

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَنْذِرُوا، فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا

 

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu bernadar, karena sesungguhnya nadzar itu tidak berfaidah terhadap takdir sedikitpun”.” (HR. Muslim)

Meskipun nadzar itu dilarang dalam Sariat apakah kalau sudah bernadzar wajib dilaksanakan? Maka jawabannya dari sabda Rasulullah Saw

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ“

Siapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka wajib di penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah,maka janganlah bermaksiat kepada-Nya

(HR al-Bukhari).


Bagaimana bagi seseorang yang tidak mampuh memenuhi sumpah nadzar yang terlanjur berucap nadar

 

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ فَكَفَّارَتُهٗٓ اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍۗ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْۗ وَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.Maka, kafaratnya (denda akibat melanggar sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang (biasa) kamu berikan kepada keluargamu, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (dan kamu melanggarnya).Jagalah sumpah-sumpahmu! Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Ma’idah 89)

Berdasarkan ayat di atas, maka orang yang melanggar nazar diberi tiga alternatif ketika tidak mampu melakukan nazar yang telah diucapkan:

  1. Memerdekakan satu budak perempuan yang beriman. Berhubung zaman sekarang tidak ada lagi budak, otomatis poin ini tidak mungkin dilakukan
  2. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin. Dengan jatah masing-masing sebesar satu mud atau  ¾ liter.
  3. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin. Masing-masing orang miskin diberi satu pakaian. Bisa berupa baju, celana, atau jilbab jika perempuan.
  4. Jika salah satu dari tiga alternatif tersebut tidak bisa dilakukan, maka kafaratnya adalah berpuasa selama tiga hari berturut-turut dengan niat menggugurkan sumpah (nazar).

Mudah2han manfaat kanggo diri, umumnamh anu maca