Monday, 17 February 2020

KH abdul Hamid pejuang yang hampir terlupakan

Gunung Singkup yang berada di Desa Bojongkondang, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran menyimpan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Gunung Singkup menjadi tempat bermunajat dan mengatur sertategi para tokoh agama Islam dan Tentara Hizbullah dibawah kepemimpinan Kiai Abdul Hamid.

"Pada tahun 1944 Kiai Abdul Hamid bergabung dengan Partai Masyumi, tahun 1946 pasca Proklamasi Kemerdekaan RI membentuk laskar perjuangan yaitu Hizbullah dan Sabilillah,"

Hizbullah dan Sabilillah berlatih selama kurang lebih 5 bulan di Pesantren Cicau sebelum berangkat ke Bandung untuk berjuang mempertahankan Kemerdekaan NKRI.

Selama bermukim di Cicau, Kiyai Abdul Hamid terus menegakkan dakwah Islamiyyah dan memberantas berbagai bentuk kemusyrikan yang saat itu masih sangat kental di masyarakat,” paparnya.

Salah satu bentuk dakwah yang dilakukan Kiai Abdul Hamid berhasil menghilangkan keyakinan masyarakat menyembah berhala yang terkenal dengan nama Panyembahan Karantenan hingga berhasil dihacurkan dengan berkah karomah Kiai Abdul Hamid.

Kembali dari Bandung, pasukan Hizbullah dan Sabilillah memutuskan untuk kembali ke Langkaplancar.

Namun karena kondisi masyarakat sudah berubah dengan masuknya faham baru yaitu Darul Islam (DI) yang tidak sejalan dengan pemikiran dan pemahaman Kiai Abdul Hamid maka Kiyai Abdul Hamid bersama laskarnya memutuskan untuk tinggal di Gunung Singkup sebagai tempat riyadhoh dan mengatur berbagai strategi.

"Karena Kiai Abdul Hamid menolak bergabung dengan DI maka dituduh berpihak pada Belanda dan dimusuhi, sementara pasukan Belanda sendiri terus berupaya mencari keberadaan Kyai Abdul Hamid untuk di bunuh," 

Bahkan, waktu itu Belanda menargetkan pembunuhan kepada para Kiai dengan harapan salah satunya adalah Kai Abdul Hamid.

Melihat gelombang fitnah semakin menjadi-jadi, para sahabat Kiai Abdul Hamid menyarankan agar ia pindah ke Daerah Karang Gedang Ciamis.

Atas usulan tersebut Kiyai Abdul Hamid hijrah ke Karang Gedang, Kabupaten Ciamis dan bermukim di sana selama sekira 7 bulan sampai akhirnya meninggal dibunuh gerombolan PKI bersama 3 santrinya.

Ketiga santri yang dibunuh oleh PKI waktu itu diantaranya Ajengan Sa'aduddin, Kiyai Zaenal Arifin dan Kiyai Zaenal Mutaqin, mereka difitnah bergabung dengan Belanda lalu diculik dan dibawa ke daerah Cigembor Ciamis, di sana mereka dibunuh dengan kejam.
dan dimakamkan bersama ketiga di Karang Gedang Ciamis yang beralamat:

Kp karang gedang rt/rw 004 /007 desa linggasari kec ciamis kab ciamis jawabarat

Wednesday, 4 September 2019

Menyikapi perbedaan

Melihat titik persamaan dari sudut yang berbeda

Alkisah

Disuatu hari
Imam Malik (Guru Imam Syafii) dalam majlis menyampaikan :

Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. 
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya

Sementara Imam Syafii (Sang murid berpendapat lain) :

Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki
Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya.


Suatu saat Imam Syafii tengah meninggalkan pondok, dia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. 

Beliaupun membantu mereka.
Setelah pekerjaan selesai,
Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafii girang,
bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya:

Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki
Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik sang guru. 

Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita dengan sedikit mengeraskan bagian kalimat:

Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya


Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya.
Imam Malik berucap pelan:

Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.
Tiba-tiba  engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.
Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab
Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki.
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya

Guru dan murid itu kemudian tertawa. 

Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.


saudaraku


Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan,bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.
Atau membenarkan pendapatnya dengan menyalahkan pendapat orang lain


Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua ditengah2 kemajemukan yang kita hadapi
Jadikan perbedaan jadi seni kehidupan sehingga terasa indah dalam persaudaraan didalam perbedaan.

Jangan dijadikan perbedaan jadi permusuhan dalam persaudaraan


Manusia diciptakan berbeda beda
Maka lihatlah titik kesamaannya dari sudut yang berbeda

Wallohul muwafiq ila aqwamittoriq