Wednesday, 26 June 2019

Honor mubalig

Mengenai maksud
“Upah dalam Dakwah” adalah upah yang diperoleh seseorang dari hasil usaha dalam melakukan dakwah, dimana upah tersebut berupa honor (imbalan), derma, sumbangan atau sedekah yang tidak ditetapkan, jumlahnya tergantung kemurahan dari hati para pendermanya


Dalam hal honor ada yang meminta ada yang diberi

1.Maksud Meminta yaitu 
menarget tarip dakwah maka yang dijadikan dasar alasan bahwa mengajarkan ilmu agama merupakan perjuangan yang tidak boleh dibisniskan hanya Allah Swt yang akan membalasnya.
Sama halnya seperti mengajarkan tata cara shalat; tidak boleh diperjual-belikan

Allah swt berpirman

أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Atau kamu meminta upah kepada mereka? Padahal upah dari Tuhanmu juah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Paling Baik.
(Qs al-Mu’minuun ayat 72)

وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (atas dakwahmu), ini tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.
(QS Yusuf ayat 104)

Komersialisasi dakwah dengan memasang tarif tertentu sangat dipengaruhi oleh media massa, terutama televisi.
Tingkat rating menjadi alasan untuk menaikkan tarif dakwah.
Padahal cara semacam itu bisa merusak mental dai dan menghapus pahala dakwah

mengenai balasan akhirat dijelaskan

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى

Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwa usahanya itu (di akhirat) kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.
(QS. al-Najm ayat 39).

Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَنْ أَخَذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا فَقَدْ تَعَجَّلَ حَسَنَاتِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْقُرْآنُ يُخَاصِمُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “Barangsiapa mengambil upah mengajarkan al Qur’an, maka ia telah meminta disegerakan kebaikannya di dunia dan al Qur’an akan memusuhinya pada hari kiamat.”
(HR. Abu Nu’aim).

Rasulullah saw juga bersabda:

 عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّعْلِيْمِ وَالْأَذَانِ بِالْأُجْرَةِ,  فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah saw telah melarang mengajar dan adzan dengan upah. Maka barangsiapa mengerjakan hal itu, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia.”

2.Maksud diberi yaitu pemberian secara sukarela yang diberikan dengan tidak dipinta apalagi menarget honor dakwah

Sesuai hadis Rasulullah saw:

عَنِ ابْنِ السَّاعِدِيِّ الْمَلِكِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْهَا وَأَدَّيْتُهَا إِلَيْهِ أَمَرَ لِى بِعُمَالَةٍ. فَقُلْتُ: إِنَّمَا عَمِلْتُ لِلَّهِ، وَأَجْرِي عَلَى اللهِ. فَقَالَ: خُذْ مَا أُعْطِيْتَ، فَإِنِّي عَمِلْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَّلَنِي، فَقُلْتُ مِثْلَ قَوْلِكَ. فَقَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا أُعْطِيْتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَ، فَكُلْ وَتَصَدَّقْ "

Dari Ibnu as Sa’idy al Maliki, bahwasanya ia berkata: 
“Umar bin Khattab ra mempekerjakanku untuk mengumpulkan sedekah. 
Tatkala selesai dan telah aku serahkan kepadanya, 
ia memerintahkan aku untuk mengambil upah.” Lalu aku berkata: ”Aku bekerja hanya karena Allah, dan imbalanku dari Allah.” Lalu ia berkata: “Ambillah yang telah aku berikan kepadamu. 
Sesungguhnya aku bekerja di masa Rasulullah saw dan mengatakan seperti apa yang engkau katakan.” Lalu Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Jika aku memberikan sesuatu yang tidak engkau pinta, makanlah dan sedekahkanlah.”
(HR. Muslim)

Hadits di atas juga menunjukkan bolehnya menerima upah yang tidak dimintanya,
karena upah ini memang sudah menjadi hak bagi seorang da’i.

Al Khotib al Baghdadiy didalam
“al Fiqh wa al Mutafaqqih” mengatakan:
diwajibkan bagi seorang imam (pemimpin) untuk memberikan kecukupan penghasilan kepada orang-orang yang menyerahkan dirinya untuk memberikan pengajaran didalam bidang fiqih atau fatwa hukum-hukum dan ambilah untuk itu dari baitul mal kaum muslimin.
Jika di sana tidak terdapat baitul mal maka penduduk negeri harus bekerja sama menyisihkan sebagian dari hartanya untuk diberikan kepadanya (mufti) agar dia bisa fokus mencurahkan segenap waktunya untuk memberikan fatwa kepada mereka dan jawaban-jawaban dari permasalahan-permasalahan mereka

Baca juga bab hubungan intim di alamat:
https://myhutbah.blogspot.com/2019/05/kitab-fathul-izar-menerangkan.html?m=1

Dan bolehnya menerima upah dalam masalah ini dibatasi oleh kewajiban berniat ikhlas karena Allah swt. Karena yang paling utama ganti atas pekerjaan yang mulia ini adalah pahala seperti orang-orang yang mengikutinya.
Sebagaimana sabda rosulullah saw:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهمْ شَيئًا

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menyeru kepada kebaikan maka baginya balasan (pahala) seperti orang-orang yang mengikutinya, tidak dikurangi yang demikian itu dari pahala-pahala mereka sedikitpun.”
(HR. Muslim).

Wallohu a'lam

Monday, 17 June 2019

Kisah Ibnu hirzihim

  Ibnu hirzihim

Adalah seorang tokoh yang mengingkari kitab ihya ulumuddin karangan imam gojali  rohimahumulloh simak kisahnya

ﺫﻛﺮﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺑﻦ ﺃﺳﻌﺪ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠـﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻗﻄﺐ
ﺍﻟﻴﻤﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ ﺛﻢ ﺍﻟﻴﻤﻨﻲ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺗﺼﺎﻧﻴﻒ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺟﻮﺍﺑﻪ : ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﻧﺒـﻴﺎﺀ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻤﺼﻨﻔﻴﻦ.

Syaikh Abdullah bin As'ad Al-Yafi' Rahmatullah alaih berkata: seorang wali qutub yaman yg faqih adalah Syekh Isma'il bin Muhammad Al-Hadlromy, kemudian di tanyakan kpd faqih dari yaman tentang beberapa karya Imam Ghozali, 
maka di jawab oleh beliau (Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Hadlromy) : Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) adalah sayyidil anbiya', dan Muhammad bin Idris As-Syafi'I (Imam Syafi'i) adalah sayyidil a’immah, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali adalah sayyidil Mushonnifin.

ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎً ﺃﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ
ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑـﻲ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻛﺎﻥ
ﻣﻄﺎﻋﺎً ﻣﺴﻤﻮﻉ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ، ﻓﺄﻣﺮ ﺑﺠﻤﻊ ﻣﺎ ﻇﻔﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻧﺴﺦ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ ﻭﻫﻢ ﺑﺈﺣﺮﺍﻗﻬﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ

Dan Imam Al-Yafi'i juga mengatakan, bahwasanya Imam besar Abul Hasan Ali bin Hirzihim, seorang Faqih yang terkenal di Maghribi (maroko) dia dulu sangat mengingkari kitab Ihya ulumuddin, dan beliau adalah orang yang ditaati dan di dengar ucapannya. 
kemudian beliau memerintahkan untuk mengumpulkan semua yang didapat daripada naskah kitab Ihya dan ingin membakarnya di masjid jami' pada hari jum'at.

ﻓﺮﺃﻯ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻛﺄﻧﻪ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺑﺎﻟﻨﺒـﻲ ﻓﻴﻪ ﻭﻣﻌﻪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ
ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻗﺎﺋﻢ ﺑـﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ؛ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﻗﺒﻞ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ : ﻫﺬﺍ ﺧﺼﻤﻲ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠـﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﻛﻤﺎ ﺯﻋﻢ
ﺗﺒﺖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠـﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺷﻴﺌﺎً ﺣﺼﻞ ﻟﻲ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺘﻚ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺨﺬ ﻟﻲ
ﺣﻘﻲ ﻣﻦ ﺧﺼﻤﻲ،

Kemudian pada malam jum'atnya beliau bermimpi seakan-akan masuk kedalam masjid jami', ternyata didalam masjid itu ada Nabi saw. 
dan bersama Nabi Sayyidina Abu bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, serta Imam Ghozaly berdiri di hadapan Nabi saw. 
ketika Ibnu hirzihim menghadap,

Imam ghozali berkata: ini musuhku Ya Rasulullah, jika perkara yg terjadi sebagaimana yang dia sangka, maka aku bertaubat kepada Allah, dan jika sesuatu yang aku dapat itu dari keberkahanmu dan mengikuti sunnahmu, maka ambilkanlah untuku haqku dari musuhku ini.

ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻝ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ، ﻓﺘﺼﻔﺤﻪ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻭﺭﻗﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻟـﻪ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻠـﻪ ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ ﻓﻴﻪ ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺩﻩ . ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻧﻌﻢ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﺇﻧﻪ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ
ﺍﻟﻔﺎﺭﻭﻕ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ ﻓﻴﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Kemudian diberikan kepada Nabi kitab Ihya, lalu Nabi membukanya selembar demi selembar dari awal kitab hingga akhir, kemudian Nabi bersabda: demi Allah sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang bagus, kemudian diberikan kepada Ash-Shiddiq ra. 
Maka beliau melihatnya dan menganggap baik kitab tersebut, kemudian beliau berkata: Benar, Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang baik, kemudian diberikan kepada Sayyidina Umar ra. dan beliau melihat isi kitab itu, dan beliaupun memuji kitab itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ash-Shiddiq.

ﻓﺄﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺑﺘﺠﺮﻳﺪ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻤﻴﺺ ﻭﺃﻥ ﻳﻀﺮﺏ ﻭﻳﺤﺪ ﺣﺪ ﺍﻟﻤﻔﺘﺮﻱ، ﻓﺠﺮﺩ ﻭﺿﺮﺏ . ﻓﻠﻤﺎ ﺿﺮﺏ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺳﻮﺍﻁ ﺗﺸﻔﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻌﻠﻪ ﻇﻦ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺄﺧﻄﺄ ﻓﻲ ﻇﻨﻪ، ﻓﺮﺿﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻗﺒﻞ ﺷﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Maka Nabi memerintahkan untuk mencabuk faqih Ali Ibnu hirzihim di atas gamis, dan dicambuk serta di had dengan hadnya pembuat kebohongan, Lalu beliaupun di cambuk dan dipukul. 
ketika telah dicambuk lima kali, Sayidina Abu bakar memintakan ma'af untuknya, dan beliau berkata: Ya Rasulullah, mungkin dia menyangka apa yang ada didalam kitab Ihya menyalahi sunnahmu, kemudian dia salah didalam sangkaannya, dan Imam ghozali menerima, maka Rasulullah pun menerima permintaan maafnya Ash-Shiddiq.

ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻴﻘﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻓﻲ ﻇﻬﺮﻩ، ﻭﺃﻋﻠﻢ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺗﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻦ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺑﻘﻲ ﻣﺪﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻣﺘﺄﻟﻤﺎً ﻣﻦ ﺃﺛﺮ
ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻭﻫﻮ ﻳﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻳﺘﺸﻔﻊ ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺃﻯ
ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻣﺴﺢ ﺑـﻴﺪﻩ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﻓﻌﻮﻓﻲ ﻭﺷﻔﻲ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ
ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺛﻢ ﻻﺯﻡ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ،
ﻭﺻﺎﺭ ﻣﻦ ﺃﻛﺎﺑﺮ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Kemudian Bangunlah Ibnu hirzihim sedang bekas cambukan masih ada dipunggungnya, lalu beliau memberitahukan teman-temannya (mengenai mimpi tsb) dan bertaubat kepada Allah atas pengingkarannya kepada Imam Ghozali dan beristighfar, akan tetapi masih tersisah rasa sakit cambuk tersebut dalam waktu yang lama, dan dia terus memohon kepada Allah dan meminta syafa'at kepada Rasulullah, hingga beliau bermimpi Nabi, dan mengusap punggung Ibnu hirzihim dengan tangan beliau yang mulia, kemudian beliau sembuh dengan izin Allah, kemudian beliau selalu melazimkan mempelajari kitab Ihya ulumuddin, maka Allah membukakan (hijab/ilmu) untuknya dan mendapatkan karunia ma'rifat billah, maka jadilah beliau Pembesar Ulama, Ahli ilmu bathin dan Dhohir. semoga Allah merahmatinya.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ : ﺭﻭﻳﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻷﺳﺎﻧﻴﺪ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻘﻄﺐ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ
ﺍﻟﻤﻴﻠﻖ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻳﺎﻗﻮﺕ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ
ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺍﻟﻤﺮﺳﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺷﻴﺦ ﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻭﺍﺣﻬﻢ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻌﺎﺻﺮﺍً ﻻﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ : ﻭﻟﻘﺪ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ
ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻇﺎﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ.

Dan Imam al-yafi'i berkata: telah
meriwayatkan kepada kami cerita ini dengan sanad yang sohih, dan telah mengabarkan kepadaku mengenai hal ini Wali Allah dari Wali Allah dari Wali Allah Asy-syeikh Al-Kabir Al-Quthub Syihabuddin Ahmad bin Al-maliiq Asy-Syadzili, dari gurunya Syaikh Kabir Al-Arif Billah Yaquut Asy-Syadzili, dari gurunya As-Syaikh Al-Arif billah Abil Abbas Al-Mursiy, dari gurunya As-Syaikh Kabir, gurunya para guru Abil Hasan Asy-Syadziliy: dan telah meninggal Asy-Syaikh Abul Hasan ibnu Hirzihim Rahimahullah, sedangkan di hari wafatnya bekas cambuk masih
nampak dipunggungnya

Semoga dari sepenggal cerita tsb bisa membawa hikmah bagi kita semua...
catatan 

Dari Abu hurairah, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Sesungguhnya Allah berfirman: "Barang siapa berani memusuhi wali (kekasih) Ku maka sungguh Aku mendeklarasikan perang dengannya" [HR Bukhari]