*pertanyaan*
Bagaimana hukum keputihan di bagian organ intim wanita?
*Jawaban*
keputihan menurut sudut pandang hukum najis atau tidak,maka dari itu
Hukum keputihan terbagi jadi 3 bagian
1. apabila cairan keputihan ini keluar dari bagian luar vagina maka suci dan tidak membatalkan wudhu.
2. apabila keluar dari bagian dalam vagina hukumnya najis dan membatalkan wudhu. Maka, wajib bagi wanita untuk berwudhu setiap kali cairan keputihan keluar dari vagina bagian dalam. Tidak wajib bagi wanita tsb mencuci/membasuh cairan itu dari bajunya kecuali apabila yakin bahwa cairan itu betul-betul berasal dari bagian dalam rahim seperti cairan yang keluar saat melahirkan. Dalam kasus ini maka hukumnya najis dan wajib membasuh cairan itu dari baju.
3. Apabila ragu atau tidak tahu apakah cairan itu keluar dari vaginana luar atau dalam, maka dalam kasus ini hukumnya suci dan tidak membatalkan wudhu. Karena yakin tidak hilang oleh keraguan.
*Yang dimaksud bagian luar vagina*
adalah bagian yang tampak saat wanita duduk untuk BAB (buang air besar) atau kencing.
*yang dimaksud bagian dalam vagina*
adalah bagian yang tidak terlihat saat perempuan duduk untuk BAB atau kencing.
*sumber*
Bughiyah Al-Mustarsyidin, hlm. 53
– إذا خرجت هذه الإفرازات من ظاهر الفرج: فهي طاهرة، ولا تنقض الوضوء.
أما إذا خرجت من باطن الفرج: فهي طاهرة أيضا، ولكنها تنقض الوضوء، فيجب على المرأة أن تتوضأ كلما نزلت عليها هذه الإفرازات الخارجة من الباطن، ولا يجب عليها غسلها عن ثيابها، إلا إذا تأكدت أن هذه الإفرازات قد نزلت عليها من عمق الرحم، كالسائل الذي ينزل عند الولادة: فهذا نجس يجب غسله من الثياب.
أما إذا شكت المرأة ولم تعرف إن كانت هذه الإفرازات خرجت من ظاهر الفرج أم من باطنه: ففي هذه الحالة حكمها الطهارة، ولا تفسد الوضوء؛ لأن اليقين لا يزول بالشك.
وننبه هنا إلى أن ظاهر الفرج هو الذي يظهر عند قعود المرأة لقضاء الحاجة، وأما باطنه فهو ما وراء ذلك. هذا حاصل ما يقرره فقهاؤنا
No comments:
Post a Comment