Friday, 1 May 2020

Sejarah puasa ramadhan

Sebelum Allah SWT memerintahkan puasa di bulan Ramadhan kepada rosulullah saw

وروى مسلم عن جابر بن سمرة قال
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأْمر بصيام يومِ عاشوراءَ ، ويَحُثُّنا عليه ، ويتعاهدُنا عنده ، فلما فُرِضَ رمضانُ لم يأْمرْنا ولم يَنْهَنَا ولم يتعاهدنا عنده

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Samroh yang berkata: 

"Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa Asyura dan menganjurkan kami untuk melakukannya dan  memperhatikan kami di sisi beliau,
Kemudian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau tidak lagi memerintahkan kami (untuk puasa Asyura) dan tidak lagi memperhatikan kami melakukannya di sisi beliau.

Kalimat :

“tidak memerintah dan tidak lagi memperhatikan”

dalam hadits di atas bukan berarti Rasulullah bersikap apatis ataupun tidak peduli terhadap puasa Asyura,
Sikap Rasulullah menjadi berubah disebabkan karena perubahan hukum puasa Asyura sendiri. 
Yaitu yang awalnya wajib sehingga sang rasul sangat menekankan dan memeperhatikan.
kemudian hukumnya berubah menjadi hanya sebatas sunah


Lalu kapan puasa Ramadhan mulai di sariatkan

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ، كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

Dari  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyah melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ dan Rasulullah Saw juga melaksanakannya. 
Ketika Beliau sudah tinggal di Madinah Beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan orang-orang untuk melaksanakannya pula. 
Setelah diwajibklan puasa Ramadhan Beliau tidak menekannya,
Maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan meninggalkannya”.

Para ulama sepakat bahwa puasa Ramadan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. 
Pada tahun keduaHijriyah pula zakat fitri, shalat Id dan perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah disyariatkan.

Dan dari hadis di atas terlihat bahwa penyariatan puasa Ramadhan ini juga tidak langsung wajib dilakukan oleh semua orang Islam. 
Pada awal diwajibkannya puasa Ramadhan umat Islam boleh memilih antara melakukan puasa atau membayar fidyah

sebagaimana juga tercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 184,

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرًا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dalam kandungan ayat tsb tetap diingatkan bahwa memilih untuk berpuasa adalah lebih baik.

Dalam hadits disebutkan:

عن سلمة بن الأكوع قال: لما نزلت: (وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين) كان من أراد أن يفطر ويفتدي، حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها

Dari Salamah bin al-Akwa’ beliau berkata, “ketika turun ayat (Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin), boleh diantara kita berpuasa atau membayar fidyah. 
Ketika turun ayat setelahnya maka ayat itu menasakh kebolehan memilih. (Muttafaq alaih).

Setelah waktu itu maka puasa Ramadhan wajib dilakukan oleh semua Muslim yang mampu dan tak ada udzur. 
Akan tetapi kewajiban ini terbilang cukup berat, 
karena puasa dilakukan semenjak seseorang tidur malam hingga waktu Maghrib keesokan harinya.

Artinya:

seseorang yang sudah tidur pada malam hari tidak boleh lagi makan, minum dan berhubungan suami istri sampai waktu Maghrib keesokannya. 

Hal ini membuat beberapa sahabat merasa berat melakukannya. 
Bahkan sampai ada sahabat yang pingsan karena belum makan (berbuka), namun ia sudah tertidur karena kelelahan bekerja. 
Ia harus menahan makan dan minum lagi sampai malam berikutnya.

Maka beberapa shahabat mengalami keadaan yang berat. 

Riwayat yang menjelaskan itu yang terjadi kepada Qais bin Shirmah al-Anshari:

عن البراء بن عازب –رضى الله عنه-، قال: " كان أصحاب محمد –صلى الله عليه وسلم- إذا كان الرجل صائماً فحضر الإفطار، فنام قبل أن يفطر، لم يأكل ليلته ولا يومه حتى يمسى، وإن قيس بن صِرمَة الأنصارىّ كان صائماً، فلما حضر الإفطار أتى امرأته، فقال لها: أعندكِ طعام؟، قالت: لا، ولكن أنطلق فأطلب لك، وكان يومه يعمل، فغلبته عيناه
فجاءته امرأته، فلما رأته قالت: خَيْبَةً لك. فلما انتصف النهار غُشِى عليه، فذُكر ذلك للنبى 

Pada suatu ketika Qais bin Shirmah Al-Anshariy melaksanakan puasa. Saat tiba waktu berbuka, dia mendatangi isterinya seraya berkata kepada isterinya: 
“Apakah kamu punya makanan?” Isterinya berkata: “Tidak, 
namun aku akan keluar mencari makanan buatmu”. 
Qais bekerja keras di siang harinya hingga membuatnya mengantuk lalu tertidur Kemudian isterinya datang. 

Ketika isterinya melihat dia (sedang tertidur), isterinya berkata: “Rugilah kamu”. Kemudian pada keesokan harinya di pertengahan siang, Qais jatuh pingsan.

Persoalan ini diadukan kepada Nabi Saw.

maka turunlah firman Allah Ta’ala QS Al-Baqarah ayat 187

أحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Dihalalkan bagi kalian pada malam bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian”.

Dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang, 
hingga kemudian turun sambungan ayatnya:

وكلوا  وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar”.

 Akhirnya, turunlah pensyariatan puasa Ramadhan yang lebih ringan, yaitu melakukan puasa semenjak terbit fajar hingga masuk waktu maghrib.

Hanya saja, puasa yang sudah ringan ini ternyata memang masih saja ditinggalkan oleh sebagian kaum muslimin dengan berbagai dalih dan alasan yang tidak termasuk kategori diperbolehkan untuk meninggalkannya menurut sariat

No comments: