Wednesday, 4 September 2019

Menyikapi perbedaan

Melihat titik persamaan dari sudut yang berbeda

Alkisah

Disuatu hari
Imam Malik (Guru Imam Syafii) dalam majlis menyampaikan :

Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. 
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya

Sementara Imam Syafii (Sang murid berpendapat lain) :

Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki
Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya.


Suatu saat Imam Syafii tengah meninggalkan pondok, dia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. 

Beliaupun membantu mereka.
Setelah pekerjaan selesai,
Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafii girang,
bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya:

Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki
Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik sang guru. 

Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita dengan sedikit mengeraskan bagian kalimat:

Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya


Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya.
Imam Malik berucap pelan:

Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.
Tiba-tiba  engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.
Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab
Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki.
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya

Guru dan murid itu kemudian tertawa. 

Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.


saudaraku


Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan,bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.
Atau membenarkan pendapatnya dengan menyalahkan pendapat orang lain


Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua ditengah2 kemajemukan yang kita hadapi
Jadikan perbedaan jadi seni kehidupan sehingga terasa indah dalam persaudaraan didalam perbedaan.

Jangan dijadikan perbedaan jadi permusuhan dalam persaudaraan


Manusia diciptakan berbeda beda
Maka lihatlah titik kesamaannya dari sudut yang berbeda

Wallohul muwafiq ila aqwamittoriq

Friday, 12 July 2019

Mama nuh gentur cianjur

Asal Usul Desa Jambudipa
Warungkondang Cianjur


Desa Jambudipa adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Warungkondang yang merupakan bagian administratif Pemerintahan Kabupaten Cianjur.
Nama Jambudipa diambil dari kampung di wilayah Dusun I Desa Jambudipa, lokasi tempat berdirinya bale desa dari dahuu sampai sekarang, yaitu Kampung Jambudipa.
 
Tidak ada data otentik mengenai asal usul berdirinya Desa Jambudipa.
Hanya cerita yang digali dari para tokoh dan dihubungkan dengan peninggalan sejarah yang berlokasi di Kampung Jambudipa berupa makam kuno yang dipercaya sebagai makam para prajurit mataram.


Alkisah, konon pada abad ke-17 Masehi, pengaruh kerajaan Mataram mulai menyebar dan memasuki wilayah tatar Pasundan.
Pada masa itu Sultan Mataram mengutus rombongan untuk menyelamatkan wilayah priangan. 

Diantara pasukan tersebut ada yang melalui jalur tengah melewati Cianjur.
Salah satunya dipimpin oleh Ratu Ringgo. 

Tidak diketahui pasti apakah Ratu Ringgo nama asli atau nama sebutan.
Ratu Ringgo sampai pada suatu tempat pedataran yang masih merupakan padang ilalang dan tumbuh juga pohon-pohon yang rindang untuk tempat beristirahat. 

Di tempat tersebut Ratu Ringgo dan pasukannya beristirahat sambil memperdalam ilmu-ilmu perang terutama ilmu kebatinan atau masyarakat menyebut ilmu jawu. 

Karena kehebatan ilmu yang diajarkan oleh Ratu Ringgo, sehingga mengundang pasukan-pasukan yang lain untuk belajar ilmu tersebut. 

Tempat tersebut menjadi terkenal dan pada masa itu disebut sebagai Jawu Dwiva. 
Arti kata Dwiva yang berasal dari bahasa sanskerta yang berarti negara atau daerah.

Seiring berjalannya waktu Jawu Dwiva menjadi semacam pusat pengajaran yang mengundang orang-orang untuk bermukim dan mempelajari ilmu-ilmu perang.
Para pemukim mulai menanam tumbuhan pangan dengan membuka lahan pesawahan. 

Diceritakan, Raden Ringgo sendiri pada akhirnya berpindah ke daerah Sumedang dan putra beliau yang bernama Raden Jumulloh menetap di Jawu Dwiva setelah beliau dan pasukannya kembali dari Banten menunaikan tugas dari Sultan Mataram. 

Menurut sebagian tokoh Desa Jambudipa, kata Jawu Dwiva belakangan berubah pelafalannya menjadi Jambudipa.

Nama Desa Jambudipa semakin dikenal di wilayah Priangan.
Pada akhir abad 18 Masehi, berdiri Pesantren Gentur di Kampung Gentur, yang merupakan bagaian administratif Desa Jambudipa. Pesantren Gentur yang merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Barat.

Tokoh yang melegenda adalah
Asy-Syaikh Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi Asy-Syanjuri Al-Jawi Asy-Syafi’i atau lebih dikenal dengan Mama Gentur.

salah satu sosok ulama Tatar Pasundan yang bergelar Al-Alim Al-‘Allamah Al-Kamil Al-Wara.
Tokoh lainnya dari Gentur adalah Mama Hajji Muhammad Qurthubi alias Mama Gentur Kidul, dan KH. Abdul Haq Nuh bin Mama Ahmad Syatibi bin Muhammad Said alias Aang Nuh.

Seiring perkembangan Pesantren Gentur, di Kampung Jambudipa, pada pada tahun 1894 Masehi didirikan Pesantren Jambudipa oleh Kyai Mohammad Holil atau lebih dikenal dengan nama Being Sambong. 

Pada tahun 1917, Kyai Mohammad Holil meninggal.
Selanjutnya, Pesantren Jambudipa dipimpin Kyai Fahrudin.
Pada masa Kyai Fahrudin, Pesantren Jambudipa tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tapi juga mulai melakukan kegiatan berbagai pengajian kitab kuning. 

Pada tahun 1935, untuk memenuhi keinginan masyarakat, didirikanlah bangunan majlis talim sebagai wadah bagi pengajian masyarakat umum.
Pengajian melalui majlis talim ini dilakukan setiap hari Senin pagi untuk laki-laki dan Selasa pagi untuk wanita.
Biasanya, tidak kurang 1.500 pria dan 1.700 wanita menghadiri pengajian tersebut.
Mereka datang dari Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Sepeninggal KH. Fahrudin, pesantren dilanjutkan oleh KH. Endang Muhidin dan KH. Daud Jalaludin.

Dari rangkaian cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan Desa Jambudipa tidak terlepas dari kedua pesantren, yaitu Pesantren Gentur dan Pesantren Jambudipa.
Kemudian Mama Haji Abdullah Haq Nuh AL Qonturi (Syekh Aang Nuh Gentur)

Menurut beberapa sumber nasab 

Aang Nuh bin 
Syekh Ahmad Syatibi Gentur bin Syekh Muhammad Said bin 
Syekh Abdul Qodir Cihaneut ciawi tasikmalaya bin 
Syekh Nur Hajid bin Syekh Nur Katim bin 
Sembah Dalem Bojong bin 
Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan .

Beliau adalah salah satu sosok ulama tanah pasundan yang al-alim al-alamah al-kamilil-wara dari Pondok Pesantren di gentur Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat yang sangat tinggi akan keilmuannya bahkan dalam segi keistimewaan yang sering banyak orang membicarakannya.

PARA GURUNYA :

1. Ayahnya sendiri yakni Mama Ajengan Kaler ( K.H.Ahmad Syathiby)
2. Uaknya yakni Mama Ajengan Kidul K.H. Muhammad Qurthuby
3. Mama Cijerah K.H. Muhammad Syafi`i

TEMAN SEPERJUANGANNYA DI
PONDOK PESANTREN CIJERAH :

1. Mama Sindang Sari ( K.H.Thoha bin K.H.Muhammad Showi )
2. Mama Badaraksa ( K.H.Thoha bin K.H.Hasan Al-Mustawi )
3. Mama Gelar ( K.H.Abdus Shommad )
4. Mama Obay karawang
5. Mama Syarifuddin Ponpes Fathul Huda cipaku Samarang garut


Adapun keistimewaan yang diberikan oleh allah swt kepada beliau yang di kutip dari beberapa sumber yaitu:

- naik di atas monas dan ditembaki  tahu-tahu berada di rumahnya

- masuk kedalam drum di tembaki oleh blanda tahu-tahu berada di rumahnya

- orang yang sedang melamun ditempelengnya kemudian di suruh jualan peuyeum ubi kemudian orang tersebut mendadak kaya

- naik motor harley (moge) sambil berdiri

- Merubah kararas (daun pisang kering) menjadi ikan mas kecil di kolam

- Terjun dari atas air terjun tinggi yang di bawah nya batu runcing dengan posisi kepala terlebih dahulu namun tidak terjadi apa apa. 

(sambil bilang ke santrinya: kalau belum waktunya meninggal tidak akan meninggal)

- Beliau menendang masjid yang belum jadi sambil berkata: ini masjid apa kandang hewan?
Tidak lama dari kejadian itu ada mobil yang mengirim bahan2 bangunan dan bangunan pun terselesaikan.

Perkataan Syèikh Aang Nuh Gentur Cianjur yang penomenal :

"Ceramah tèh euy, Ulah ngan
sakadar bisa TARIK SORA nepika NGAHIUNG kana puhu ceuli.
Tapi kudu bisa TARIK RASA nepika NGAHIANG kana yahu tajali."

Artinya :

Ceramah itu jangan hanya bisa teriak sampai berdengung telinga orang yg mendengarnya, tetapi harus bisa sampai tembus kedalam kalbu,mengajak orang untuk mengenal Allah (tajali HU marifat).
Tahun 1990 beliau wafat pulang ke rahmatullah.


Semoga sekelumit dari kisah ulama
Ini bisa menjadi bukti cintanya kita kepada ulama,mendapatkan keberkahan ilmunya dan kita dikumpulkan bersama dengan para ulama,para kekasih allah swt.

Syeikh Abu Qasim Juned Al-Bagdadi ra berkata :
"Barang siapa membuat tarekh (sejarah Biografi) seorang kekasih Allah maka sama dg menghidupkan kekuatan marifatnya Wali tersebut dihati kita.
Dan barang siapa ziarah kepada seorang Waliyullah maka sama dengan mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ.


Wallohu a'lam